Karunia Rohani

Audio: 

Nats: 1 Korintus 14

Minggu lalu kita sudah melihat di pasal 13 bahwa kasih itu melampaui, menggenapkan, dan menyempurnakan semua karunia yang ada.

Kasih bersifat kekal sedangkan karunia bersifat sementara. Namun Rasul Paulus tidak bermaksud untuk melarang jemaat Korintus untuk memiliki karunia, sebaliknya mendorong jemaat karena sudah memahami dan memiliki kasih berupaya untuk memperoleh karunia-karunia rohani. “Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh…” (14:1). Hal ini menunjukkan bahwa ketika seseorang memiliki kasih, maka karunia-karunia memperoleh makna dan arah yang benar.

Karunia sendiri bukanlah sesuatu yang buruk karena itu adalah pemberian Allah. Karunia rohani merupakan terjemahan dari kata Yunani, karisma atau karismata (dalam bentuk plural) yang sebenarnya berasal dari akar kata Karis = anugerah/kasih karunia. Artinya, setiap orang Kristen yang telah menerima karis (anugerah keselamatan) juga diperlengkapi dengan karisma/karismata (karunia-karunia rohani).

Prinsip-prinsip dalam Menggunakan Karunia Rohani

Dalam 1 Korintus 14 ini, ada beberapa prinsip yang Paulus berikan sebagai pedoman dalam menggunakan karunia rohani.

1. Membangun Orang Lain

Rasul Paulus menilai besar kecilnya suatu karunia tidak berdasarkan jenis karunia tersebut, tetapi apakah karunia itu lebih membangun orang lain atau hanya diri sendiri; menjadi berkat bagi orang lain atau tidak. Hal ini sesuai dengan prinsip kasih yang diajarkan oleh rasul Paulus di ps. 13. Paulus mengambil contoh karunia bernubuat dan karunia bahasa roh sebagai perbandingan.

Karunia Bahasa Roh Karunia Bernubuat
Berkata-kata kepada Allah Berkata-kata kepada manusia
Mengucapkan hal-hal rahasia Membangun, menasihati, menghibur
Tak seorang pun mengerti Membangun pengertian
Membangun diri sendiri Membangun jemaat

Berdasarkan perbandingan di atas kemudian rasul Paulus menyimpulkan bahwa karunia bernubuat lebih berharga daripada karunia bahasa roh.

Karunia bernubuat tidak selalu identik dengan ramalan. Karunia bernuabuat dikaitkan dengan fungsi nabi, yaitu memberitakan firman Tuhan. Jadi karunia bernubuat diberikan kepada seseorang yang dipakai sebagai penyambung lidah Tuhan; seseorang yang dipakai Tuhan untuk memberitakan firman-Nya kepada manusia.

2. Roh dan Akal Budi

Rasul Paulus mengajarkan dua hal yang harus ada (tidak boleh hanya salah satu) ketika kita beribadah atau melakukan karunia rohani yang kita miliki adalah roh dan akal budi (ay. 15). Kedua hal ini harus berjalan secara seimbang, karena semangat tanpa pengertian akan berakhir dengan kekacauan dan kesesatan. Sebaliknya pengertian tanpa semangat tidak cukup. Bahkan seluruh aspek penyembahan kita di hadapan Tuhan harus dilakukan dalam keseimbangan antara roh dan akal budi. Dalam percakapan dengan perempuan Samaria, Tuhan Yesus berkata, “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.” (Yoh. 4:23). Oleh karena itu, karunia apa pun yang kita miliki, termasuk karunia bahasa roh yang selalu dibanggakan oleh jemaat Korintus, dalam penggunaannya harus memenuhi dua unsur ini, roh dan akal budi.

Pembicara: 
GI. Aksi Bali