Santapan Rohani

Berlangganan pasokan Santapan Rohani
Renungan Pribadi dan Keluarga Kristen

URL: https://santapanrohani.org

Di-update: 7 jam 54 mnt yang lalu

Menyenangkan Telinga Kita

Sebagai manusia, kita cenderung mencari informasi yang mendukung pendapat kita. Riset menunjukkan bahwa kita sebenarnya berusaha dua kali lipat untuk mencari informasi yang mendukung posisi kita. Kita cenderung menjauhi pemikiran lain yang menentang pemikiran yang kita pegang dengan teguh.

Demikianlah yang terjadi di masa pemerintahan Raja Ahab di Israel. Ketika ia dan Yosafat, raja Yehuda, mempertimbangkan untuk berperang melawan Ramot-Gilead, Ahab mengumpulkan 400 nabi untuk menolongnya mengambil keputusan. Mereka adalah orang-orang yang ditunjuk Ahab sendiri menjadi nabi. Oleh karena itu, mereka selalu mengatakan apa yang menyenangkan telinga sang raja. Masing-masing dari nabi itu menjawab bahwa Ahab harus berperang, dengan mengatakan, “Allah akan menyerahkannya ke dalam tangan raja” (2Taw. 18:5). Yosafat bertanya apakah masih ada nabi lain yang telah dipilih Allah untuk memberikan petunjuk-Nya. Ahab menjawab dengan ogah-ogahan karena nabi Allah yang bernama Mikha “tidak pernah . . . menubuatkan yang baik tentang [dirinya], melainkan selalu malapetaka” (ay.7). Dan memang, Mikha pun menubuatkan bahwa mereka tidak akan menang, dan bangsa Israel akan “bercerai-berai di gunung-gunung” (ay.16).

Saat membaca kisah mereka, saya menyadari bahwa saya pun cenderung menghindari nasihat yang bijak apabila itu tidak menyenangkan telinga saya. Bagi Ahab, mendengarkan 400 nabi yang selalu mengatakan apa yang menyenangkan hatinya itu ternyata berakibat fatal (ay.34). Kiranya kita selalu rindu mencari dan mau mendengarkan suara kebenaran, firman Allah dalam Alkitab, walaupun suara itu bertentangan dengan kemauan dan pemikiran kita sendiri.

Kesegaran di Teras Depan

Pada suatu hari yang sangat panas, Carmine McDaniel yang berusia 8 tahun ingin memastikan tukang pos yang berkeliling di kompleks rumahnya tidak kepanasan atau mengalami dehidrasi. Jadi, ia menaruh tempat pendingin berisi sekaleng minuman berenergi dan beberapa botol air mineral di teras depan rumahnya. Kamera keamanan di rumahnya merekam reaksi tukang pos itu: “Wow, minuman dingin. Sangat menyegarkan! Terima kasih, Tuhan!”

Ibunda Carmine berkata, “Carmine merasa sudah menjadi ‘kewajibannya’ menyediakan minuman dingin bagi tukang pos, bahkan saat kami sedang tidak berada di rumah.”

Kisah itu menyentuh hati kita, sekaligus juga mengingatkan kita bahwa ada satu Pribadi yang akan “memenuhi segala keperluanmu,” sebagaimana dikatakan oleh Rasul Paulus. Meski mendekam di penjara dan tidak memiliki kepastian akan masa depannya, Paulus bersukacita atas jemaat di Filipi karena melalui bantuan finansial yang mereka berikan, Allah telah memenuhi segala keperluannya. Jemaat itu tidak kaya, bahkan sangat miskin, tetapi dengan murah hati mereka memberikan bantuan kepada Paulus dan orang lain (lihat 2 Korintus 8:1-4). Sebagaimana jemaat di Filipi telah memenuhi keperluan Paulus, Allah juga akan memenuhi segala keperluan mereka “menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Flp. 4:19).

Allah kerap mengirimkan pertolongan ilahi melalui sarana manusiawi. Dengan kata lain, Allah memenuhi keperluan kita melalui pertolongan orang lain. Saat kita mempercayakan kebutuhan kita kepada-Nya, seperti Paulus, kita belajar mengenal rahasia dari kepuasan sejati dan kesanggupan untuk menghadapi keadaan apa pun (ay.12-13).

Manis dan Pahit

Sejumlah orang menyukai cokelat pahit dan yang lain lebih menyukai cokelat manis. Bangsa Maya kuno di Amerika Tengah menikmati cokelat sebagai minuman dan menambahi rasanya dengan cabai. Mereka menyebut minuman itu sebagai “air pahit”. Bertahun-tahun kemudian cokelat dibawa ke Spanyol, tetapi orang Spanyol lebih menyukai cokelat manis. Oleh karena itu, mereka menambahkan gula dan madu untuk menyeimbangkan rasa pahit alami dari cokelat.

Seperti cokelat, hari-hari yang kita jalani dapat terasa manis atau pahit. Pada abad ke-17, biarawan asal Prancis yang bernama Brother Lawrence menulis, “Jika kita tahu betapa [Allah] sangat mengasihi kita, kita akan selalu siap menerima dengan sikap yang sama . . . pemberian-Nya, baik yang manis maupun yang pahit.” Selalu siap menerima baik yang manis maupun yang pahit dengan sikap yang sama? Itu tidak mudah! Apa yang dimaksud oleh Brother Lawrence? Kuncinya terletak pada karakter Allah. Sang pemazmur berkata kepada Allah, “Engkau baik dan berbuat baik” (Mzm. 119:68)

Bangsa Maya kuno juga menghargai cokelat pahit karena khasiatnya sebagai obat yang memberikan kesembuhan. Hari-hari pahit yang kita alami pun berharga. Hari-hari seperti itu membuat kita menyadari kelemahan-kelemahan kita dan menolong kita untuk makin bergantung kepada Allah. Pemazmur menulis, “Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu” (ay.71). Marilah kita menerima hidup ini dengan beragam rasa yang ditawarkannya—dan dengan meyakini kebaikan Allah. Marilah kita mengatakan, “Engkau telah memenuhi janji-Mu, ya Tuhan, dan berbuat baik kepada hamba-Mu” (ay.65 BIS).

Kebaikan Orang yang Tak Dikenal

Ketika baru lulus kuliah, keadaan mengharuskan saya untuk membatasi uang belanja saya tidak lebih dari 25 dolar seminggu. Suatu hari, saat sedang antre membayar, saya merasa bahwa total harga dari barang-barang yang saya ingin beli lebih besar daripada sisa uang yang saya kantongi. Oleh karena itu, saya berkata kepada kasir, “Tolong berhenti kalau total harganya sudah 20 dolar.” Ternyata saya dapat membeli semua barang yang saya pilih, kecuali sebungkus merica.

Saat saya hendak pulang, tiba-tiba seseorang menghentikan mobil saya. Ia berkata, “Ini merica untuk Ibu,” sembari memberikan bungkusan itu kepada saya. Sebelum saya sempat mengucapkan terima kasih, ia sudah melangkah pergi.

Mengenang indahnya kebaikan yang sederhana itu sungguh menyegarkan hati saya. Saya pun teringat pada kata-kata Yesus dalam Matius 6. Setelah mengecam mereka yang menggembar-gemborkan sedekah mereka kepada orang miskin (ay.2), Yesus mengajar murid-murid-Nya suatu sikap yang berbeda. Yesus menekankan, daripada menjadikan pemberian sebagai suatu pameran atas kemurahan hati pemberinya, hal itu sepatutnya dilakukan secara diam-diam, begitu tersembunyinya hingga seperti tangan kiri mereka tidak mengetahui apa yang dilakukan tangan kanannya (ay.3)!

Seperti yang diingatkan lewat kebaikan seseorang yang tidak saya kenal itu, fokus dari pemberian bukanlah diri kita. Kita memberi hanya karena Allah yang Maha Pemurah telah memberi dengan limpahnya kepada kita (2Kor. 9:6-11). Saat memberi dengan diam-diam dan murah hati, kita mencerminkan diri Allah—dan Dia pun menerima ucapan syukur yang memang layak diterima-Nya (ay.11).

Dihina karena Semua Dosa Kita

Susannah Cibber dikenal luas pada abad ke-18 karena bakatnya sebagai penyanyi. Namun, ia juga terkenal karena masalah-masalah dalam pernikahannya. Itulah sebabnya ketika oratorio karya Handel yang berjudul Messiah (Mesias) pertama kali ditampilkan di Dublin pada April 1742, banyak penonton mengecam keterlibatan Cibber sebagai solois dalam pertunjukan tersebut.

Dalam pertunjukan perdananya, Cibber bernyanyi tentang Sang Mesias: “Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan” (Yes. 53:3). Kata-kata tersebut begitu menyentuh hati Pdt. Patrick Delany hingga ia langsung berdiri dan berkata, “Ibu, karena semua itu dosa-dosamu dapat diampuni!”

Hubungan antara Susannah Cibber dan tema dari Messiah karya Handel itu sangat jelas. “Seorang yang penuh kesengsaraan”—Yesus, Sang Mesias—“dihina dan dihindari orang” karena dosa. Nabi Yesaya berkata, “Hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul” (ay.11).

Hubungan antara Sang Mesias dan kita juga sama jelasnya. Baik kita berada di pihak Susannah Cibber atau di pihak para penonton yang mengecamnya, bagaimanapun keadaan kita, kita semua perlu bertobat dan menerima pengampunan Allah. Melalui kehidupan, kematian, dan kebangkitan-Nya, Yesus telah memulihkan hubungan kita dengan Allah Bapa.

Karena semua itu—karena semua yang telah Yesus lakukan, seluruh dosa kita dapat diampuni.

Mahkota Raja

Kami duduk mengelilingi sebuah meja dan setiap dari kami menancapkan tusuk gigi pada lembaran gabus di depan kami. Pada saat makan malam, di minggu-minggu menjelang Paskah, kami bersama-sama membuat mahkota duri. Setiap tusuk gigi melambangkan perbuatan kami di hari itu yang kami sesali dan yang telah ditanggung Kristus lewat pengorbanan-Nya. Malam demi malam, aktivitas tersebut menyadarkan kami betapa kami sungguh bersalah atas dosa-dosa kami dan betapa kami membutuhkan Juruselamat. Kami pun menyadari kembali bahwa Tuhan Yesus telah membebaskan kami melalui kematian-Nya di kayu salib.

Mahkota duri yang dikenakan di atas kepada Yesus merupakan bagian dari permainan kejam yang dilakukan para tentara Romawi sebelum Yesus disalibkan. Mereka juga mengenakan jubah kerajaan kepada-Nya dan memberi-Nya tongkat sebagai simbol tongkat seorang raja, yang kemudian mereka pakai untuk memukul-Nya. Mereka mencemooh Yesus dengan menyebut-Nya sebagai “Raja orang Yahudi” (Mat. 27:29), tanpa menyadari bahwa tindakan mereka akan terus diingat hingga ribuan tahun kemudian. Yesus bukanlah raja biasa. Dialah Raja segala raja yang memberikan kepada kita hidup kekal melalui kematian dan juga kebangkitan-Nya.

Pada hari Paskah tahun itu, kami merayakan anugerah pengampunan dan hidup baru dari Allah dengan mengganti tusuk gigi yang kami tancapkan sebelumnya dengan bunga. Kami sungguh bersukacita karena menyadari bahwa Allah telah menghapus dosa-dosa kami dan memberikan kami kemerdekaan serta hidup yang kekal di dalam Dia!

Jalan Kesengsaraan

Sepanjang Minggu Suci, kita mengenang hari-hari terakhir yang dijalani Yesus sebelum penyaliban-Nya. Jalan yang dilalui Yesus di antara jalanan kota Yerusalem untuk tiba di tempat penyaliban itu kini dikenal sebagai Via Dolorosa atau jalan kesengsaraan.

Namun, penulis kitab Ibrani melihat jalan yang ditempuh Yesus itu lebih dari sekadar jalan kesengsaraan. Jalan penderitaan yang ditanggung Yesus dengan rela hingga ke Golgota telah membuka “jalan yang baru dan yang hidup” bagi kita untuk datang kepada Allah (Ibr. 10:20).

Selama berabad-abad, orang Yahudi telah mencari cara untuk datang kepada Allah dengan mengorbankan binatang dan berusaha menaati hukum Taurat. Namun, di dalam hukum Taurat itu “hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang,” karena “tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa” (ay.1,4).

Perjalanan Yesus menapaki Via Dolorosa membawa-Nya kepada kematian dan kebangkitan. Karena pengorbanan-Nya, kita dapat dikuduskan ketika kita mempercayai-Nya untuk mengampuni dosa-dosa kita. Meskipun kita tidak dapat menaati hukum Taurat dengan sempurna, kita dapat mendekat kepada Allah tanpa rasa takut, dengan sepenuhnya yakin bahwa kita disambut dan dikasihi oleh-Nya (ay.10,22).

Jalan kesengsaraan yang dilalui Kristus telah membuka bagi kita jalan yang baru dan yang hidup bagi kita kepada Allah.

Sebaskom Kasih

Bertahun-tahun lalu, dalam mata pelajaran fisika, guru kami meminta kami untuk menyebutkan warna dari dinding belakang kelas kami, tanpa kami menoleh ke belakang. Tak satu pun dari kami bisa menjawabnya karena kami memang tidak pernah memperhatikan warna dinding itu.

Terkadang kita melewatkan atau mengabaikan sejumlah hal dalam kehidupan ini karena kita memang tidak sanggup menangkap dan menerima segala sesuatu. Namun, terkadang kita memang tidak menaruh perhatian pada hal-hal yang sebenarnya sudah ada selama ini.

Itulah yang saya alami ketika baru-baru ini membaca lagi cerita tentang Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya. Cerita itu sudah kita kenal karena sering dibacakan selama Minggu Sengsara. Kita takjub melihat Juruselamat dan Raja kita mau merendahkan diri untuk membasuh kaki murid-murid-Nya. Pada zaman Yesus, para pelayan Yahudi pun tidak mau melakukan tugas tersebut karena hal itu dianggap merendahkan martabat mereka. Namun, yang saya lewatkan adalah Yesus, yang sepenuhnya manusia dan sepenuh-nya Allah, juga membasuh kaki Yudas Iskariot. Meskipun Yesus tahu Yudas akan mengkhianati-Nya, seperti kita baca dalam Yohanes 13:11, Dia tetap merendahkan diri-Nya dan membasuh kaki Yudas.

Kasih pun tercurah dalam sebaskom air—kasih yang diberikan Kristus bahkan kepada orang yang akan mengkhianati-Nya. Sambil kita merenungkan peristiwa demi peristiwa di sepanjang minggu ini hingga pada perayaan kebangkitan Yesus nanti, kiranya kita juga diberi kerendahan hati untuk dapat meneruskan kasih Yesus kepada para sahabat maupun musuh-musuh kita.

Melihat dan Termenung

Dalam lagu “Look at Him” (Pandanglah Dia), Rubén Sotelo, pencipta lagu asal Meksiko, menggambarkan Yesus yang tergantung di kayu salib. Sotelo mengajak kita untuk melihat Yesus dan termenung, karena tak satu pun kata dapat terucap saat kita menghayati kasih yang Yesus tunjukkan di kayu salib. Dengan iman, kita dapat membayangkan adegan yang digambarkan dalam Injil. Kita dapat membayangkan salib dan darah Yesus, serta paku dan penderitaan yang dialami-Nya.

Saat Yesus mengembuskan napas terakhir-Nya, orang banyak “yang datang berkerumun di situ untuk tontonan itu, melihat apa yang terjadi itu, pulanglah mereka sambil memukul-mukul diri” (Luk. 23:48). Yang lainnya “berdiri jauh-jauh dan melihat semuanya itu” (ay.49). Mereka melihat dan diam termenung. Hanya satu orang yang berbicara, yakni seorang kepala pasukan, yang mengatakan, “Sungguh, orang ini adalah orang benar!” (ay.47).

Banyak lagu dan puisi telah ditulis untuk menggambarkan kasih yang agung itu. Bertahun-tahun sebelumnya, Nabi Yeremia menulis tentang kepedihan yang dialami Yerusalem setelah kehancurannya. “Acuh tak acuhkah kamu sekalian yang berlalu?” (Rat. 1:12 BIS). Yeremia mengajak orang-orang untuk melihat dan memperhatikan; menurutnya tidak ada penderitaan yang lebih besar daripada penderitaan Yerusalem. Namun, apakah ada penderitaan yang sama seperti penderitaan Yesus?

Kita semua berjalan melewati jalan salib itu. Akankah kita melihat dan menghayati kasih-Nya? Di masa Paskah ini, ketika pujian dan puisi tidak cukup untuk mewakili rasa syukur kita dan untuk menggambarkan kedalaman kasih Allah, luangkanlah waktu sejenak untuk merenungkan kematian Yesus Kristus; dan dalam keteduhan hati kita, bisikkanlah tekad pengabdian kita yang tulus kepada-Nya.

Sang Pemberi Pertumbuhan

Suatu hari, saya melihat sesuatu yang tidak saya duga sebelumnya. Ada enam tangkai bunga bakung kuning yang cerah menjulang di antara dua batu besar di sisi kanan jalan masuk ke rumah kami. Karena tidak pernah menanam, memberi pupuk, atau sengaja menyirami bunga itu, saya tidak tahu bagaimana atau mengapa tanaman itu bisa tumbuh di halaman kami.

Yesus melukiskan misteri pertumbuhan rohani lewat perumpamaan tentang benih yang tumbuh. Dia membandingkan Kerajaan Allah dengan orang yang menaburkan benih di tanah (Mrk. 4:26). Orang yang menabur benih mungkin sudah melakukan semampunya untuk memelihara tanahnya. Namun, Yesus mengatakan bahwa benih itu terus bertumbuh, terlepas dari orang itu tidur atau bangun, bahkan tanpa ia memahami bagaimana itu semua bisa terjadi (ay.27-28). Pemilik tanah tetap memperoleh keuntungan dari panen (ay.29), meskipun perkembangannya tidak tergantung pada apa yang dilakukannya atau apa yang diketahuinya tentang proses pertumbuhan di bawah permukaan tanah.

Pematangan benih dalam perumpamaan Yesus, seperti mekarnya bunga-bunga bakung di halaman saya, terjadi sesuai waktu yang ditentukan Allah dan oleh kuasa-Nya yang memberi pertumbuhan. Baik dalam pertumbuhan rohani pribadi maupun rencana Allah untuk memperluas kerajaan-Nya sampai kedatangan Yesus kembali, cara kerja Tuhan yang misterius tidaklah tergantung pada kemampuan atau pemahaman kita tentang karya-karya-Nya. Meski demikian, Allah memanggil kita untuk mengenal, melayani, dan memuji Dia, Sang Pemberi Pertumbuhan, sehingga kita akan menuai kedewasaan rohani yang ditumbuhkan-Nya di dalam dan melalui diri kita.

Arti Hidup Ini

Akhir-akhir ini, saat membaca buku-buku yang berisi nasihat pengelolaan uang, saya memperhatikan ada tren yang menarik. Hampir semua buku itu memberikan nasihat yang baik, tetapi banyak di antaranya menyiratkan bahwa alasan utama dari hidup hemat adalah keinginan untuk hidup bak miliuner di masa depan. Namun, satu buku memberikan perspektif yang berbeda. Buku itu menganjurkan bahwa hidup apa adanya sangatlah penting untuk memiliki hidup yang berkelimpahan. Jika Anda merasa membutuhkan sesuatu yang lebih mewah atau harta yang lebih banyak untuk dapat merasakan sukacita, buku itu menyatakan, “Anda telah kehilangan arti hidup ini.”

Pencerahan itu mengingatkan saya pada tanggapan Yesus saat seseorang meminta-Nya untuk mendesak saudaranya agar berbagi warisan dengannya. Alih-alih bersimpati, Yesus menegurnya lalu memperingatkan tentang “segala ketamakan”—karena hidup manusia “tidaklah tergantung dari pada kekayaannya” (Luk. 12:15). Yesus pun bercerita tentang rencana seorang kaya yang ingin menyimpan hasil panennya dan menikmati kemewahan hidup dengan akhir yang fatal. Kekayaannya itu sia-sia, karena ia mati malam itu juga (ay.16-20).

Meskipun kita memang bertanggung jawab untuk memakai harta benda kita dengan bijaksana, Yesus mengingatkan kita untuk memeriksa motivasi kita. Hati kita haruslah terarah untuk mencari Kerajaan Allah—mengenal-Nya dan melayani sesama—dan bukan untuk menjamin masa depan kita sendiri (ay.29-31). Ketika kita menjalani hidup bagi-Nya dan rela berbagi dengan sesama, kita dapat sepenuhnya menikmati hidup yang berkelimpahan bersama-Nya saat ini juga—di dalam kerajaan yang memberikan arti bagi seluruh aspek hidup kita (ay.32-34).

Siapakah Orang Ini?

Bayangkan Anda berdiri berdesak-desakan dengan orang-orang di tepi jalan yang masih tanah. Wanita di belakang Anda sedang berjinjit, sambil mencoba untuk melihat siapa yang datang. Di kejauhan, Anda sekilas melihat seorang pria menunggang keledai. Saat Dia semakin mendekat, orang-orang pun menghamparkan jubah mereka di jalan. Tiba-tiba, Anda mendengar suara ranting patah di belakang Anda. Seseorang sedang memotong ranting-ranting pohon palem dan orang-orang menebarkannya di jalan yang akan dilalui keledai itu.

Dengan penuh semangat, para pengikut Yesus memuja-Nya saat Dia memasuki Yerusalem beberapa hari sebelum penyaliban-Nya. Orang banyak bergembira dan memuji Allah “oleh karena segala mujizat yang telah mereka lihat” (Luk. 19:37). Di sekeliling Yesus, para pemuja-Nya berseru, “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan!” (ay.38). Penghormatan yang diberikan dengan berapi-api itu mempengaruhi para penduduk Yerusalem. Ketika Yesus akhirnya tiba, “Gemparlah seluruh kota itu dan orang berkata: ‘Siapakah orang ini?’” (Mat. 21:10).

Pada masa kini, masih ada orang yang bertanya-tanya tentang Yesus. Meskipun sekarang kita tidak dapat menyambut-Nya dengan menebarkan ranting-ranting pohon palem atau memberi-Nya puji-pujian secara langsung, kita tetap dapat menghormati-Nya. Kita dapat menceritakan perbuatan-perbuatan-Nya yang luar biasa, menolong orang yang membutuhkan bantuan, sabar menanggung penghinaan, dan mengasihi satu sama lain dengan tulus. Ketika orang-orang melihat kita, kita harus siap sedia menjawab pertanyaan mereka, “Siapakah Yesus itu?”

Pengaruh dari Teladan

Usaha saya memperbaiki sesuatu di rumah biasanya berakhir dengan membayar orang lain untuk membenahi kerusakan yang justru saya timbulkan saat memperbaiki masalah awalnya. Namun, baru-baru ini saya berhasil memperbaiki sebuah perangkat rumah tangga dengan menonton video YouTube yang menampilkan seseorang yang menunjukkan cara perbaikannya langkah demi langkah.

Paulus menjadi teladan yang berpengaruh bagi Timotius muda, yang selama ini telah menemani dan menyaksikan sepak terjangnya. Dari penjara di Roma, Paulus menulis, “Engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku. Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita” (2Tim. 3:10-11). Ia mendorong Timotius untuk “tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu. Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci” (ay.14-15).

Kehidupan Paulus menunjukkan pentingnya membangun hidup kita di atas firman Allah sebagai dasar yang teguh. Ia mengingatkan Timotius bahwa Alkitab adalah sumber penuh kuasa yang diberikan Allah, yang kita perlukan untuk mengajar orang lain dan memberikan teladan kepada mereka yang ingin menjadi pengikut Kristus.

Sambil bersyukur atas mereka yang menolong kita bertumbuh dalam iman, kita juga ditantang untuk mengikuti teladan mereka yang hidup dalam kebenaran dengan mengajar dan menguatkan orang lain.

Itulah kuatnya pengaruh dari teladan.

Janji Ganda

Sejak menderita kanker beberapa tahun yang lalu, Ruth mengalami kesulitan untuk makan, minum, bahkan untuk menelan. Kekuatan fisiknya juga banyak berkurang dan banyaknya operasi serta perawatan telah membuat kondisinya jauh lebih merosot dibandingkan sebelumnya.

Namun, Ruth masih dapat memuji Allah; imannya tetap teguh dan sukacitanya menular kepada orang-orang di sekitarnya. Ia mengandalkan Allah setiap hari dan masih sangat berharap akan dipulihkan sepenuhnya suatu saat nanti. Ia berdoa memohon kesembuhan dan percaya bahwa Allah akan menjawab—cepat atau lambat. Betapa luar biasa imannya!

Ruth menjelaskan, alasan yang membuat imannya tetap teguh adalah keyakinannya yang pasti bahwa Allah tidak hanya akan memenuhi janji-Nya pada waktu-Nya, tetapi juga akan menopang dirinya sampai janji itu digenapi. Itu juga menjadi pengharapan umat Allah ketika mereka menantikan Allah melaksanakan rancangan-Nya (Yes. 25:1), melepaskan dari para musuh mereka (ay.2), menghapus air mata mereka, menjauhkan aib mereka, dan “membinasakan maut untuk selama-lamanya” (ay.8 BIS).

Sementara itu, Allah menjadi tempat pengungsian dan perlindungan bagi umat-Nya (ay.4) selagi mereka menantikan-Nya. Allah menghibur mereka yang tengah mengalami pencobaan, memberi mereka kekuatan untuk bertahan, dan memberikan kepastian bahwa Dia selalu menyertai mereka.

Inilah janji ganda yang kita miliki—pengharapan akan kelepasan suatu saat nanti dan tersedianya penghiburan, kekuatan, dan perlindungan dari-Nya di sepanjang hidup kita.

Mewariskan Iman

Telepon saya berbunyi, tanda ada pesan pendek yang masuk. Ternyata putri saya meminta saya mengirimkan resep kue es krim pepermin ala nenek saya kepadanya. Ketika mencarinya di antara tumpukan kartu yang sudah menguning dalam sebuah kotak usang, saya memperhatikan tulisan tangan yang unik dari nenek saya—dan beberapa catatan ibu saya dalam huruf sambung. Saya pun tersadar, karena sekarang putri saya memintanya, resep kue es krim pepermin itu sudah diturun-temurunkan hingga generasi keempat dalam keluarga saya.

Saya bertanya-tanya, Apakah hal lain yang dapat diwariskan keluarga dari satu generasi ke generasi berikutnya? Bagaimana dengan pilihan-pilihan soal iman? Selain resep kue, apakah iman nenek saya—dan iman saya sendiri—berperan penting dalam kehidupan putri saya dan anak-cucunya kelak?

Dalam Mazmur 79, pemazmur meratapi ketidaktaatan Israel yang telah kehilangan pegangan imannya. Ia memohon kepada Allah untuk melepaskan umat-Nya dari bangsa-bangsa yang tidak mengenal-Nya dan memulihkan Yerusalem. Jika itu terjadi, ia berjanji untuk kembali setia kepada jalan Allah hingga selamanya. “Maka kami ini, umat-Mu, dan kawanan domba gembalaan-Mu, akan bersyukur kepada-Mu untuk selama-lamanya, dan akan memberitakan puji-pujian untuk-Mu turun-temurun” (ay.13).

Dengan penuh semangat saya meneruskan resep itu kepada putri saya. Resep kue ala nenek saya akan tetap hidup dalam keluarga kami. Tidak lupa saya sungguh-sungguh berdoa agar kami juga menurunkan satu warisan kekal yang terpenting dan abadi, yaitu iman yang mempengaruhi keluarga kami dari generasi ke generasi.

Berjalan di atas Air

Pada suatu hari di musim dingin, saya bertualang ke danau Michigan, danau terbesar kelima di dunia, untuk melihat permukaannya yang beku. Selama ini, saya lebih sering berlibur di tepi pantai sambil berjemur di bawah sinar matahari. Saya tidak menyesal karena dapat menyaksikan pemandangan yang sungguh luar biasa. Danau itu membeku saat airnya mengombak dan hasilnya adalah suatu mahakarya seni dari es.

Karena airnya membeku dan menjadi padat sampai ke tepi pantai, saya pun mendapat kesempatan untuk “berjalan di atas air”. Meskipun tahu bahwa lapisan esnya cukup tebal dan kuat untuk saya pijak, saya sangat berhati-hati saat melangkahkan kaki untuk pertama kali. Saya takut lapisan es itu tidak dapat menahan berat tubuh saya. Saat dengan hati-hati menyusuri lapisan yang tidak biasa tersebut, saya teringat saat-saat Yesus memanggil Petrus agar keluar dari perahu di Danau Galilea.

Ketika murid-murid melihat Yesus berjalan di atas air, mereka pun menjadi takut. Namun, Yesus menanggapi dengan berkata, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (Mat. 14:27). Petrus dapat mengatasi rasa takutnya dan melangkah keluar dari perahu karena ia tahu ada Yesus. Ketika langkah-langkahnya yang berani itu kemudian melemah saat diterpa angin dan ombak, Petrus pun berseru kepada Yesus. Yesus masih ada di sana, bahkan cukup dekat untuk mengulurkan tangan-Nya dan menyelamatkan Petrus.

Jika hari ini Anda dipanggil Tuhan Yesus untuk melakukan sesuatu yang tampaknya mustahil, seperti berjalan di atas air, teguhkanlah hati Anda. Pribadi yang memanggil Anda akan selalu ada di sana untuk menyertai Anda.

Musim yang Baik

Hari ini adalah hari pertama musim semi di belahan bumi bagian utara. Jika Anda tinggal di Australia, hari ini adalah hari pertama musim gugur. Itulah yang disebut sebagai ekuinoks vernal (titik musim semi matahari) di belahan bumi bagian utara dan ekuinoks musim gugur di belahan bumi bagian selatan. Hari ini, matahari bersinar langsung ke arah khatulistiwa, dan rentang jam pada siang hari dan malam hari hampir sama di seluruh dunia.

Pergantian musim mempunyai arti penting bagi banyak orang. Ada sebagian orang yang menghitung hari demi hari sampai berlangsungnya pergantian musim karena mereka menanti-nantikan apa yang akan terjadi di musim yang baru. Anda yang tinggal di Wisconsin, Amerika Serikat, mungkin telah menandai hari ini untuk menyambut berakhirnya musim dingin. Anda yang tinggal di Melbourne, Australia, mungkin sudah tidak sabar menantikan datangnya musim gugur agar Anda terbebas dari teriknya sinar matahari.

Kita juga melewati musim-musim kehidupan yang tidak terkait dengan cuaca. Penulis kitab Pengkhotbah mengatakan bahwa untuk apa pun di bawah langit ini ada masa dan musimnya, yakni waktu yang ditentukan Allah untuk kita jalani dalam hidup kita (3:1-11).

Musa berbicara tentang masa yang baru dalam hidupnya setelah ia memimpin bangsa Israel melewati padang gurun (Ul. 31:2), dan ia harus menyerahkan kepemimpinannya kepada Yosua. Paulus merasa kesepian pada saat menjalani tahanan rumah di Roma dan rindu dikunjungi oleh para sahabatnya, tetapi akhirnya menyadari bahwa Allah telah mendampinginya (2Tim. 4:17).

Apa pun musim kehidupan yang Anda jalani, bersyukurlah kepada Allah atas kebesaran, pertolongan, dan penyertaan-Nya.

Sikap Hati yang Bersyukur

Pada hari pernikahan kami, saya dan Martie dengan tulus dan gembira mengucapkan janji untuk setia “di saat senang maupun susah, saat sehat maupun sakit, saat berkelimpahan atau saat kekurangan.” Mungkin terasa aneh bahwa di tengah suasana hari pernikahan yang ceria, kedua mempelai mengucapkan janji tentang hadirnya masa-masa yang buruk, sakit-penyakit, dan kekurangan. Namun, janji itu menegaskan fakta bahwa di dalam hidup ini kita memang sering menghadapi masa-masa yang “buruk”.

Jadi apa yang harus kita lakukan saat menghadapi beragam kesulitan hidup yang tak terelakkan? Sebagai hamba Kristus, Rasul Paulus menasihati kita, “Dalam segala keadaan hendaklah kalian bersyukur” (1Tes. 5:18 BIS). Hal itu mungkin terdengar sulit untuk dilakukan, tetapi Allah mempunyai maksud yang baik ketika menghendaki kita untuk memiliki sikap hati yang bersyukur. Sikap yang senantiasa mengucap syukur itu dilandaskan pada kebenaran bahwa Tuhan kita “baik” dan “untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (Mzm. 118:1). Tuhan selalu menyertai dan menguatkan kita di tengah masalah yang kita hadapi (Ibr. 13:5-6). Dengan penuh kasih, Tuhan memakai pencobaan yang kita alami untuk menumbuhkan karakter kita supaya makin serupa dengan-Nya (Rm. 5:3-4).

Ketika masa-masa sulit melanda hidup ini, pilihan untuk selalu mengucap syukur akan mengarahkan perhatian kita pada kebaikan Allah. Kita pun akan menerima kekuatan untuk bertahan di tengah pergumulan kita. Bersama sang pemazmur, kita dapat bernyanyi, “Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (Mzm. 118:29).

Surat Kiriman

Jauh dari rumah dalam pelatihan dasar untuk menghadapi Perang Dunia II, para tentara tamtama Amerika Serikat menggunakan humor dan surat-menyurat untuk menghibur diri di tengah tantangan yang ada di depan mata. Dalam sepucuk surat yang dikirim ke kampung halamannya, seorang pemuda menggambarkan proses vaksinasi dengan kiasan yang lucu: “Dua petugas kesehatan mengejar kami dengan harpun (tombak untuk berburu, ujungnya menyerupai ujung anak panah). Mereka menangkap kami, menjepit kami di lantai, dan menancapkan harpun itu di tiap lengan.”

Namun, ada seorang prajurit yang menyadari bahwa humor hanya menghiburnya sesaat. Kemudian ia menerima Alkitab. “Saya sangat menyukainya dan membacanya setiap malam,” tulisnya. “Saya tak pernah menyangka dapat belajar begitu banyak hal dari Alkitab.”

Setelah bertahun-tahun menjadi budak di Babel, bangsa Yahudi kuno yang pulang ke tanah kelahiran mereka ternyata menemui banyak masalah baru. Dalam perjuangan membangun kembali tembok Yerusalem, mereka bergelut menghadapi perlawanan dari musuh, bencana kelaparan, dan dosa mereka sendiri. Di tengah-tengah masalah tersebut, mereka berpaling kepada firman Allah. Mereka dibuat takjub oleh apa yang mereka pelajari. Ketika para imam membacakan kitab Taurat Allah, semua orang menangis (Neh. 8:10). Namun, mereka juga memperoleh penghiburan. Nehemia, sang kepala daerah, mengatakan kepada mereka, “Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena Tuhan itulah perlindunganmu!” (ay.11).

Jangan menunggu ada masalah, baru kita mau mendengar firman Allah. Saat ini juga kita dapat belajar mengenai karakter-Nya, pengampunan-Nya, dan penghiburan-Nya dari Alkitab. Saat membaca Alkitab, kita akan dibuat takjub oleh apa yang disingkapkan Roh Kudus kepada kita melalui setiap lembarannya.

Bisikan

Seorang pemuda terlihat gelisah saat hendak duduk di pesawat. Matanya memandang bolak-balik ke arah jendela pesawat. Kemudian ia memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya, tetapi upayanya itu tidak membuahkan hasil. Ketika pesawat tinggal landas, ia pun mengayun-ayunkan tubuhnya maju-mundur dengan perlahan. Seorang wanita tua yang duduk di seberang lorong menyentuh lengan pemuda itu dan dengan lembut mengajaknya berbincang-bincang agar perhatian pemuda itu teralihkan dari kegelisahannya. Wanita itu berbisik kepadanya, seperti “Siapa namamu?” “Dari mana asalmu?” “Kita akan baik-baik saja,” dan “Kamu hebat.” Ia bisa saja terusik dengan sikap pemuda itu atau bahkan mengabaikannya. Namun, wanita itu memilih untuk menyentuh dan menyapanya. Hal-hal kecil. Ketika mereka mendarat tiga jam kemudian, pemuda itu berkata, “Terima kasih karena Ibu telah menolong saya.”

Gambaran indah tentang kemurahan hati seperti itu bisa jadi sudah jarang ditemukan. Kebaikan bukanlah sesuatu yang timbul secara wajar bagi sebagian besar dari kita; kita lebih sering memusatkan perhatian kepada diri kita sendiri. Namun saat Rasul Paulus menasihati, “Hendaklah kalian baik hati dan berbelaskasihan seorang terhadap yang lain” (Ef. 4:32 BIS), ia tidak bermaksud mengatakan bahwa itu semua tergantung kepada kita semata. Sesudah kita menerima hidup baru melalui iman kepada Yesus, Roh Kudus mulai bekerja untuk mengubah kita. Kebaikan merupakan karya Roh Kudus yang terus-menerus dilakukan untuk memperbarui pikiran dan tingkah laku kita (ay.23).

Allah, Sang Sumber Belas kasihan, sedang bekerja di dalam hati kita dan memampukan kita meneruskan belas kasihan itu kepada orang lain melalui sentuhan dan kata-kata yang menguatkan mereka.

Halaman