Agregator pasokan

Hal Itu Menakjubkan!

Dalam natur alami kita, kita semua telah berbuat dosa dan telah kehilangan hal itu (Rm. 3:23).

Ia adalah cahaya dari hal itu (Ibr. 1:3), dan mereka yang mengenal-Nya telah melihat hal itu (Yoh. 1:14).

Dalam Perjanjian Lama, hal itu memenuhi Kemah Suci (Kel. 40:34-35), dan bangsa Israel dipimpin oleh hal itu.

Dan di akhir zaman, kita dijanjikan bahwa surga tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab hal itu akan meneranginya dengan begitu luar biasa (Why. 21:23).

Apakah hal itu dalam semua pernyataan di atas?

Hal itu merujuk pada kemuliaan Allah. Dan Allah memang sangat menakjubkan!

Di sepanjang Alkitab, kita diberi tahu bahwa kita dapat menikmati sekilas kemuliaan Allah yang mengagumkan itu selama kita hidup di atas bumi ciptaan-Nya. Kemuliaan Allah di sini adalah wujud yang tampak dari keberadaan-Nya. Karena kita tidak dapat melihat Allah, Dia memberi kita gambaran yang jelas akan kehadiran dan karya-Nya di dalam hal-hal seperti kemegahan alam semesta, keagungan dari keselamatan kekal yang kita terima, dan kehadiran Roh Kudus dalam hidup kita.

Hari ini, cobalah menikmati kemuliaan Allah dan saksikanlah bukti dari kebesaran-Nya. Anda dapat melihatnya dalam alam yang indah, tawa anak-anak, dan kasih dari sesama. Allah masih terus memenuhi dunia ini dengan kemuliaan-Nya.

Mempengaruhi Hidup

Adakalanya hidup kita dapat berubah dalam sekejap oleh kuatnya pengaruh yang diberikan orang lain. Bruce Springsteen, legenda musik rock ’n’ roll, meyakini bahwa karya para musisilah yang telah menolongnya melewati masa kanak-kanak yang keras dan menang atas depresi. Ia berkata, “Anda dapat mengubah hidup seseorang dalam tiga menit dengan lagu yang tepat,” dan ia mengalami sendiri kebenaran ucapan itu.

Seperti lagu yang berpengaruh, perkataan yang diucapkan dengan cermat juga dapat memberikan pengharapan kepada kita, bahkan mengubah perjalanan hidup kita. Saya yakin banyak dari kita dapat mengingat percakapan-percakapan yang mempengaruhi hidup kita selamanya. Bisa jadi itu berupa perkataan seorang guru yang mengubah cara kita memandang dunia, dorongan yang memulihkan keyakinan kita, atau perkataan lembut dari seorang teman yang telah menghibur kita dalam masa-masa yang sulit.

Mungkin itulah alasan kitab Amsal berulang-ulang menekankan tanggung jawab kita untuk menjaga perkataan dan memakainya dengan bijak. Alkitab tidak pernah memperlakukan ucapan sebagai hal yang remeh. Sebaliknya, kita diajarkan bahwa ucapan kita mempengaruhi hidup dan mati seseorang (18:21). Sepenggal perkataan kita dapat merusak semangat, atau justru menguatkan dan menyemangati seseorang (15:4).

Tidak semua orang mampu menciptakan musik yang berpengaruh. Namun, setiap dari kita dapat memohon hikmat dari Allah untuk melayani sesama melalui perkataan kita (Mzm. 141:3). Lewat sepenggal perkataan yang kita ucapkan dengan cermat, Allah dapat memakai kita untuk mengubah hidup seseorang.

Menggunakan Kesempatan

Seperti kebanyakan orang, saya merasa tidak cukup berolahraga. Agar saya termotivasi untuk bergerak, saya membeli pedometer, sebuah perangkat yang dapat menghitung jumlah langkah kaki saya. Perangkat itu begitu sederhana, tetapi sanggup mempengaruhi motivasi saya. Alih-alih menggerutu, saya melihat setiap pergerakan saya sebagai kesempatan untuk menambah jumlah langkah kaki saya. Tugas-tugas sepele, seperti mengambilkan minum untuk anak, menjadi kesempatan bagi saya untuk mencapai target yang lebih besar. Bisa dikatakan bahwa pedometer telah mengubah perspektif sekaligus motivasi saya. Sekarang, manakala memungkinkan, saya selalu mencoba berjalan kaki lebih banyak dari biasanya.

Saya pun berpikir, mungkinkah kehidupan iman kita juga seperti itu. Ada banyak kesempatan untuk mengasihi, melayani, dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitar kita setiap hari, seperti nasihat Paulus dalam Kolose 4:5. Namun, apakah saya selalu menyadari momen-momen itu? Apakah saya menggunakan kesempatan yang ada untuk menguatkan orang lain dalam interaksi sehari-hari yang kelihatannya remeh? Allah sanggup bekerja dalam hidup setiap orang yang berhubungan dengan saya, mulai dari keluarga, rekan-rekan kerja, hingga kasir di tempat saya berbelanja. Setiap interaksi itu menjadi kesempatan bagi saya untuk memperhatikan karya Allah—meskipun hal itu kelihatannya “sepele”, seperti menanyakan kabar seorang pelayan yang melayani kita di restoran.

Siapa tahu, ketika kita peka dan menyadari kesempatan-kesempatan yang dibukakan Allah kepada kita, Dia akan bekerja di dalam momen-momen tersebut.

Pengharapan Besar

Ketika pemasang iklan merekayasa foto patung marmer karya Michelangelo yang menggambarkan tokoh Daud dari Alkitab, pemerintah Italia dan pengurus museum di sana menyatakan keberatan. Menurut mereka, gambaran Daud menyandang sebilah bedil (bukan umban seperti di Alkitab) merupakan pelanggaran—“sama saja dengan menghancurkan patung itu memakai palu, atau bahkan lebih buruk dari itu,” kata seorang pejabat urusan kebudayaan.

Pada abad pertama di Yerusalem, Daud dikenang sebagai gembala, penyair, pahlawan, sekaligus raja Israel yang harum namanya. Nama Daud juga membawa pengharapan besar bagi Israel dan para nabi menubuatkan bahwa keturunan Daudlah yang akhirnya akan mengalahkan musuh-musuh Israel. Oleh karena itu, berabad-abad kemudian, saat orang banyak menyambut Yesus sebagai Anak Daud (Mat. 21:6-9), mereka berharap Yesuslah yang akan memimpin pemberontakan untuk mengusir penjajah Romawi. Namun, Yesus justru menjungkirbalikkan meja-meja penukaran uang di Bait Allah untuk mengembalikan rumah Bapa-Nya itu sebagai rumah doa bagi semua bangsa. Para pemimpin Israel pun geram. Yesus bukanlah Mesias dan Anak Daud yang mereka nantikan. Maka tanpa menyadari apa yang mereka perbuat, mereka membiarkan para algojo Romawi untuk memakukan tangan dan kaki Sang Raja Israel yang sejati.

Alih-alih menghentikan mereka, Yesus merelakan diri digantung pada salib yang hina—direndahkan dan dicela. Namun lewat kebangkitan-Nya, kita tahu bahwa Anak Daud yang sejati telah mengalahkan musuh-musuh-Nya dengan kasih dan memanggil anak-anak-Nya dari segala bangsa untuk memberitakan kabar kemenangan-Nya.

Seputih Salju

Desember tahun lalu, saya dan keluarga pergi berjalan-jalan ke daerah pegunungan. Sepanjang hidup kami selalu tinggal di wilayah beriklim tropis, maka itulah pertama kalinya kami dapat melihat salju dengan segala keindahannya. Saat kami mengagumi salju bak permadani putih yang menutupi dataran, suami saya mengutip Yesaya, “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju” (1:18).

Setelah bertanya tentang arti kirmizi, putri kami yang berusia tiga tahun bertanya, “Apa warna merah itu tidak bagus?” Ia menanyakan hal itu karena tahu bahwa dosa adalah sesuatu yang tidak disukai Allah. Namun, ayat tersebut tidak membahas tentang warna. Sang nabi sedang menggambarkan pewarna merah terang yang diperoleh dari telur-telur seekor serangga kecil. Kain-kain biasanya dicelup dua kali ke dalam pewarna itu agar warna merahnya tidak berubah. Baik hujan atau pun pencucian tidak akan membuat warna itu luntur. Seperti itulah dosa. Tidak ada upaya manusia yang dapat menghapusnya. Dosa manusia sudah demikian berakar di dalam hatinya.

Hanya Allah yang dapat membersihkan hati manusia dari dosa. Saat memandangi pegunungan bersalju itu, kami mengagumi warna putih bersih yang tidak mungkin dicapai dengan proses penggosokan dan pemutihan pada selembar kain yang dicelupkan dalam pewarna merah. Ketika kita menaati perintah Petrus, “Sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan” (Kis. 3:19), Allah akan mengampuni kita dan memberi kita hidup baru. Hanya melalui pengorbanan Yesus Kristus, kita dapat menerima hati yang murni, sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh siapa pun kecuali Allah. Sungguh hadiah yang indah!

Selalu Siap Sedia

Suami saya sedang bekerja di kantornya ketika saya menerima kabar tentang diagnosis kanker ibu saya. Saya pun mengirim pesan singkat kepada suami saya dan mencoba untuk menghubungi beberapa teman dan keluarga. Tidak ada yang siap sedia saat itu. Dengan gemetar, saya menangis tersedu-sedu dan berseru, “Tolong aku, Tuhan.” Kepastian yang Allah berikan bahwa Dia menyertai saya sungguh menghibur saat saya merasa sangat sendirian dalam menghadapi momen-momen itu.

Saya bersyukur kepada Tuhan saat suami saya pulang dan dukungan dari teman-teman serta keluarga mulai berdatangan. Meski demikian, ketenangan yang saya alami dari kesadaran akan penyertaan Tuhan pada beberapa jam di awal itu telah meneguhkan keyakinan saya bahwa Allah selalu siap sedia, di mana pun dan kapan pun saya membutuhkan pertolongan-Nya.

Di Mazmur 46, pemazmur menyerukan bahwa Allah adalah tempat perlindungan, kekuatan, dan penolong kita yang setia (ay.2). Jika kita merasakan guncangan atau segala sesuatu yang kita anggap stabil mulai goyah, kita tidak perlu takut (ay.3-4). Allah tidak berguncang dan goyah (ay.5-8). Kuasa-Nya nyata dan bekerja dengan dahsyat (ay.9-10). Penopang kita yang kekal membuat kita yakin pada karakter-Nya yang tidak berubah (ay.11). Tuhan, kota benteng kita, menyertai kita selamanya (ay.12).

Allah menciptakan umat-Nya untuk mendukung dan menguatkan satu sama lain dengan cara saling mendoakan. Namun, Allah juga menegaskan bahwa Dia selalu siap sedia menolong kita. Ketika kita berseru kepada Allah, kita dapat percaya bahwa Dia akan menepati janji-Nya untuk menyediakan kebutuhan kita. Allah akan menghibur kita melalui umat-Nya sekaligus melalui kehadiran-Nya.

Seperti Anak Kecil

Suatu malam, bertahun-tahun lalu, setelah doa malam bersama putri kami yang waktu itu berusia dua tahun, istri saya dikejutkan oleh pertanyaan putri kami. Ia bertanya, “Mami, di mana Tuhan Yesus?”

Luann menjawab, “Tuhan Yesus ada di surga dan Dia ada di mana-mana. Dia juga di sini bersama kita. Dia bisa tinggal dalam hatimu jika kamu meminta-Nya.”

“Aku mau Tuhan Yesus tinggal dalam hatiku.”

“Kamu bisa meminta-Nya kapan saja kamu mau.”

“Aku mau meminta Tuhan Yesus tinggal dalam hatiku sekarang.”

Kemudian putri kami yang mungil pun berkata, “Tuhan Yesus, tinggallah dalam hatiku sekarang. Sertailah aku, ya Tuhan.” Dan itulah permulaan perjalanan imannya bersama Yesus.

Ketika murid-murid Yesus bertanya kepada-Nya tentang siapa yang terbesar dalam Kerajaan Surga, Yesus memanggil seorang anak kecil untuk datang dan bergabung dengan mereka (Mat. 18:1-2). Yesus berkata, “Sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. . . . Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku” (ay.3-5).

Dengan mata seperti mata Yesus, kita dapat melihat seorang anak yang percaya sebagai teladan iman kita. Kita pun diperintahkan untuk menyambut semua orang yang mau membuka hati dan percaya kepada Yesus. Yesus berkata, “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga” (19:14).

Sukacita

Saya semakin mendekati fase baru dalam hidup saya. Saya mulai merasakan berbagai kesulitan yang menyertai usia senja, tetapi syukurlah, saya masih dapat mengatasinya. Meskipun tahun demi tahun berlalu dengan begitu cepat dan adakalanya saya ingin memperlambat waktu, saya masih memiliki sukacita yang terus menopang saya. Setiap hari adalah hari baru yang diberikan Tuhan untuk saya. Bersama pemazmur, saya dapat mengatakan, “Sungguh baiklah bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, dan memuji Engkau, Allah Yang Mahatinggi; mewartakan kasih-Mu di waktu pagi, dan kesetiaan-Mu di waktu malam” (Mzm. 92:2-3 BIS).

Meskipun saya menghadapi beragam pergumulan dan penderitaan, serta kesulitan yang dialami orang lain terkadang juga membuat saya kewalahan, Allah memampukan saya ikut bersama pemazmur untuk menyatakan, “Sebab telah Kaubuat aku bersukacita, ya Tuhan, dengan pekerjaan-Mu, karena perbuatan tangan-Mu aku akan bersorak-sorai” (ay.5). Saya bersukacita karena semua berkat yang telah diberikan Allah: keluarga, teman-teman, dan pekerjaan yang memuaskan. Saya bersukacita karena ciptaan Allah yang menakjubkan dan firman-Nya yang kudus. Saya bersukacita karena Tuhan Yesus begitu mengasihi kita hingga Dia rela mati demi dosa-dosa kita. Dan saya bersukacita karena Allah memberi kita Roh Kudus, sumber sukacita sejati (Rm. 15:13). Karena Tuhan, orang-orang yang percaya kepada-Nya dapat “bertunas seperti pohon kurma . . . yang masih berbuah di masa tua” (Mzm. 92:13,15 BIS).

Buah apakah yang dimaksud? Apa pun situasi atau fase hidup yang sedang kita jalani, kita dapat menjadi teladan dari kasih-Nya lewat cara hidup dan perkataan kita. Ada sukacita dari mengenal dan menjalani hidup bagi Tuhan dan menceritakan kabar baik tentang Dia kepada orang lain.

Menang Berargumen

Suatu hari dalam kelas filsafat di sebuah universitas, seorang mahasiswa memberikan komentar yang lumayan kasar terhadap pandangan-pandangan dosennya. Mahasiswa-mahasiswa lain di kelas itu terkejut ketika sang dosen hanya mengucapkan terima kasih dan melanjutkan dengan membahas komentar berikutnya. Ketika ditanya mengapa ia tidak menanggapi mahasiswa yang agresif itu, dosen itu berkata, “Saya sedang melatih diri untuk tidak perlu menang berargumen.”

Pengajar itu mengasihi dan menghormati Allah, dan ia ingin menunjukkan sikap rendah hati di hadapan orang lain sebagai wujud dari kasihnya kepada Allah. Kata-katanya mengingatkan saya pada seorang pengajar lain dari zaman lampau—sang penulis kitab Pengkhotbah. Meskipun tidak sedang membahas cara menghadapi orang yang marah, ia mengatakan bahwa ketika hendak beribadah kepada Tuhan, kita harus menjaga langkah kita dan “menghampiri untuk mendengar” daripada terburu-buru dengan mulut kita dan hati kita terlalu cepat mengeluarkan perkataan. Dengan demikian, kita mengakui bahwa Allah adalah Tuhan dan kita adalah manusia ciptaan-Nya (Pkh. 4:17–5:1).

Bagaimana cara Anda menghampiri Allah? Jika Anda merasa bahwa sikap Anda masih perlu dibenahi, cobalah meluangkan waktu untuk memikirkan tentang keagungan dan kebesaran Tuhan. Saat kita merenungkan hikmat, kuasa, dan kehadiran-Nya yang tidak pernah berakhir, kita akan dibuat kagum oleh kasih-Nya yang melimpah ruah bagi kita. Dengan sikap rendah hati di hadapan Allah seperti itu, keinginan untuk menang berargumen pun sirna.

Kudus, Kudus, Kudus

“Waktu rasanya cepat berlalu saat kita bersenang-senang.” Ungkapan klise tersebut sebenarnya tidak berdasarkan fakta, tetapi rasanya bisa dibuktikan lewat pengalaman.

Apabila hidup itu menyenangkan, waktu terasa berlalu begitu cepat. Mengerjakan tugas yang saya sukai atau mengobrol dengan seorang yang enak diajak bicara membuat saya tidak lagi memperhatikan waktu.

Pengalaman saya dalam hal itu memberi saya pemahaman baru tentang adegan yang terjadi dalam Wahyu 4. Dahulu saya pernah membayangkan bahwa melihat keempat makhluk yang duduk mengelilingi takhta Allah dan terus-menerus mengulangi kata-kata yang sama itu pasti sangat membosankan!

Kini saya tidak lagi berpikir seperti itu. Saya memikirkan adegan-adegan yang mereka saksikan dengan mata mereka yang banyak (ay.8). Saya membayangkan apa yang bisa mereka lihat dari posisi mereka di sekeliling takhta Allah (ay.6). Saya pikir mereka pasti terkagum-kagum akan hikmat Allah dan perbuatan-Nya yang penuh kasih bagi manusia yang berdosa. Lalu saya berpikir, mungkinkah ada respons lain yang lebih baik? Masih adakah kata-kata yang dapat diucapkan selain, “Kudus, kudus, kudus”?

Apakah mengucapkan kata-kata yang sama berulang kali itu membosankan? Tidak, ketika Anda bersama orang yang Anda kasihi. Tidak, saat Anda memang melakukan apa yang sesuai dengan tujuan Anda diciptakan.

Seperti keempat makhluk itu, kita diciptakan untuk memuliakan Allah. Hidup kita takkan membosankan jika kita memusatkan perhatian kepada Allah dan menggenapi tujuan-Nya.

Pengharapan Sejati

Baru-baru ini saya mengunjungi Empire State Building bersama seorang teman. Antrean masuknya terlihat pendek—hanya di sepanjang blok dan di seputar tikungan. Namun saat memasuki gedungnya, kami menemukan orang-orang berbaris sepanjang lobi, menyusuri tangga, hingga masuk ke suatu ruangan. Di balik setiap tikungan, kami melihat bahwa ternyata tujuan kami masih jauh.

Berbagai tempat atraksi dan wahana taman hiburan memang mengatur keramaian pengunjungnya dengan jeli supaya antreannya terlihat lebih pendek. Namun, kita bisa jadi kecewa ketika merasa tidak semakin dekat dengan tujuan kita walaupun kita telah lama mengantre.

Dalam hidup ini, terkadang kita mengalami kekecewaan yang jauh lebih berat. Pekerjaan yang kita idam-idamkan tidak terwujud; teman-teman yang kita andalkan mengecewakan kita; hubungan romantis yang coba kita kembangkan harus kandas di tengah jalan. Namun, dalam segala hal yang mengecewakan itu, firman Allah memberikan kebenaran yang menguatkan tentang pengharapan kita di dalam Dia. Rasul Paulus menuliskan, “Kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm. 5:3-5).

Ketika kita mempercayai Allah, Dia membisikkan kebenaran itu kepada kita melalui Roh-Nya. Dia meyakinkan kita bahwa kita dikasihi-Nya apa adanya dan suatu hari kelak kita akan bersama-Nya—terlepas dari apa pun rintangan yang kita hadapi. Di dalam dunia yang sering mengecewakan kita, alangkah indahnya menyadari bahwa Allah telah memberikan kepada kita pengharapan yang sejati.

Allah atas Kehidupan

Beberapa waktu lalu, pada waktu musim dingin, kota tempat saya tinggal dilanda cuaca yang tidak lazim berupa angin kencang berkepanjangan dengan suhu dingin yang menusuk tulang. Selama dua minggu berturut-turut, termometer di luar rumah menunjukkan angka jauh di bawah 0 derajat (-20˚C; -5˚F).

Suatu kali di pagi hari yang sangat dingin itu, suara kicauan burung memecah kegelapan yang sunyi. Lusinan, bahkan ratusan burung berkicau dengan sangat nyaring. Kalau saya boleh membayangkan, saya pikir burung-burung kecil itu sedang berseru kepada Sang Pencipta agar cuacanya dibuat menjadi lebih hangat!

Para ahli burung menyatakan bahwa ramainya kicauan burung yang biasa terdengar pada pagi hari di akhir musim dingin kebanyakan berasal dari burung-burung jantan. Burung-burung itu berusaha memikat burung betina dan mengklaim daerah kekuasaan mereka. Kicauan burung itu mengingatkan saya bahwa Allah mengatur ciptaan-Nya dengan begitu cermat agar mereka dapat bertahan hidup dan bertumbuh dengan indah—karena Dialah Allah atas kehidupan.

Dalam sebuah mazmur yang mengagumi keindahan kehidupan di bumi ciptaan Allah, penulis mengawalinya demikian, “Pujilah Tuhan, hai jiwaku!” (Mzm. 104:1). Kemudian ia melanjutkan tulisannya, “Di dekatnya diam burung-burung di udara, bersiul dari antara daun-daunan” (ay.12).

Dari burung yang berkicau dan bersarang hingga lautan luas dengan “binatang-binatang yang kecil dan besar” (ay.25) yang tidak terbilang banyaknya, kita memiliki begitu banyak alasan untuk memuji Allah Pencipta atas karya-Nya yang begitu cermat demi memastikan agar segala makhluk ciptaan-Nya bertumbuh dengan indah.

Tindakan Kasih

Pada tanggal 21 Agustus 2016, Carissa mengunggah foto-foto tentang bencana banjir yang menerjang Louisiana di akun media sosialnya. Esok paginya, ia menambahkan pesan permohonan bantuan dari seseorang yang tinggal di daerah bencana. Lima jam kemudian, Carissa dan suaminya, Bobby, turun tangan dengan mengajak sejumlah orang untuk melakukan perjalanan sejauh 1.600 KM untuk menolong para korban banjir yang rumahnya rusak parah. Kurang dari 24 jam kemudian, ada 13 orang yang berangkat bersama ke Louisiana.

Apa yang memotivasi orang-orang itu untuk mau meninggalkan kesibukan mereka, mengemudi selama 17 jam, dan bekerja memindahkan perlengkapan, memperbaiki rumah, serta memberikan harapan di suatu tempat yang belum pernah mereka datangi sebelumnya? Mereka dimotivasi oleh kasih.

Renungkanlah ayat Alkitab yang dikutip Carissa di dalam seruannya untuk meminta bantuan: “Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak” (Mzm. 37:5). Ucapan itu sungguh benar ketika kita mengikuti panggilan Allah untuk memberikan bantuan kepada sesama. Rasul Yohanes berkata, “Barangsiapa . . . melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?” (1Yoh. 3:17). Mungkin memberi bantuan itu tidak selalu mudah, tetapi Allah berjanji akan menolong kita ketika kita “berbuat apa yang berkenan kepada-Nya” (ay.22).

Ketika ada yang membutuhkan bantuan, kita dapat memuliakan Allah dengan rela menyediakan diri dan melakukan tindakan kasih bagi orang tersebut sesuai dengan dorongan dari Allah.

Sikap Kita

Regina berkendara pulang dari tempat kerjanya dengan kondisi lelah dan kecewa. Di awal hari itu, ia mendapat kabar tragis dari seorang teman melalui pesan pendek. Selanjutnya hari itu bertambah berat, ketika di dalam rapat, rekan-rekan kerjanya menolak untuk melakukan gagasan apa pun yang diberikannya. Ketika Regina sedang mencurahkan kegalauannya kepada Tuhan, terlintas di pikirannya untuk mengesampingkan dahulu tekanan yang dialaminya hari itu. Ia pun memutuskan untuk mengunjungi temannya, Maria, yang telah lanjut usia di panti wreda. Semangat Regina bangkit lagi ketika Maria menceritakan segala kebaikan Allah yang telah diterimanya. Maria berkata, “Aku punya tempat tidur dan sofaku sendiri, makan tiga kali sehari, dan sangat terbantu oleh para perawat di sini. Kadang-kadang Allah mengirimkan burung gereja bertengger di jendela kamarku karena Dia tahu aku menyukainya dan Dia sangat mengasihiku.”

Masalahnya adalah sikap dan sudut pandang kita. Sebuah ungkapan menyatakan, “Hidup ditentukan 10 persennya oleh apa yang kita alami, sementara 90 persennya lagi oleh reaksi kita terhadap pengalaman itu.” Orang-orang yang menerima surat dari Yakobus sedang hidup terpencar-pencar karena penganiayaan, dan Yakobus menantang mereka untuk memandang kesulitan dari sudut yang berbeda. Ia mendorong mereka dengan perkataan ini, “Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan” (Yak. 1:2).

Masing-masing dari kita berada dalam proses untuk belajar mempercayai Allah dalam situasi-situasi yang sulit. Sudut pandang yang dipenuhi sukacita, sebagaimana yang disampaikan Yakobus, dialami ketika kita belajar untuk melihat bahwa Allah dapat memakai setiap pergumulan untuk mendewasakan iman kita.

Janji demi Janji

Saya dan putri saya yang bungsu senang memainkan permainan yang kami sebut “Cubit”. Cara bermainnya begini: Ketika ia menaiki tangga, saya akan mengejarnya dan berusaha mencubitnya. Aturannya adalah saya hanya boleh mencubitnya (dengan lembut tentunya) ketika ia berada di tangga. Begitu ia tiba di lantai atas, ia selamat. Namun, adakalanya ia sedang tidak ingin bermain. Bila saya coba mengejarnya, ia akan dengan tegas berkata, ”Jangan cubit!” Dan saya akan menjawab, “Oke, tak ada cubitan sekarang. Ayah janji.”

Janji saya mungkin terlihat sepele. Namun ketika saya menepati janji itu, putri saya mulai belajar sesuatu tentang karakter saya. Ia merasakan konsistensi saya. Ia tahu bahwa janji saya pasti ditepati, dan ia dapat mempercayai saya. Menepati janji seperti itu tidaklah sulit. Namun, janji—lebih tepatnya “janji yang ditepati”—merekatkan hubungan antara kedua belah pihak. Janji yang ditepati menjadi dasar untuk membangun kasih dan rasa percaya.

Menurut saya, itulah yang dimaksudkan oleh Rasul Petrus ketika menulis bahwa janji-janji Allah membuka jalan bagi kita untuk “mengambil bagian dalam kodrat ilahi” (2Ptr. 1:4). Ketika kita mempercayai firman Allah, segala sesuatu yang Dia katakan tentang diri-Nya dan tentang kita, kita melihat isi hati-Nya kepada kita. Dia berkenan mengungkapkan kesetiaan-Nya ketika kita mempercayai kebenaran firman-Nya. Saya sungguh bersyukur Kitab Suci dipenuhi dengan janji-janji-Nya. Semua itu mengingatkan dengan jelas kepada saya bahwa “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi” (Rat. 3:22-23).

Pertolonganku!

Selama beberapa dasawarsa paduan suara dari gereja Brooklyn Tabernacle yang terkenal telah menjadi berkat bagi banyak orang melalui nyanyian-nyanyian rohani mereka yang menyegarkan jiwa. Salah satu nyanyian itu berjudul “My Help” (Pertolonganku) yang terilhami dari Mazmur 121.

Mazmur 121 diawali dengan pengakuan pemazmur tentang imannya kepada Tuhan yang menciptakan segala sesuatu dan yang menjadi sumber pertolongannya (ay.1-2). Apakah artinya? Hidupnya mempunyai stabilitas (ay.3), dipelihara sepanjang waktu (ay.3-4), disertai dan dilindungi terus-menerus (ay.5-6), dan dijaga dari segala malapetaka dari sekarang sampai selama-lamanya (ay.7-8).

Diinspirasi oleh Kitab Suci, umat Allah di sepanjang zaman telah menyatakan keyakinan bahwa Tuhan adalah sumber “pertolongan” mereka dengan menuangkannya ke dalam puji-pujian. Saya sendiri sangat menikmati menyanyikan puji-pujian bersama jemaat Tuhan, salah satunya adalah himne gubahan Charles Wesley, “Tanganku menadah Tuhan, mengharap kasih-Mu. Andai Tuhan mengabaikan, ke mana ku pergi.” Tokoh reformasi, Martin Luther, sangat tepat menuliskan syair berikut, “Allah bentengku yang teguh, perisai dan pelindungku, menolong bila ‘ku jatuh, dan jadi pengharapanku.”

Apakah Anda merasa sendirian, terabaikan, terlantar, dan bingung? Renungkanlah Mazmur 121. Izinkan kata-katanya memenuhi jiwa Anda dengan iman dan keberanian. Anda tidak sendirian. Karena itu, jangan berusaha menjalani hidup Anda dengan kekuatan sendiri. Sebaliknya, bersukacitalah dalam pemeliharaan Allah dari sekarang hingga selamanya, seperti yang nyata dalam kehidupan, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Tuhan Yesus Kristus. Langkah apa pun yang akan Anda tempuh di depan, lakukanlah dengan pertolongan-Nya.

Oleh Kuasa Roh Kudus

Apa yang akan Anda lakukan ketika sebuah gunung menghalangi jalan Anda? Kisah Dashrath Manjhi dapat menginspirasi kita. Istrinya meninggal dunia karena Manjhi tidak sanggup membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan darurat. Karena peristiwa itu, Manjhi pun melakukan sesuatu yang kelihatannya mustahil. Ia menghabiskan waktu selama 22 tahun untuk memahat lubang besar di sebuah gunung supaya penduduk desa lainnya dapat pergi ke rumah sakit terdekat untuk menerima perawatan medis yang mereka butuhkan. Sebelum Manjhi tutup usia, pemerintah India sempat memberikan penghargaan atas usahanya itu.

Membangun kembali Bait Allah pasti kelihatan mustahil bagi Zerubabel, salah seorang pemimpin Israel yang kembali dari pembuangan. Rakyat sedang patah semangat, sementara musuh-musuh mengancam dan mereka kekurangan sumber daya atau jumlah pasukan yang cukup untuk bertahan. Namun, Allah mengirimkan Zakharia untuk mengingatkan Zerubabel bahwa tugas itu membutuhkan sesuatu yang lebih dahsyat daripada kekuatan militer, keperkasaan individu, atau sumber daya buatan manusia. Pekerjaan itu membutuhkan kuasa Roh Allah (Zak. 4:6). Dengan jaminan pertolongan ilahi, Zerubabel percaya bahwa Allah akan meratakan gunung kesulitan apa pun yang menghalangi pembangunan kembali Bait Allah dan proses pemulihan umat-Nya (ay.7).

Apa yang akan kita lakukan menghadapi “gunung” di hadapan kita? Kita memiliki dua pilihan: mengandalkan kekuatan kita sendiri atau mempercayai kuasa Roh Allah. Ketika kita mempercayai kuasa-Nya, Allah sanggup meratakan gunung itu, atau sebaliknya, memberi kita kekuatan dan ketahanan untuk mengatasinya.

Menghadapi Penundaan

Kita sering menghadapi berbagai macam penundaan. Kerusakan sistem komputer global menyebabkan pembatalan penerbangan besar-besaran sehingga ratusan ribu penumpang pun terlantar di sejumlah bandara. Di lain waktu, ketika badai musim dingin melanda, kecelakaan yang menimpa beberapa mobil membuat sejumlah jalan raya utama harus ditutup. Seseorang yang sudah berjanji untuk “segera” mengirimkan jawaban, ternyata tidak menepatinya. Penundaan-penundaan seperti itu acap kali membuat kita marah dan frustrasi. Namun sebagai pengikut Kristus, kita dapat datang kepada-Nya untuk meminta pertolongan.

Salah satu teladan yang sangat baik tentang kesabaran di Alkitab adalah Yusuf. Ia pernah dijual kepada pedagang budak oleh saudara-saudaranya yang iri hati, dituduh secara tidak adil oleh istri majikannya, dan kemudian dipenjara di Mesir. “Demikianlah Yusuf dipenjarakan di sana. Tetapi Tuhan menyertai Yusuf” (Kej. 39:20-21). Beberapa tahun kemudian, ketika Yusuf berhasil menafsirkan mimpi Firaun, ia pun diangkat menjadi penguasa kedua atas Mesir (Pasal 41).

Buah yang paling luar biasa dari kesabarannya muncul ketika saudara-saudaranya datang untuk membeli gandum selama masa kelaparan. “Akulah Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke Mesir,” kata Yusuf kepada mereka, “Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu . . . Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah” (45:4-5,8).

Dalam segala penundaan yang kita alami, biarlah kita menjadi seperti Yusuf—memupuk kesabaran, memperoleh perspektif baru, dan mengalami damai sejahtera yang datang dari sikap mempercayai Tuhan.

Menumbuhkan Sikap Bersyukur

Apakah Anda ingin makin memiliki sikap hati yang bersyukur? George Herbert, penyair Inggris dari abad ke-17, mendorong para pembacanya untuk mencapai tujuan itu melalui puisinya “Gratefulness” (Ucapan Syukur): “Walau begitu banyak yang telah Engkau berikan padaku, berilah satu hal lagi: hati yang bersyukur.”

Herbert menyadari bahwa satu-satunya hal yang ia perlukan agar dapat bersyukur hanyalah kesadaran akan berkat-berkat Allah yang telah diterimanya.

Roma 11:36 menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah sumber segala berkat: “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia.” “Segala sesuatu” mencakup semua pemberian, baik pemberian yang luar biasa maupun yang biasa kita terima dalam hidup kita sehari-hari. Setiap hal yang kita terima dalam hidup ini berasal langsung dari Bapa Surgawi (Yak. 1:17), dan Allah rela memberikan semua itu karena kasih-Nya kepada kita.

Untuk menumbuhkan kesadaran saya akan berkat-berkat Allah di dalam hidup saya, saya belajar untuk mengembangkan sikap hati yang menyadari sumber dari seluruh sukacita yang saya alami setiap hari, khususnya berkat-berkat yang sering saya pandang enteng atau yang saya anggap biasa-biasa saja. Berkat-berkat seperti itu termasuk, misalnya, cuaca yang cerah untuk lari pagi, pertemuan yang santai dengan teman-teman, persediaan makanan yang cukup untuk keluarga saya, keindahan alam yang terlihat dari jendela rumah, bahkan hingga aroma kopi yang baru diseduh.

Apa saja berkat yang telah dilimpahkan Allah bagi Anda? Buka mata Anda untuk melihat berkat-berkat tersebut dan Anda akan dimampukan untuk menumbuhkan sikap hati yang bersyukur.

Kuasa Doa

Suatu hari, ketika mengkhawatirkan keadaan dari seseorang yang dekat dengan saya, saya dikuatkan oleh sepenggal kisah Samuel di dalam Perjanjian Lama. Samuel adalah pemimpin Israel yang bijaksana. Setelah membaca tentang Samuel yang mendoakan umat Allah yang sedang menghadapi masalah, saya menguatkan tekad untuk berdoa bagi orang yang saya kasihi itu.

Bangsa Israel menghadapi ancaman dari bangsa Filistin yang pernah mengalahkan Israel ketika umat Allah tidak mempercayai Allah (lihat 1 Samuel 4). Setelah bertobat dari dosa-dosanya, Israel mendengar bahwa Filistin akan menyerang lagi. Namun, kali ini Israel meminta Samuel untuk terus mendoakan mereka (7:8), dan Tuhan menjawab doa itu dengan mengacaukan para musuh sehingga mereka terpukul kalah (ay.10). Meskipun Filistin mungkin lebih hebat dari bangsa Israel, Tuhan jauh lebih kuat dari kedua bangsa itu.

Ketika kita terbeban saat melihat tantangan yang dihadapi oleh orang-orang yang kita kasihi dan mengkhawatirkan situasi mereka yang sepertinya tidak akan berubah, bisa saja kita berpikir bahwa Tuhan tidak akan bertindak. Namun, janganlah kita menganggap rendah kuasa doa, karena Allah kita yang Maha Pengasih mendengar setiap permohonan kita. Kita tidak tahu bagaimana Allah akan bertindak dalam menanggapi permohonan kita. Namun, kita tahu bahwa sebagai Bapa kita, Allah rindu kita mengalami kasih-Nya dan mempercayai kesetiaan-Nya.

Adakah seseorang yang dapat Anda doakan hari ini?

Halaman