Santapan Rohani

Berlangganan pasokan Santapan Rohani
Renungan Pribadi dan Keluarga Kristen

URL: https://santapanrohani.org

Di-update: 7 jam 48 mnt yang lalu

Mengupayakan Kesatuan

Tumbuh besar di era 1950-an, saya tidak pernah mempertanyakan rasisme dan praktik pemisahan golongan yang mewarnai kehidupan sehari-hari di kota tempat saya tinggal. Di berbagai sekolah, restoran, transportasi umum, dan lingkungan tempat tinggal, orang-orang yang warna kulitnya berbeda memang dipisahkan.

Sikap saya berubah pada tahun 1968 ketika mulai mengikuti Pelatihan Dasar Angkatan Darat Amerika Serikat. Kompi saya beranggotakan para pemuda dari berbagai latar belakang. Kami belajar bahwa kami perlu saling memahami dan menerima satu sama lain, bekerja sama, dan menyelesaikan misi kami.

Ketika Paulus menulis surat kepada jemaat di Kolose pada abad pertama, ia menyadari keragaman dalam jemaat itu. Ia mengingatkan mereka, “Dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu” (Kol. 3:11). Kepada sekelompok orang yang sangat mudah terpecah belah, baik oleh perbedaan yang sepele maupun yang serius, Paulus mendorong mereka untuk mengenakan “belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran” (ay.12). Dan yang lebih utama daripada segala perilaku yang mulia itu, ia mengatakan kepada mereka untuk mengenakan kasih “sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan” (ay.14).

Menerapkan prinsip-prinsip tersebut dalam hidup kita mungkin terasa seperti upaya yang tak pernah usai. Namun, itulah panggilan Yesus bagi kita. Yang menyatukan kita sebagai umat percaya adalah kasih kita kepada-Nya. Dengan dasar itulah kita mengejar pengertian, damai sejahtera, dan kesatuan sebagai sesama anggota tubuh Kristus.

Di tengah segala keragaman kita, marilah mengupayakan kesatuan yang semakin erat di dalam Kristus.

Mengenal dan Mengasihi

“Jesus loves me, this I know, for the Bible tells me so” (Yesus sayang padaku, Alkitab mengajarku)” adalah pesan dari salah satu lagu rohani yang paling diingat orang, terutama oleh anak-anak. Ditulis oleh Anna B. Warner pada tahun 1800-an, lirik itu secara lembut menegaskan hubungan kita dengan Yesus—yaitu bahwa kita disayang dan dikasihi-Nya.

Seseorang memberi istri saya sebuah hiasan dinding untuk rumah kami berisi lirik lagu tersebut, tetapi dengan kata-kata yang bertukar posisi. Pada hiasan itu tertulis, “Jesus knows me, this I love” (Yesus mengenalku, aku suka hal itu). Kalimat tersebut memberikan perspektif yang berbeda pada hubungan kita dengan-Nya—yaitu bahwa kita dikenal oleh Kristus.

Pada masa Israel kuno, yang membedakan gembala sejati dengan gembala upahan adalah gembala sejati menyayangi dan mengenal domba-dombanya. Gembala itu menghabiskan begitu banyak waktu bersama domba-dombanya hingga ia memiliki perhatian dan pengenalan yang mendalam akan domba-dombanya. Karena itu, tidak heran Yesus berkata kepada domba-domba milik-Nya, “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku. . . . Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku” (Yoh. 10:14,27).

Dia mengenal dan mengasihi kita! Kita dapat mempercayai tujuan Yesus bagi hidup kita dan meyakini janji pemeliharaan-Nya karena Bapa “mengetahui apa yang [kita] perlukan, sebelum [kita] minta kepada-Nya” (Mat. 6:8). Dalam pasang surut kehidupan, tenanglah, karena Anda dikenal dan dikasihi oleh Gembala jiwa Anda.

Allah yang Pemarah?

Ketika mempelajari tentang mitologi Yunani dan Romawi di perguruan tinggi, saya terkesima dengan sifat dari dewa-dewi dalam kisah-kisah itu yang tidak stabil dan cenderung mudah marah. Hidup orang-orang yang menjadi sasaran kemarahan para dewa itu akan hancur, dan kadang terjadi tanpa alasan yang kuat.

Saya pun mencibir sambil bertanya-tanya bagaimana mungkin orang bisa percaya kepada dewa-dewa seperti itu. Namun kemudian, saya bertanya kepada diri sendiri, Sama atau tidakkah pandangan saya tentang Allah yang sejati? Bukankah saya menganggap-Nya mudah marah saat saya meragukan-Nya? Sayangnya, saya memang sering berpikir demikian.

Itulah mengapa saya memahami permintaan Musa kepada Allah, “Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku” (Kel. 33:18). Ketika dipilih untuk memimpin sejumlah besar orang yang sering mengeluh kepadanya, Musa ingin tahu apakah Allah memang akan menolongnya dalam tugas yang sangat besar itu. Allah mengabulkan permintaan itu dan menunjukkan kemuliaan-Nya. Allah menyatakan nama dan sifat-sifat-Nya kepada Musa. Dialah “Allah yang penuh kemurahan hati dan belas kasihan. Kasih-Ku berlimpah-limpah, Aku setia dan tidak lekas marah” (34:6 BIS).

Ayat itu mengingatkan saya bahwa Allah tidaklah impulsif, tiba-tiba marah dan bertindak semaunya. Kebenaran itu sangat melegakan hati saya, terutama saat saya mengingat bahwa adakalanya saya yang justru bersikap tidak sabar dan mudah marah kepada-Nya. Selain itu, Allah juga terus bekerja untuk menjadikan saya makin serupa dengan-Nya.

Kita dapat melihat Allah dan kemuliaan-Nya melalui banyak hal: kesabaran-Nya terhadap kita, kata-kata yang menguatkan dari sahabat, keindahan matahari yang terbenam. Namun, yang terbaik dari semuanya adalah bisikan Roh Kudus dalam hati nurani kita.

Membaur

Lee adalah pegawai bank yang rajin dan dapat diandalkan. Namun, karena ingin menerapkan imannya dengan sungguh-sungguh, ia sering harus tampil beda dalam pergaulan sehari-hari. Misalnya, ketika ia memilih untuk keluar dari ruang istirahat di kantornya saat percakapan sudah menjurus ke hal-hal yang tidak senonoh. Dalam kelompok penggalian Alkitab yang diikutinya, ia menceritakan pergumulannya, “Aku takut kehilangan kesempatan untuk dipromosikan karena tak mau membaur.”

Umat Allah pada zaman Nabi Maleakhi menghadapi tantangan serupa. Mereka telah kembali dari pembuangan dan Bait Allah sudah dibangun ulang. Namun, mereka ragu dengan rencana Allah bagi masa depan mereka. Ada di antara mereka yang berkata, “Percuma saja berbakti kepada Allah. Apa gunanya melakukan kewajiban kita terhadap Tuhan Yang Mahakuasa . . . ? Kita lihat sendiri bahwa orang-orang sombong bahagia. Orang jahat tidak hanya bertambah makmur, tetapi kalau mereka menguji kesabaran Allah dengan berbuat jahat, mereka luput juga” (Mal. 3:14-15 BIS).

Bagaimana kita dapat tetap setia kepada Allah di tengah suatu dunia yang menganggap kita ketinggalan zaman jika kita tidak membaur? Mereka yang hidup setia pada zaman Maleakhi menjawab tantangan itu dengan berkumpul bersama orang percaya lainnya untuk saling menguatkan. Maleakhi menyatakan satu hal yang penting: “Tuhan mendengar dan memperhatikan apa yang mereka katakan” (ay.16 BIS).

Benar, Allah memperhatikan dan mempedulikan semua orang yang takut kepada-Nya dan yang menghormati-Nya. Dia tidak memerintahkan kita “membaur” dengan dunia, melainkan untuk makin mendekat kepada-Nya setiap hari sembari kita menguatkan satu sama lain. Karena itu, marilah kita hidup dengan setia!

Apa Isinya?

“Apakah kamu mau lihat apa isinya?” tanya teman saya Emily. Saya baru saja memuji boneka kain yang sedang dipeluk putrinya yang masih kecil. Saya memang sangat ingin tahu apa isi boneka itu. Teman saya membalik boneka itu dan membuka ritsleting tersembunyi yang dijahit pada punggung boneka tersebut. Dari dalam tubuh boneka itu, Emily dengan lembut mengeluarkan sebuah harta terpendam: boneka kain yang pernah disayang dan disukainya selama bertahun-tahun di masa kanak-kanaknya, lebih dari dua puluh tahun lalu. Boneka “luar” itu hanya sekadar bungkus jika tanpa boneka “dalam” yang menopang dan memberikan bentuk pada boneka “luar” itu.

Paulus menggambarkan kebenaran tentang kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus sebagai sebuah harta, yang tersimpan dalam diri umat Allah yang rapuh sebagai manusia. Harta itu memampukan mereka yang percaya kepada-Nya untuk menanggung penderitaan yang sangat berat dan untuk terus melayani dengan setia. Saat mereka mempercayai Tuhan, terang-Nya—hidup-Nya—bersinar cemerlang melalui “kerapuhan” mereka sebagai manusia. Paulus menguatkan kita semua agar “tidak tawar hati” (2Kor. 4:16) karena Allah senantiasa menguatkan kita untuk melakukan pekerjaan-Nya.

Seperti boneka “dalam” tadi, harta rohani yang ada di dalam diri kita memberikan tujuan dan kekuatan yang pasti bagi hidup kita. Ketika kekuatan Allah bersinar melalui diri kita, orang lain akan tergerak untuk bertanya, “Apa yang kau miliki di dalam dirimu?” Pada saat itulah kita dapat membuka isi hati kita dan menyatakan kepada mereka janji hidup baru dari keselamatan yang diberikan Kristus.

Hati Sebagai Hamba

Hari itu pekerjaan di kantor sangat melelahkan. Namun saat sampai di rumah, tiba waktunya bagi saya untuk memulai “pekerjaan lain”: menjadi ayah yang baik. Sambutan dari istri dan anak saya segera berubah menjadi, “Pa, mau makan malam apa?” “Pa, boleh ambilkan aku minum?” “Pa, main bola yuk?”

Sebenarnya saya hanya ingin duduk santai. Dan meskipun sebagian dari diri saya benar-benar ingin bersikap sebagai ayah yang baik, saya tidak merasa bersemangat untuk melayani kebutuhan keluarga saya. Saat itulah saya melihat sesuatu: sepucuk kartu ucapan terima kasih yang diterima istri saya dari salah seorang jemaat gereja. Kartu itu menggambarkan semangkuk air, handuk, dan sandal kotor. Di bagian bawah gambar itu terdapat kata-kata dari Lukas 22:27, “Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan.”

Pernyataan tentang misi Yesus—yakni untuk melayani orang-orang yang hendak dicari dan diselamatkan-Nya (Luk. 19:10)—benar-benar saya butuhkan saat itu. Jika Yesus saja bersedia melakukan pekerjaan yang paling hina bagi para pengikut-Nya—seperti membasuh kaki murid-murid-Nya yang sudah pasti kotor (Yoh. 13:1-17)—tentulah saya dapat mengambilkan minum untuk anak saya tanpa berkeluh kesah. Pada saat itu, saya diingatkan bahwa permintaan keluarga saya untuk melayani mereka bukan sekadar kewajiban, melainkan sebuah kesempatan untuk mencerminkan hati sebagai hamba yang dimiliki Yesus dan juga kasih-Nya kepada mereka. Ketika kita diminta untuk berbuat sesuatu, itulah kesempatan bagi kita untuk bertumbuh menjadi semakin serupa dengan Kristus, Pribadi yang melayani dengan cara menyerahkan nyawa-Nya bagi kita.

Batu Peringatan

Terkadang saat membuka Facebook, saya ditunjukkan pada “kenangan”—hal-hal yang pernah saya unggah pada hari yang sama di tahun-tahun sebelumnya. Sejumlah kenangan itu, seperti foto pernikahan kakak saya atau video putri saya yang sedang bermain dengan nenek saya, biasanya membuat saya tersenyum. Namun, sebagian kenangan yang lain memberikan dampak emosional yang lebih mendalam. Ketika membaca lagi tulisan tentang menengok saudara ipar yang menjalani kemoterapi atau melihat foto jahitan di kulit kepala ibu saya setelah operasi pada otaknya tiga tahun lalu, saya diingatkan pada kehadiran Allah yang setia di masa-masa sulit tersebut. Kenangan yang ditampilkan oleh Facebook itu mendorong saya untuk berdoa dan bersyukur.

Kita semua cenderung melupakan hal-hal yang telah Allah lakukan bagi kita. Kita membutuhkan pengingat. Ketika Yosua memimpin umat Allah menuju tanah tempat tinggal mereka yang baru, mereka harus menyeberangi sungai Yordan (Yos. 3:15-16). Allah membelah sungai itu sehingga umat-Nya dapat berjalan melalui tanah yang kering (ay.17). Untuk mengingatkan mereka pada mukjizat itu, umat Israel mengambil dua belas batu dari tengah sungai dan meletakkannya di seberang (4:3,6-7). Ketika ada yang bertanya tentang arti batu-batu itu, umat Allah dapat menceritakan tentang apa yang telah Allah lakukan pada hari itu.

Benda-benda yang mengingatkan kita akan kesetiaan Allah di masa lalu dapat mengingatkan kita untuk senantiasa mempercayai-Nya di masa sekarang dan juga di masa yang akan datang.

Penghapus Utang

Saya coba menahan air mata saat mencermati tagihan pengobatan saya. Mengingat gaji suami saya yang turun jauh jika dibandingkan dengan pekerjaan lamanya, membayar setengah dari jumlah tagihan itu saja memerlukan cicilan bulanan selama bertahun-tahun. Saya berdoa sebelum menelepon klinik untuk menjelaskan situasi kami dan meminta dibuatkan rencana pembayaran yang sanggup saya tanggung.

Setelah saya diminta menunggu sesaat, resepsionis memberi tahu saya bahwa dokter telah membebaskan kami dari tagihan itu.

Saya terisak sambil mengucapkan terima kasih. Berkat luar biasa itu membuat saya sangat bersyukur. Setelah menutup telepon, saya pun memuji Allah. Saya terpikir untuk menyimpan lembar tagihan itu, bukan untuk mengingatkan pada besarnya utang saya, melainkan pada apa yang telah diperbuat Allah bagi saya.

Keputusan dokter untuk menghapus utang saya mengingatkan saya pada keputusan Allah untuk menghapus utang dosa saya yang karena begitu besarnya tidak mungkin saya lunasi. Kitab Suci meyakinkan kita bahwa Allah itu “penyayang dan pengasih” dan “berlimpah kasih setia” (Mzm. 103:8). “Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita” (ay.10). Dia menjauhkan dosa kita “sejauh timur dari barat” (ay.12), ketika kita bertobat dan menerima Kristus sebagai Juruselamat kita. Pengorbanan-Nya menghapus utang kita—seluruhnya.

Setelah diampuni, hidup kita tidak lagi ditentukan atau dibatasi oleh utang dosa kita di masa lalu. Menanggapi limpah ruahnya anugerah Tuhan dapat kita lakukan dengan mengakui segala karya-Nya. Lewat persembahan dan ucapan syukur yang tulus, kita dapat hidup bagi-Nya dan menceritakan tentang Dia kepada sesama kita.

Satu Nama

Cleopatra, Galileo, Shakespeare, Elvis, Pelé. Mereka begitu terkenal sehingga satu kata dari nama mereka sudah cukup untuk mengenali mereka. Tokoh-tokoh tersebut menjadi terkenal karena diri mereka dan apa yang mereka lakukan. Namun, ada satu nama lain yang jauh lebih unggul daripada mereka atau nama-nama lain di dunia!

Sebelum Anak Allah lahir ke dunia, malaikat mengatakan kepada Maria dan Yusuf untuk menamakan bayi mereka Yesus, karena “Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Mat. 1:21), dan “Ia . . . akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi” (Luk. 1:32). Yesus tidak datang untuk menjadi orang yang tersohor melainkan menjadi hamba yang merendahkan diri dan mati di kayu salib agar setiap orang yang menerima-Nya dapat diampuni dan dilepaskan dari kuasa dosa.

Rasul Paulus menulis, “Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp. 2:9-11).

Di masa-masa penuh sukacita maupun di saat-saat yang tersulit, kita dapat menyerukan nama Yesus. Dia tidak akan pernah meninggalkan kita, dan kasih-Nya tidak akan pernah berkesudahan.

Hadiah dari Orang Majus

Alkisah sepasang anak muda yang saling mencintai tetapi tidak mempunyai banyak uang. Menjelang Natal, keduanya bersusah-payah mencari hadiah yang akan menunjukkan besarnya cinta mereka kepada pasangannya. Akhirnya, pada malam Natal, Della menggunting rambutnya yang sepanjang lutut dan menjualnya agar dapat membeli rantai berbahan platinum untuk arloji milik Jim yang diwarisinya dari ayah dan kakeknya. Namun sayang sekali, ternyata Jim telah menjual arlojinya agar dapat membeli seperangkat sisir yang mahal untuk rambut Della.

Penulis O. Henry memberikan judul The Gift of the Magi (Hadiah dari Orang Majus) untuk cerita tentang pasangan muda itu. Cerita tersebut menunjukkan bahwa meskipun hadiah Natal mereka tidak berguna dan mungkin terlihat bodoh, perbuatan mereka yang penuh kasih menjadikan pemberian itu terlihat sangat bijaksana.

Orang-orang majus di Alkitab mungkin juga terlihat bodoh dengan hadiah berupa emas, kemenyan, dan mur yang mereka bawa ke Betlehem (Mat. 2:11). Sebagai orang non-Yahudi, mereka tidak menyadari bahwa mereka telah mengusik ketenangan di kota Yerusalem ketika mereka bertanya tentang raja orang Yahudi yang baru lahir (ay.2).

Seperti pengalaman Jim dan Della dalam cerita fiksi di atas, rencana orang-orang majus itu tidak berjalan seperti harapan mereka. Meski demikian, mereka telah memberikan sesuatu yang tidak terbeli dengan uang. Mereka memang datang membawa hadiah, tetapi mereka kemudian bersujud menyembah Pribadi yang pada akhirnya akan memberikan diri-Nya dalam perbuatan kasih yang terbesar—berkorban untuk mereka dan untuk kita semua.

Sama Seperti Bapa

Ayah saya pernah mempunyai sepatu bot koboi setinggi lutut yang kini sudah berdebu dan ditaruh di lantai ruang kerja saya. Setiap hari, saat melihat sepatu bot itu, saya teringat pada kepribadian beliau.

Salah satu hal yang dilakukan ayah saya adalah memelihara dan melatih kuda-kuda penggiring ternak—kuda-kuda atletis yang bergerak lincah. Saya sangat senang melihat ayah bekerja dan mengagumi bagaimana ia dapat tetap duduk di atas pelana sepanjang melakukan pekerjaannya.

Ketika masih kecil, saya ingin tumbuh besar menjadi seperti beliau. Saya berusia 80-an tahun sekarang, tetapi saya masih belum menyamai apa yang telah beliau kerjakan.

Ayah saya sudah berpulang ke surga, tetapi saya mempunyai Bapa lain untuk diteladani. Saya ingin menjadi seperti Dia—dipenuhi kebaikan-Nya dan menyebarkan kasih-Nya. Saya belum sepenuhnya menjadi seperti Dia, bahkan takkan pernah bisa menyamai-Nya seumur hidup saya. Dia terlebih mulia dibandingkan saya.

Namun, Rasul Petrus pernah berkata, “Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu” (1Ptr. 5:10). Dia memiliki hikmat dan kuasa untuk melakukan semua itu (ay.11).

Ketidaksanggupan kita untuk sepenuhnya menyerupai Allah Bapa tidak akan berlangsung selamanya. Dia telah memanggil kita untuk membagikan keindahan karakter-Nya. Di dalam hidup ini, kita tidak akan mencerminkan karakter-Nya dengan sempurna. Namun, di surga kelak, segala dosa dan dukacita kita tidak akan ada lagi dan kita akan mencerminkan Allah dengan seutuhnya! Sungguh, itulah “kasih karunia yang benar-benar dari Allah” (ay.12).

Apa yang Dikatakan Para Ahli?

Kolumnis surat kabar Boston Globe, Jeff Jacoby, pernah menulis tentang “kepercayaan diri para ahli yang bisa salah besar dan sangat fatal dalam memprediksi sesuatu”. Jika melihat perjalanan sejarah dari abad ke abad, kita bisa membenarkan tulisan Jacoby. Misalnya saja, penemu hebat Thomas Edison pernah menyatakan bahwa film bersuara tidak akan pernah menggantikan keberadaan film bisu. Lalu pada tahun 1928, Henry Ford menyatakan, “Manusia sudah terlalu cerdas untuk kembali masuk ke dalam peperangan.” Tak terhitung jumlah prediksi dari para “ahli” yang akhirnya melenceng jauh. Ternyata kecerdasan pun ada batasnya.

Hanya satu Pribadi yang dapat dipercaya sepenuhnya, dan Dia pernah menegur keras sejumlah orang yang menyebut diri mereka ahli. Para pemimpin agama pada zaman Yesus mengaku telah mengetahui kebenaran. Para ahli Taurat dan pemuka agama itu mengira bahwa mereka tahu seperti apakah Mesias yang dijanjikan Allah pada saat Dia datang.

Tuhan Yesus memperingatkan mereka, “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu” (Yoh. 5:39-40).

Di awal tahun yang baru, kita tentu mendengar banyak prediksi, mulai dari yang menakutkan hingga yang sangat optimis. Sebagian besar prediksi itu dinyatakan dengan penuh keyakinan dan otoritas. Janganlah kita menjadi khawatir, melainkan tetaplah percaya kepada Pribadi yang menjadi pusat dari Kitab Suci. Allah Mahakuasa yang menopang kita juga berkuasa memegang hari esok.

Halaman