Santapan Rohani

Berlangganan pasokan Santapan Rohani
Renungan Pribadi dan Keluarga Kristen

URL: https://santapanrohani.org

Di-update: 3 jam 53 mnt yang lalu

Menumbuhkan Sikap Bersyukur

Apakah Anda ingin makin memiliki sikap hati yang bersyukur? George Herbert, penyair Inggris dari abad ke-17, mendorong para pembacanya untuk mencapai tujuan itu melalui puisinya “Gratefulness” (Ucapan Syukur): “Walau begitu banyak yang telah Engkau berikan padaku, berilah satu hal lagi: hati yang bersyukur.”

Herbert menyadari bahwa satu-satunya hal yang ia perlukan agar dapat bersyukur hanyalah kesadaran akan berkat-berkat Allah yang telah diterimanya.

Roma 11:36 menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah sumber segala berkat: “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia.” “Segala sesuatu” mencakup semua pemberian, baik pemberian yang luar biasa maupun yang biasa kita terima dalam hidup kita sehari-hari. Setiap hal yang kita terima dalam hidup ini berasal langsung dari Bapa Surgawi (Yak. 1:17), dan Allah rela memberikan semua itu karena kasih-Nya kepada kita.

Untuk menumbuhkan kesadaran saya akan berkat-berkat Allah di dalam hidup saya, saya belajar untuk mengembangkan sikap hati yang menyadari sumber dari seluruh sukacita yang saya alami setiap hari, khususnya berkat-berkat yang sering saya pandang enteng atau yang saya anggap biasa-biasa saja. Berkat-berkat seperti itu termasuk, misalnya, cuaca yang cerah untuk lari pagi, pertemuan yang santai dengan teman-teman, persediaan makanan yang cukup untuk keluarga saya, keindahan alam yang terlihat dari jendela rumah, bahkan hingga aroma kopi yang baru diseduh.

Apa saja berkat yang telah dilimpahkan Allah bagi Anda? Buka mata Anda untuk melihat berkat-berkat tersebut dan Anda akan dimampukan untuk menumbuhkan sikap hati yang bersyukur.

Kuasa Doa

Suatu hari, ketika mengkhawatirkan keadaan dari seseorang yang dekat dengan saya, saya dikuatkan oleh sepenggal kisah Samuel di dalam Perjanjian Lama. Samuel adalah pemimpin Israel yang bijaksana. Setelah membaca tentang Samuel yang mendoakan umat Allah yang sedang menghadapi masalah, saya menguatkan tekad untuk berdoa bagi orang yang saya kasihi itu.

Bangsa Israel menghadapi ancaman dari bangsa Filistin yang pernah mengalahkan Israel ketika umat Allah tidak mempercayai Allah (lihat 1 Samuel 4). Setelah bertobat dari dosa-dosanya, Israel mendengar bahwa Filistin akan menyerang lagi. Namun, kali ini Israel meminta Samuel untuk terus mendoakan mereka (7:8), dan Tuhan menjawab doa itu dengan mengacaukan para musuh sehingga mereka terpukul kalah (ay.10). Meskipun Filistin mungkin lebih hebat dari bangsa Israel, Tuhan jauh lebih kuat dari kedua bangsa itu.

Ketika kita terbeban saat melihat tantangan yang dihadapi oleh orang-orang yang kita kasihi dan mengkhawatirkan situasi mereka yang sepertinya tidak akan berubah, bisa saja kita berpikir bahwa Tuhan tidak akan bertindak. Namun, janganlah kita menganggap rendah kuasa doa, karena Allah kita yang Maha Pengasih mendengar setiap permohonan kita. Kita tidak tahu bagaimana Allah akan bertindak dalam menanggapi permohonan kita. Namun, kita tahu bahwa sebagai Bapa kita, Allah rindu kita mengalami kasih-Nya dan mempercayai kesetiaan-Nya.

Adakah seseorang yang dapat Anda doakan hari ini?

Mengupayakan Kesatuan

Tumbuh besar di era 1950-an, saya tidak pernah mempertanyakan rasisme dan praktik pemisahan golongan yang mewarnai kehidupan sehari-hari di kota tempat saya tinggal. Di berbagai sekolah, restoran, transportasi umum, dan lingkungan tempat tinggal, orang-orang yang warna kulitnya berbeda memang dipisahkan.

Sikap saya berubah pada tahun 1968 ketika mulai mengikuti Pelatihan Dasar Angkatan Darat Amerika Serikat. Kompi saya beranggotakan para pemuda dari berbagai latar belakang. Kami belajar bahwa kami perlu saling memahami dan menerima satu sama lain, bekerja sama, dan menyelesaikan misi kami.

Ketika Paulus menulis surat kepada jemaat di Kolose pada abad pertama, ia menyadari keragaman dalam jemaat itu. Ia mengingatkan mereka, “Dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu” (Kol. 3:11). Kepada sekelompok orang yang sangat mudah terpecah belah, baik oleh perbedaan yang sepele maupun yang serius, Paulus mendorong mereka untuk mengenakan “belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran” (ay.12). Dan yang lebih utama daripada segala perilaku yang mulia itu, ia mengatakan kepada mereka untuk mengenakan kasih “sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan” (ay.14).

Menerapkan prinsip-prinsip tersebut dalam hidup kita mungkin terasa seperti upaya yang tak pernah usai. Namun, itulah panggilan Yesus bagi kita. Yang menyatukan kita sebagai umat percaya adalah kasih kita kepada-Nya. Dengan dasar itulah kita mengejar pengertian, damai sejahtera, dan kesatuan sebagai sesama anggota tubuh Kristus.

Di tengah segala keragaman kita, marilah mengupayakan kesatuan yang semakin erat di dalam Kristus.

Mengenal dan Mengasihi

“Jesus loves me, this I know, for the Bible tells me so” (Yesus sayang padaku, Alkitab mengajarku)” adalah pesan dari salah satu lagu rohani yang paling diingat orang, terutama oleh anak-anak. Ditulis oleh Anna B. Warner pada tahun 1800-an, lirik itu secara lembut menegaskan hubungan kita dengan Yesus—yaitu bahwa kita disayang dan dikasihi-Nya.

Seseorang memberi istri saya sebuah hiasan dinding untuk rumah kami berisi lirik lagu tersebut, tetapi dengan kata-kata yang bertukar posisi. Pada hiasan itu tertulis, “Jesus knows me, this I love” (Yesus mengenalku, aku suka hal itu). Kalimat tersebut memberikan perspektif yang berbeda pada hubungan kita dengan-Nya—yaitu bahwa kita dikenal oleh Kristus.

Pada masa Israel kuno, yang membedakan gembala sejati dengan gembala upahan adalah gembala sejati menyayangi dan mengenal domba-dombanya. Gembala itu menghabiskan begitu banyak waktu bersama domba-dombanya hingga ia memiliki perhatian dan pengenalan yang mendalam akan domba-dombanya. Karena itu, tidak heran Yesus berkata kepada domba-domba milik-Nya, “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku. . . . Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku” (Yoh. 10:14,27).

Dia mengenal dan mengasihi kita! Kita dapat mempercayai tujuan Yesus bagi hidup kita dan meyakini janji pemeliharaan-Nya karena Bapa “mengetahui apa yang [kita] perlukan, sebelum [kita] minta kepada-Nya” (Mat. 6:8). Dalam pasang surut kehidupan, tenanglah, karena Anda dikenal dan dikasihi oleh Gembala jiwa Anda.

Allah yang Pemarah?

Ketika mempelajari tentang mitologi Yunani dan Romawi di perguruan tinggi, saya terkesima dengan sifat dari dewa-dewi dalam kisah-kisah itu yang tidak stabil dan cenderung mudah marah. Hidup orang-orang yang menjadi sasaran kemarahan para dewa itu akan hancur, dan kadang terjadi tanpa alasan yang kuat.

Saya pun mencibir sambil bertanya-tanya bagaimana mungkin orang bisa percaya kepada dewa-dewa seperti itu. Namun kemudian, saya bertanya kepada diri sendiri, Sama atau tidakkah pandangan saya tentang Allah yang sejati? Bukankah saya menganggap-Nya mudah marah saat saya meragukan-Nya? Sayangnya, saya memang sering berpikir demikian.

Itulah mengapa saya memahami permintaan Musa kepada Allah, “Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku” (Kel. 33:18). Ketika dipilih untuk memimpin sejumlah besar orang yang sering mengeluh kepadanya, Musa ingin tahu apakah Allah memang akan menolongnya dalam tugas yang sangat besar itu. Allah mengabulkan permintaan itu dan menunjukkan kemuliaan-Nya. Allah menyatakan nama dan sifat-sifat-Nya kepada Musa. Dialah “Allah yang penuh kemurahan hati dan belas kasihan. Kasih-Ku berlimpah-limpah, Aku setia dan tidak lekas marah” (34:6 BIS).

Ayat itu mengingatkan saya bahwa Allah tidaklah impulsif, tiba-tiba marah dan bertindak semaunya. Kebenaran itu sangat melegakan hati saya, terutama saat saya mengingat bahwa adakalanya saya yang justru bersikap tidak sabar dan mudah marah kepada-Nya. Selain itu, Allah juga terus bekerja untuk menjadikan saya makin serupa dengan-Nya.

Kita dapat melihat Allah dan kemuliaan-Nya melalui banyak hal: kesabaran-Nya terhadap kita, kata-kata yang menguatkan dari sahabat, keindahan matahari yang terbenam. Namun, yang terbaik dari semuanya adalah bisikan Roh Kudus dalam hati nurani kita.

Membaur

Lee adalah pegawai bank yang rajin dan dapat diandalkan. Namun, karena ingin menerapkan imannya dengan sungguh-sungguh, ia sering harus tampil beda dalam pergaulan sehari-hari. Misalnya, ketika ia memilih untuk keluar dari ruang istirahat di kantornya saat percakapan sudah menjurus ke hal-hal yang tidak senonoh. Dalam kelompok penggalian Alkitab yang diikutinya, ia menceritakan pergumulannya, “Aku takut kehilangan kesempatan untuk dipromosikan karena tak mau membaur.”

Umat Allah pada zaman Nabi Maleakhi menghadapi tantangan serupa. Mereka telah kembali dari pembuangan dan Bait Allah sudah dibangun ulang. Namun, mereka ragu dengan rencana Allah bagi masa depan mereka. Ada di antara mereka yang berkata, “Percuma saja berbakti kepada Allah. Apa gunanya melakukan kewajiban kita terhadap Tuhan Yang Mahakuasa . . . ? Kita lihat sendiri bahwa orang-orang sombong bahagia. Orang jahat tidak hanya bertambah makmur, tetapi kalau mereka menguji kesabaran Allah dengan berbuat jahat, mereka luput juga” (Mal. 3:14-15 BIS).

Bagaimana kita dapat tetap setia kepada Allah di tengah suatu dunia yang menganggap kita ketinggalan zaman jika kita tidak membaur? Mereka yang hidup setia pada zaman Maleakhi menjawab tantangan itu dengan berkumpul bersama orang percaya lainnya untuk saling menguatkan. Maleakhi menyatakan satu hal yang penting: “Tuhan mendengar dan memperhatikan apa yang mereka katakan” (ay.16 BIS).

Benar, Allah memperhatikan dan mempedulikan semua orang yang takut kepada-Nya dan yang menghormati-Nya. Dia tidak memerintahkan kita “membaur” dengan dunia, melainkan untuk makin mendekat kepada-Nya setiap hari sembari kita menguatkan satu sama lain. Karena itu, marilah kita hidup dengan setia!

Apa Isinya?

“Apakah kamu mau lihat apa isinya?” tanya teman saya Emily. Saya baru saja memuji boneka kain yang sedang dipeluk putrinya yang masih kecil. Saya memang sangat ingin tahu apa isi boneka itu. Teman saya membalik boneka itu dan membuka ritsleting tersembunyi yang dijahit pada punggung boneka tersebut. Dari dalam tubuh boneka itu, Emily dengan lembut mengeluarkan sebuah harta terpendam: boneka kain yang pernah disayang dan disukainya selama bertahun-tahun di masa kanak-kanaknya, lebih dari dua puluh tahun lalu. Boneka “luar” itu hanya sekadar bungkus jika tanpa boneka “dalam” yang menopang dan memberikan bentuk pada boneka “luar” itu.

Paulus menggambarkan kebenaran tentang kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus sebagai sebuah harta, yang tersimpan dalam diri umat Allah yang rapuh sebagai manusia. Harta itu memampukan mereka yang percaya kepada-Nya untuk menanggung penderitaan yang sangat berat dan untuk terus melayani dengan setia. Saat mereka mempercayai Tuhan, terang-Nya—hidup-Nya—bersinar cemerlang melalui “kerapuhan” mereka sebagai manusia. Paulus menguatkan kita semua agar “tidak tawar hati” (2Kor. 4:16) karena Allah senantiasa menguatkan kita untuk melakukan pekerjaan-Nya.

Seperti boneka “dalam” tadi, harta rohani yang ada di dalam diri kita memberikan tujuan dan kekuatan yang pasti bagi hidup kita. Ketika kekuatan Allah bersinar melalui diri kita, orang lain akan tergerak untuk bertanya, “Apa yang kau miliki di dalam dirimu?” Pada saat itulah kita dapat membuka isi hati kita dan menyatakan kepada mereka janji hidup baru dari keselamatan yang diberikan Kristus.

Hati Sebagai Hamba

Hari itu pekerjaan di kantor sangat melelahkan. Namun saat sampai di rumah, tiba waktunya bagi saya untuk memulai “pekerjaan lain”: menjadi ayah yang baik. Sambutan dari istri dan anak saya segera berubah menjadi, “Pa, mau makan malam apa?” “Pa, boleh ambilkan aku minum?” “Pa, main bola yuk?”

Sebenarnya saya hanya ingin duduk santai. Dan meskipun sebagian dari diri saya benar-benar ingin bersikap sebagai ayah yang baik, saya tidak merasa bersemangat untuk melayani kebutuhan keluarga saya. Saat itulah saya melihat sesuatu: sepucuk kartu ucapan terima kasih yang diterima istri saya dari salah seorang jemaat gereja. Kartu itu menggambarkan semangkuk air, handuk, dan sandal kotor. Di bagian bawah gambar itu terdapat kata-kata dari Lukas 22:27, “Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan.”

Pernyataan tentang misi Yesus—yakni untuk melayani orang-orang yang hendak dicari dan diselamatkan-Nya (Luk. 19:10)—benar-benar saya butuhkan saat itu. Jika Yesus saja bersedia melakukan pekerjaan yang paling hina bagi para pengikut-Nya—seperti membasuh kaki murid-murid-Nya yang sudah pasti kotor (Yoh. 13:1-17)—tentulah saya dapat mengambilkan minum untuk anak saya tanpa berkeluh kesah. Pada saat itu, saya diingatkan bahwa permintaan keluarga saya untuk melayani mereka bukan sekadar kewajiban, melainkan sebuah kesempatan untuk mencerminkan hati sebagai hamba yang dimiliki Yesus dan juga kasih-Nya kepada mereka. Ketika kita diminta untuk berbuat sesuatu, itulah kesempatan bagi kita untuk bertumbuh menjadi semakin serupa dengan Kristus, Pribadi yang melayani dengan cara menyerahkan nyawa-Nya bagi kita.

Batu Peringatan

Terkadang saat membuka Facebook, saya ditunjukkan pada “kenangan”—hal-hal yang pernah saya unggah pada hari yang sama di tahun-tahun sebelumnya. Sejumlah kenangan itu, seperti foto pernikahan kakak saya atau video putri saya yang sedang bermain dengan nenek saya, biasanya membuat saya tersenyum. Namun, sebagian kenangan yang lain memberikan dampak emosional yang lebih mendalam. Ketika membaca lagi tulisan tentang menengok saudara ipar yang menjalani kemoterapi atau melihat foto jahitan di kulit kepala ibu saya setelah operasi pada otaknya tiga tahun lalu, saya diingatkan pada kehadiran Allah yang setia di masa-masa sulit tersebut. Kenangan yang ditampilkan oleh Facebook itu mendorong saya untuk berdoa dan bersyukur.

Kita semua cenderung melupakan hal-hal yang telah Allah lakukan bagi kita. Kita membutuhkan pengingat. Ketika Yosua memimpin umat Allah menuju tanah tempat tinggal mereka yang baru, mereka harus menyeberangi sungai Yordan (Yos. 3:15-16). Allah membelah sungai itu sehingga umat-Nya dapat berjalan melalui tanah yang kering (ay.17). Untuk mengingatkan mereka pada mukjizat itu, umat Israel mengambil dua belas batu dari tengah sungai dan meletakkannya di seberang (4:3,6-7). Ketika ada yang bertanya tentang arti batu-batu itu, umat Allah dapat menceritakan tentang apa yang telah Allah lakukan pada hari itu.

Benda-benda yang mengingatkan kita akan kesetiaan Allah di masa lalu dapat mengingatkan kita untuk senantiasa mempercayai-Nya di masa sekarang dan juga di masa yang akan datang.

Penghapus Utang

Saya coba menahan air mata saat mencermati tagihan pengobatan saya. Mengingat gaji suami saya yang turun jauh jika dibandingkan dengan pekerjaan lamanya, membayar setengah dari jumlah tagihan itu saja memerlukan cicilan bulanan selama bertahun-tahun. Saya berdoa sebelum menelepon klinik untuk menjelaskan situasi kami dan meminta dibuatkan rencana pembayaran yang sanggup saya tanggung.

Setelah saya diminta menunggu sesaat, resepsionis memberi tahu saya bahwa dokter telah membebaskan kami dari tagihan itu.

Saya terisak sambil mengucapkan terima kasih. Berkat luar biasa itu membuat saya sangat bersyukur. Setelah menutup telepon, saya pun memuji Allah. Saya terpikir untuk menyimpan lembar tagihan itu, bukan untuk mengingatkan pada besarnya utang saya, melainkan pada apa yang telah diperbuat Allah bagi saya.

Keputusan dokter untuk menghapus utang saya mengingatkan saya pada keputusan Allah untuk menghapus utang dosa saya yang karena begitu besarnya tidak mungkin saya lunasi. Kitab Suci meyakinkan kita bahwa Allah itu “penyayang dan pengasih” dan “berlimpah kasih setia” (Mzm. 103:8). “Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita” (ay.10). Dia menjauhkan dosa kita “sejauh timur dari barat” (ay.12), ketika kita bertobat dan menerima Kristus sebagai Juruselamat kita. Pengorbanan-Nya menghapus utang kita—seluruhnya.

Setelah diampuni, hidup kita tidak lagi ditentukan atau dibatasi oleh utang dosa kita di masa lalu. Menanggapi limpah ruahnya anugerah Tuhan dapat kita lakukan dengan mengakui segala karya-Nya. Lewat persembahan dan ucapan syukur yang tulus, kita dapat hidup bagi-Nya dan menceritakan tentang Dia kepada sesama kita.

Satu Nama

Cleopatra, Galileo, Shakespeare, Elvis, Pelé. Mereka begitu terkenal sehingga satu kata dari nama mereka sudah cukup untuk mengenali mereka. Tokoh-tokoh tersebut menjadi terkenal karena diri mereka dan apa yang mereka lakukan. Namun, ada satu nama lain yang jauh lebih unggul daripada mereka atau nama-nama lain di dunia!

Sebelum Anak Allah lahir ke dunia, malaikat mengatakan kepada Maria dan Yusuf untuk menamakan bayi mereka Yesus, karena “Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Mat. 1:21), dan “Ia . . . akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi” (Luk. 1:32). Yesus tidak datang untuk menjadi orang yang tersohor melainkan menjadi hamba yang merendahkan diri dan mati di kayu salib agar setiap orang yang menerima-Nya dapat diampuni dan dilepaskan dari kuasa dosa.

Rasul Paulus menulis, “Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp. 2:9-11).

Di masa-masa penuh sukacita maupun di saat-saat yang tersulit, kita dapat menyerukan nama Yesus. Dia tidak akan pernah meninggalkan kita, dan kasih-Nya tidak akan pernah berkesudahan.

Hadiah dari Orang Majus

Alkisah sepasang anak muda yang saling mencintai tetapi tidak mempunyai banyak uang. Menjelang Natal, keduanya bersusah-payah mencari hadiah yang akan menunjukkan besarnya cinta mereka kepada pasangannya. Akhirnya, pada malam Natal, Della menggunting rambutnya yang sepanjang lutut dan menjualnya agar dapat membeli rantai berbahan platinum untuk arloji milik Jim yang diwarisinya dari ayah dan kakeknya. Namun sayang sekali, ternyata Jim telah menjual arlojinya agar dapat membeli seperangkat sisir yang mahal untuk rambut Della.

Penulis O. Henry memberikan judul The Gift of the Magi (Hadiah dari Orang Majus) untuk cerita tentang pasangan muda itu. Cerita tersebut menunjukkan bahwa meskipun hadiah Natal mereka tidak berguna dan mungkin terlihat bodoh, perbuatan mereka yang penuh kasih menjadikan pemberian itu terlihat sangat bijaksana.

Orang-orang majus di Alkitab mungkin juga terlihat bodoh dengan hadiah berupa emas, kemenyan, dan mur yang mereka bawa ke Betlehem (Mat. 2:11). Sebagai orang non-Yahudi, mereka tidak menyadari bahwa mereka telah mengusik ketenangan di kota Yerusalem ketika mereka bertanya tentang raja orang Yahudi yang baru lahir (ay.2).

Seperti pengalaman Jim dan Della dalam cerita fiksi di atas, rencana orang-orang majus itu tidak berjalan seperti harapan mereka. Meski demikian, mereka telah memberikan sesuatu yang tidak terbeli dengan uang. Mereka memang datang membawa hadiah, tetapi mereka kemudian bersujud menyembah Pribadi yang pada akhirnya akan memberikan diri-Nya dalam perbuatan kasih yang terbesar—berkorban untuk mereka dan untuk kita semua.

Sama Seperti Bapa

Ayah saya pernah mempunyai sepatu bot koboi setinggi lutut yang kini sudah berdebu dan ditaruh di lantai ruang kerja saya. Setiap hari, saat melihat sepatu bot itu, saya teringat pada kepribadian beliau.

Salah satu hal yang dilakukan ayah saya adalah memelihara dan melatih kuda-kuda penggiring ternak—kuda-kuda atletis yang bergerak lincah. Saya sangat senang melihat ayah bekerja dan mengagumi bagaimana ia dapat tetap duduk di atas pelana sepanjang melakukan pekerjaannya.

Ketika masih kecil, saya ingin tumbuh besar menjadi seperti beliau. Saya berusia 80-an tahun sekarang, tetapi saya masih belum menyamai apa yang telah beliau kerjakan.

Ayah saya sudah berpulang ke surga, tetapi saya mempunyai Bapa lain untuk diteladani. Saya ingin menjadi seperti Dia—dipenuhi kebaikan-Nya dan menyebarkan kasih-Nya. Saya belum sepenuhnya menjadi seperti Dia, bahkan takkan pernah bisa menyamai-Nya seumur hidup saya. Dia terlebih mulia dibandingkan saya.

Namun, Rasul Petrus pernah berkata, “Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu” (1Ptr. 5:10). Dia memiliki hikmat dan kuasa untuk melakukan semua itu (ay.11).

Ketidaksanggupan kita untuk sepenuhnya menyerupai Allah Bapa tidak akan berlangsung selamanya. Dia telah memanggil kita untuk membagikan keindahan karakter-Nya. Di dalam hidup ini, kita tidak akan mencerminkan karakter-Nya dengan sempurna. Namun, di surga kelak, segala dosa dan dukacita kita tidak akan ada lagi dan kita akan mencerminkan Allah dengan seutuhnya! Sungguh, itulah “kasih karunia yang benar-benar dari Allah” (ay.12).

Apa yang Dikatakan Para Ahli?

Kolumnis surat kabar Boston Globe, Jeff Jacoby, pernah menulis tentang “kepercayaan diri para ahli yang bisa salah besar dan sangat fatal dalam memprediksi sesuatu”. Jika melihat perjalanan sejarah dari abad ke abad, kita bisa membenarkan tulisan Jacoby. Misalnya saja, penemu hebat Thomas Edison pernah menyatakan bahwa film bersuara tidak akan pernah menggantikan keberadaan film bisu. Lalu pada tahun 1928, Henry Ford menyatakan, “Manusia sudah terlalu cerdas untuk kembali masuk ke dalam peperangan.” Tak terhitung jumlah prediksi dari para “ahli” yang akhirnya melenceng jauh. Ternyata kecerdasan pun ada batasnya.

Hanya satu Pribadi yang dapat dipercaya sepenuhnya, dan Dia pernah menegur keras sejumlah orang yang menyebut diri mereka ahli. Para pemimpin agama pada zaman Yesus mengaku telah mengetahui kebenaran. Para ahli Taurat dan pemuka agama itu mengira bahwa mereka tahu seperti apakah Mesias yang dijanjikan Allah pada saat Dia datang.

Tuhan Yesus memperingatkan mereka, “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu” (Yoh. 5:39-40).

Di awal tahun yang baru, kita tentu mendengar banyak prediksi, mulai dari yang menakutkan hingga yang sangat optimis. Sebagian besar prediksi itu dinyatakan dengan penuh keyakinan dan otoritas. Janganlah kita menjadi khawatir, melainkan tetaplah percaya kepada Pribadi yang menjadi pusat dari Kitab Suci. Allah Mahakuasa yang menopang kita juga berkuasa memegang hari esok.

Kemuliaan yang Menakjubkan

Salah satu hal yang menyenangkan dari perjalanan ke Eropa adalah kesempatan mengunjungi katedral-katedral megah yang banyak terdapat di sana. Keindahan dari setiap katedral yang menjulang tinggi itu sungguh menakjubkan. Karya arsitektur, seni, dan simbol-simbol pada bangunan-bangunan luar biasa tersebut seakan memancarkan keajaiban dan kemegahan yang dapat membuat seseorang terpesona.

Saat memikirkan bahwa semua katedral tersebut dibangun untuk mencerminkan kebesaran Allah dan keagungan-Nya yang tak tertandingi, saya pun bertanya-tanya bagaimana hati dan pikiran manusia dapat merasakan kembali keagungan Allah dan diingatkan lagi akan kebesaran-Nya.

Salah satu cara yang dapat kita lakukan adalah dengan memandang jauh melampaui bangunan megah yang dibuat oleh manusia dan merenungkan keagungan dari alam semesta ciptaan Allah sendiri. Lihatlah langit malam yang bertabur bintang dan pikirkanlah tentang kuasa Allah saat Dia berfirman untuk menciptakan alam semesta. Gendonglah bayi yang baru lahir dan bersyukurlah kepada Allah untuk keajaiban hidup itu sendiri. Lihatlah gunung-gunung yang tertutup salju atau luasnya samudera raya yang dipenuhi jutaan mahkluk ciptaan Allah dan bayangkanlah kuasa yang membuat ekosistem tersebut berfungsi sebagaimana adanya.

Memang, tidak salah manusia mendirikan bangunan-bangunan yang tinggi dan megah dengan tujuan untuk mengarahkan pandangan kita kepada Allah. Namun demikian, kekaguman kita yang sejati sudah sepatutnya ditujukan kepada Allah sendiri, sambil kita mengatakan kepada-Nya, “Ya Tuhan, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan” (1Taw. 29:11).

Terus Maju

Ketika berjalan di luar gedung kantor tempat saya bekerja, saya tercengang melihat sebatang tanaman bunga yang indah tumbuh di suatu celah lempengan beton yang menutupi tanah. Meskipun keadaannya tidak mendukung, tanaman itu berhasil menemukan tempat untuk berakar di retakan yang kering dan bertumbuh dengan baik. Saya kemudian menyadari bahwa tepat di atas tanaman itu terpasang unit pendingin udara yang meneteskan air pada tanaman itu sepanjang hari. Jadi, meskipun lingkungannya tidak bersahabat, tanaman tersebut menerima pertolongan yang dibutuhkannya untuk bertumbuh dari tetesan air itu.

Dalam hidup kita sebagai orang percaya, terkadang kita menemui berbagai hambatan untuk bertumbuh. Namun, jika kita bertekun dalam Kristus, hambatan-hambatan itu dapat diatasi. Mungkin lingkungan kita tidak bersahabat dan kekecewaan hidup bisa jadi menghalangi kita untuk bertumbuh. Akan tetapi, jika kita terus maju dalam persekutuan dengan Allah, kita akan dapat bertumbuh seperti tanaman bunga di atas. Itulah yang dialami oleh Rasul Paulus. Meskipun menghadapi kesulitan dan tantangan yang sangat berat (2Kor. 11:23-27), ia tidak pernah menyerah. “Aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus,” demikian tulis Paulus. “[Aku] berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah” (Flp. 3:12,14).

Paulus menyadari bahwa ia sanggup menanggung segala perkara di dalam Tuhan yang memberikan kekuatan kepadanya (4:13). Demikian juga kita dapat terus maju dengan pertolongan Kristus yang memberikan kekuatan kepada kita.

Mulai Kembali

Setelah perayaan Natal berakhir pada akhir Desember, pikiran saya mulai tertuju pada tahun yang akan datang. Di saat anak-anak sedang libur sekolah dan rutinitas sehari-hari agak longgar, saya dapat merenungkan kembali apa saja yang telah saya alami setahun lalu dan apa yang saya harapkan di tahun yang baru. Perenungan saya terkadang disertai rasa sakit dan penyesalan atas kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan. Namun, penantian untuk memulai tahun yang baru telah memenuhi hati saya dengan pengharapan dan semangat baru. Saya merasa mempunyai kesempatan untuk memulai kembali dengan awal yang baru, terlepas dari apa pun yang terjadi setahun lalu.

Semangat saya untuk memulai awal yang baru tidaklah sebanding dengan besarnya pengharapan yang dirasakan orang Israel pada saat Koresh, raja Persia, membebaskan mereka untuk kembali ke kampung halaman mereka di Yehuda. Saat itu orang Israel telah menjalani masa pembuangan di Babel selama tujuh puluh tahun. Raja yang terdahulu, Nebukadnezar, telah mengasingkan orang Israel dari tanah kelahiran mereka. Namun, Allah menggerakkan Koresh untuk memulangkan para tawanan ke Yerusalem untuk membangun Bait Allah (Ezr. 1:2-3). Koresh juga mengembalikan kepada mereka segala harta benda yang telah diambil dari Bait Allah. Hidup mereka sebagai umat pilihan Allah, di tanah yang sudah Allah janjikan bagi mereka, dimulai kembali dengan awal yang baru setelah menjalani masa-masa yang sulit di Babel sebagai konsekuensi dari dosa mereka.

Apa pun yang terjadi di masa lalu, saat kita mengakui dosa, Allah mengampuni kita dan memberi kita awal yang baru. Karena itulah, kita dapat memasuki tahun baru dengan penuh harap!

Memori yang Menguatkan Iman

Saat melangkah memasuki ruang ibadah yang dipenuhi dengan musik, saya melihat kerumunan orang yang telah berkumpul untuk merayakan malam Tahun Baru. Sukacita membuat hati saya melimpah dengan pengharapan, sembari mengingat kembali doa-doa yang dinaikkan setahun sebelumnya. Jemaat kami pernah berduka karena anak-anak yang bermasalah, kematian orang-orang yang dikasihi, kehilangan pekerjaan, dan hubungan yang retak. Namun, kami juga mengalami anugerah Allah saat mengingat orang-orang yang hatinya diubahkan dan hubungannya dipulihkan. Kami merayakan kemenangan, pernikahan, wisuda, dan baptisan. Kami menyambut anak-anak yang lahir, yang diadopsi, dan yang diserahkan kepada Tuhan, dan masih banyak lagi.

Saat mengingat berbagai pergumulan yang dialami jemaat gereja kami di masa lalu—seperti Yeremia mengingat “sengsara” dan “pengembaraan” yang dijalaninya (Rat. 3:19)—saya percaya bahwa “tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya” (ay.22). Sang nabi meyakinkan kembali dirinya akan kesetiaan Allah di masa lalu, dan kata-katanya menghibur saya: “Tuhan adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia” (ay.25).

Malam itu, setiap anggota jemaat kami menjadi bukti nyata dari kasih Allah yang mengubahkan hidup. Apa pun yang akan kami hadapi di tahun-tahun mendatang, sebagai anggota tubuh Kristus yang bergantung kepada satu sama lain, kami akan terus mengandalkan Tuhan. Di dalam upaya kami untuk terus mencari Allah dan mendukung satu sama lain, seperti Yeremia, kami mengalami bahwa pengharapan kami diteguhkan oleh memori-memori yang menguatkan iman. Segala memori itu mengingatkan kami pada karakter Allah yang tidak berubah dan selalu dapat diandalkan.

Bersyukur untuk Penyelesaian

Di akhir tahun, kita bisa merasa terbebani oleh tugas yang belum kita selesaikan. Tanggung jawab di rumah dan di tempat kerja seakan tiada habisnya, dan apa yang tidak selesai hari ini akan menumpuk di hari berikutnya. Namun, dalam perjalanan iman kita, adakalanya kita perlu berhenti sejenak untuk mensyukuri kesetiaan Allah dan tugas-tugas yang telah diselesaikan.

Setelah perjalanan misi pertama dari Paulus dan Barnabas, “berlayarlah mereka ke Antiokhia; di tempat itulah mereka dahulu diserahkan kepada kasih karunia Allah untuk memulai pekerjaan, yang telah mereka selesaikan” (Kis. 14:26). Meski masih banyak orang yang perlu mendengar kabar baik tentang Yesus Kristus, Paulus dan Barnabas mengambil waktu untuk mengucap syukur atas apa yang telah diselesaikan. “Setibanya di situ mereka memanggil jemaat berkumpul, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka, dan bahwa Ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman” (ay.27).

Apa yang telah Allah kerjakan melalui diri Anda sepanjang tahun ini? Bagaimana Allah telah membuka pintu hati orang-orang yang Anda kenal dan kasihi sehingga mereka dapat mengenal Yesus? Dengan cara-cara yang tak terbayangkan, Allah sedang bekerja melalui diri kita di dalam tugas-tugas yang tampaknya tidak berarti atau belum selesai.

Meskipun kita menyadari bahwa masih ada tugas pelayanan yang belum selesai, janganlah lupa mengucap syukur atas hal-hal yang dilakukan-Nya melalui diri kita. Sukacita atas apa yang telah Allah lakukan oleh kasih karunia-Nya akan membuat kita siap menghadapi setiap hal yang ada di masa mendatang!

Lekat di Mata

Nama burung kolibri dalam bahasa Inggris adalah hummingbird. Nama itu diperoleh dari suara dengungan (hum) yang terdengar saat burung itu mengepakkan sayapnya dengan cepat. Dalam bahasa Portugis, burung itu dikenal sebagai “pencium bunga”, dan dalam bahasa Spanyol disebut sebagai “permata terbang”. Salah satu nama kesukaan saya untuk burung kolibri adalah biulu, yang artinya “lekat di mata” dalam bahasa Zapotec di Meksiko. Dengan kata lain, sekali Anda melihat burung kolibri, Anda tidak akan pernah melupakannya.

G. K. Chesterton pernah menulis, “Tidak sedikit hal yang mengagumkan di dunia, tetapi hanya sedikit keinginan untuk mengaguminya.” Burung kolibri adalah salah satu dari hal yang mengagumkan itu. Apa yang begitu menarik dari mahkluk kecil ini? Mungkin ukuran tubuhnya yang kecil (rata-rata sekitar 5-8 cm) atau kecepatan dari kepakan sayapnya yang mencapai 50-200 kali per detik.

Kita tidak tahu pasti siapa yang menulis Mazmur 104. Namun, penulis mazmur itu tentu sangat terpikat oleh keindahan alam semesta. Setelah menggambarkan banyaknya ciptaan Tuhan yang mengagumkan, seperti pohon-pohon aras dari Libanon dan keledai-keledai hutan, ia bernyanyi, “Biarlah Tuhan bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya” (ay.31). Kemudian ia berdoa, “Biarlah renunganku manis kedengaran kepada-Nya” (ay.34).

Keindahan dan keteraturan alam semesta ini memang dapat membangkitkan rasa kagum dalam diri kita. Namun, bagaimana kita dapat merenungkan segala keindahan itu dengan cara yang menyenangkan Allah? Kita dapat bersukacita dan bersyukur kepada Allah saat kita merenungkan karya ciptaan-Nya dan menghayati segala keindahannya yang mengagumkan.

Halaman