Cinta Pertama

Wahyu 2:1-7

“Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.” (Why. 2:4)

Barangkali setiap kita pernah mengalami ”cinta pertama”. Bagaimanakah rasanya ketika Saudara pertama kali jatuh cinta pada seseorang? Pasti cintanya menggebu-gebu, penuh dengan antusias, ada semangat yang membara dan rasanya ingin setiap saat ketemu. Mungkin kita mengorbankan waktu, tenaga dan apa yang bisa kita lakukan untuk menunjukkan cinta ketika pertama kali jatuh cinta pada seseorang. Namun acapkali cinta pertama yang membara itu menjadi semakin pudar seiring berjalannya waktu.

Demikian juga cinta kita kepada Tuhan. Seringkali cinta yang membara ketika pertama kali bertemu dengan Tuhan menjadi pudar seiring berjalannya waktu. Kondisi seperti inilah yang dialami jemaat Efesus. Jemaat Efesus sebenarnya bukanlah jemaat yang tidak berpotensi. Hal ini terlihat melalui beberapa pujian yang diberikan Tuhan Yesus kepada mereka dalam 2:2-3. Tuhan Yesus mengatakan, ”Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu ...” (2:2). Ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang rajin melayani dan memiliki ketekunan. Mereka juga adalah jemaat yang memiliki pemahaman yang kuat tentang kebenaran firman Tuhan. Hal ini terbukti ketika mereka dapat mengenali orang-orang yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya adalah para pendusta. Mereka juga dipuji karena mereka mengambil bagian dalam penderitaan karena mengikut Tuhan. Namun semua yang mereka lakukan seolah-olah menjadi sesuatu yang sia-sia ketika dalam 2:4 Tuhan Yesus mengatakan, ”Namun demikian Aku mencela engkau ...” Ternyata mereka melakukan semua itu tanpa kasih yang semula, cinta pertama yang selalu membara dan antusias di hadapan Tuhan. Ternyata pelayanan yang mereka lakukan, pemahaman yang mereka miliki dan kesediaan mereka menderita tidak didasarkan karena kasih, cinta mereka kepada Kristus.

Mari kita mendeteksi diri kita masing-masing. Mungkin saat ini kita rajin melayani, memiliki pemahaman iman yang cukup, atau bahkan bersedia menderita demi Kristus. Namun yang perlu kita pertanyakan adalah adakah semua itu kita lakukan disertai dengan kasih yang semula, cinta pertama ketika pertama kali bertemu dengan Tuhan dan menikmati anugerah-Nya. Sebab tanpa kasih yang berkobar-kobar kepada Tuhan, semua yang kita lakukan adalah sia-sia. Tuhan menuntut kasih yang semula, cinta pertama tetap berkobar, sebab kita bisa melayani, memahami firman Tuhan dan bersedia menderita tanpa kasih, tetapi kalau kita memiliki kasih, pelayanan, pemahaman dan kesediaan menderita akan mengikutinya.

Kasih yang semula akan menutupi pelayanan yang tidak sempurna.

Source: http://aksibali.blogspot.com/2006/12/cinta-pertama.html