Santapan Rohani

Berlangganan pasokan Santapan Rohani
Renungan Pribadi dan Keluarga Kristen

URL: https://santapanrohani.org

Di-update: 5 jam 38 mnt yang lalu

Kisah Ruth

Ruth tidak bisa menceritakan kisahnya tanpa menangis. Usianya telah lebih dari 80 tahun dan kini ia sulit untuk bepergian ke mana pun. Karena itu mungkin saja ada yang menganggap Ruth tidak terlalu berperan penting dalam gereja kami. Ia bergantung kepada orang lain untuk menjemputnya, dan karena ia tinggal seorang diri, tidak banyak orang yang dipengaruhi oleh hidupnya.

Namun ketika Ruth menceritakan kisah keselamatannya—ia senang menceritakannya—ia menjadi contoh yang sangat jelas dan luar biasa dari anugerah Allah. Suatu malam, saat masih berusia 30-an, Ruth diundang temannya untuk mengikuti sebuah pertemuan. Ruth tidak menyangka akan diajak ke persekutuan dan mendengarkan khotbah. “Kalau saja aku tahu, aku takkan mau pergi,” katanya. Ia sudah punya keyakinannya sendiri dan ia tidak merasa perlu menganut keyakinan yang lain. Namun, Ruth pergi juga ke persekutuan itu, dan malam itu ia mendengar kabar baik tentang Yesus Kristus.

Sekarang, lebih dari 50 tahun kemudian, Ruth selalu meneteskan air mata tanda sukacita ketika ia menceritakan bagaimana Yesus mengubah hidupnya. Malam itu, ia menjadi anak Allah. Ruth tidak pernah bosan menceritakan kesaksiannya.

Entah kisah hidup kita mirip atau tidak dengan kisah Ruth, yang terpenting adalah kita mau mengambil langkah kecil untuk mempercayai Yesus dan mengimani kematian serta kebangkitan-Nya. Rasul Paulus berkata, “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan” (Rm. 10:9).

Itulah yang dilakukan Ruth. Anda juga dapat melakukannya. Yesus sanggup menebus, mengubah, dan memberi kita hidup yang baru.

Menyibak Misteri

Saya selalu menyukai kelihaian dan wawasan dari Charles Schulz, sang pencipta kartun Peanuts. Salah satu kartunnya yang saya sukai muncul dalam sebuah buku tentang kaum muda di gereja. Kartun itu menggambarkan seorang pemuda yang memegang Alkitab sambil berbicara kepada temannya di telepon. Anak muda itu berkata, “Rasanya aku sudah mengambil langkah pertama untuk menyibak misteri dari Perjanjian Lama . . . Aku mulai membacanya!”

Mazmur 119 melimpah dengan kerinduan penulisnya untuk memahami dan mengalami kuasa firman Allah setiap hari. “Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari” (ay.97). Usahanya yang penuh semangat itu menumbuhkan hikmat, pengertian, dan ketaatan kepada Tuhan (ay.98-100).

Alkitab tidak memberikan formula ajaib untuk “menyibak misteri” dari setiap lembarannya. Proses untuk mengenal isinya tidak hanya melibatkan pikiran tetapi juga membutuhkan tanggapan atas apa yang kita baca. Walaupun sejumlah bagian dari Alkitab mungkin masih membingungkan kita, kita dapat menerima segala kebenaran yang kita mengerti dengan jelas, dan kemudian berkata kepada Tuhan: “Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku. Aku beroleh pengertian dari titah-titah-Mu, itulah sebabnya aku benci segala jalan dusta” (ay.103-104).

Firman Allah sedang menanti kita untuk menemukan segala keajaiban yang terkandung di dalamnya.

Mengingat-ingat Kesetiaan Allah

Sebelum saya dan suami menyerahkan hidup kami kepada Kristus, kami sedang terpikir untuk bercerai. Namun setelah berkomitmen untuk mengasihi dan menaati Allah, kami pun memperbarui janji pernikahan kami. Kami meminta bimbingan dari sesama dan mengundang Roh Kudus untuk mengubah kami masing-masing dan sebagai pasangan. Allah Bapa terus menolong kami membangun komunikasi yang sehat. Dia mengajar kami mengasihi dan mempercayai-Nya—dan mengasihi serta mempercayai satu sama lain—apa pun yang akan terjadi.

Namun menjelang usia pernikahan kami ke-25 tahun, adakalanya saya lupa pada semua hal yang telah Allah lakukan di saat dan melalui masa-masa sulit. Terkadang saya bergumul dengan ketakutan yang mencekam tentang hal-hal yang tak saya ketahui. Saya merasa cemas dan tidak lagi mengandalkan Allah yang telah menolong kami di masa lalu.

Di Ulangan 1, Musa menegaskan bahwa Tuhan layak dipercaya. Musa mendorong bangsa Israel untuk terus maju dalam iman agar mereka dapat menikmati warisan mereka (ay.21). Namun, umat Allah menuntut untuk mengetahui secara terperinci apa yang akan mereka hadapi dan apa yang akan mereka terima sebelum mereka mau mempercayakan masa depan mereka kepada Allah (ay.22-33).

Pengikut Kristus memang tidak kebal terhadap ketakutan atau kecemasan. Namun, kekhawatiran akan kesulitan yang belum tentu kita alami dapat membuat kita tidak lagi mengandalkan iman, bahkan merusak hubungan kita dengan Allah dan sesama. Akan tetapi Roh Kudus dapat menolong kita untuk mengingat-ingat kesetiaan Tuhan di masa lalu. Roh Kudus dapat meyakinkan kita bahwa Allah layak dipercaya di masa lalu, di masa kini, dan untuk selamanya.

Berakar dalam Allah

Ketika sepasang suami istri pindah rumah, mereka menanam pohon wisteria di dekat pagar rumah dan menantikan bunganya yang berwarna lembayung untuk mekar dalam waktu lima tahun. Selama lebih dari dua dekade kemudian mereka menikmati kehadiran pohon itu dan tekun memangkas serta merawatnya. Namun suatu saat pohon wisteria itu tiba-tiba mati, karena tetangga mereka telah menyiramkan cairan pembunuh rumput liar di sisi luar pagar. Pemiliknya menduga bahwa racun pada cairan itu terserap oleh akar-akar pohon dan menyebabkan kematian pohon itu. Namun yang mengejutkan, di tahun berikutnya beberapa tunas pohon muncul kembali dari tanah.

Kita melihat gambaran pohon yang tumbuh subur dan pohon yang mati dalam perkataan Nabi Yeremia. Ia mengaitkan gambaran itu dengan umat Allah yang mempercayai Tuhan atau yang mengabaikan perintah-Nya. Mereka yang mengikut Allah akan menancapkan akarnya ke dalam tanah di tepi aliran air dan kemudian menghasilkan buah (Yer. 17:8). Sebaliknya, orang yang mengikuti keinginan hatinya sendiri bagaikan semak bulus di padang belantara (ay.5-6). Nabi Yeremia menghendaki umat Allah untuk mengandalkan Allah yang hidup dan sejati, sehingga mereka akan menjadi seperti “pohon yang ditanam di tepi air” (ay.8).

Kita tahu Allah Bapa “adalah tukang kebunnya” (Yoh. 15:1 BIS). Kita dapat mengandalkan Dia dan berharap kepada-Nya (Yer. 17:7). Kiranya kita mengikut Dia dengan segenap hati agar kita menghasilkan buah yang kekal.

Allah Memelihara Kita

Di luar jendela kantor saya, sekelompok tupai berusaha mengubur biji-biji pohon ek di tempat yang aman dan mudah dijangkau sebelum musim dingin tiba. Kegaduhan mereka membuat saya tertawa geli. Sekawanan rusa dapat melintasi pekarangan belakang rumah kami dengan tidak menimbulkan bunyi apa pun. Sebaliknya, seekor tupai dapat menimbulkan bunyi gaduh seakan-akan sedang terjadi keributan besar.

Dua binatang tersebut memang sama sekali berbeda. Rusa tidak perlu menyiapkan perbekalan untuk menghadapi musim dingin. Ketika salju turun, rusa akan makan apa saja yang ditemukannya di sepanjang jalan (termasuk tanaman hias di pekarangan kami). Sebaliknya, tupai akan mati kelaparan jika mengikuti perilaku rusa, karena mereka tidak akan menemukan makanan yang cocok untuk mereka.

Rusa dan tupai menggambarkan beragamnya cara Allah memelihara kita. Allah memampukan kita untuk bekerja dan menabung demi masa depan, dan Dia memenuhi kebutuhan kita di masa-masa sulit. Sebagaimana yang diajarkan kitab Amsal, Allah memberi kita kelimpahan di musim panen supaya kita dapat menyiapkan diri untuk menghadapi musim paceklik (Ams. 12:11). Dan seperti yang dikatakan Mazmur 23, Allah menuntun kita melewati lembah kekelaman hingga kita tiba di padang yang berumput hijau.

Cara lain Allah memelihara kita adalah dengan memerintahkan mereka yang memiliki kelimpahan untuk berbagi dengan orang-orang yang berkekurangan (Ul. 24:19). Jadi pesan Alkitab kepada kita mengenai persediaan adalah: Bekerjalah selagi mampu, tabunglah yang bisa ditabung, bagilah yang bisa dibagi, dan percayalah bahwa Allah akan memenuhi segala kebutuhan kita.

Jauh Lebih Melimpah

Ulang tahun saya tepat sehari setelah ulang tahun ibu. Saat masih remaja, saya harus berpikir keras untuk mencari hadiah yang akan membuat ibu senang sekaligus yang harganya pas di kantong saya. Ibu selalu menerima hadiah saya dengan senang hati, dan keesokan harinya, pada ulang tahun saya, ia akan memberikan hadiah untuk saya. Sudah pasti hadiahnya untuk saya jauh lebih bagus daripada yang saya berikan untuknya. Tentu ibu tidak bermaksud meremehkan pemberian saya. Ibu hanya ingin memberikan dengan murah hati dari harta yang dimilikinya, yang tentu jauh lebih besar jumlahnya daripada milik saya.

Keinginan saya untuk memberikan hadiah kepada ibu mengingatkan saya akan keinginan Daud untuk membangun rumah bagi Tuhan. Karena terkejut melihat perbedaan mencolok antara istananya dan tenda tempat Allah menyatakan diri-Nya, Daud rindu membangun Bait Suci untuk Allah. Alih-alih memperkenankan keinginan Daud, Allah merespons dengan memberi Daud suatu pemberian yang jauh lebih baik. Allah berjanji bukan saja salah satu anak Daud (Salomo) akan membangun Bait Suci (1Taw. 17:11), Dia juga akan membangun keturunan atau dinasti bagi Daud. Janji tersebut dimulai dari Salomo dan digenapi pada puncaknya dalam diri Yesus, yang takhta-Nya benar-benar kukuh “untuk selama-lamanya” (ay.12). Daud ingin memberikan sesuatu kepada Allah dari miliknya yang terbatas, tetapi Allah menjanjikan sesuatu yang tidak terbatas.

Seperti Daud, kiranya kita selalu tergerak untuk memberi kepada Allah karena kita bersyukur kepada-Nya dan mengasihi-Nya. Lebih dari itu, kiranya kita selalu melihat betapa jauh lebih melimpahnya pemberian Allah bagi kita di dalam diri Yesus Kristus.

Bertahan Hidup di Gurun

Pada dekade 1960-an, kelompok musik Kingston Trio merilis lagu berjudul “Desert Pete”. Lagu itu berkisah tentang seorang koboi yang sedang kehausan, dan ketika melintasi padang gurun ia menemukan pompa air manual. Di sebelah pompa itu, Desert Pete meninggalkan selembar catatan yang mendorong pembacanya untuk tidak meminum air dalam kendi yang ada di situ, tetapi menggunakan air itu untuk memancing pompa agar mengeluarkan air dari tanah.

Koboi itu menolak godaan untuk meminum air dalam kendi dan menggunakannya sesuai petunjuk yang tertulis itu. Sebagai upah dari ketaatannya, ia memperoleh air dingin yang segar dan berlimpah untuk memuaskan dahaganya. Jika tidak mempercayai pesan itu, ia hanya memperoleh air hangat dalam kendi yang dapat diminumnya tetapi yang tidak akan memuaskan dahaganya.

Kisah itu mengingatkan saya tentang perjalanan bangsa Israel yang melintasi padang gurun. Ketika mereka sangat kehausan (Kel. 17:1-7), Musa berseru meminta pertolongan Tuhan. Musa diperintahkan Tuhan untuk memukul gunung batu di Horeb dengan tongkatnya. Musa percaya dan taat, dan air pun menyembur dari bukit batu itu.

Sayangnya, bangsa Israel tidak konsisten mengikuti teladan iman Musa. Pada akhirnya, “berita itu tidak ada gunanya. Sebab ketika mereka mendengarnya, mereka tidak percaya” (Ibr 4:2 BIS).

Terkadang kehidupan ini dapat terasa seperti padang gurun yang gersang. Namun, Allah sanggup memuaskan kehausan jiwa kita di tengah situasi-situasi yang tidak terduga sama sekali. Ketika dengan iman kita mempercayai janji-janji Tuhan dalam firman-Nya, kita akan menikmati kelimpahan air hidup dan anugerah yang kita butuhkan sehari-hari.

Yesus yang Sedang Menyamar

Ketika seorang teman sedang merawat ibu mertuanya di rumah, ia bertanya kepada mertuanya itu apa yang paling diinginkannya. Mertuanya berkata, “Aku mau kakiku dicuci.” Teman saya mengakui, “Aku sama sekali tidak suka melakukannya! Tiap kali beliau memintaku melakukannya, aku menjadi jengkel. Aku bahkan berdoa agar beliau tidak mengetahui perasaanku yang sebenarnya.”

Namun, suatu hari sikapnya yang bersungut-sungut itu lenyap dalam sekejap. Ketika mengambil wadah dan handuk, lalu berlutut di bawah kaki ibu mertuanya, ia berkata, “Aku mendongak, dan saat itu aku merasa seperti sedang mencuci kaki Tuhan Yesus. Ibu mertuaku adalah Yesus yang sedang menyamar!” Setelah pengalaman itu, teman saya merasa terhormat dapat mencuci kaki ibu mertuanya.

Ketika mendengar cerita yang sangat menyentuh itu, saya terpikir pada perkataan Yesus tentang akhir zaman yang diajarkan-Nya di lereng Bukit Zaitun. Dia bercerita tentang Sang Raja yang menyambut putra dan putri-Nya ke dalam kerajaan-Nya, dengan berkata bahwa ketika mereka mengunjungi orang sakit atau memberi makan orang yang lapar, “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40). Kita juga melayani Yesus sendiri ketika kita melawat orang-orang yang berada di penjara atau memberikan pakaian kepada mereka yang membutuhkannya.

Hari ini, dapatkah Anda menggemakan pertanyaan teman saya, yang berpikir ketika bertemu seseorang, “Mungkinkah ia adalah Yesus yang sedang menyamar?”

Antar-Saudara

Usia saya dan adik laki-laki saya hanya terpaut kurang dari satu tahun dan kami bertumbuh dalam suasana “persaingan” (artinya: kami sering berkelahi!). Ayah kami dapat memahami hal tersebut karena ia juga memiliki saudara laki-laki, tetapi Ibu tidak.

Kisah hidup kami mirip dengan perseteruan antarsaudara yang banyak terjadi di kitab Kejadian. Kitab itu memuat perseteruan antara Kain dan Habel (Kej. 4); Ishak dan Ismael (Kej. 21:8-10); Yusuf dan semua saudaranya kecuali Benyamin (Kej. 37). Namun, perseteruan yang paling sengit rasanya adalah antara dua saudara kembar—Yakub dan Esau.

Esau telah dua kali ditipu Yakub, maka ia hendak membunuh Yakub (27:41). Puluhan tahun kemudian Yakub dan Esau berdamai kembali (Kej. 33). Namun, perseteruan itu terus berlanjut pada keturunan mereka, yang masing-masing menjadi bangsa Edom dan bangsa Israel. Ketika orang Israel bersiap untuk memasuki Tanah Perjanjian, orang Edom mengancam mereka dan menghadang jalan dengan mengerahkan pasukan (Bil. 20:14-21). Beberapa waktu kemudian, ketika penduduk Yerusalem melarikan diri dari serangan musuh, orang Edom membantai mereka (Ob. 1:10-14).

Syukurlah, Alkitab tidak hanya berisi cerita-cerita menyedihkan tentang keberdosaan kita melainkan juga kisah penebusan Allah. Yesus Kristus mengubah segalanya, dan Dia mengatakan kepada murid-murid-Nya, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi” (Yoh. 13:34). Kemudian Yesus menunjukkan kepada kita arti mengasihi dengan jalan menyerahkan nyawa-Nya bagi kita.

Di usia dewasa, hubungan saya dan adik menjadi dekat. Itulah yang dikerjakan oleh Allah. Ketika kita mau menerima pengampunan yang Allah tawarkan, anugerah-Nya dapat mengubah perseteruan antarsaudara menjadi kasih persaudaraan.

Kasih kepada yang Berbeda

Salah satu gereja yang saya cintai dimulai beberapa tahun lalu dengan tujuan melayani para mantan narapidana yang sedang belajar untuk kembali berkarya di tengah masyarakat. Hingga kini gereja tersebut berkembang dengan jemaat yang datang dari beragam latar belakang kehidupan. Saya mencintai gereja itu karena melaluinya saya diingatkan tentang bayangan saya akan suasana surga yang penuh dengan beragam orang, yakni para pendosa yang telah diselamatkan dan dipersatukan oleh kasih Yesus Kristus.

Meski demikian, terkadang saya bertanya-tanya apakah gereja sekarang lebih terlihat seperti klub yang eksklusif daripada tempat perteduhan yang aman bagi para pendosa yang telah diampuni. Ketika orang hanya mau berkumpul dengan orang-orang yang “sama” dan yang membuat mereka nyaman, itu membuat sebagian kalangan merasa tersisih. Bukan itu yang dimaksud Tuhan Yesus ketika memerintahkan murid-murid-Nya untuk “saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh. 15:12). Dia menghendaki gereja-Nya menjadi saluran dari kasih-Nya yang dapat dialami oleh semua orang.

Jika orang-orang yang tertolak dan terluka dapat menerima kasih, penghiburan, dan pengampunan dari Yesus, sudah sepatutnya mereka juga menerima hal yang sama dari gereja-Nya. Jadi, marilah kita menunjukkan kasih Yesus kepada tiap orang yang kita temui—terutama orang-orang yang berbeda dengan kita. Setiap orang di sekitar kita adalah jiwa-jiwa yang ingin Yesus kasihi melalui kita. Alangkah sukacitanya melihat umat Allah bersatu untuk memuji-Nya dalam ikatan kasih. Sungguh bagaikan menikmati pengalaman surgawi di bumi!

Tempat Aman

Saya dan putri saya berencana menghadiri pertemuan keluarga besar kami. Karena ia merasa gugup menghadapi perjalanan itu, saya pun menawarkan diri untuk menyetir mobil. “Terima kasih, Ma. Tetapi aku merasa lebih aman duduk dalam mobilku sendiri. Mama bisa menyetir mobilku, kan?” ia bertanya. Awalnya saya mengira ia memilih itu karena mobilnya lebih luas daripada mobil saya yang mungil. Saya bertanya kepadanya, “Apa mobil Mama terlalu sempit?” Ia menjawab, “Bukan karena itu, tetapi aku merasa aman di dalam mobilku. Entah mengapa aku merasa terlindungi di dalamnya.”

Komentarnya membuat saya memikirkan “tempat aman” saya sendiri. Saya teringat Amsal 18:10, “Nama Tuhan adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat.” Di masa Perjanjian Lama, tembok dan menara dari suatu kota berguna untuk memberikan peringatan terhadap ancaman yang mungkin datang dari luar dan melindungi para penduduk yang tinggal di dalamnya. Maksud penulis adalah nama Allah, yang menyatakan karakter, kepribadian, dan segala sesuatu tentang diri-Nya, sanggup memberikan perlindungan sejati bagi umat-Nya.

Ada hal-hal tertentu yang menjanjikan keamanan yang dibutuhkan di tengah momen-momen yang mencemaskan kita: Atap rumah yang tetap kukuh di tengah badai, rumah sakit yang siap memberikan perawatan medis, atau pelukan hangat dari seseorang yang Anda kasihi.

Di manakah “tempat aman” Anda? Ke mana pun kita mencari rasa aman, kehadiran Allah bersama kita di tempat itulah yang memberikan kekuatan dan perlindungan yang sungguh kita butuhkan.

Keindahan yang Tiada Bandingnya

Saya suka memandangi Grand Canyon. Setiap kali berdiri di tepi ngarai itu, saya selalu menemukan goresan-goresan baru buatan Allah yang membuat saya terpesona.

Meskipun itu hanyalah sebuah “lubang” (yang sangat besar) di tanah, Grand Canyon menggugah saya untuk merenungkan tentang surga. Pernah ada anak berusia 12 tahun yang dengan polos bertanya kepada saya, “Bukankah surga itu akan membosankan? Kalau di sana kita akan memuji Allah setiap saat, bukankah itu sangat melelahkan?” Namun, jika “lubang di tanah“ saja bisa memancarkan keindahan yang begitu mengagumkan dan membuat kita tidak pernah bosan memandanginya, bayangkanlah sukacita seperti apa yang kita rasakan nanti ketika kita memandang Sumber sejati dari segala keindahan yang ada—Allah Pencipta kita yang penuh kasih—di dalam segala keajaiban yang murni dari ciptaan yang baru.

Daud mengungkapkan kerinduan tersebut ketika ia menulis, “Satu hal telah kuminta kepada Tuhan, itulah yang kuingini: diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan dan menikmati bait-Nya” (Mzm. 27:4). Tak ada yang lebih indah daripada hadirat Allah, yang menjumpai kita di bumi ini sewaktu kita mencari-Nya dengan iman sambil menantikan waktunya kelak kita bertemu muka dengan-Nya.

Pada hari itu, pastilah kita tidak akan pernah lelah memuji Allah kita yang menakjubkan, karena kita tidak akan pernah berhenti menemukan hal-hal baru dari kebaikan-Nya yang sempurna dan karya tangan-Nya yang ajaib. Setiap saat berada dalam hadirat Allah akan membuat kita terkesima oleh keindahan dan kasih-Nya yang tiada bandingnya.

Kita Punya Kuasa!

Suara retakan yang keras itu mengejutkan saya. Saat menyadari suara apa itu, saya segera lari ke dapur. Ternyata tanpa sengaja, saya telah menekan tombol start pada perangkat pembuat kopi yang kosong. Setelah mencabut steker, saya menggapai pegangan dari teko kaca itu. Lalu saya menyentuh bagian bawahnya untuk memastikan teko itu tidak terlalu panas saat diletakkan di meja keramik. Namun, permukaan halus dari bagian bawah teko itu membakar ujung jemari saya dan membuat kulit melepuh.

Sementara luka saya dirawat oleh suami, saya masih tidak percaya pada apa yang terjadi. “Aku benar-benar tak tahu mengapa aku menyentuhnya, padahal aku tahu kacanya panas,” kata saya.

Respons saya setelah melakukan kesalahan tersebut mengingatkan saya tentang reaksi Paulus terhadap persoalan yang lebih serius di dalam Kitab Suci, yakni watak manusia yang berdosa.

Rasul Paulus mengaku tidak tahu mengapa ia melakukan hal-hal yang dilarang dan yang tidak dikehendakinya (Rm. 7:15). Dengan menegaskan bahwa Kitab Suci merupakan patokan tentang apa yang benar dan yang salah (ay.7), ia mengakui adanya pergulatan berat yang terus berlangsung antara keinginan daging dan keinginan roh dalam pergumulannya melawan dosa (ay.15-23). Setelah mengakui kelemahannya sendiri, Paulus lalu menyodorkan pengharapan akan kemenangan yang dapat kita alami sekarang dan untuk selamanya (ay.24-25).

Ketika kita menyerahkan hidup kita kepada Kristus, Dia memberi kita Roh Kudus-Nya yang akan memampukan kita untuk melakukan apa yang benar (8:8-10). Ketika Roh Kudus memampukan kita untuk menaati firman Allah, kita dapat menjauhi dosa yang menghanguskan dan yang memisahkan kita dari hidup berkelimpahan yang dijanjikan Allah kepada mereka yang mengasihi-Nya.

Lempeng Batu

Kota Yerusalem yang kita kenal sekarang bisa dikatakan dibangun di atas puing-puing sebagai akibat dari peperangan dan penghancuran yang berlangsung dari abad ke abad. Suatu kali dalam liburan keluarga, kami menyusuri Via Dolorosa (Jalan Penderitaan), yang menurut tradisi merupakan rute yang dilalui Yesus dalam perjalanan-Nya menuju tempat penyaliban. Panasnya cuaca hari itu mendorong kami untuk beristirahat sejenak dan turun ke ruang bawah tanah yang sejuk dari Convent of the Sisters of Zion (Biara para Biarawati Sion). Di ruangan itu, saya terpikat oleh jalan setapak kuno dari batu yang pada saat itu baru ditemukan lewat suatu penggalian. Lempeng-lempeng batu pada jalan itu diukir dengan gambar beragam permainan yang dilakukan tentara Romawi di waktu senggang mereka.

Meski kemungkinan berasal dari periode setelah masa hidup Yesus di dunia, lempeng-lempeng batu itu membuat saya memikirkan kehidupan rohani saya dengan sungguh-sungguh. Seperti tentara yang bosan dan bermain-main di waktu senggangnya, saya telah menjadi puas akan diri saya sendiri hingga mengabaikan Allah dan sesama. Saya begitu tersentuh saat membayangkan bahwa di dekat tempat saya berdiri saat itu, Tuhan Yesus pernah dipukuli, dicemooh, dihina, dan dianiaya sembari memikul semua kesalahan dan pemberontakan saya.

“Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yes. 53:5).

Lempeng batu itu masih mengingatkan saya pada kasih karunia Tuhan Yesus yang lebih besar dari semua dosa saya.

Tuntunan Ilahi

Saat mengunjungi Galeri Seni Nasional di Washington, DC, saya melihat sebuah mahakarya berjudul The Wind. Lukisan itu menggambarkan badai yang sedang bertiup menerpa pepohonan. Pohon-pohon yang ramping dan menjulang tertiup ke arah kiri gambar. Semak-semak juga terhempas ke arah yang sama.

Seperti angin yang bertiup kencang, tetapi dengan pengaruh yang lebih dahsyat, Roh Kudus juga sanggup menggerakkan orang percaya untuk mengikuti kebaikan dan kebenaran Allah. Mengikuti tuntunan Roh Kudus akan memampukan kita untuk lebih berani melangkah dan lebih sungguh mengasihi sesama. Kita juga akan lebih peka untuk mengetahui bagaimana kita dapat mengendalikan diri (2Tim. 1:7).

Namun adakalanya ketika Roh Allah hendak membawa kita pada pertumbuhan dan perubahan rohani, kita menolak untuk melakukannya. Di Alkitab, sikap yang terus-menerus menolak tuntunan ilahi itu disebut memadamkan Roh (1Tes. 5:19). Akhirnya, lambat laun, hal-hal yang semula kita anggap salah mulai terlihat wajar.

Saat hubungan kita dengan Allah terasa jauh bahkan terputus, itu mungkin karena kita terlalu sering mengabaikan dorongan Roh Kudus. Bila itu terlalu lama dibiarkan, akar masalahnya menjadi semakin sulit untuk ditemukan dan dibereskan. Syukurlah, kita dapat berdoa dan meminta Allah untuk memperlihatkan dosa-dosa kita. Jika kita berpaling dari dosa dan menyerahkan diri kembali kepada Allah, Dia akan mengampuni kita dan menggelorakan lagi kuasa dan pengaruh Roh-Nya dalam diri kita.

Kamar 5020

Jay Bufton menjadikan kamar perawatannya sebagai saluran berkat. Pria berusia 52 tahun yang bekerja sebagai guru SMA sekaligus pelatih olahraga itu sedang menderita kanker. Namun, ia menjadikan Kamar 5020 tempatnya dirawat sebagai saluran pengharapan bagi para sahabat, kerabat, dan pekerja di rumah sakit. Karena sikapnya yang ceria dan imannya yang tangguh, para perawat pun senang melayaninya. Beberapa dari mereka bahkan mengunjunginya di luar jam kerja.

Meski tubuhnya yang dahulu atletis kini melemah, ia tetap menyapa siapa pun dengan senyum dan berusaha menguatkan mereka. Seorang teman berkata, “Tiap kali mengunjungi Jay, ia selalu bersemangat, ceria, dan tidak pernah putus asa. Saat menghadapi kanker dan kematian pun, ia tetap menyaksikan imannya.”

Di hari pemakaman Jay, seorang kawan menyebut bahwa Kamar 5020 mempunyai makna khusus. Ia mengacu pada Kejadian 50:20, di mana Yusuf mengatakan bahwa meski saudara-saudaranya pernah menjualnya sebagai budak, Allah membalikkan keadaan itu dan mendatangkan kebaikan untuk “memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” Kanker menggerogoti tubuh Jay, tetapi karena melihat karya tangan Allah, ia dapat berkata bahwa “Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan.” Itulah alasan Jay dapat memakai kanker yang ganas sekalipun sebagai kesempatan untuk bersaksi tentang Yesus kepada orang lain.

Jay telah memberikan teladan iman yang tak tergoyahkan oleh ancaman kematian. Imannya kepada Allah yang Mahabaik dan layak dipercaya itu sungguh menjadi kesaksian yang luar biasa!

Memelihara Ciptaan Allah

Ikan trout besar berwarna cokelat mulai bersarang dan bertelur di Sungai Owyhee, Oregon pada musim gugur. Ikan-ikan itu menggali dasar sungai yang dangkal dan berbatu untuk membuat sarang di sana.

Para pemancing yang cerdas mengetahui kapan waktunya ikan-ikan trout bertelur dan berusaha tidak mengganggu proses itu. Mereka tidak akan berjalan di ambang sungai agar telur-telur ikan itu tidak terinjak oleh mereka. Mereka juga tidak akan mengarungi sungai ke arah hulu agar tidak ada serpihan-serpihan sampah yang mengalir dan menghancurkan sarang telur ikan tersebut. Mereka pun tidak akan memancing sekalipun sangat mudah untuk melakukannya karena ikan-ikan itu terhampar di dekat sarangnya.

Semua tindakan pencegahan itu merupakan bagian dari etika yang mengatur kegiatan memancing secara bertanggung jawab. Selain itu, ada alasan yang lebih baik dan esensial bagi tindakan tersebut.

Kitab Suci menegaskan fakta bahwa Allah telah memberikan bumi ini kepada umat manusia (Kej 1:28-30). Bumi ini harus kita kelola, tetapi pengelolaannya harus dilakukan dengan penuh kasih sayang.

Saya sangat mengagumi fauna ciptaan Allah: ayam hutan yang berkokok di seberang ngarai, rusa jantan yang mengeluarkan bunyi tanda siap bertarung, sekawanan antelop yang berkumpul di kejauhan, ikan trout berperut merah, induk berang-berang yang bermain di sungai bersama anak-anaknya. Saya menikmati semua itu, karena segalanya telah diberikan Allah kepada kita oleh kasih-Nya yang sangat besar.

Karena segala ciptaan Allah itu telah saya nikmati, saya pun mau memeliharanya dengan sebaik-baiknya.

Tenang dalam Kasih Tuhan

Suatu hari, saat saudari saya dan anak-anaknya makan siang bersama saya, ia berkata kepada Annica, anaknya yang berumur tiga tahun, bahwa sudah tiba waktunya untuk tidur siang. Wajah Annica langsung menunjukkan keberatan. Sambil meneteskan air mata, ia mengeluh, “Tetapi Tante Monica belum gendong aku!” Mamanya tersenyum. “Oke, Tante akan gendong kamu sebelum kamu tidur. Berapa lama kamu mau digendong?” “Lima menit ya,” jawab Annica.

Saat menggendong Annica, saya bersyukur karena dengan kepolosannya ia terus mengingatkan saya tentang rasanya mengasihi dan dikasihi. Saya pikir adakalanya kita lupa bahwa perjalanan iman kita sesungguhnya merupakan sebuah proses belajar untuk makin mengalami kasih Allah—kasih yang luas, tinggi, dan dalamnya lebih daripada yang dapat kita bayangkan (Ef. 3:18). Ketika kehilangan fokus tersebut, bisa jadi kita mendapati diri kita berupaya mati-matian memenangkan hati Allah tetapi melupakan segala sesuatu yang sudah diberikan-Nya kepada kita, seperti si anak sulung dalam perumpamaan Yesus tentang anak yang hilang (Luk. 15:25-32).

Mazmur 131 merupakan salah satu doa dalam Alkitab yang dapat menolong kita untuk “menjadi seperti anak kecil” (Mat. 18:3) dan merelakan diri untuk tidak mengejar hal-hal yang tidak kita mengerti (Mzm. 131:1). Sebaliknya, dengan meluangkan waktu bersama-Nya, kita dapat kembali merasakan ketenangan (ay.2) dan menemukan pengharapan yang kita butuhkan (ay.3) di dalam kasih-Nya—setenang dan senyaman seorang anak di dalam pelukan ibunya (ay.2).

Sebuah Nama Baru

Dalam artikel yang ditulisnya, Mark Labberton berbicara tentang pengaruh sebuah nama atau sebutan. Ia berkata, “Saya masih dapat merasakan dampak dari seorang teman musikus yang suatu hari menyebut saya ‘berjiwa musikal’. Tak seorang pun pernah menyebut saya seperti itu. Saya tidak bisa memainkan alat musik. Saya juga bukan seorang penyanyi. Namun . . . saya langsung merasa dikenal dan dikasihi. [Ia] memperhatikan, menegaskan, dan menghargai jati diri saya yang terdalam.”

Mungkin itulah yang dirasakan Simon ketika Tuhan Yesus memberinya nama baru. Setelah Andreas yakin bahwa Yesus adalah Mesias, ia bergegas mencari saudaranya, Simon, dan membawanya kepada Yesus (Yoh. 1:41-42). Yesus memandang Simon hingga kedalaman jiwanya dan menegaskan serta menghargai jati diri Simon yang terdalam. Tentu Yesus juga melihat kegagalan dan ketidaksabaran yang di kemudian hari akan membawa Simon kepada berbagai masalah. Namun lebih dari itu, Yesus melihat potensi Simon untuk menjadi seorang pemimpin bagi jemaat-Nya. Yesus menamainya Kefas—bahasa Aram untuk Petrus—yakni batu karang (Yoh. 1:42; lihat Mat. 16:18).

Demikian juga dengan kita. Allah melihat segala kesombongan, kemarahan, dan kurangnya kasih kita kepada sesama, tetapi Dia juga mengenal siapa diri kita di dalam Kristus. Allah menyebut kita sebagai umat yang telah dibenarkan dan diperdamaikan (Rm. 5:9-10); diampuni, dikuduskan, dan dikasihi (Kol. 2:13, 3:12); yang telah dipilih dan yang setia (Why. 17:14). Ingatlah bagaimana Allah memandang diri Anda dan kiranya kebenaran itu yang menentukan jati diri Anda.

Gembala yang Baik

Saya menunggu dengan cemas di kamar rumah sakit bersama suami. Putra kami yang masih kecil sedang menjalani operasi mata dan saya merasakan kegelisahan yang luar biasa. Saya mencoba berdoa dan meminta Allah untuk memberi saya kedamaian dalam hati. Saat membuka-buka Alkitab, saya berpikir tentang Yesaya 40. Saya pun membuka pasal yang sangat saya kenal itu, sambil bertanya dalam hati adakah hal baru yang bisa saya pelajari dari bagian itu.

Saat membacanya, saya terpana, karena kata-kata dari masa silam itu mengingatkan saya bahwa “seperti seorang gembala [Tuhan] menggembalakan kawanan ternak-Nya.” Dia “menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya” (ay.11). Seketika itu juga kecemasan saya lenyap karena saya menyadari bahwa Tuhan menopang kami, menuntun kami, dan memelihara kami. Itulah yang kubutuhkan, Tuhan, bisik saya dalam hati. Saya merasa dilingkupi damai sejahtera dari Allah selama dan setelah operasi berlangsung. Bersyukur operasi berjalan dengan baik.

Melalui Nabi Yesaya, Tuhan berjanji kepada umat-Nya bahwa Dia akan menjadi gembala mereka, menuntun mereka dalam kehidupan sehari-hari, dan memberi mereka penghiburan. Kita pun dapat mengalami tuntunan-Nya yang lembut ketika kita menyerahkan kekhawatiran kita kepada-Nya dan memohon limpahan kasih dan damai sejahtera dari-Nya. Kita tahu bahwa Dialah Gembala kita yang Baik, yang memangku kita dan menghimpun kita dengan tangan-Nya yang kekal.

Halaman