Santapan Rohani

Berlangganan pasokan Santapan Rohani
Renungan Pribadi dan Keluarga Kristen

URL: https://santapanrohani.org

Di-update: 5 jam 19 mnt yang lalu

Teruslah Berharap

Di antara ratusan artikel yang pernah saya tulis untuk Our Daily Bread sejak tahun 1988, ada beberapa yang melekat di benak saya. Salah satunya adalah artikel dari pertengahan 90-an yang menceritakan tentang tiga wanita dalam keluarga kami yang sedang mengikuti suatu retret atau perjalanan misi, sehingga Steve, anak saya yang berumur enam tahun, dan saya memiliki waktu khusus antarpria.

Saat kami dalam perjalanan mengunjungi bandara, Steve memandang saya dan berkata, “Kurang asyik ya tidak ada Melissa.” Melissa adalah teman bermain sekaligus saudarinya yang berusia delapan tahun. Tak seorang pun dari kami bisa memperkirakan betapa memilukannya kata-kata itu ketika kemudian Melissa meninggal dunia akibat kecelakaan mobil saat masih remaja. Hidup kami memang menjadi “kurang asyik” setelah peristiwa itu. Perjalanan waktu mungkin sedikit menumpulkan rasa pilu itu, tetapi tidak ada yang dapat menghilangkannya sama sekali. Waktu tidak bisa menyembuhkan luka itu. Namun, ada sesuatu yang sanggup menolong kami: mendengarkan, merenungkan, dan menikmati penghiburan yang dijanjikan oleh Allah, sumber segala penghiburan.

Mendengarkan: “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya” (Rat. 3:22).

Merenungkan: “Tuhan melindungi aku di waktu kesesakan; Ia menyembunyikan aku di dalam Rumah-Nya” (Mzm. 27:5 BIS).

Menikmati: “Inilah penghiburanku dalam sengsaraku, bahwa janji-Mu menghidupkan aku” (Mzm. 119:50).

Hidup berubah sama sekali ketika seseorang yang kita kasihi telah pergi. Namun demikian, janji Allah sanggup memberikan pengharapan dan penghiburan kepada kita.

Perlindungan dari Badai

Ketika masih tinggal di Oklahoma, saya memiliki seorang teman yang hobi “mengejar” tornado. John melacak badai dengan saksama melalui komunikasi radio dengan para “pengejar” badai lainnya dan radar setempat. Ia berusaha menjaga jarak aman sambil mengamati jalur tornado agar ia dapat melaporkan perubahan yang terjadi dan memperingatkan warga di daerah yang akan dilewati tornado tersebut.

Suatu hari jalur sebuah awan pusaran tornado berubah sangat cepat sehingga John menyadari dirinya berada dalam bahaya besar. Untunglah, ia menemukan tempat berlindung dan berhasil menyelamatkan diri.

Pengalaman John membuat saya terpikir akan jalur lain yang juga berbahaya, yakni dosa dalam hidup kita. Alkitab berkata, “Tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut” (Yak. 1:14-15).

Kita melihat adanya perkembangan di sini. Apa yang awalnya terlihat tidak berbahaya dapat dengan cepat berubah menjadi tak terkendali dan menyebabkan kerusakan besar. Namun, ketika godaan mengancam kita, Allah menyediakan bagi kita tempat berlindung dari badai pencobaan yang semakin besar.

Firman Allah berkata bahwa Allah tidak pernah mencobai kita, dan pilihan-pilihan yang kita buat adalah karena kesalahan kita sendiri. Akan tetapi, saat kita “dicobai Ia akan memberikan kepada [kita] jalan ke luar, sehingga [kita] dapat menanggungnya” (1Kor. 10:13). Ketika di tengah pencobaan, kita berpaling kepada Yesus dan meminta pertolongan-Nya, Dia akan memberikan kekuatan yang kita butuhkan untuk mengatasinya.

Yesus adalah perlindungan kita selamanya.

Rumah Abadi

“Mengapa kita harus pindah rumah?” tanya putra saya. Sulit menjelaskan arti rumah, terutama kepada anak berusia lima tahun. Kami memang meninggalkan bangunan rumah itu, tetapi makna sesungguhnya dari rumah adalah tempat orang-orang yang kita kasihi berada. Tempat itulah yang kita dambakan setelah menempuh perjalanan jauh atau selepas bekerja seharian.

Di ruangan atas beberapa jam sebelum kematian-Nya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Janganlah gelisah hatimu” (Yoh. 14:1). Para murid tidak yakin akan masa depan mereka karena Yesus telah menubuatkan kematian-Nya. Namun, Yesus meyakinkan mereka akan kehadiran-Nya dan mengingatkan bahwa mereka akan melihat-Nya kembali. Kata-Nya kepada mereka, “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. . . . Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu” (ay.2). Yesus bisa saja menggunakan kata-kata lain untuk menggambarkan surga. Akan tetapi, Dia tidak memakai kata-kata yang menggambarkan suatu tempat yang tidak nyaman atau asing, melainkan sebuah tempat di mana Pribadi yang kita kasihi, yaitu Dia sendiri, berada.

C. S. Lewis menulis, “Allah Bapa menyegarkan kita di sepanjang perjalanan hidup ini dengan memberikan sejumlah penginapan yang nyaman bagi kita untuk beristirahat, tetapi Dia tidak membiarkan kita menyalahartikan tempat-tempat tersebut sebagai rumah kita yang sebenarnya.” Kita dapat bersyukur kepada Allah untuk “penginapan yang nyaman” dalam hidup ini, tetapi ingatlah bahwa rumah kita yang sebenarnya adalah surga, tempat kita “akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan” (1Tes. 4:17).

Melalui Salib

Rekan kerja saya, Tom, memiliki salib kaca berukuran 20 x 30,5 cm di atas mejanya. Phil, seorang teman yang juga penyintas kanker seperti Tom, memberikan salib itu untuk membantu Tom melihat segala sesuatu “melalui salib”. Salib kaca tersebut selalu mengingatkannya pada kasih dan tujuan Allah yang baik atas hidupnya.

Pemikiran itu sepatutnya menantang semua orang yang percaya kepada Yesus, terutama di dalam masa-masa sulit yang kita hadapi. Dalam keadaan yang sulit, perhatian kita memang lebih mudah terpusat pada masalah daripada kasih Allah.

Kehidupan Rasul Paulus jelas merupakan contoh kehidupan yang memiliki sudut pandang salib. Ia menggambarkan dirinya di saat-saat ia mengalami penderitaan ketika “dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, . . . dihempaskan, namun tidak binasa” (2Kor. 4:9). Ia percaya bahwa di saat-saat yang sulit, Allah sedang “mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan” (ay.17-18).

“Memperhatikan . . . yang tidak kelihatan” tidak berarti bahwa kita mengecilkan persoalan yang ada. Dalam tafsirannya terhadap perikop itu, Paul Barnett menjelaskan, “Di satu sisi, kita harus mempunyai keyakinan yang didasarkan pada kepastian akan tujuan Allah bagi [kita] . . . Di sisi lain, kita sungguh menyadari bahwa kita mengeluh dengan pengharapan yang bercampur dengan penderitaan.”

Yesus menyerahkan nyawa-Nya untuk kita. Kasih-Nya teramat dalam dan rela berkorban. Ketika kita melihat kehidupan ini “melalui salib”, kita menyaksikan kasih dan kesetiaan-Nya. Iman kita kepada-Nya pun makin bertumbuh.

Apa Kegemaran Anda?

Salah seorang pegawai di bank tempat saya menabung memasang foto mobil Shelby Cobra tipe roadster (2 kursi tanpa atap permanen) pada jendela kerjanya. (Cobra adalah mobil dengan performa tinggi yang diproduksi oleh Ford Motor Company.)

Suatu hari, ketika bertransaksi di bank tersebut, saya bertanya kepadanya apakah itu mobilnya. “Bukan,” jawabnya, “itu hanya kegemaran yang saya kejar. Itulah alasan saya bangun dan bekerja setiap hari. Suatu hari nanti, saya akan memiliki mobil itu.”

Saya memahami kegemaran anak muda itu. Salah satu teman saya memiliki mobil Cobra, dan saya pernah sekali mengendarai mobil itu! Mobil yang sangat tangguh! Namun, mobil Cobra, seperti apa pun hal lainnya di dunia ini, tidak sepatutnya menjadi tujuan hidup kita. Menurut pemazmur, orang yang percaya pada hal-hal selain Allah akan “rebah dan jatuh” (Mzm. 20:9).

Itu karena kita diciptakan untuk Allah, dan tak ada satu pun hal yang dapat menggantikannya. Itulah kebenaran yang kita alami sendiri dalam hidup sehari-hari: Kita membeli ini atau itu karena berpikir bahwa semua itu akan membuat kita bahagia. Namun, seperti anak yang menerima selusin lebih hadiah Natal, kita pun bertanya kepada diri sendiri, “Cuma segini?” Selalu saja ada yang kurang.

Tak ada satu pun hal yang ditawarkan dunia ini—hal-hal yang sangat baik sekalipun—yang dapat sepenuhnya memuaskan kita. Hal-hal itu mungkin memberi sedikit kepuasan, tetapi itu pun segera lenyap (1Yoh. 2:17). Memang benar, “Allah tidak bisa memberi kita kebahagiaan dan damai yang terlepas dari diri-Nya,” C. S. Lewis menyimpulkan. “Karena memang tidak ada hal semacam itu.”

Aku Tak Bisa Melakukannya

“Aku tak bisa melakukannya!” keluh seorang murid yang sedang berkecil hati. Yang ia lihat pada lembar kerjanya hanyalah tulisan-tulisan kecil, konsep-konsep yang sulit, dan tenggat yang hampir tiba. Ia membutuhkan bantuan dari gurunya.

Mungkin kita merasakan keputusasaan yang sama ketika membaca Khotbah Yesus di Bukit. “Kasihilah musuhmu” (Mat. 5:44). Kemarahan sama buruknya dengan membunuh (ay.22). Hawa nafsu sama dengan berzina (ay.28). Belum lagi, jika kita pikir hidup kita bisa memenuhi standar-standar itu, kita dihadapkan pada ayat ini: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (ay.48).

“Khotbah di Bukit menghasilkan keputusasaan,” kata Oswald Chambers. Namun, ia melihat itu baik, karena pada “saat putus asa, kita bersedia datang kepada [Yesus] sebagai orang miskin untuk menerima sesuatu dari Dia.”

Dalam cara-cara tidak lazim yang digunakan Allah, orang-orang yang tahu bahwa mereka tak sanggup melakukannya dengan kekuatan sendirilah yang menerima anugerah Allah. Itu seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus, “Menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak. . . . Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat” (1Kor. 1:26-27).

Dalam hikmat Allah, Sang Guru itu juga merupakan Juruselamat kita. Ketika kita datang kepada-Nya dalam iman, dengan pertolongan Roh-Nya, kita boleh menikmati pembenaran, kekudusan, penebusan dari-Nya (ay.30), kasih karunia, dan kuasa untuk menjalani hidup bagi-Nya. Karena itulah, Dia dapat berkata, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat. 5:3).

Tidak Perlu Penjamin

Seseorang yang mempunyai catatan jangka panjang yang buruk dalam hal membayar tagihan biasanya ditolak ketika ia mengajukan pinjaman untuk membeli rumah atau mobil. Pihak pemberi pinjaman enggan untuk mengambil risiko. Sekalipun seseorang berjanji untuk mengembalikan uang yang dipinjamnya, tetapi dengan rekam jejak yang buruk, ia tidak cukup meyakinkan bagi bank untuk menerima permohonannya. Biasanya, orang yang hendak meminjam itu akan mencari seseorang dengan catatan yang baik dalam pelunasan utang dan meminta agar namanya dicantumkan sebagai penjamin pada perjanjian peminjaman. Janji penjamin yang ikut bertanda tangan itu meyakinkan pemberi pinjaman bahwa uang yang diberikan pasti akan dibayar kembali.

Ketika seseorang berjanji kepada kita—baik dalam hal finansial, pernikahan, atau hal-hal lain—kita mengharapkannya untuk menepati janji itu. Kita ingin tahu apakah Allah juga akan menepati janji-janji-Nya. Ketika Allah berjanji kepada Abraham untuk memberkatinya dan memberinya keturunan yang “sangat banyak” (Ibr. 6:14; lihat Kej. 22:17), Abraham percaya bahwa Allah memegang janji-Nya. Sebagai Pencipta dari segala sesuatu, tidak ada yang lebih besar daripada Allah; hanya Allah yang dapat menjamin penggenapan janji-Nya sendiri.

Abraham harus sabar menanti kelahiran anaknya (Ibr. 6:15) (dan ia tidak pernah melihat keturunannya berkembang hingga tak terhitung jumlahnya), tetapi Allah terbukti setia pada janji-Nya. Ketika Allah berjanji untuk selalu menyertai kita (Ibr. 13:5), menjaga kita dengan aman (Yoh. 10:29), dan menghibur kita (2Kor. 1:3-4), kita juga bisa meyakini bahwa Dia pasti akan memenuhi janji-Nya.

Pemberian Terbaik

Ketika sedang mengepak barang untuk pulang ke London, ibu memberi saya sebuah hadiah, yakni salah satu cincin miliknya yang telah lama saya kagumi. Karena terkejut, saya bertanya, “Untuk apa ini, Bu?” Ibu menjawab, “Kupikir kamu dapat memakainya sekarang, tidak perlu menunggu sampai Ibu sudah tiada. Lagipula cincin itu sudah tidak muat lagi di jari Ibu.” Ibu memberikannya sebagai warisan yang diberikan lebih awal. Betapa senangnya saya menerima hadiah yang tak terduga itu!

Ibu memberi saya hadiah berupa materi, tetapi Yesus berjanji bahwa Bapa-Nya akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta-Nya (Luk. 11:13). Jika orangtua yang berdosa saja dapat menyediakan kebutuhan anak-anaknya (seperti ikan dan telur untuk makanan), betapa lebih lagi Bapa kita di surga memberikan apa yang baik bagi anak-anak-Nya. Melalui Roh Kudus yang diberikan-Nya (Yoh. 16:13), kita dapat mengalami pengharapan, kasih, dan damai bahkan di tengah masa-masa yang sulit—dan kita dapat membagikan berkat-berkat tersebut kepada orang lain.

Saat kita bertumbuh besar, mungkin saja kita memiliki orangtua yang tidak dapat sepenuhnya melimpahkan kasih sayang dan perhatian kepada kita. Atau sebaliknya, mungkin kita mempunyai ayah dan ibu yang memberikan teladan kasih dan pengorbanan diri yang patut dipuji. Atau mungkin kita berada di antara kedua pengalaman tersebut. Bagaimanapun pengalaman kita dalam keluarga, kita dapat mengandalkan janji dari Bapa kita di surga. Dia berjanji selalu mengasihi anak-anak-Nya dan mengaruniakan Roh Kudus kepada kita yang percaya kepada-Nya.

Menyembunyikan Luka Hati

Ketika diundang menjadi pembicara di sebuah gereja lokal, saya membawakan topik tentang membawa kepedihan hati kita ke hadapan Allah untuk menerima pemulihan yang ingin diberikan-Nya. Sebelum menutup dengan doa, gembala gereja itu berdiri di tengah-tengah jemaat dan berkata, “Sebagai gembala Anda, saya merasa diberkati dapat bertemu dengan Anda sekalian di sepanjang minggu dan mendengarkan kisah-kisah tentang kepedihan hati yang Anda rasakan. Namun, dalam kebaktian hari Minggu seperti ini, saya sedih melihat Anda justru menyembunyikan kepedihan Anda.”

Hati saya ikut merasa pedih saat mengingat luka hati yang masih tersembunyi dan yang sesungguhnya ingin dipulihkan oleh Allah. Penulis kitab Ibrani menyatakan bahwa firman Allah hidup dan kuat. Banyak orang memahami “firman” tersebut sebagai Alkitab, tetapi arti sebenarnya lebih luas dari itu. Yesus adalah Firman Allah yang hidup. Dia tahu seluruh pikiran dan perbuatan kita, tetapi meskipun demikian, Dia tetap mengasihi kita.

Yesus Kristus menyerahkan nyawa-Nya agar kita dapat datang ke hadapan Allah kapan saja. Meskipun kita tahu bahwa kita tidak perlu memberitahukan segala sesuatu kepada setiap orang yang kita kenal, kita juga tahu bahwa Allah menghendaki gereja-Nya menjadi tempat bagi kita untuk hidup apa adanya sebagai pengikut Kristus—pribadi-pribadi yang memang mengalami kepedihan, tetapi yang telah menerima pengampunan Allah. Sudah sepatutnya gereja menjadi tempat bagi kita semua untuk “saling membantu menanggung beban” (Gal. 6:2 BIS).

Adakah yang sedang Anda sembunyikan dari orang lain hari ini? Apakah Anda juga mencoba untuk menyembunyikan diri dari Allah? Allah memperhatikan kita melalui Yesus, dan Dia tetap mengasihi kita. Maukah Anda mengizinkan Allah mencurahkan kasih-Nya ke dalam hati Anda?

Dia Mengenal Kita

Apakah Allah tahu keadaan saya saat berkendara di malam hari dan menempuh perjalanan sejauh 160 km untuk pulang ke desa saya? Saya sempat merasa ragu. Saat itu suhu tubuh saya sangat tinggi dan kepala saya sakit. Saya pun berdoa, “Tuhan, aku tahu Engkau menyertaiku, tetapi sekarang aku sedang kesakitan!”

Karena lelah dan lemas, saya menghentikan mobil di pinggir jalan dekat sebuah dusun. Sepuluh menit kemudian, saya mendengar suara, “Halo, apakah Anda perlu bantuan?” Itu suara seorang pria yang datang bersama teman-temannya dari dusun itu. Kehadiran mereka membuat saya merasa lega. Saat mereka menyebutkan nama desa mereka, Naa mi n’yala (artinya “Sang Raja tahu keadaanku!”), saya pun takjub. Saya sudah sering melewati dusun itu tanpa pernah mampir. Kali itu, Tuhan memakai nama dusun tersebut untuk mengingatkan saya bahwa Dialah Raja yang senantiasa menyertai saya ketika saya menyetir seorang diri dalam kondisi sakit. Setelah hati saya dikuatkan oleh pertolongan mereka, saya pun melanjutkan perjalanan ke klinik terdekat.

Dalam perjalanan hidup kita sehari-hari, di segala tempat dan situasi, apa pun kondisi yang kita alami, Allah mengenal seluruh diri kita (Mzm. 139:1-4,7-12). Dia tidak pernah mengabaikan atau melupakan kita. Dia tidak pernah terlalu sibuk hingga melalaikan kita. Bahkan saat kita mengalami masalah atau menghadapi kesulitan—“kegelapan” dan “malam” (ay.1-12)—kita tidak tersembunyi dari hadirat-Nya. Kebenaran itu memberi kita pengharapan dan keyakinan yang pasti sehingga kita dapat memuji Tuhan yang telah menciptakan kita dengan dahsyat dan yang memimpin kita di sepanjang hidup ini (ay.14).

Sauh yang Teguh di saat Kita Takut

Apakah Anda sering khawatir? Saya juga. Saya bergumul dengan kecemasan hampir setiap hari. Saya khawatir tentang hal-hal besar dan hal-hal kecil. Terkadang, sepertinya saya khawatir tentang apa saja. Ketika saya masih remaja, saya pernah menelepon polisi saat orangtua saya pulang empat jam lebih lama dari waktu yang dijanjikan.

Kitab Suci berulang kali memerintahkan kita untuk tidak takut. Karena Allah baik dan berkuasa, dan karena Dia telah memberikan Yesus untuk mati bagi kita dan Roh Kudus-Nya untuk menuntun kita, ketakutan tidak sepatutnya menguasai hidup kita. Kita mungkin menghadapi hal-hal yang sulit, tetapi Allah telah berjanji untuk menyertai kita dalam menghadapi semua itu.

Satu bagian Alkitab yang telah terbukti menolong saya dalam momen-momen yang menakutkan adalah Yesaya 51:12-16. Di bagian itu, kepada umat yang mengalami penderitaan yang luar biasa, Allah mengingatkan bahwa Dia tetap menyertai mereka, dan kehadiran-Nya yang memberikan penghiburan merupakan realitas yang terpenting. Seburuk apa pun keadaan mereka, Dia berkata melalui Nabi Yesaya: “Akulah, Akulah yang menghibur kamu” (ay.12).

Saya sangat menyukai janji tersebut. Lima kata itu telah menjadi sauh yang meneguhkan jiwa saya yang bimbang. Saya mengandalkan janji itu berulang kali ketika hidup terasa begitu berat, saat kegentaran terasa sangat menyiksa (ay.13). Melalui bagian Alkitab ini, Allah mengingatkan saya untuk mengalihkan pandangan saya dari ketakutan kepada satu Pribadi yang “membentangkan langit” (ay.13) dengan sikap beriman dan ketergantungan total. Dia sudah berjanji akan menghibur kita.

Menyambut Sesama Orang Asing

Ketika saya dan suami pindah ke Seattle agar tinggal dekat dengan saudara perempuannya, kami tidak tahu di mana kami akan tinggal ataupun bekerja. Sebuah gereja setempat membantu kami menemukan tempat tinggal: sebuah rumah kontrakan dengan kamar tidur yang cukup banyak. Kami dapat menggunakan salah satu kamar tidur, dan menyewakan kamar lainnya kepada para pelajar dari mancanegara. Jadi, sepanjang tiga tahun kemudian kami menjadi orang asing yang menyambut orang asing lainnya. Kami berbagi rumah dan makanan dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia. Kami dan teman-teman serumah kami juga menyambut lusinan pelajar dari mancanegara yang datang untuk mengikuti kegiatan pemahaman Alkitab setiap Jumat malam.

Umat Tuhan tahu apa artinya jauh dari kampung halaman. Selama ratusan tahun, orang Israel benar-benar menjadi orang asing—dan juga budak—di tanah Mesir. Dalam Imamat 19, seiring dengan perintah yang sudah lazim seperti menghormati ayah-ibu dan larangan mencuri (ay.3,11), Allah mengingatkan umat-Nya untuk menaruh empati dan kepedulian kepada orang asing, karena mereka sendiri pernah mengalami bagaimana rasanya menjadi orang asing dan hidup dalam ketakutan (ay.33-34).

Walaupun tidak semua umat Allah di masa sekarang mengalami keterasingan, kita semua tahu bagaimana rasanya menjadi “pendatang” di bumi ini (1Ptr. 2:11). Kita menjalani hidup yang berbeda dari yang lainnya karena kesetiaan kita yang tertinggi pada Kerajaan Surga. Kita dipanggil untuk menciptakan sebuah komunitas yang ramah—sebagai orang asing yang menyambut orang asing lainnya ke dalam keluarga Allah. Keramahtamahan yang kami terima di Seattle mendorong kami untuk menyambut juga orang lain dengan ramah—dan itulah artinya menjadi bagian dari keluarga Allah (Rm. 12:13).

Tuhan Penguasa Kedalaman Laut

“Ketika kita menyelam hingga ke lautan yang dalam dan mengambil sampel, kita pasti akan menemukan spesies yang baru,” ujar seorang ahli biologi laut, Ward Appeltans. Dalam satu tahun terakhir, para ilmuwan telah mengidentifikasi 1.451 jenis kehidupan baru di bawah laut. Sejauh ini kita bahkan belum mengenali setengah dari seluruh kehidupan yang ada di dalam sana.

Dalam Ayub 38–40, Allah memberikan tinjauan terhadap karya ciptaan-Nya demi kebaikan Ayub. Di tiga pasal yang sangat puitis, Allah menyoroti keajaiban cuaca, kebesaran alam semesta, dan beragamnya makhluk yang hidup dalam habitat mereka masing-masing. Itu semua adalah hal-hal yang dapat manusia lihat. Namun, Allah kemudian menyebut tentang makhluk misterius bernama Lewiatan dalam satu bagian yang panjang. Lewiatan adalah makhluk yang sama sekali berbeda dari makhluk-makhluk lain, dengan kulit yang sangat tebal (Ayb. 40:26; 41:4), kuat (41:3), dan gigi-gigi yang dahsyat (41:5). “Dari dalam mulutnya . . . berpancaran bunga api. Dari dalam lubang hidungnya mengepul uap” (41:10-11). “Tidak ada taranya di atas bumi” (41:24).

Allah membahas tentang makhluk raksasa yang tak pernah kita lihat. Namun, apakah itu maksud dari Ayub 41?

Bukan! Ayub 41 memperluas pengertian kita akan sifat Allah yang mengejutkan. Pemazmur mengembangkan pemikiran tersebut dengan menulis, “Lihatlah laut itu, besar dan luas wilayahnya, . . . dan Lewiatan yang telah Kaubentuk untuk bermain dengannya” (Mzm. 104:25-26). Setelah membaca deskripsi yang mengerikan dalam kitab Ayub, kita mengetahui bahwa Allah menciptakan tempat bermain untuk makhluk paling mengerikan yang pernah ada. Lewiatan bermain-main di dalam laut!

Kita memiliki masa sekarang untuk menyelidiki isi lautan. Kelak, kita memiliki waktu selama-lamanya untuk menyelidiki keajaiban Allah kita yang agung, misterius, dan menyenangkan.

Tenanglah, Hai Jiwaku!

Bayangkanlah orangtua yang dengan penuh kasih berusaha menenangkan anaknya yang sedang sedih, kecewa, atau menderita. Dengan lembut ia bergumam ke telinga sang anak—“ssttt.” Sikap tubuh dan gumaman sederhana itu dimaksudkan untuk menghibur dan menenangkan si buah hati. Kita dapat membayangkannya karena itu terjadi di mana saja dan kapan saja. Banyak dari kita pernah memberi atau menerima ungkapan penuh kasih seperti itu. Gambaran itulah yang terlintas di benak saya ketika merenungkan Mazmur 131:2.

Gaya bahasa dan alur tulisan dari mazmur itu mengindikasikan bahwa Daud sebagai penulis telah mengalami sesuatu yang memicunya untuk sungguh-sungguh merenung. Pernahkah Anda mengalami kekecewaan, kekalahan, atau kegagalan yang mendorong Anda untuk berdoa dan merenung dengan khusyuk? Apa yang Anda lakukan ketika situasi kehidupan ini membuat Anda terpuruk? Bagaimana respons Anda ketika gagal dalam ujian, kehilangan pekerjaan, atau mengalami putus hubungan? Daud mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan sekaligus menelusuri dan memeriksa jiwanya secara jujur (Mzm. 131:1). Saat hendak berdamai dengan situasi yang dihadapinya, ia pun menemukan kepuasan seperti yang dialami seorang anak kecil yang merasa nyaman hanya dengan berbaring di dekat ibunya (ay.2).

Situasi-situasi dalam kehidupan ini terus berubah dan terkadang membuat kita terpuruk. Namun, kita bisa berharap dan merasa tenang ketika tahu bahwa ada satu Pribadi yang telah berjanji tidak akan pernah meninggalkan atau mengabaikan kita. Kita dapat mempercayai-Nya sepenuhnya.

Banyak Karunia, Satu Tujuan

Jagung adalah makanan pokok di negara asal saya, Meksiko. Ada banyak jenis jagung. Anda dapat menemukan tongkol jagung berwarna kuning, cokelat, merah, dan hitam, bahkan ada yang bercorak belang-belang. Namun, penduduk kota biasanya tidak mau memakan jagung yang belang-belang. Amado Ramírez, seorang pengusaha restoran sekaligus peneliti, menjelaskan bahwa hal itu terjadi karena mereka meyakini keseragaman menunjukkan kualitas yang tinggi. Meski demikian, jagung yang belang-belang ternyata enak rasanya dan cocok untuk bahan baku keripik tortilla.

Gereja Tuhan lebih mirip dengan jagung yang belang-belang daripada jagung dengan satu warna. Rasul Paulus menggunakan tubuh untuk menggambarkan tentang gereja. Walaupun kita semua adalah satu tubuh, dan kita memiliki Allah yang sama, setiap dari kita telah diberi karunia yang berbeda-beda. Inilah yang dikatakan Paulus, “Ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang” (1Kor. 12:5-6). Keragaman dalam cara kita melayani satu sama lain menunjukkan kemurahan hati dan kreativitas Allah.

Ketika kita menerima keragaman yang ada, kiranya kita juga berusaha sungguh-sungguh untuk menjaga kesatuan iman dan tujuan kita bersama. Memang, kita memiliki kemampuan dan latar belakang yang berbeda-beda. Kita berbicara dalam bahasa yang berbeda-beda dan berasal dari negara yang berbeda-beda. Namun, kita memiliki Allah yang sama, sang Pencipta yang sangat menikmati keragaman ciptaan-Nya.

Bergantung Penuh

Ibunda Laura sedang berjuang melawan penyakit kanker. Suatu pagi, Laura dan seorang teman mendoakan ibunya. Teman Laura yang telah bertahun-tahun menderita cerebral palsy (kelumpuhan pada tulang belakang) itu berdoa: “Tuhan, Engkau selalu menolongku. Sekarang tolonglah juga ibunya Laura.”

Laura sangat tersentuh oleh pernyataan temannya yang bergantung penuh kepada Allah. Saat becermin pada hal itu, ia berkata, “Seberapa sering aku mengakui kebutuhanku akan Allah dalam segala hal? Itu seharusnya kulakukan setiap hari!”

Selama masa pelayanan-Nya di dunia ini, Yesus menunjukkan ketergantungan yang terus-menerus kepada Bapa-Nya di surga. Mungkin ada yang berpikir bahwa karena Yesus adalah Allah dalam rupa manusia, tentu saja Dia bisa mengandalkan diri-Nya sendiri. Namun, ketika para pemimpin agama meminta Yesus memberikan alasan tentang hal “bekerja” di hari Sabat, satu hari peristirahatan yang ditetapkan Hukum Taurat, karena Dia telah menyembuhkan seseorang pada hari itu, Dia menjawab, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya” (Yoh. 5:19). Yesus juga menyatakan ketergantungan-Nya kepada Bapa!

Ketergantungan Yesus kepada Bapa memberikan teladan terbesar bagi kita untuk memahami apa artinya menjalani hidup dalam persekutuan dengan Allah. Setiap napas yang kita hirup merupakan pemberian Allah, dan Dia ingin hidup kita dipenuhi dengan kekuatan-Nya. Ketika kita hidup mengasihi dan melayani Allah dengan senantiasa berdoa dan mengandalkan firman-Nya, kita sedang menyatakan ketergantungan kita kepada-Nya.

Keindahan yang Tersembunyi

Anak-anak kami perlu sedikit dibujuk agar mau diajak snorkeling untuk melihat-lihat pemandangan di bawah permukaan Laut Karibia dari lepas pantai Pulau Tobago. Namun, setelah menyelam, mereka muncul kembali ke permukaan dengan sangat gembira, “Ada ribuan ikan dan banyak sekali jenisnya! Keren banget! Aku belum pernah melihat ikan yang warna-warni seperti itu!”

Anak-anak awalnya tidak terkesan karena permukaan laut itu terlihat sama jernihnya dengan danau di dekat rumah kami. Hampir saja mereka melewatkan keindahan yang tersembunyi di bawah permukaan laut.

Ketika Nabi Samuel pergi ke Betlehem dengan tujuan mengurapi salah seorang anak Isai untuk menjadi raja berikutnya, ia melihat Eliab, anak sulung Isai. Samuel sangat terkesan dengan paras Eliab dan mengira ia sudah menemukan orang yang tepat, tetapi Tuhan menolak Eliab. Allah mengingatkan Samuel bahwa “bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” (1Sam. 16:7).

Kemudian Samuel menanyakan anak-anak Isai lainnya. Anak yang bungsu tidak hadir karena sedang menggembalakan kambing domba. Kemudian anak yang bernama Daud itu dipanggil dan Tuhan pun mengarahkan Samuel untuk mengurapinya.

Kita sering melihat manusia dari penampilan luarnya saja dan tidak sungguh-sungguh meluangkan waktu untuk mengenal keindahan diri mereka yang kadang tersembunyi. Kita tidak selalu menghargai apa yang Allah hargai. Namun, seandainya kita mengambil waktu untuk memperhatikan apa yang ada di balik penampilan luar seseorang, mungkin saja kita akan menemukan keindahan yang tak terduga.

Ciptaan Allah yang Agung

Baru-baru ini, saat cucu-cucu kami berkunjung ke rumah, kami menonton tayangan di Internet dari kamera web yang menyoroti kehidupan sebuah keluarga rajawali di Florida. Setiap hari kami membuka tayangan itu dan menyaksikan bagaimana induk betina, induk jantan, dan bayi rajawali melakukan rutinitas sehari-hari dalam sarang mereka di ketinggian. Hari demi hari, kedua induk burung tersebut terus-menerus menjaga bayi mereka dan menyuapkan ikan yang diperoleh dari sungai di dekat sana untuk mendukung perkembangan si bayi.

Kehidupan keluarga rajawali tersebut memberi kita satu gambaran yang diberikan oleh pemazmur dalam Mazmur 104 tentang karya ciptaan Allah yang mengagumkan. Ia melukiskan serangkaian gambaran alam dan pemandangan dari karya ciptaan tangan Allah yang kreatif.

Kita melihat keagungan alam semesta ciptaan Allah (ay.2-4).

Kita menikmati bumi yang dijadikan-Nya—samudera raya, gunung, dan lembahnya (ay.5-9).

Kita mengecap pemberian Allah yang indah berupa aneka binatang, burung-burung, dan tumbuh-tumbuhan (ay.10-18).

Kita mengagumi siklus yang Allah ciptakan bagi dunia ini—pagi berganti malam, gelap berganti terang, bekerja dan beristirahat (ay.19-23).

Alangkah indahnya dunia yang telah dirancang Allah dengan tangan-Nya untuk kita nikmati—dan untuk kemuliaan-Nya! “Pujilah Tuhan, hai jiwaku!” (ay.1). Setiap dari kita dapat mengucapkan terima kasih kepada Allah atas segala sesuatu yang telah diberikan-Nya untuk kita hargai dan nikmati.

Dunia yang Sempurna

Katie mendapat tugas sekolah untuk menulis karangan berjudul “Duniaku yang Sempurna”. Ia menulis: “Dalam duniaku yang sempurna . . . es krim itu gratis, permen ada di mana-mana, dan langit selalu biru setiap saat, dengan awan-awan kecil yang bentuknya lucu-lucu.” Kemudian isi tulisannya berkembang menjadi lebih serius. “Dalam dunia itu,” lanjutnya, “Tak ada orang yang akan menerima kabar buruk. Tak ada juga orang yang harus menyampaikan kabar buruk.”

Tak ada orang yang akan menerima kabar buruk. Bukankah itu luar biasa indah? Kata-kata itu tegas merujuk pada pengharapan kita yang pasti di dalam Yesus. Dia “menjadikan segala sesuatu baru”, yakni memulihkan dan mengubah dunia kita (Why. 21:5).

Di surga, ada banyak hal yang “tidak akan ada lagi”— tidak akan ada lagi kejahatan, tidak akan ada lagi maut, tidak akan ada lagi perkabungan, tidak akan ada lagi penderitaan, tidak akan ada lagi air mata (ay.4)! Surga merupakan tempat persekutuan yang sempurna dengan Allah, yang dengan kasih-Nya telah menebus dan menjadikan umat percaya sebagai milik-Nya (ay.3) Alangkah menakjubkan sukacita yang menanti kita!

Kita dapat mencicipi realitas yang sempurna itu sekarang juga di dunia ini. Dalam persekutuan dengan Allah setiap hari, kita mengalami sukacita dari kehadiran-Nya (Kol. 1:12-13). Bahkan di saat kita bergumul melawan dosa, kita mengalami sebagian kemenangan yang memang menjadi milik kita di dalam Kristus (2:13-15), satu-satunya yang telah menaklukkan dosa dan kematian secara tuntas.

Aku Bisa Melihatmu

Ketika Xavier berusia dua tahun, ia pernah berlari dari satu lorong ke lorong lainnya di dalam sebuah toko sepatu kecil. Sambil bersembunyi di balik tumpukan kotak sepatu, ia tertawa geli saat suami saya, Alan, berkata, “Aku bisa melihatmu.”

Tiba-tiba saja, saya melihat Alan berlari panik dari satu lorong ke lorong berikutnya sambil memanggil nama Xavier. Kami bergegas lari ke bagian depan toko. Anak kami yang masih tertawa-tawa telah berlari menuju pintu depan yang terbuka ke arah jalan yang dilalui banyak kendaraan.

Dengan sigap, Alan meraup Xavier. Kami berpelukan sambil mengucap syukur kepada Allah, terisak-isak, dan menciumi kedua pipi tembem anak balita kami tersebut.

Setahun sebelum mengandung Xavier, saya pernah mengalami keguguran. Setelah Allah memberkati kami dengan kehadiran Xavier, saya menjadi orangtua yang selalu khawatir. Pengalaman di toko sepatu tadi membuktikan bahwa saya tidak akan selalu bisa melihat atau melindungi anak kami. Namun, saya memperoleh kedamaian dengan belajar untuk datang kepada Allah, satu-satunya sumber pertolongan saya di saat saya bergumul dengan kekhawatiran dan kecemasan.

Bapa Surgawi kita tidak pernah mengalihkan pandangan-Nya dari anak-anak-Nya (Mzm. 121:1-4). Meskipun kita tidak dapat mencegah datangnya pencobaan, sakit hati, atau kehilangan, kita dapat menjalani hidup dengan iman yang teguh dan bersandar kepada Sang Penolong dan Penjaga yang selalu menaungi kehidupan kita (ay.5-8).

Adakalanya kita mengalami hari-hari yang membuat kita merasa tersesat dan tak berdaya. Kita mungkin juga merasa tidak berdaya ketika tidak bisa melindungi orang-orang yang kita kasihi. Namun, kita bisa meyakini bahwa Allah kita yang Mahatahu tidak pernah mengabaikan kita—anak-anak-Nya yang terkasih dan berharga.

Halaman