Agregator pasokan

Memberikan Hadiah Doa

“Saya tak menyadari arti doa sebagai hadiah sampai ketika saudara laki-laki saya sakit dan kalian semua mendoakannya. Kami sangat terhibur oleh doa-doa kalian!”

Sambil meneteskan air mata, Laura berterima kasih kepada saya atas dukungan doa dari jemaat di gereja kami untuk saudaranya yang didiagnosis mengidap kanker. Laura juga mengatakan, “Doa-doa dari semua orang telah menguatkan saudara saya di masa sulit ini dan juga telah menghibur seluruh keluarga kami.”

Salah satu cara terbaik untuk mengasihi sesama adalah dengan mendoakan mereka. Yesus adalah teladan terbaik dalam hal itu. Perjanjian Baru menceritakan tentang Yesus yang mendoakan orang lain dalam banyak peristiwa. Kita bahkan melihat bagaimana Dia terus berdoa kepada Bapa-Nya demi kepentingan umat-Nya. Roma 8:34 mengatakan bahwa Yesus “duduk di sebelah kanan Allah, . . . menjadi Pembela bagi kita.” Bahkan setelah menunjukkan kasih yang tanpa pamrih di kayu salib, Tuhan Yesus Kristus yang telah bangkit dan naik ke surga itu masih terus menyatakan perhatian-Nya kepada kita dengan mendoakan kita saat ini juga.

Saat melihat keadaan orang-orang di sekitar kita, kita dipanggil untuk mengikuti teladan Yesus dan mengasihi mereka dengan doa-doa kita. Kita dipanggil untuk meminta pertolongan dan campur tangan Allah atas hidup mereka. Kita dapat meminta kepada Allah untuk menolong kita mendoakan mereka, dan Dia akan menolong kita! Kiranya Tuhan yang penuh kasih memampukan kita untuk bermurah hati memberikan hadiah doa kepada sesama kita hari ini.

Bekerja Sama

Mengapa lebih dari lima juta orang setiap tahunnya rela mengeluarkan uang untuk berlari sekian kilometer dan melintasi halang rintang yang mengharuskan mereka untuk memanjat dinding yang tegak, merayap di tanah berlumpur, dan menaiki bagian dalam pipa vertikal yang diguyur air? Sejumlah orang melakukannya karena mereka tertantang untuk menguji ketahanan diri mereka atau untuk menaklukkan ketakutan mereka. Bagi yang lain, mereka tertarik pada kerja sama tim di mana para peserta saling membantu dan mendukung satu sama lain. Seseorang menyebut arena tersebut sebagai “zona tanpa penghakiman” karena di sana orang-orang yang tidak saling mengenal akan menolong satu sama lain untuk menyelesaikan perlombaan (Stephanie Kanowitz, The Washington Post).

Alkitab mendorong kita untuk membangun kerja sama sebagai sikap yang patut dicontoh dalam hidup kita bersama sebagai murid Yesus. “Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat” (Ibr. 10:24-25).

Tujuan kita bukanlah untuk menjadi yang pertama dalam mengakhiri perlombaan iman, tetapi untuk mendorong sesama secara nyata dengan memberikan teladan dan pertolongan kapan pun seseorang membutuhkannya.

Akan tiba saatnya kita mengakhiri hidup kita di dunia. Sampai saat itu tiba, marilah kita saling menguatkan, siap sedia menolong, dan terus bekerja sama hari demi hari.

Tetap Beriman

Karena cenderung bermental pesimis, saya sering dengan cepat memikirkan kemungkinan-kemungkinan negatif dari situasi-situasi yang saya hadapi dalam hidup ini. Jika upaya saya mengerjakan suatu proyek ternyata gagal, saya langsung menyimpulkan bahwa proyek-proyek saya berikutnya akan gagal juga. Saya bahkan merasa takkan bisa lagi melakukan hal-hal yang sederhana meski sebenarnya tidak berhubungan dengan kegagalan sebelumnya. Lebih jauh dari itu, saya juga cenderung menganggap diri sebagai seorang ibu yang tidak becus dan tidak bisa melakukan apa pun dengan benar. Kegagalan mengerjakan satu hal ternyata mempengaruhi perasaan saya terhadap hal-hal lain yang sebenarnya tidak berkaitan.

Mudah bagi saya untuk membayangkan reaksi Nabi Habakuk terhadap apa yang ditunjukkan Allah kepadanya. Wajar bagi Habakuk untuk berputus asa setelah melihat kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi umat Allah; tahun-tahun mendatang yang panjang dan sulit. Segalanya memang terlihat suram: takkan ada buah, takkan ada daging, dan takkan ada ketenteraman. Kata-kata Habakuk membuat saya pesimis dan berputus asa, tetapi ia kembali menyentak saya dengan satu kata: namun. “Namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan” (Hab. 3:18). Meski akan menghadapi semua kesulitan itu, Habakuk menemukan alasan untuk bersukacita karena pribadi Allah semata-mata.

Kita mungkin cenderung membesar-besarkan masalah yang kita hadapi, tetapi Habakuk benar-benar menghadapi kesulitan besar. Namun, jika ia saja dapat memuji Allah pada keadaan seperti itu, mungkin kita pun dapat melakukannya. Ketika kita terpuruk di dalam lembah keputusasaan, kita dapat memandang kepada Allah yang sanggup membangkitkan kita kembali.

Kesetiaan Total

Para penggemar olahraga yang sangat memuja tim favorit mereka biasanya tidak malu-malu menunjukkan kesetiaan mereka. Mereka memakai atribut dengan logo tim pujaan mereka, menulis komentar di media sosial tentang tim itu, atau membahas prestasi tim itu bersama penggemar lainnya. Saya sendiri termasuk di antara mereka. Anda bisa melihatnya dari koleksi topi dan kaos Detroit Tigers yang saya miliki, serta isi pembicaraan saya dengan para penggemar tim pujaan saya tersebut.

Kesetiaan kita pada sebuah tim olahraga dapat mengingatkan kita bahwa kesetiaan sejati dan terbesar yang kita miliki haruslah kepada Tuhan kita. Saya terpikir tentang kesetiaan total seperti itu ketika membaca Mazmur 34. Dalam mazmur tersebut, Daud mengarahkan perhatian kita kepada Pribadi yang jauh lebih utama daripada segala sesuatu yang ada di bumi.

Daud berkata, “Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu” (ay.2), dan itu membuat kita berpikir tentang momen-momen dalam hidup ini ketika kita menjalaninya dengan sikap seolah-olah Allah bukanlah sumber kebenaran, terang, dan keselamatan kita. Daud berkata, “Puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku” (ay.2), dan kita teringat betapa seringnya kita lebih memuji apa yang ada di dunia ini daripada memuji-Nya. Daud berkata, “Karena Tuhan jiwaku bermegah” (ay.3), dan kita menyadari bahwa betapa seringnya kita menyombongkan keberhasilan-keberhasilan kita yang tidak seberapa daripada memegahkan segala hal yang telah Yesus lakukan untuk kita.

Tidaklah salah menikmati olahraga, hobi, dan keberhasilan kita. Akan tetapi, pujian tertinggi kita haruslah ditujukan hanya kepada Tuhan kita. “Muliakanlah Tuhan bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! (ay.4).

Tuntunlah Aku ke Gunung Batu

Saat hendak mencari alat penjaga kelembapan ruangan, saya memperhatikan seorang wanita lanjut usia mondar-mandir di lorong tersebut. Karena berpikir bahwa ia juga hendak membeli alat yang sama, saya bergeser agar ia dapat mendekat. Kami pun berbincang-bincang tentang wabah virus flu di daerah kami yang membuatnya sering batuk dan sakit kepala.

Beberapa menit kemudian, ia mulai mengomel sambil mengungkapkan teorinya tentang asal-usul virus itu. Saya hanya bisa mendengarkan tanpa tahu harus berbuat apa. Tidak lama kemudian, wanita tua itu meninggalkan toko dalam kondisi marah dan frustrasi. Walaupun ia telah mengungkapkan keluh-kesahnya, saya tidak dapat berbuat apa pun untuk menolongnya.

Daud, raja kedua Israel, menulis sejumlah mazmur untuk mengungkapkan rasa marah dan frustrasinya kepada Allah. Namun, Daud tahu bahwa Allah tidak hanya mendengarkan, tetapi juga dapat melakukan sesuatu terhadap kepedihan yang dialaminya. Dalam Mazmur 61, Daud menulis, “Dari ujung bumi aku berseru kepada-Mu, karena hatiku lemah lesu; tuntunlah aku ke gunung batu yang terlalu tinggi bagiku” (ay.3). Allah adalah “tempat perlindungan” Daud (ay.4)—“gunung batu” yang dituju oleh Daud.

Ketika kita menderita, atau bertemu seseorang yang sedang menderita, kita dapat mengikuti teladan Daud. Kita dapat datang kepada “gunung batu” yang lebih tinggi atau mengarahkan orang lain yang sedang menderita itu ke sana. Andai saja saya menceritakan tentang Allah kepada wanita yang saya temui di toko itu. Meskipun Allah mungkin tidak menyingkirkan seluruh penderitaan yang ada, kita dapat percaya bahwa Dia melimpahkan damai sejahtera dan mendengar seruan hati kita.

Instruksi Langsung

Putri kedua saya, Britta, sangat ingin tidur di “tempat tidur anak besar” di kamar kakaknya. Setiap malam ketika menidurkan Britta, saya memberikan instruksi tegas agar ia tidak turun dari tempat tidur, dan memperingatkan bahwa jika ia turun, saya akan mengembalikannya ke ranjang bayi. Malam demi malam, saya menemukan Britta sedang ada di lorong dan saya terpaksa harus membawanya tidur di ranjang bayinya. Bertahun-tahun kemudian, saya baru tahu bahwa putri sulung saya ternyata tidak terlalu senang tidur sekamar dengan adiknya. Berulang kali ia memperdaya Britta dengan mengatakan bahwa ia mendengar saya memanggil-manggil nama adiknya. Britta percaya saja pada kata-kata kakaknya lalu pergi mencari saya. Itulah sebabnya saya sering menemukannya di lorong dan harus membuatnya tidur di ranjang bayi.

Mendengarkan suara yang salah memiliki dampak yang berbahaya bagi kita semua. Ketika Allah mengutus seorang abdi-Nya ke Betel untuk berbicara bagi-Nya, Allah memberikan instruksi yang jelas agar ia tidak makan atau minum selama berada di Betel dan tidak melalui jalan yang sama untuk pulang (1Raj. 13:9). Ketika Raja Yerobeam mengundangnya makan, abdi Allah itu menolaknya karena ia menaati perintah Allah. Ketika seorang nabi yang lebih tua mengundang abdi Allah itu untuk makan, pada awalnya ia menolak, tetapi akhirnya menerima juga undangan makan tersebut. Ia diperdaya oleh si nabi tua yang berkata bahwa seorang malaikat telah berbicara kepadanya untuk mengajak abdi Allah itu makan. Sama seperti saya sedih karena harus menghukum Britta yang tidak mendengarkan instruksi saya, saya membayangkan Allah juga sedih karena abdi-Nya tidak menuruti perintah-Nya.

Kita dapat mempercayai Allah sepenuhnya. Firman-Nya adalah jalan kita menuju kehidupan; alangkah bijaknya jika kita mendengarkan dan menaati-Nya.

Hikmat Usia Lanjut

Pada tahun 2010, surat kabar di Singapura menerbitkan laporan khusus tentang pelajaran hidup yang diterima oleh delapan warga lanjut usia. Laporan itu dibuka dengan kata-kata: “Meski memunculkan tantangan bagi pikiran dan tubuh, penuaan juga memperluas aspek-aspek lain dalam hidup, seperti berlimpahnya kecerdasan emosional dan pemahaman sosial; kualitas-kualitas yang didefinisikan oleh para ilmuwan sebagai hikmat . . . hikmat usia lanjut.”

Orang tua yang berhikmat memang mempunyai banyak pelajaran hidup yang dapat diajarkannya kepada kita. Namun di Alkitab, kita mendapati seorang raja yang baru saja dinobatkan dan tidak menyadari hal tersebut.

Raja Salomo baru saja mangkat, dan dalam 1 Raja-Raja 12:3, kita membaca, “datanglah Yerobeam dengan segenap jemaah Israel . . . kepada Rehabeam” dengan membawa sebuah petisi. Mereka meminta agar raja yang baru, Rehabeam, meringankan beban pekerjaan mereka dan menurunkan besarnya pajak yang diwajibkan oleh ayahnya, Salomo, atas mereka. Sebagai gantinya, mereka akan melayani Rehabeam dengan setia.

Awalnya raja muda itu meminta nasihat dari para tua-tua (ay.6). Namun kemudian ia menolak nasihat mereka dan menerima nasihat bodoh dari para pemuda yang sebaya dengannya (ay.8). Rehabeam malah menambah beban pekerjaan bangsa Israel! Keputusan Rehabeam yang gegabah membuatnya kehilangan sebagian besar kerajaannya.

Kita semua membutuhkan nasihat dari orang-orang yang mempunyai pengalaman bertahun-tahun, terutama dari mereka yang telah berjalan bersama Tuhan dan menaati perintah serta nasihat-Nya. Bayangkan betapa berlimpahnya hikmat yang telah Tuhan anugerahkan kepada mereka! Alangkah banyaknya pengalaman bersama Tuhan yang dapat mereka bagikan kepada kita. Datangilah mereka dan dengarkan baik-baik segala hikmat yang mereka bagikan.

Sampai Bertemu Lagi

Saya dan cucu saya, Allyssa, memiliki kebiasaan yang kami lakukan saat kami berpisah. Kami akan berpelukan dan berpura-pura menangis terisak-isak selama kurang lebih 20 detik. Lalu kami pun memisahkan diri sambil berkata dengan santai, “Sampai jumpa!” Terlepas dari kebiasaan konyol itu, kami berharap bahwa kami akan segera bertemu kembali.

Namun, terkadang kepedihan yang dialami karena berpisah dengan orang-orang yang kita kasihi dapat terasa menyesakkan. Ketika Rasul Paulus mengucapkan selamat tinggal kepada para tua-tua dari Efesus, “Menangislah mereka semua tersedu-sedu dan sambil memeluk Paulus. . . . Mereka sangat berdukacita, terlebih-lebih karena [Paulus] katakan, bahwa mereka tidak akan melihat mukanya lagi” (Kis. 20:37-38).

Akan tetapi, duka terdalam yang kita rasakan adalah saat kita dipisahkan oleh kematian dan mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya dalam kehidupan ini. Perpisahan seperti itu rasanya tak terbayangkan. Kita berduka. Kita meratap. Bagaimana hati kita tidak hancur karena tidak lagi dapat memeluk orang yang kita cintai?

Meski demikian . . . janganlah kita berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Paulus menulis tentang pertemuan kembali di masa mendatang bagi mereka yang percaya “bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit” (1Tes. 4:13-18). Ia menyatakan, “Pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga,” dan mereka yang telah meninggal dunia, bersama mereka yang masih hidup, akan dipersatukan dengan Tuhan kita. Pertemuan kembali yang sangat indah!

Yang terbaik dari semuanya: kita akan selama-lamanya bersama dengan Tuhan Yesus. Itulah pengharapan yang abadi.

Seperti Anak Kecil

Seorang anak kecil menari dengan riang dan anggun mengikuti alunan musik pujian. Hanya ia sendiri di lorong ruang kebaktian itu, tetapi ia tidak peduli. Ia terus berputar, melambai-lambaikan kedua tangannya, dan mengayunkan kaki-kakinya sesuai irama. Sang ibu hanya tersenyum melihat tingkah putrinya dan tidak berusaha menghentikannya.

Hati saya bersukacita melihat gadis kecil itu. Dalam hati, saya ingin menari bersamanya, tetapi saya bergeming. Rasanya sudah lama saya tidak lagi berani mengungkapkan sukacita dan kekaguman secara lepas, seperti yang pernah saya alami di masa kanak-kanak. Walaupun kita memang harus bertumbuh dewasa dan melepaskan sifat kekanak-kanakan, tidak seharusnya kita kehilangan perasaan sukacita dan kagum itu, terutama dalam hubungan kita dengan Allah.

Saat Yesus hidup di bumi, Dia menyambut anak-anak yang datang kepada-Nya dan sering menyebut mereka dalam pengajaran-Nya (Mat. 11:25; 18:3; 21:16). Dalam satu kesempatan, Yesus menegur para murid yang menghalang-halangi sejumlah orangtua yang membawa anak-anak mereka datang kepada-Nya untuk menerima berkat. Dia berkata, “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah” (Mrk. 10:14). Yesus mengacu pada karakter serupa kanak-kanak yang membuat kita bersedia untuk menerima Kristus—tidak hanya perasaan sukacita dan kagum, tetapi juga ketulusan, ketergantungan, kepercayaan, dan kerendahan hati.

Kekaguman dan sukacita yang serupa kanak-kanak (dan karakter-karakter lainnya) membuka hati kita untuk lebih terbuka menerima Kristus. Dia terus menantikan kita untuk datang dan berserah kepada-Nya.

Rumput atau Rahmat

Teman saya, Archie, pulang dari liburan dan mendapati tetangga-nya telah mendirikan pagar kayu yang mengambil sekitar 1,5 meter lahan miliknya. Selama beberapa minggu, Archie berusaha membujuk tetangganya untuk memindahkan pagar itu. Ia bahkan bersedia menanggung sebagian biayanya, tetapi semua usahanya sia-sia. Archie bisa saja membawa persoalan itu kepada pihak berwenang, tetapi ia memilih untuk mengesampingkan haknya dalam masalah itu dan membiarkan pagar itu tetap berdiri pada tempatnya. Ia berharap tetangganya itu akan mengalami rahmat Allah lewat sikapnya.

Mungkin ada yang menganggap Archie sebagai orang yang lemah. Tidak. Justru ia seorang pria yang kuat, tetapi ia memilih untuk menunjukkan rahmat Allah daripada memperebutkan sepetak rumput.

Saya terpikir akan Abraham dan Lot yang menghadapi konflik karena ternak dan gembala mereka memenuhi lahan yang sangat terbatas. “Karena itu terjadilah perkelahian antara para gembala Abram dan para gembala Lot. Waktu itu orang Kanaan dan orang Feris diam di negeri itu” (Kej. 13:7). Orang Kanaan dan Feris bukanlah orang-orang yang beriman. Lot memilih bagian lahan yang terbaik, tetapi ia kehilangan semua itu pada akhirnya. Abraham mengambil lahan yang tersisa dan ternyata memperoleh tanah yang dijanjikan Allah (ay.12-17).

Kita memang memiliki hak dan kita boleh menuntut hak itu, terutama ketika orang lain sepertinya melanggar hak kita. Adakalanya kita memang harus menuntut agar hak kita dipenuhi. Paulus melakukannya ketika Mahkamah Agama memperlakukannya dengan tidak adil (baca Kis. 23:1-3). Namun, kita dapat memilih untuk mengesampingkan hak kita demi menunjukkan kepada sesama kita suatu jalan yang lebih baik. Itu yang disebut Alkitab sebagai “kelemahlembutan”—bukan kelemahan. Itulah kekuatan yang dimampukan oleh Allah.

Sukacita Berlimpah dari Allah

“Entah apa yang telah kulakukan?” Masa itu seharusnya menjadi salah satu masa yang paling menyenangkan dalam hidup saya. Namun, saya justru merasa begitu kesepian. Waktu itu, saya baru lulus kuliah dan memperoleh pekerjaan “sungguhan” pertama saya di sebuah kota yang berjarak ratusan kilometer dari tempat asal saya. Namun, sensasi dari langkah besar tersebut tidak bertahan lama. Yang saya punya hanya sebuah apartemen mungil tanpa perabot. Saya tidak mengenal kota itu. Saya tidak mengenal siapa pun. Pekerjaan saya menarik, tetapi rasa sepi membuat saya merana.

Suatu malam di rumah, saya duduk termenung dan membuka Alkitab. Saya pun membaca Mazmur 16, dan ayat 11 menjanjikan sukacita berlimpah-limpah yang disediakan Allah. Saya pun berdoa, “Tuhan, rasanya pekerjaanku tepat untukku, tetapi sekarang aku merasa sangat kesepian. Tolonglah ya Tuhan, penuhi aku dengan kehadiran-Mu.” Saya menaikkan rintihan permohonan seperti itu berminggu-minggu lamanya. Adakalanya kesepian itu terasa lebih ringan, dan saya begitu kuat merasakan kehadiran Allah. Namun di malam-malam tertentu, saya merasa begitu tersiksa oleh rasa sepi.

Saat saya kembali kepada ayat itu dan menambatkan hati saya pada firman Allah malam demi malam, Dia perlahan-lahan memperdalam iman saya. Saya mengalami kesetiaan-Nya melalui cara-cara yang tidak pernah saya alami sebelumnya. Saya pun belajar bahwa saya hanya perlu mencurahkan isi hati saya kepada-Nya . . . dan dengan rendah hati menantikan jawaban yang pasti diberikan-Nya, sambil mempercayai janji-Nya untuk memenuhi saya dengan Roh-Nya.

Berharga di Mata Allah

Namanya David, tetapi kebanyakan orang menyebutnya “pemain biola jalanan”. David adalah seorang pria tua lusuh yang senantiasa tampil di tempat-tempat keramaian di kota kami untuk menghibur orang-orang yang lalu-lalang dengan permainan biolanya yang istimewa. Sebagai apresiasi terhadap permainan musiknya, terkadang para pendengar menaruh uang di dalam kotak biola yang terbuka di atas trotoar di depan mereka. David pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya untuk berterima kasih seraya terus memainkan biolanya.

Belum lama ini David meninggal dunia dan berita kematiannya muncul di surat kabar setempat. Dari situ terungkap bahwa David fasih berbicara dalam sejumlah bahasa, seorang lulusan dari universitas ternama, bahkan pernah mencalonkan diri sebagai anggota senat untuk negara bagiannya bertahun-tahun lalu. Sejumlah orang pun terkejut saat mengetahui prestasi hidup David, karena mereka telah menilai David hanya berdasarkan penampilannya.

Alkitab mengatakan bahwa “Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya” (Kej. 1:27). Hal itu menyingkapkan suatu nilai mulia yang melekat dalam setiap diri kita, terlepas dari bagaimana penampilan kita, apa pun pencapaian kita, atau apa pun yang dipikirkan orang lain tentang kita. Bahkan ketika kita sudah memilih untuk menjauhi Allah dalam dosa-dosa kita, kita begitu berharga di mata-Nya hingga Dia mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk menunjukkan kepada kita jalan menuju keselamatan dan kekekalan bersama-Nya.

Kita sangat dikasihi Allah, dan orang-orang di sekitar kita sangatlah berharga di mata-Nya. Kiranya kita mengungkapkan kasih kita kepada-Nya dengan membagikan kasih-Nya itu kepada orang lain.

Halaman