Santapan Rohani

Berlangganan pasokan Santapan Rohani
Renungan Pribadi dan Keluarga Kristen

URL: https://santapanrohani.org

Di-update: 1 jam 21 mnt yang lalu

Dia Mengenal Kita

Apakah Allah tahu keadaan saya saat berkendara di malam hari dan menempuh perjalanan sejauh 160 km untuk pulang ke desa saya? Saya sempat merasa ragu. Saat itu suhu tubuh saya sangat tinggi dan kepala saya sakit. Saya pun berdoa, “Tuhan, aku tahu Engkau menyertaiku, tetapi sekarang aku sedang kesakitan!”

Karena lelah dan lemas, saya menghentikan mobil di pinggir jalan dekat sebuah dusun. Sepuluh menit kemudian, saya mendengar suara, “Halo, apakah Anda perlu bantuan?” Itu suara seorang pria yang datang bersama teman-temannya dari dusun itu. Kehadiran mereka membuat saya merasa lega. Saat mereka menyebutkan nama desa mereka, Naa mi n’yala (artinya “Sang Raja tahu keadaanku!”), saya pun takjub. Saya sudah sering melewati dusun itu tanpa pernah mampir. Kali itu, Tuhan memakai nama dusun tersebut untuk mengingatkan saya bahwa Dialah Raja yang senantiasa menyertai saya ketika saya menyetir seorang diri dalam kondisi sakit. Setelah hati saya dikuatkan oleh pertolongan mereka, saya pun melanjutkan perjalanan ke klinik terdekat.

Dalam perjalanan hidup kita sehari-hari, di segala tempat dan situasi, apa pun kondisi yang kita alami, Allah mengenal seluruh diri kita (Mzm. 139:1-4,7-12). Dia tidak pernah mengabaikan atau melupakan kita. Dia tidak pernah terlalu sibuk hingga melalaikan kita. Bahkan saat kita mengalami masalah atau menghadapi kesulitan—“kegelapan” dan “malam” (ay.1-12)—kita tidak tersembunyi dari hadirat-Nya. Kebenaran itu memberi kita pengharapan dan keyakinan yang pasti sehingga kita dapat memuji Tuhan yang telah menciptakan kita dengan dahsyat dan yang memimpin kita di sepanjang hidup ini (ay.14).

Sauh yang Teguh di saat Kita Takut

Apakah Anda sering khawatir? Saya juga. Saya bergumul dengan kecemasan hampir setiap hari. Saya khawatir tentang hal-hal besar dan hal-hal kecil. Terkadang, sepertinya saya khawatir tentang apa saja. Ketika saya masih remaja, saya pernah menelepon polisi saat orangtua saya pulang empat jam lebih lama dari waktu yang dijanjikan.

Kitab Suci berulang kali memerintahkan kita untuk tidak takut. Karena Allah baik dan berkuasa, dan karena Dia telah memberikan Yesus untuk mati bagi kita dan Roh Kudus-Nya untuk menuntun kita, ketakutan tidak sepatutnya menguasai hidup kita. Kita mungkin menghadapi hal-hal yang sulit, tetapi Allah telah berjanji untuk menyertai kita dalam menghadapi semua itu.

Satu bagian Alkitab yang telah terbukti menolong saya dalam momen-momen yang menakutkan adalah Yesaya 51:12-16. Di bagian itu, kepada umat yang mengalami penderitaan yang luar biasa, Allah mengingatkan bahwa Dia tetap menyertai mereka, dan kehadiran-Nya yang memberikan penghiburan merupakan realitas yang terpenting. Seburuk apa pun keadaan mereka, Dia berkata melalui Nabi Yesaya: “Akulah, Akulah yang menghibur kamu” (ay.12).

Saya sangat menyukai janji tersebut. Lima kata itu telah menjadi sauh yang meneguhkan jiwa saya yang bimbang. Saya mengandalkan janji itu berulang kali ketika hidup terasa begitu berat, saat kegentaran terasa sangat menyiksa (ay.13). Melalui bagian Alkitab ini, Allah mengingatkan saya untuk mengalihkan pandangan saya dari ketakutan kepada satu Pribadi yang “membentangkan langit” (ay.13) dengan sikap beriman dan ketergantungan total. Dia sudah berjanji akan menghibur kita.

Menyambut Sesama Orang Asing

Ketika saya dan suami pindah ke Seattle agar tinggal dekat dengan saudara perempuannya, kami tidak tahu di mana kami akan tinggal ataupun bekerja. Sebuah gereja setempat membantu kami menemukan tempat tinggal: sebuah rumah kontrakan dengan kamar tidur yang cukup banyak. Kami dapat menggunakan salah satu kamar tidur, dan menyewakan kamar lainnya kepada para pelajar dari mancanegara. Jadi, sepanjang tiga tahun kemudian kami menjadi orang asing yang menyambut orang asing lainnya. Kami berbagi rumah dan makanan dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia. Kami dan teman-teman serumah kami juga menyambut lusinan pelajar dari mancanegara yang datang untuk mengikuti kegiatan pemahaman Alkitab setiap Jumat malam.

Umat Tuhan tahu apa artinya jauh dari kampung halaman. Selama ratusan tahun, orang Israel benar-benar menjadi orang asing—dan juga budak—di tanah Mesir. Dalam Imamat 19, seiring dengan perintah yang sudah lazim seperti menghormati ayah-ibu dan larangan mencuri (ay.3,11), Allah mengingatkan umat-Nya untuk menaruh empati dan kepedulian kepada orang asing, karena mereka sendiri pernah mengalami bagaimana rasanya menjadi orang asing dan hidup dalam ketakutan (ay.33-34).

Walaupun tidak semua umat Allah di masa sekarang mengalami keterasingan, kita semua tahu bagaimana rasanya menjadi “pendatang” di bumi ini (1Ptr. 2:11). Kita menjalani hidup yang berbeda dari yang lainnya karena kesetiaan kita yang tertinggi pada Kerajaan Surga. Kita dipanggil untuk menciptakan sebuah komunitas yang ramah—sebagai orang asing yang menyambut orang asing lainnya ke dalam keluarga Allah. Keramahtamahan yang kami terima di Seattle mendorong kami untuk menyambut juga orang lain dengan ramah—dan itulah artinya menjadi bagian dari keluarga Allah (Rm. 12:13).

Tuhan Penguasa Kedalaman Laut

“Ketika kita menyelam hingga ke lautan yang dalam dan mengambil sampel, kita pasti akan menemukan spesies yang baru,” ujar seorang ahli biologi laut, Ward Appeltans. Dalam satu tahun terakhir, para ilmuwan telah mengidentifikasi 1.451 jenis kehidupan baru di bawah laut. Sejauh ini kita bahkan belum mengenali setengah dari seluruh kehidupan yang ada di dalam sana.

Dalam Ayub 38–40, Allah memberikan tinjauan terhadap karya ciptaan-Nya demi kebaikan Ayub. Di tiga pasal yang sangat puitis, Allah menyoroti keajaiban cuaca, kebesaran alam semesta, dan beragamnya makhluk yang hidup dalam habitat mereka masing-masing. Itu semua adalah hal-hal yang dapat manusia lihat. Namun, Allah kemudian menyebut tentang makhluk misterius bernama Lewiatan dalam satu bagian yang panjang. Lewiatan adalah makhluk yang sama sekali berbeda dari makhluk-makhluk lain, dengan kulit yang sangat tebal (Ayb. 40:26; 41:4), kuat (41:3), dan gigi-gigi yang dahsyat (41:5). “Dari dalam mulutnya . . . berpancaran bunga api. Dari dalam lubang hidungnya mengepul uap” (41:10-11). “Tidak ada taranya di atas bumi” (41:24).

Allah membahas tentang makhluk raksasa yang tak pernah kita lihat. Namun, apakah itu maksud dari Ayub 41?

Bukan! Ayub 41 memperluas pengertian kita akan sifat Allah yang mengejutkan. Pemazmur mengembangkan pemikiran tersebut dengan menulis, “Lihatlah laut itu, besar dan luas wilayahnya, . . . dan Lewiatan yang telah Kaubentuk untuk bermain dengannya” (Mzm. 104:25-26). Setelah membaca deskripsi yang mengerikan dalam kitab Ayub, kita mengetahui bahwa Allah menciptakan tempat bermain untuk makhluk paling mengerikan yang pernah ada. Lewiatan bermain-main di dalam laut!

Kita memiliki masa sekarang untuk menyelidiki isi lautan. Kelak, kita memiliki waktu selama-lamanya untuk menyelidiki keajaiban Allah kita yang agung, misterius, dan menyenangkan.

Tenanglah, Hai Jiwaku!

Bayangkanlah orangtua yang dengan penuh kasih berusaha menenangkan anaknya yang sedang sedih, kecewa, atau menderita. Dengan lembut ia bergumam ke telinga sang anak—“ssttt.” Sikap tubuh dan gumaman sederhana itu dimaksudkan untuk menghibur dan menenangkan si buah hati. Kita dapat membayangkannya karena itu terjadi di mana saja dan kapan saja. Banyak dari kita pernah memberi atau menerima ungkapan penuh kasih seperti itu. Gambaran itulah yang terlintas di benak saya ketika merenungkan Mazmur 131:2.

Gaya bahasa dan alur tulisan dari mazmur itu mengindikasikan bahwa Daud sebagai penulis telah mengalami sesuatu yang memicunya untuk sungguh-sungguh merenung. Pernahkah Anda mengalami kekecewaan, kekalahan, atau kegagalan yang mendorong Anda untuk berdoa dan merenung dengan khusyuk? Apa yang Anda lakukan ketika situasi kehidupan ini membuat Anda terpuruk? Bagaimana respons Anda ketika gagal dalam ujian, kehilangan pekerjaan, atau mengalami putus hubungan? Daud mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan sekaligus menelusuri dan memeriksa jiwanya secara jujur (Mzm. 131:1). Saat hendak berdamai dengan situasi yang dihadapinya, ia pun menemukan kepuasan seperti yang dialami seorang anak kecil yang merasa nyaman hanya dengan berbaring di dekat ibunya (ay.2).

Situasi-situasi dalam kehidupan ini terus berubah dan terkadang membuat kita terpuruk. Namun, kita bisa berharap dan merasa tenang ketika tahu bahwa ada satu Pribadi yang telah berjanji tidak akan pernah meninggalkan atau mengabaikan kita. Kita dapat mempercayai-Nya sepenuhnya.

Banyak Karunia, Satu Tujuan

Jagung adalah makanan pokok di negara asal saya, Meksiko. Ada banyak jenis jagung. Anda dapat menemukan tongkol jagung berwarna kuning, cokelat, merah, dan hitam, bahkan ada yang bercorak belang-belang. Namun, penduduk kota biasanya tidak mau memakan jagung yang belang-belang. Amado Ramírez, seorang pengusaha restoran sekaligus peneliti, menjelaskan bahwa hal itu terjadi karena mereka meyakini keseragaman menunjukkan kualitas yang tinggi. Meski demikian, jagung yang belang-belang ternyata enak rasanya dan cocok untuk bahan baku keripik tortilla.

Gereja Tuhan lebih mirip dengan jagung yang belang-belang daripada jagung dengan satu warna. Rasul Paulus menggunakan tubuh untuk menggambarkan tentang gereja. Walaupun kita semua adalah satu tubuh, dan kita memiliki Allah yang sama, setiap dari kita telah diberi karunia yang berbeda-beda. Inilah yang dikatakan Paulus, “Ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang” (1Kor. 12:5-6). Keragaman dalam cara kita melayani satu sama lain menunjukkan kemurahan hati dan kreativitas Allah.

Ketika kita menerima keragaman yang ada, kiranya kita juga berusaha sungguh-sungguh untuk menjaga kesatuan iman dan tujuan kita bersama. Memang, kita memiliki kemampuan dan latar belakang yang berbeda-beda. Kita berbicara dalam bahasa yang berbeda-beda dan berasal dari negara yang berbeda-beda. Namun, kita memiliki Allah yang sama, sang Pencipta yang sangat menikmati keragaman ciptaan-Nya.

Bergantung Penuh

Ibunda Laura sedang berjuang melawan penyakit kanker. Suatu pagi, Laura dan seorang teman mendoakan ibunya. Teman Laura yang telah bertahun-tahun menderita cerebral palsy (kelumpuhan pada tulang belakang) itu berdoa: “Tuhan, Engkau selalu menolongku. Sekarang tolonglah juga ibunya Laura.”

Laura sangat tersentuh oleh pernyataan temannya yang bergantung penuh kepada Allah. Saat becermin pada hal itu, ia berkata, “Seberapa sering aku mengakui kebutuhanku akan Allah dalam segala hal? Itu seharusnya kulakukan setiap hari!”

Selama masa pelayanan-Nya di dunia ini, Yesus menunjukkan ketergantungan yang terus-menerus kepada Bapa-Nya di surga. Mungkin ada yang berpikir bahwa karena Yesus adalah Allah dalam rupa manusia, tentu saja Dia bisa mengandalkan diri-Nya sendiri. Namun, ketika para pemimpin agama meminta Yesus memberikan alasan tentang hal “bekerja” di hari Sabat, satu hari peristirahatan yang ditetapkan Hukum Taurat, karena Dia telah menyembuhkan seseorang pada hari itu, Dia menjawab, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya” (Yoh. 5:19). Yesus juga menyatakan ketergantungan-Nya kepada Bapa!

Ketergantungan Yesus kepada Bapa memberikan teladan terbesar bagi kita untuk memahami apa artinya menjalani hidup dalam persekutuan dengan Allah. Setiap napas yang kita hirup merupakan pemberian Allah, dan Dia ingin hidup kita dipenuhi dengan kekuatan-Nya. Ketika kita hidup mengasihi dan melayani Allah dengan senantiasa berdoa dan mengandalkan firman-Nya, kita sedang menyatakan ketergantungan kita kepada-Nya.

Keindahan yang Tersembunyi

Anak-anak kami perlu sedikit dibujuk agar mau diajak snorkeling untuk melihat-lihat pemandangan di bawah permukaan Laut Karibia dari lepas pantai Pulau Tobago. Namun, setelah menyelam, mereka muncul kembali ke permukaan dengan sangat gembira, “Ada ribuan ikan dan banyak sekali jenisnya! Keren banget! Aku belum pernah melihat ikan yang warna-warni seperti itu!”

Anak-anak awalnya tidak terkesan karena permukaan laut itu terlihat sama jernihnya dengan danau di dekat rumah kami. Hampir saja mereka melewatkan keindahan yang tersembunyi di bawah permukaan laut.

Ketika Nabi Samuel pergi ke Betlehem dengan tujuan mengurapi salah seorang anak Isai untuk menjadi raja berikutnya, ia melihat Eliab, anak sulung Isai. Samuel sangat terkesan dengan paras Eliab dan mengira ia sudah menemukan orang yang tepat, tetapi Tuhan menolak Eliab. Allah mengingatkan Samuel bahwa “bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” (1Sam. 16:7).

Kemudian Samuel menanyakan anak-anak Isai lainnya. Anak yang bungsu tidak hadir karena sedang menggembalakan kambing domba. Kemudian anak yang bernama Daud itu dipanggil dan Tuhan pun mengarahkan Samuel untuk mengurapinya.

Kita sering melihat manusia dari penampilan luarnya saja dan tidak sungguh-sungguh meluangkan waktu untuk mengenal keindahan diri mereka yang kadang tersembunyi. Kita tidak selalu menghargai apa yang Allah hargai. Namun, seandainya kita mengambil waktu untuk memperhatikan apa yang ada di balik penampilan luar seseorang, mungkin saja kita akan menemukan keindahan yang tak terduga.

Ciptaan Allah yang Agung

Baru-baru ini, saat cucu-cucu kami berkunjung ke rumah, kami menonton tayangan di Internet dari kamera web yang menyoroti kehidupan sebuah keluarga rajawali di Florida. Setiap hari kami membuka tayangan itu dan menyaksikan bagaimana induk betina, induk jantan, dan bayi rajawali melakukan rutinitas sehari-hari dalam sarang mereka di ketinggian. Hari demi hari, kedua induk burung tersebut terus-menerus menjaga bayi mereka dan menyuapkan ikan yang diperoleh dari sungai di dekat sana untuk mendukung perkembangan si bayi.

Kehidupan keluarga rajawali tersebut memberi kita satu gambaran yang diberikan oleh pemazmur dalam Mazmur 104 tentang karya ciptaan Allah yang mengagumkan. Ia melukiskan serangkaian gambaran alam dan pemandangan dari karya ciptaan tangan Allah yang kreatif.

Kita melihat keagungan alam semesta ciptaan Allah (ay.2-4).

Kita menikmati bumi yang dijadikan-Nya—samudera raya, gunung, dan lembahnya (ay.5-9).

Kita mengecap pemberian Allah yang indah berupa aneka binatang, burung-burung, dan tumbuh-tumbuhan (ay.10-18).

Kita mengagumi siklus yang Allah ciptakan bagi dunia ini—pagi berganti malam, gelap berganti terang, bekerja dan beristirahat (ay.19-23).

Alangkah indahnya dunia yang telah dirancang Allah dengan tangan-Nya untuk kita nikmati—dan untuk kemuliaan-Nya! “Pujilah Tuhan, hai jiwaku!” (ay.1). Setiap dari kita dapat mengucapkan terima kasih kepada Allah atas segala sesuatu yang telah diberikan-Nya untuk kita hargai dan nikmati.

Dunia yang Sempurna

Katie mendapat tugas sekolah untuk menulis karangan berjudul “Duniaku yang Sempurna”. Ia menulis: “Dalam duniaku yang sempurna . . . es krim itu gratis, permen ada di mana-mana, dan langit selalu biru setiap saat, dengan awan-awan kecil yang bentuknya lucu-lucu.” Kemudian isi tulisannya berkembang menjadi lebih serius. “Dalam dunia itu,” lanjutnya, “Tak ada orang yang akan menerima kabar buruk. Tak ada juga orang yang harus menyampaikan kabar buruk.”

Tak ada orang yang akan menerima kabar buruk. Bukankah itu luar biasa indah? Kata-kata itu tegas merujuk pada pengharapan kita yang pasti di dalam Yesus. Dia “menjadikan segala sesuatu baru”, yakni memulihkan dan mengubah dunia kita (Why. 21:5).

Di surga, ada banyak hal yang “tidak akan ada lagi”— tidak akan ada lagi kejahatan, tidak akan ada lagi maut, tidak akan ada lagi perkabungan, tidak akan ada lagi penderitaan, tidak akan ada lagi air mata (ay.4)! Surga merupakan tempat persekutuan yang sempurna dengan Allah, yang dengan kasih-Nya telah menebus dan menjadikan umat percaya sebagai milik-Nya (ay.3) Alangkah menakjubkan sukacita yang menanti kita!

Kita dapat mencicipi realitas yang sempurna itu sekarang juga di dunia ini. Dalam persekutuan dengan Allah setiap hari, kita mengalami sukacita dari kehadiran-Nya (Kol. 1:12-13). Bahkan di saat kita bergumul melawan dosa, kita mengalami sebagian kemenangan yang memang menjadi milik kita di dalam Kristus (2:13-15), satu-satunya yang telah menaklukkan dosa dan kematian secara tuntas.

Aku Bisa Melihatmu

Ketika Xavier berusia dua tahun, ia pernah berlari dari satu lorong ke lorong lainnya di dalam sebuah toko sepatu kecil. Sambil bersembunyi di balik tumpukan kotak sepatu, ia tertawa geli saat suami saya, Alan, berkata, “Aku bisa melihatmu.”

Tiba-tiba saja, saya melihat Alan berlari panik dari satu lorong ke lorong berikutnya sambil memanggil nama Xavier. Kami bergegas lari ke bagian depan toko. Anak kami yang masih tertawa-tawa telah berlari menuju pintu depan yang terbuka ke arah jalan yang dilalui banyak kendaraan.

Dengan sigap, Alan meraup Xavier. Kami berpelukan sambil mengucap syukur kepada Allah, terisak-isak, dan menciumi kedua pipi tembem anak balita kami tersebut.

Setahun sebelum mengandung Xavier, saya pernah mengalami keguguran. Setelah Allah memberkati kami dengan kehadiran Xavier, saya menjadi orangtua yang selalu khawatir. Pengalaman di toko sepatu tadi membuktikan bahwa saya tidak akan selalu bisa melihat atau melindungi anak kami. Namun, saya memperoleh kedamaian dengan belajar untuk datang kepada Allah, satu-satunya sumber pertolongan saya di saat saya bergumul dengan kekhawatiran dan kecemasan.

Bapa Surgawi kita tidak pernah mengalihkan pandangan-Nya dari anak-anak-Nya (Mzm. 121:1-4). Meskipun kita tidak dapat mencegah datangnya pencobaan, sakit hati, atau kehilangan, kita dapat menjalani hidup dengan iman yang teguh dan bersandar kepada Sang Penolong dan Penjaga yang selalu menaungi kehidupan kita (ay.5-8).

Adakalanya kita mengalami hari-hari yang membuat kita merasa tersesat dan tak berdaya. Kita mungkin juga merasa tidak berdaya ketika tidak bisa melindungi orang-orang yang kita kasihi. Namun, kita bisa meyakini bahwa Allah kita yang Mahatahu tidak pernah mengabaikan kita—anak-anak-Nya yang terkasih dan berharga.

Menerapkan Iman

Saat menginap di sebuah hotel di Austin, Texas, saya melihat selembar kartu di meja dalam kamar saya. Pada kartu itu tertulis:

Selamat Datang

Semoga Anda beristirahat dengan nyaman dan perjalanan Anda membuahkan hasil. Kiranya Tuhan memberkati dan melindungi Anda, dan menyinari Anda dengan wajah-Nya.

Kartu dari pengelola hotel itu membuat saya ingin tahu lebih banyak tentang mereka. Saya pun mengakses situs mereka dan membaca tentang budaya, keunggulan, dan nilai-nilai yang mereka pegang. Dengan cara yang menarik, mereka berusaha memberikan pelayanan yang terbaik dan menerapkan iman mereka di dunia kerja.

Falsafah kerja mereka mengingatkan saya pada perkataan Petrus kepada para pengikut Yesus yang tersebar di seluruh Asia Kecil. Petrus mendorong mereka untuk menunjukkan iman mereka kepada Kristus di tengah masyarakat tempat mereka tinggal. Sekalipun mereka berada di bawah ancaman dan penganiayaan, Petrus menasihati mereka untuk tidak takut, “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat” (1Ptr. 3:15).

Salah seorang teman menyebut hal itu sebagai “menjalani gaya hidup yang menuntut jawaban”. Di mana pun kita tinggal atau bekerja, kiranya kita senantiasa menerapkan iman kita dengan kekuatan dari Allah hari demi hari. Kiranya kita selalu siap sedia memberikan jawaban dengan lemah lembut dan penuh hormat kepada siapa saja yang bertanya tentang pengharapan yang kita miliki.

Seperti Apakah Allah Itu?

Untuk merayakan momen istimewa, saya diajak suami mengunjungi sebuah galeri seni di lingkungan kami. Ia mengatakan bahwa saya dapat memilih salah satu lukisan di sana sebagai hadiah. Saya pun memilih sebuah lukisan kecil yang menggambarkan anak sungai yang mengalir di tengah hutan. Dasar sungai hampir mengisi seluruh gambar sehingga lukisan itu tidak banyak menampilkan langit. Meskipun demikian, pantulan pada permukaan air sungai yang jernih memperlihatkan posisi matahari, puncak-puncak pohon, dan suasana yang berkabut. Satu-satunya cara untuk “melihat” langit adalah dengan memandangi permukaan air sungai itu.

Dalam konteks spiritual, Yesus bagaikan anak sungai tersebut. Jika ingin tahu seperti apakah Allah itu, kita memandang kepada Yesus. Penulis kitab Ibrani mengatakan bahwa Yesus adalah “cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah” (1:3). Meskipun kita dapat mempelajari fakta-fakta tentang Allah melalui pernyataan langsung dalam Alkitab seperti “Allah itu kasih”, kita dapat memperdalam pemahaman kita dengan melihat bagaimana Allah akan bertindak saat Dia menghadapi masalah yang sama dengan apa yang kita hadapi sebagai manusia. Itulah yang ditunjukkan Yesus kepada kita, ketika sebagai Allah, Dia datang ke dunia dan mengambil rupa manusia.

Saat dicobai, Yesus mengungkapkan kekudusan Allah. Ketika menghadapi kegelapan rohani, Dia menunjukkan otoritas Allah. Saat bergumul dengan masalah orang, Dia menunjukkan kepada kita hikmat Allah. Dalam kematian-Nya, Dia melukiskan kasih Allah.

Meskipun tak bisa memahami segala sesuatu tentang Allah—Dia tak terbatas dan pemikiran kita sangat terbatas—kita mengenal sifat-sifat-Nya dengan pasti saat kita memandang kepada Yesus Kristus.

Terang Dunia

Salah satu karya seni favorit saya tergantung di ruang kapel Keble College di Oxford, Inggris. Lukisan The Light of the World (Terang Dunia) karya William Holman Hunt asal Inggris itu menunjukkan Yesus yang memegang lentera dan sedang mengetuk pintu sebuah rumah.

Salah satu aspek menarik dari lukisan itu adalah pintunya tidak memiliki pegangan. Ketika ditanya tentang tidak adanya cara untuk membuka pintu itu, Hunt menjelaskan bahwa ia ingin memberikan gambaran yang sesuai dengan Wahyu 3:20, “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya.”

Tulisan Rasul Yohanes dan lukisan itu menggambarkan kebaikan hati Yesus. Dengan lembut Dia mengetuk pintu hati kita untuk menawarkan damai sejahtera-Nya. Yesus berdiri dengan sabar sambil menantikan respons kita. Dia tidak akan membuka sendiri pintu hati kita dan memaksakan diri-Nya masuk ke dalam hidup kita. Dia tidak memaksakan kehendak-Nya atas kita. Alih-alih, Yesus menawarkan anugerah keselamatan kepada tiap orang dan terang-Nya untuk menuntun kita.

Kepada tiap orang yang membuka pintu hatinya, Yesus berjanji akan masuk dan mendapatkannya. Tak ada syarat dan ketentuan lainnya.

Apabila Anda mendengar suara Tuhan Yesus dan ketukan lembut-Nya pada pintu hati Anda, yakinlah bahwa Yesus sedang menanti Anda dengan sabar dan Dia akan masuk ke dalam hati Anda jika Anda mempersilakan-Nya.

Gambaran Kasih

Saya dan anak-anak telah mempraktikkan suatu aktivitas harian baru. Setiap malam sebelum tidur, kami mengumpulkan pensil warna-warni dan menyalakan lilin. Sembari meminta Allah untuk menerangi jalan kami, kami membuka buku jurnal kami masing-masing, lalu menggambar atau menulis jawaban dari dua pertanyaan berikut: Kapan aku menunjukkan kasih hari ini? dan Kapan aku gagal menyatakan kasih hari ini?

Mengasihi sesama telah menjadi bagian penting dari kehidupan Kristen sejak semula (2Yoh. 1:5). Itulah yang ditulis Yohanes dalam surat kedua kepada jemaatnya. Ia meminta mereka semua untuk saling mengasihi dalam ketaatan kepada Allah (2Yoh. 1:5-6). Kasih adalah salah satu topik favorit Yohanes dalam surat-suratnya. Ia mengatakan bahwa menerapkan kasih secara nyata merupakan salah satu cara untuk mengetahui bahwa kita “berasal dari kebenaran,” yaitu bahwa kita sungguh-sungguh hidup di hadapan Allah (1Yoh. 3:18-19). Ketika saya dan anak-anak merenungkan pertanyaan-pertanyaan tersebut, kami menemukan bahwa dalam hidup kami, kasih ditunjukkan lewat perbuatan-perbuatan sederhana: meminjamkan payung, menghibur seseorang yang bersedih, atau memasak makanan kesukaan teman. Momen-momen saat kami gagal menunjukkan kasih juga sama sederhananya: kami bergosip, enggan berbagi, atau memuaskan keinginan kami sendiri tanpa peduli kebutuhan orang lain.

Perenungan yang kami lakukan setiap malam itu menolong kami untuk makin peka dan menangkap apa yang ditunjukkan Roh Kudus kepada kami di sepanjang hidup ini. Dengan pertolongan-Nya, kami belajar untuk “hidup di dalam kasih” (2Yoh. 1:6).

Cincin di Tempat Sampah

Suatu pagi, semasa kuliah, saya terbangun dan melihat teman sekamar saya Carol sedang panik. Cincin stempelnya hilang. Kami pun mencarinya ke mana saja, bahkan sampai mengubek-ubek tempat sampah.

Saya menyobek salah satu plastik sampah. “Kamu begitu gigih mencari cincin ini!”

“Aku tak rela kehilangan cincin seharga $200 (sekitar Rp2.800.000)!” serunya.

Tekad Carol itu mengingatkan saya pada perumpamaan Tuhan Yesus mengenai Kerajaan Surga. Dia menyatakan bahwa kerajaan itu “seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu” (Mat. 13:44). Sungguh, ada hal-hal tertentu yang memang layak dicari dan diperjuangkan.

Di sepanjang Alkitab, Allah menjamin bahwa mereka yang mencari-Nya pasti akan menemukan-Nya. Dalam kitab Ulangan, Allah menjelaskan kepada bangsa Israel bahwa mereka akan menemukan-Nya saat mereka berpaling dari dosa-dosa mereka dan mencari-Nya dengan segenap hati (4:28-29). Dalam kitab 2 Tawarikh, Raja Asa dikuatkan oleh janji yang serupa (15:2). Lalu, dalam kitab Yeremia, Allah memberikan janji yang sama kepada umat-Nya yang terbuang, dengan mengatakan bahwa Dia akan membawa mereka kembali dari pembuangan (29:13-14).

Apabila kita mencari Allah, melalui firman-Nya, ibadah, dan dalam kehidupan kita sehari-hari, kita pasti akan menemukan-Nya. Seiring waktu, kita akan semakin dalam mengenal-Nya. Itu bahkan jauh lebih indah daripada kebahagiaan yang dialami Carol saat menemukan cincinnya di dalam plastik sampah!

Terbebas

Jonathan adalah anak laki-laki yang terlahir dengan cerebral palsy (kelumpuhan otak). Ia sempat tidak dapat berbicara atau berkomunikasi. Namun ibunya, Chantal Bryan, tidak pernah menyerah. Saat anak itu berusia sepuluh tahun, ibunya menemukan cara untuk berkomunikasi dengannya melalui gerak-gerik mata dan sebuah papan huruf. Setelah mengalami terobosan itu, sang ibu berkata, “Ia seakan terbebas dan kami dapat menanyakan apa pun kepadanya.” Kini Jonathan dapat membaca dan menulis, bahkan mengarang puisi; semuanya lewat komunikasi dengan kedua matanya. Saat ditanya bagaimana rasanya bisa “berbicara” dengan keluarga dan teman-temannya, ia menjawab, “Sungguh luar biasa aku bisa mengatakan bahwa aku mengasihi mereka.”

Kisah Jonathan begitu menyentuh dan membuat saya merenungkan karya Allah yang luar biasa dalam melepaskan kita dari belenggu dosa. Seperti yang ditulis Rasul Paulus kepada jemaat di Kolose, dahulu kita “hidup jauh dari Allah” (Kol. 1:21), perbuatan kita yang jahat membuat kita berseteru dengan-Nya, tetapi melalui kematian Kristus di kayu salib, sekarang kita ditempatkan “kudus . . . di hadapan-Nya” (ay.22). Kini kita dapat hidup “layak di hadapan-Nya” dengan memberi buah, bertumbuh dalam pengenalan akan Allah, dan dikuatkan dengan kuasa-Nya (ay.10-11).

Setelah terbebas dari dosa, kita dapat memakai suara kita untuk memuji Allah dan membagikan kabar baik-Nya tentang hidup yang tidak lagi terikat oleh dosa. Sambil bertekun dalam iman, kita dapat tetap memegang teguh pengharapan kita di dalam Kristus.

Dimerdekakan

Saat saya masih kecil dan tinggal di desa, ada satu hal tentang ayam yang menarik perhatian saya. Setiap kali berhasil menangkap seekor anak ayam, saya akan menggenggamnya sebentar, lalu dengan lembut melepaskannya. Namun, anak ayam itu tetap diam karena dikiranya masih berada dalam genggaman saya; meski bisa bebas berlari, anak ayam itu merasa terperangkap.

Saat kita beriman kepada Yesus, dengan penuh rahmat Dia melepaskan kita dari dosa dan cengkeraman Iblis atas kita. Namun, karena dibutuhkan waktu untuk mengubah kebiasaan dan perilaku kita yang berdosa, Iblis dapat membuat kita merasa terperangkap. Akan tetapi, Roh Allah telah memerdekakan kita dan Dia tidak memperbudak kita. Kepada jemaat di Roma, Paulus menyatakan, “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut” (Rm. 8:1-2).

Melalui pembacaan Alkitab, doa, dan kuasa Roh Kudus, Allah bekerja di dalam diri kita untuk memurnikan dan memampukan kita hidup bagi-Nya. Alkitab mendorong kita agar tetap berjalan bersama Yesus dengan penuh kepastian dan tidak dibelenggu keraguan seolah-olah kita belum dimerdekakan.

Yesus berkata, “Apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka” (Yoh. 8:36). Kiranya kemerdekaan yang kita miliki di dalam Yesus Kristus mendorong kita untuk senantiasa mengasihi dan melayani-Nya.

Berdoa

Selama bertahun-tahun, saya menyukai tulisan-tulisan karya penulis Inggris, G. K. Chesterton. Selera humor dan wawasannya sering membuat saya tertawa dan kemudian terdiam sejenak untuk merenungkannya lebih serius. Sebagai contoh, ia menulis, “Anda berdoa sebelum makan. Itu baik. Namun, saya berdoa sebelum drama dan opera dimulai, berdoa sebelum konser dan pantomim berlangsung, dan berdoa sebelum membaca buku, menggambar, melukis, berenang, bermain anggar, bertinju, berjalan-jalan, bermain, berdansa; dan berdoa sebelum saya mencelupkan pena ke dalam tinta untuk menulis.”

Memang baik untuk bersyukur kepada Tuhan sebelum kita makan, tetapi tidak cukup sampai di situ. Rasul Paulus memandang setiap aktivitas dan perbuatan sebagai alasan untuk bersyukur kepada Allah dan sesuatu yang sepatutnya kita lakukan untuk kemuliaan-Nya. “Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita” (Kol. 3:17). Rekreasi, pekerjaan, dan pendidikan adalah sarana-sarana yang dapat kita gunakan untuk memuliakan Tuhan dan mengungkapkan rasa syukur kita kepada-Nya.

Paulus juga mendorong jemaat di Kolose, “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah” (ay.15).

Di mana pun dan kapan pun kita ingin mengucap syukur kepada Tuhan dan memuliakan namanya-Nya, itulah tempat dan waktu terbaik bagi kita untuk “berdoa”.

Penghiburan dari Sahabat

Saya pernah membaca kisah tentang seorang ibu yang kaget saat melihat putrinya pulang sekolah dengan berlepotan lumpur dari pinggang sampai kaki. Putrinya menjelaskan bahwa seorang temannya terpeleset dan jatuh ke dalam kubangan lumpur. Selagi teman yang lain mencari bantuan, ia merasa kasihan kepada temannya yang sedang duduk sendirian sambil memegangi kakinya yang terluka itu. Jadi, ia pun ikut duduk dalam kubangan lumpur itu dan menemani temannya sampai ada guru yang datang.

Ketika Ayub mengalami kehilangan hebat dengan kematian anak-anaknya dan didera bisul yang menyakitkan di sekujur tubuhnya, penderitaannya begitu tak tertahankan. Alkitab mengatakan bahwa ada tiga teman Ayub yang ingin menghiburnya. Saat mereka menemukan Ayub, “menangislah mereka dengan suara nyaring. Mereka mengoyak jubahnya, dan menaburkan debu di kepala terhadap langit. Lalu mereka duduk bersama-sama dia di tanah selama tujuh hari tujuh malam. Seorangpun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat penderitaannya” (Ayb. 2:12-13).

Teman-teman Ayub awalnya menunjukkan pengertian yang luar biasa. Mereka bisa merasakan bahwa yang Ayub butuhkan hanyalah seseorang yang rela menemani dan ikut berduka bersamanya. Ketiga teman itu baru berbicara kepada Ayub di pasal-pasal berikutnya, tetapi ironisnya, mereka justru memberinya nasihat yang tidak baik (16:1-4).

Sering kali, hal terbaik yang dapat kita lakukan untuk menghibur seorang teman yang sedang terluka adalah dengan mendampinginya di tengah penderitaannya.

Halaman