Agregator pasokan

Masa-Masa yang Melelahkan

Di halaman belakang rumah kami, ada pohon ceri yang dahulu menjulang gagah tetapi sekarang hampir mati. Saya memanggil ahli tanaman untuk memeriksa pohon itu. Ia mengatakan bahwa pohon itu “terlalu stres” dan membutuhkan pemeliharaan khusus segera. “Bukan cuma kamu,” gumam istri saya, Carolyn, pada pohon itu sembari berlalu. Masa-masa itu memang terasa begitu melelahkan baginya.

Kita semua pernah menghadapi masa-masa yang menggelisahkan. Kita khawatir melihat moralitas yang makin merosot atau mencemaskan anak-anak kita, pernikahan kita, usaha kita, keuangan kita, kesehatan dan kesejahteraan diri kita. Meski demikian, Tuhan Yesus menjamin bahwa bagaimana pun sulitnya situasi kita, kita dapat merasa damai. Yesus berkata, “Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu” (Yoh. 14:27).

Hari-hari Yesus juga dipenuhi kesulitan dan tekanan: Dia dikelilingi musuh dan disalah mengerti oleh keluarga dan sahabat-sahabat-Nya. Dia sering tidak punya tempat untuk beristirahat. Namun, tidak terlihat ada kecemasan atau keresahan di dalam sikap-Nya. Yesus mempunyai ketenangan batin. Itulah damai sejahtera yang telah diberikan-Nya kepada kita. Itulah kebebasan dari kecemasan akan masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Damai sejahtera-Nya dinyatakan bagi kita.

Dalam situasi apa pun, baik yang serius atau yang sepele, kita dapat berdoa kepada Yesus. Dalam hadirat-Nya, kita boleh mengungkapkan segala kekhawatiran dan kecemasan kita kepada-Nya. Rasul Paulus meyakinkan kita bahwa damai sejahtera Allah akan “memelihara hati dan pikiran [kita] dalam Kristus Yesus” (Flp. 4:7). Bahkan di tengah masa-masa yang melelahkan dan membuat stres, kita tetap dapat menerima damai sejahtera-Nya.

Melihat Mahakarya

Ayah saya bekerja sebagai pembuat tempat anak panah yang dirancang khusus sesuai pesanan para pemanah. Ia mengukir gambar satwa liar dengan detail rumit di atas potongan kulit, sebelum menjahit potongan-potongan tersebut menjadi satu.

Saat mengunjunginya, saya memperhatikan cara ayah membuat karya seninya. Dengan hati-hati tangannya menekan potongan kulit yang halus dengan pisau yang tajam untuk menggurat beragam tekstur. Lalu ia mencelupkan kain ke dalam cat merah tua dan memoles potongan kulit itu dengan sapuan yang rata untuk mempertegas keindahan karyanya.

Pada saat mengagumi keahlian karya seni ayah, saya menyadari betapa seringnya saya lupa mengakui dan menghargai kreativitas Bapa Surgawi yang diwujudkan-Nya dalam diri orang lain dan bahkan dalam diri saya sendiri. Saya diingatkan tentang mahakarya-Nya melalui penegasan Raja Daud, bahwa Allah membentuk “buah pinggang” kita dan bahwa kita diciptakan dengan “dahsyat dan ajaib” (Mzm. 139:13-14).

Kita dapat memuji Pencipta kita dengan yakin karena kita tahu “ajaib apa yang [Allah] buat” (ay.14). Dan kita diyakinkan untuk lebih menghormati diri sendiri dan orang lain, terutama ketika kita mengingat bahwa Sang Pencipta alam semesta ini mengenal kita seutuhnya dan telah merancang hari-hari kita “sebelum ada satupun dari padanya” (ay.15-16).

Seperti potongan kulit lembut yang diukir ayah saya dengan ahli, setiap dari kita juga berharga dan indah karena diciptakan Allah sebagai pribadi yang unik dan satu-satunya. Masing-masing dari kita telah diciptakan Allah secara khusus sebagai mahakarya yang dikasihi-Nya demi mencerminkan keagungan-Nya kepada dunia.

Petak Umpet

“Tidak kelihatan!”

Ketika anak-anak bermain “petak umpet”, mereka terkadang merasa telah bersembunyi hanya dengan menutup mata mereka. Jika ia tidak dapat melihat teman-temannya, ia pikir teman-temannya juga tidak dapat melihatnya.

Sikap itu mungkin kelihatan konyol bagi orang dewasa, tetapi adakalanya kita juga melakukan hal yang sama dengan Allah. Ketika ingin melakukan sesuatu yang kita tahu tidak benar, kita cenderung bersembunyi dari Allah dan tetap melakukan yang kita inginkan itu.

Nabi Yehezkiel menemukan kebenaran itu melalui penglihatan dari Allah mengenai umat Israel yang dibuang di Babel. Allah berkata, “Kaulihatkah, hai anak manusia, apa yang dilakukan oleh tua-tua kaum Israel di dalam kegelapan, masing-masing di dalam kamar tempat ukiran-ukiran mereka? Sebab mereka berkata: Tuhan tidak melihat kita” (Yeh. 8:12).

Namun, Allah melihat semuanya, dan penglihatan itu menjadi buktinya. Meskipun mereka telah berdosa, Allah memberikan pengharapan kepada umat-Nya yang bertobat melalui janji: “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu” (Yeh. 36:26).

Demi kita, Allah menghadapi kehancuran dan pemberontakan dosa dengan kasih-Nya yang lembut di kayu salib dan membayar lunas utang dosa kita. Melalui Yesus Kristus, Allah tidak hanya memberi kita awal yang baru, tetapi Dia juga bekerja di dalam diri kita untuk mengubah hati kita saat kita mengikut-Nya. Sungguh Allah itu baik! Ketika kita terhilang dan bersembunyi di dalam keberdosaan kita, Allah mendekat kepada kita melalui Yesus, yang “datang untuk mencari dan menyelamatkan” kita (Luk. 19:10; Rm. 5:8).

Melayani dan Dilayani

Marilyn telah sakit selama beberapa minggu dan banyak orang menguatkannya sepanjang masa-masa sulit tersebut. Bagaimana aku dapat membalas semua kebaikan mereka? pikir Marilyn dengan cemas. Kemudian suatu hari ia membaca doa yang tertulis demikian: “Berdoalah agar [orang lain] semakin rendah hati, sehingga mereka tidak hanya bersedia melayani, tetapi juga mau dilayani.” Marilyn pun menyadari bahwa balasan yang setimpal itu tidak diperlukan, tetapi ucapan terima kasih dan mengizinkan orang lain menikmati sukacita dari melayani saja sudah cukup.

Di Filipi 4, Rasul Paulus mengungkapkan rasa syukurnya kepada semua orang yang mengambil bagian “dalam kesusahan-[nya]” (ay.14). Paulus bergantung pada dukungan orang lain dalam pelayanannya berkhotbah dan mengabarkan Injil. Ia menyadari bahwa pemberian yang dikirimkan kepadanya di saat ia sedang membutuhkan itu merupakan wujud kasih mereka kepada Allah: “Pemberian-pemberian dari kalian itu adalah seperti bau harum dari kurban yang dipersembahkan kepada Allah dan yang diterima oleh Allah dengan senang hati” (ay.18 BIS).

Mungkin Anda tidak merasa nyaman menerima bantuan—terutama jika Anda sudah terbiasa mengambil inisiatif untuk memberikan bantuan kepada orang lain. Namun dengan rendah hati, kita dapat mengizinkan Allah untuk memperhatikan kita melalui beragam cara di saat kita memang membutuhkan pertolongan.

Paulus menulis, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu” (ay.19). Itulah yang telah dipelajarinya sepanjang hidupnya yang penuh dengan kesulitan. Allah setia dan cara-Nya memelihara kita sungguh tak terbatas.

Dalam Hadirat-Nya

Brother Lawrence, biarawan dari abad ke-17, terbiasa berdoa sebelum memulai pekerjaannya sehari-hari sebagai juru masak di komunitasnya seperti ini: “Ya Allahku . . . berilah kepadaku anugerah-Mu untuk tinggal dalam hadirat-Mu. Tolonglah aku dalam pekerjaanku. Kuasailah seluruh perasaanku.” Selama bekerja, ia senantiasa berbicara kepada Allah, memperhatikan petunjuk-Nya, dan mengabdikan pekerjaannya itu kepada-Nya. Bahkan pada saat ia sangat sibuk, ia akan mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri dan memohon anugerah-Nya. Apa pun yang terjadi, Lawrence mencari dan mendapati kasih dari Penciptanya.

Seperti yang diungkapkan di Mazmur 89, respons yang tepat kepada Allah Sang Pencipta segala sesuatu, yang berkuasa atas samudra dan disembah para malaikat, adalah mempersembahkan hidup kita seutuhnya kepada Allah. Ketika kita memahami keindahan dari Allah yang kita puja, “sepanjang hari” kita akan “bersukacita”—kapan pun dan di mana pun kita berada (ay.16-17 BIS).

Hidup kita memang penuh dengan momen-momen yang dapat membuat kita jengkel, baik ketika harus mengantre di toko atau di bandara, atau menunggu seseorang menjawab panggilan telepon kita. Momen-momen itu sesungguhnya dapat kita gunakan untuk menenangkan diri dan melihat tiap jeda yang ada sebagai kesempatan belajar “ hidup dalam cahaya kehadiran [Allah]” (ay.15 BIS).

Momen-momen yang kita anggap “sia-sia”—saat kita sedang menunggu atau terbaring sakit atau bahkan bertanya-tanya tentang apa yang akan kita lakukan selanjutnya—dapat menjadi waktu yang memungkinkan kita untuk berhenti sejenak dan merenungkan hidup kita dalam cahaya kehadiran-Nya.

Apalagi!

Pada Oktober 1915, semasa Perang Dunia I, Oswald Chambers tiba di Kamp Zeitoun, pusat pelatihan militer di dekat Kairo, Mesir. Di sana Chambers melayani sebagai pembina rohani bagi para tentara Persemakmuran Inggris. Dalam salah satu kebaktian di malam hari, 400 orang memenuhi sebuah tenda pertemuan yang besar untuk mendengarkan Chambers membahas tema “Apa Manfaat Doa?”. Setelah itu, saat berbincang secara pribadi dengan para prajurit yang berusaha mencari Allah di tengah medan peperangan, Oswald sering mengutip Lukas 11:13, “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”

Karunia cuma-cuma dari Allah melalui Anak-Nya, Yesus Kristus, adalah pengampunan, pengharapan, dan kehadiran-Nya yang aktif dalam hidup kita melalui Roh Kudus. “Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan” (ay.10).

Pada 15 November 1917, Oswald Chambers meninggal mendadak karena usus buntunya pecah. Untuk menghormati almarhum, seorang prajurit yang pernah ditolong Oswald untuk beriman kepada Kristus membeli sebuah ukiran marmer berbentuk Alkitab yang terbuka dan meletakkannya di sisi makam Oswald. Pada sisi halaman Alkitab itu tercantum penggalan ayat Lukas 11:13: “Apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Saat ini, setiap dari kita dapat menerima karunia luar biasa dari Allah itu.

Kasih yang Besar

Baru-baru ini, kami menjemput Moriah, cucu perempuan kami yang berusia 22 bulan, untuk bermalam pertama kalinya tanpa kakak-kakak lelakinya. Kami mencurahkan kasih sayang dan perhatian total kepada Moriah. Kami ikut melakukan semua aktivitas yang ia sukai. Keesokan harinya, setelah mengantar Moriah pulang, kami pamit dan melangkah menuju pintu. Saat itu juga, tanpa mengucapkan apa-apa, Moriah meraih tas yang dibawanya menginap (yang masih tergeletak di dekat pintu) dan kembali mengikuti kami keluar.

Gambaran itu terpatri dalam ingatan saya: Moriah yang masih mengenakan popok dan sandal kebesaran bersiap untuk menikmati waktu bersama nenek dan kakeknya. Saya tersenyum setiap kali mengingat peristiwa itu. Moriah ingin sekali pergi bersama kami, karena ia sangat ingin dimanjakan oleh kami.

Meski Moriah belum bisa mengungkapkan perasaannya, saya yakin ia merasa dikasihi dan dihargai. Kasih yang kami tunjukkan kepada Moriah merupakan gambaran sederhana dari kasih Allah yang besar bagi kita, anak-anak-Nya. “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah” (1Yoh. 3:1).

Ketika mempercayai Yesus sebagai Juruselamat kita, kita menjadi anak-anak Allah dan mulai memahami kebesaran kasih yang dilimpahkan-Nya atas kita dengan jalan menyerahkan nyawa Anak-Nya untuk kita (ay.16). Kita pun rindu menyenangkan-Nya lewat segala perkataan dan perbuatan kita (ay.6)—dan mengasihi-Nya dengan ingin selalu menghabiskan waktu bersama-Nya.

Kebaikan Berlipat Ganda

Cheryl terkejut ketika ia menepi untuk mengantar pesanan pizza. Ia pikir yang ditujunya adalah sebuah rumah, tetapi sekarang ia justru berdiri di halaman depan sebuah gereja. Cheryl yang bingung membawa masuk pesanan pizza pepperoni itu dan kemudian ditemui oleh seorang pendeta.

“Benarkah kamu sedang mengalami banyak masalah dalam hidupmu?” tanya sang pendeta. Cheryl mengakui bahwa hidupnya sedang tidak berjalan mulus. Setelah itu sang pendeta mengeluarkan dua wadah persembahan yang telah diisi dengan uang dari jemaat gereja. Pendeta itu lalu memasukkan uang tunai sebesar 10 juta rupiah ke dalam tas Cheryl sebagai tip! Tanpa sepengetahuan Cheryl, pendeta itu telah meminta gerai pizza untuk mengirimkan pesanannya lewat petugas pengantaran mereka yang paling bergumul dalam hal keuangan. Cheryl terperangah. Dengan uang itu, sekarang ia dapat membayar tagihan-tagihannya yang menumpuk.

Ketika jemaat Kristen mula-mula di Yerusalem menghadapi masalah kemiskinan, ada jemaat lain yang segera turun tangan dan membantu mereka. Walaupun jemaat di Makedonia sebenarnya juga membutuhkan bantuan, mereka tetap memberi dengan rela, bahkan menganggapnya sebagai hak istimewa (2Kor. 8:1-4). Paulus menyebut kemurahan hati mereka sebagai teladan yang patut ditiru oleh jemaat di Korintus dan juga oleh kita. Ketika kita menggunakan kecukupan kita untuk memenuhi kebutuhan orang lain, kita mencerminkan Yesus, yang menyerahkan diri-Nya yang kaya untuk memenuhi kemiskinan jiwa kita (ay.9).

Cheryl menceritakan pada semua pelanggannya tentang kebaikan jemaat gereja itu. Ia pun meneladaninya dengan rela menyumbangkan sisa tip yang diterimanya hari itu kepada orang lain yang membutuhkan. Kebaikan pun berlipat ganda, dan Kristus dimuliakan.

Hadiah Terindah

Suami saya baru-baru ini merayakan ulang tahun di usianya yang istimewa, yakni usia yang angkanya diakhiri dengan nol. Saya berusaha keras memikirkan cara terbaik untuk menghormatinya pada kesempatan istimewa ini. Saya membahas banyak ide dengan anak-anak kami agar mereka menolong saya memutuskan cara mana yang terbaik. Saya ingin perayaan kami mencerminkan makna penting dari usianya sekarang dan mengungkapkan betapa dirinya sangat berarti bagi keluarga kami. Saya ingin hadiah kami sesuai dengan arti penting dari pencapaian tersebut dalam hidupnya.

Raja Salomo ingin memberikan kepada Allah hadiah yang jauh lebih berarti daripada sekadar hadiah ulang tahun yang istimewa. Ia mau Bait Suci yang dibangunnya layak menerima kehadiran Allah di dalamnya. Untuk memperoleh bahan bangunan yang akan digunakan, ia menyurati raja Tirus. Dalam suratnya, Salomo menegaskan bahwa bait itu harus besar “sebab Allah kami lebih besar dari segala allah” (2Taw. 2:5). Salomo mengakui bahwa kebesaran dan kebaikan Allah jauh melebihi apa pun yang dapat dibangun oleh tangan manusia. Sekalipun demikian, ia tetap meneruskan pekerjaan pembangunan itu sebagai wujud kasih dan penyembahannya.

Allah kita sungguh jauh lebih besar dari segala allah. Allah telah melakukan hal-hal yang menakjubkan dalam hidup kita, sehingga hati kita tergerak untuk memberikan kepada-Nya persembahan yang terindah dan penuh kasih, berapa pun nilai ekstrinsiknya. Salomo tahu persembahannya tidaklah sebanding dengan kebesaran Allah, tetapi ia tetap bersukacita mempersembahkannya kepada Allah. Kita juga dapat mengikuti teladan Salomo.

Bumi yang Indah

Ketika mengorbit bulan pada tahun 1968, Bill Anders, salah seorang astronaut pesawat Apollo 8, berusaha menggambarkan permukaan bulan yang dilihat oleh para awak pesawat. Bill menyebutnya sebagai “pemandangan yang kelam . . . sebuah tempat yang tak memikat dan dingin.” Kemudian masing-masing awak bergantian membacakan Kejadian 1:1-10 kepada pemirsa televisi. Setelah Komandan Frank Borman selesai membaca ayat 10, “Allah melihat bahwa semuanya itu baik,” ia menutup dengan berkata, “Tuhan memberkati Anda semua, Anda semua yang tinggal di bumi yang indah.”

Pasal pertama dari Alkitab menegaskan dua fakta:

Alam ciptaan adalah karya Allah. Frasa “Berfirmanlah Allah . . .” berdetak berulang kali di sepanjang pasal 1. Seluruh dunia indah yang kita diami ini merupakan hasil dari karya kreatif Allah. Semua yang dicatat dalam Alkitab setelah itu menegaskan pesan dari Kejadian 1: Ada Allah di balik seluruh sejarah.

Alam ciptaan itu baik. Kalimat lainnya bergaung lebih lembut di sepanjang pasal 1. “Allah melihat bahwa semuanya itu baik.” Banyak yang telah berubah sejak penciptaan pertama itu. Kejadian 1 menggambarkan dunia sebagaimana dikehendaki oleh Allah, sebelum terjadi kerusakan apa pun. Apa pun keindahan yang kita lihat pada alam semesta hari ini hanyalah secercah bayangan dari kemurnian yang diciptakan Allah pada mulanya.

Para astronaut Apollo 8 melihat bumi seperti bola berwarna cerah yang tergantung sendirian di angkasa. Bumi terlihat luar biasa indah sekaligus rapuh—persis pemandangan dari Kejadian 1.

Tangan yang Menghibur

“Pasien sangat agresif,” tertulis di catatan perawat.

Perawat itu tidak menyadari bahwa saya sedang mengalami reaksi alergi setelah siuman dari operasi jantung terbuka yang kompleks. Saya merasa begitu tidak nyaman karena adanya tabung pembantu pernapasan di tenggorokan. Tubuh saya mulai berguncang dengan kencang, sambil meregangkan tali-tali pengikat lengan yang menahan saya agar tidak tiba-tiba menarik tabung pernapasan itu. Peristiwa itu begitu menyakitkan sekaligus menakutkan. Pada saat itu, seorang asisten perawat yang berada di sebelah kanan tempat tidur saya menarik dan menggenggam tangan saya. Tindakannya yang tak terduga itu terasa begitu meneduhkan. Saya pun mulai rileks dan tubuh saya tidak lagi berguncang dengan kencang.

Karena sudah berpengalaman menghadapi hal itu dengan pasien-pasien lain, sang asisten perawat tahu bahwa genggaman tangannya sanggup menenangkan saya. Perbuatannya menjadi gambaran yang sangat jelas tentang penghiburan yang dilimpahkan Allah bagi anak-anak-Nya yang menderita.

Dalam 2 Korintus 1:3-4, Paulus menyatakan bahwa penghiburan merupakan unsur penting dari karya Allah bagi umat-Nya. Selain itu, Allah juga ingin melipatgandakan dampak dari penghiburan itu melalui umat-Nya. Kita dipanggil Allah untuk memakai pengalaman kita yang telah menerima penghiburan-Nya guna menghibur orang lain yang mengalami situasi seperti yang pernah kita alami (ay.4-7). Penghiburan seperti itu membuktikan kebesaran kasih-Nya, dan kita dapat meneruskannya kepada orang lain—terkadang cukup melalui perbuatan-perbuatan yang sederhana.

Akhir yang Baik

Ketika lampu dipadamkan dan kami siap-siap menyaksikan film Apollo 13, teman saya tiba-tiba bergumam, “Sayang sekali mereka semua mati.” Saya pun menonton film tentang penerbangan ke luar angkasa di tahun 1970 itu dengan berdebar-debar, sambil menanti terjadinya tragedi. Ketika film sudah tamat dan daftar nama pemain mulai tertampil di layar, saya baru sadar telah dibohongi teman saya. Saya memang tidak tahu atau tidak ingat tentang akhir dari kisah nyata para astronaut itu. Meski menghadapi banyak kesulitan, mereka dapat pulang ke bumi dengan selamat.

Dalam Kristus, kita mengetahui akhir dari kisah kita—kita juga akan pulang ke rumah kita yang sejati dengan selamat. Artinya, kita akan hidup selamanya bersama Allah Bapa kita di surga, seperti yang kita baca dalam kitab Wahyu. Tuhan akan menciptakan “langit yang baru dan bumi yang baru” karena Dia menjadikan segala sesuatu baru (Why. 21:1,5). Di kota yang baru itu, Tuhan Allah akan menyambut umat-Nya untuk hidup bersama-Nya. Di sana, kita akan hidup tanpa ketakutan dan tanpa kekelaman. Kita memiliki pengharapan karena kita mengetahui akhir dari kisah kita.

Mengetahui akhir kisah dapat mengubah cara pandang kita terhadap masa-masa yang dirasakan begitu sulit untuk dijalani, misalnya ketika seseorang menghadapi kepergian orang yang dikasihinya atau bahkan kematiannya sendiri. Walaupun kita ngeri membayangkan kematian, kita tetap dapat merasakan sukacita dari janji kekekalan yang akan dijelang. Kita merindukan sebuah kota di mana tidak akan ada lagi kutukan—di sanalah kita akan menjalani hidup selamanya dalam terang Allah (Why. 22:5).

Berpikir Sebelum Bicara

Cheung kesal dengan istrinya yang tidak berhasil mendapatkan arah ke sebuah restoran terkenal yang ingin mereka kunjungi. Keluarga Cheung sudah berencana menutup liburan di Jepang dengan menikmati santapan yang mewah dan lezat sebelum terbang pulang ke negaranya. Namun saat itu, waktu sudah tidak memungkinkan bagi mereka untuk menikmati hidangan tersebut. Karena frustrasi, Cheung pun mengkritik sang istri untuk perencanaannya yang tidak matang.

Namun kemudian, Cheung menyesali kata-kata yang diucapkannya dan sikapnya yang terlalu kasar. Ia juga menyadari, sebenarnya ia bisa mencari sendiri arah ke restoran tersebut. Ia bahkan lupa berterima kasih kepada istrinya untuk perencanaan yang disusunnya bagi tujuh hari liburan mereka yang telah berlalu.

Banyak dari kita mungkin pernah mengalami hal yang sama. Kita tergoda untuk meluapkan kemarahan dan membiarkan kata-kata kasar terucap tanda kendali. Kita sungguh perlu berdoa seperti pemazmur: “Awasilah mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku!” (Mzm. 141:3).

Namun, bagaimana kita dapat melakukannya? Nasihat ini mungkin dapat menolong Anda: Berpikirlah sebelum berbicara. Apakah perkataan Anda baik dan bermanfaat, ramah dan tulus? (Lihat Ef. 4:29-32).

Mengawasi mulut berarti kita berusaha berdiam diri dan tidak membalas ketika kita tersinggung. Menjaga bibir berarti kita meminta pertolongan Tuhan untuk mengucapkan kata-kata yang tepat dengan nada yang tepat, atau bahkan berhenti berbicara sama sekali. Mengendalikan perkataan merupakan tugas kita seumur hidup. Syukurlah, Allah terus bekerja di dalam diri kita untuk membuat kita “rela dan sanggup menyenangkan hati Allah” (Flp. 2:13 BIS).

Kesempatan Kedua

“Mengapa kalian sangat baik walaupun kalian tidak mengenalku?” kata Linda kepada sepasang suami-istri yang telah menolongnya.

Linda sempat dijebloskan ke penjara selama enam tahun akibat sejumlah pelanggaran yang dibuatnya di luar negeri. Ketika dibebaskan, ia tidak tahu tempat yang dapat ia tuju. Ia berpikir hidupnya sudah berakhir! Sementara keluarganya mengumpulkan uang untuk membelikannya tiket pulang, pasangan suami-istri di negara asing itu menyediakan tempat tinggal, makanan, dan bantuan lain untuknya. Linda sangat tersentuh oleh kebaikan mereka sehingga ia bersedia mendengarkan kabar baik yang mereka bagikan kepadanya tentang Allah yang mengasihinya dan yang ingin memberinya kesempatan kedua.

Linda mengingatkan saya kepada Naomi, seorang janda di Alkitab yang kehilangan suami dan dua anak laki-lakinya di negeri asing. Naomi juga berpikir hidupnya sudah berakhir (Rut 1). Namun, Tuhan tidak melupakan Naomi, dan melalui kasih dari menantu perempuannya dan belas kasihan Boas, seorang laki-laki yang saleh, Naomi melihat kasih Allah dan menerima kesempatan kedua (Rut 4:13-17).

Allah yang sama juga mempedulikan kita hari ini. Melalui kasih yang ditunjukkan orang lain, kita kembali diingatkan akan kehadiran-Nya. Kita dapat melihat anugerah Allah di dalam bantuan dari seseorang yang mungkin tidak kita kenal dengan baik. Namun yang terlebih penting, Allah bersedia memberi kita awal yang baru. Sama seperti Linda dan Naomi, kita hanya perlu melihat tangan Allah yang bekerja dalam kehidupan kita sehari-hari dan menyadari bahwa Allah terus-menerus menyatakan kebaikan-Nya kepada kita.

Doa Kita dan Waktu Allah

Terkadang Allah menantikan waktu yang tepat untuk menjawab doa-doa kita, dan itu tidak selalu mudah untuk kita pahami.

Demikianlah situasi yang dihadapi Zakharia, seorang imam yang suatu hari dikunjungi malaikat Gabriel di Bait Allah di Yerusalem. Malaikat Gabriel berkata: “Jangan takut, Zakharia! Allah sudah mendengar doamu. Istrimu Elisabet akan melahirkan seorang anak laki-laki. Engkau harus memberi nama Yohanes kepadanya” (Luk. 1:13 BIS).

Zakharia mungkin telah berdoa selama bertahun-tahun agar Allah memberinya anak. Ia bergumul menerima pesan Gabriel karena sekarang Elisabet sudah terlalu tua untuk melahirkan. Namun, Allah tetap menjawab doanya.

Ingatan Allah itu sempurna. Dia mampu mengingat doa-doa kita, tidak hanya untuk bertahun-tahun, tetapi juga sampai generasi-generasi mendatang. Allah tidak pernah melupakan doa kita dan mungkin saja Dia menjawabnya lama setelah pertama kalinya kita mengungkapkan permohonan kita kepada-Nya. Terkadang jawaban Allah adalah “tidak”, bahkan mungkin juga “tunggu”—tetapi tanggapan-Nya selalu didasarkan pada kasih-Nya. Meskipun cara-cara Allah tidak terselami oleh pikiran kita, kita dapat meyakini bahwa semua cara-Nya itu baik.

Zakharia mengalaminya. Ia berdoa meminta anak laki-laki, tetapi Allah memberinya lebih dari itu. Anaknya, Yohanes, akan tumbuh menjadi seorang nabi yang membuka jalan bagi kedatangan Mesias.

Pengalaman Zakharia menunjukkan satu kebenaran penting yang sepatutnya juga menguatkan kita ketika kita berdoa: Waktu Allah jarang sekali sama dengan waktu kita, tetapi waktu-Nya selalu layak kita nantikan.

Sukacita dan Keadilan

Pada suatu pelayanan di Asia, saya terlibat dalam dua percakapan yang sungguh membuka wawasan saya dalam rentang beberapa jam. Pertama, seorang pendeta menuturkan bagaimana selama sebelas tahun ia dipenjara, sebelum akhirnya dibebaskan, karena kasus pembunuhan yang tidak dilakukannya. Lalu, sekelompok keluarga menceritakan bagaimana mereka telah menghabiskan banyak uang untuk meloloskan diri dari penganiayaan di tanah air mereka. Namun, mereka justru dikhianati oleh orang yang mereka andalkan. Dan sekarang, setelah bertahun-tahun tinggal di pengungsian, mereka pun bertanya-tanya kapan mereka akan mendapatkan tempat tinggal yang tetap.

Dalam kedua kasus itu, keadaan pihak yang menjadi korban diperparah dengan tiadanya keadilan. Itulah salah satu bukti dari kebobrokan dunia ini. Namun, tiadanya keadilan bukanlah kondisi yang akan berlangsung selamanya.

Mazmur 67 menyerukan kepada umat Allah untuk memperkenalkan Allah pada dunia kita yang menderita. Usaha mereka akan membuahkan sukacita, yang tidak hanya muncul sebagai respons terhadap kasih Allah tetapi juga karena keadilan-Nya. “Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai, sebab Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil, dan menuntun suku-suku bangsa di atas bumi” (ay.5).

Meskipun para penulis Alkitab memahami bahwa keadilan merupakan unsur kunci dari kasih Allah, mereka juga menyadari bahwa hal itu baru akan terwujud sempurna di masa mendatang. Sebelum masa itu tiba, di dunia yang marak dengan ketidakadilan ini, kita dapat menuntun orang lain untuk berharap pada keadilan Allah yang kudus. Kelak dalam kedatangan-Nya, Allah akan mewujudkan “keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir!” (Am. 5:24).

Senyum yang Terkenal

Setelah saya dan istri mendapat kesempatan istimewa untuk mengunjungi Museum Louvre di Paris, Prancis, saya menelepon Addie, cucu kami yang berumur sebelas tahun. Ketika saya bercerita bahwa saya sempat melihat lukisan Mona Lisa yang terkenal, Addie bertanya, “Apakah Mona Lisa tersenyum?”

Bukankah itu yang terus-menerus ditanyakan orang tentang lukisan tersebut? Lebih dari 600 tahun setelah sosok wanita itu dilukis Leonardo da Vinci dengan cat minyak, kita masih tidak tahu pasti apakah ia tersenyum atau tidak. Meski terpesona oleh keindahan lukisan tersebut, kita masih tidak yakin pada sikap yang ditunjukkan oleh Mona Lisa.

“Senyum” menjadi bagian dari lukisan Mona Lisa yang membuat penasaran banyak orang. Namun, sepenting apakah sebuah senyuman? Apakah “tersenyum” disebutkan dalam Alkitab? Sebenarnya, kata itu hanya muncul kurang dari lima kali di Alkitab, dan tidak sekali pun itu muncul sebagai perintah. Namun demikian, Alkitab memang mendorong kita untuk memiliki satu sikap yang dapat membawa senyuman kepada wajah kita—yaitu sukacita. Sekitar 250 kali kita membaca tentang sukacita dengan berbagai aspeknya: “Karena kuasa-Mulah raja bersukacita,” kata Daud ketika memikirkan tentang Tuhan (Mzm. 21:2). Kita diperintahkan untuk “[beribadah] kepada Tuhan dengan sukacita” (Mzm. 100:2); ketetapan-ketetapan Allah membuat kita “bersukacita” (Mzm. 119:117); dan kita “bersukacita” karena “Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita” (126:3).

Tentulah sukacita yang diberikan Allah lewat segala sesuatu yang telah diperbuat-Nya bagi kita akan memunculkan senyum pada wajah kita.

Bayi Mungil yang Dahsyat

Pertama kali melihat bayi itu, saya menangis. Ia terlihat seperti bayi sempurna yang sedang terlelap. Namun, kami tahu ia takkan pernah bangun lagi. Ia telah kembali ke pangkuan Tuhan Yesus.

Bayi itu telah bertahan hidup beberapa bulan. Kemudian sang ibu menyampaikan kabar kematian bayinya kepada kami lewat sebuah e-mail yang sangat memilukan hati. Ia menulis bahwa ia mengalami “kepedihan yang besar di dalam batin.” Namun, ia juga berkata, “Betapa dalamnya Allah mengukir karya kasih-Nya di dalam hati kami melalui kehidupan bayi mungil kami! Alangkah dahsyat hidupnya!”

Bagaimana ia bisa berkata demikian?

Sang bayi yang begitu disayang keluarganya itu menunjukkan kepada mereka—dan kepada kita—betapa kita harus bergantung kepada Allah dalam segala hal, terutama pada saat segala sesuatu tidak berjalan sesuai kehendak kita! Ada satu kebenaran yang sulit dimengerti tetapi sanggup menghibur kita: Allah melawat kita di dalam penderitaan kita. Allah ikut merasakan pedihnya kematian seorang anak, karena Dia sendiri pernah mengalaminya.

Dalam penderitaan kita yang terdalam, kiranya kita terhibur oleh mazmur Daud yang ditulisnya ketika sedang berada dalam kepedihan yang besar. Ia bertanya, “Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari?” (Mzm. 13:3). “Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati” (ay.4). Namun Daud menyerahkan keresahan hatinya yang terdalam kepada Allah. “Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu” (ay.6a).

Hanya Allah yang sanggup memberi makna yang sesungguhnya dari peristiwa-peristiwa tragis yang kita alami.

Hidup Tanpa Nama

Saya sering membaca ulang esai berjudul “Working Up to Anon” (Berusaha Menjadi Anonim) karya penulis Jane Yolen, yang saya jadikan kliping dari majalah The Writer bertahun-tahun lalu. Jane berkata, “Penulis yang terbaik adalah mereka yang dari lubuk hatinya sungguh-sungguh ingin mencantumkan ‘anonim’ pada tulisan mereka. Bagi mereka, kisah yang dituliskan lebih penting daripada penulisnya.”

Sebagai orang percaya, kita menceritakan kisah tentang Yesus Kristus, Sang Juruselamat, yang menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Bersama orang percaya lainnya, kita menjalani hidup bagi-Nya dan menyebarluaskan kasih-Nya kepada sesama.

Roma 12:3-21 menjabarkan sikap rendah hati dan kasih yang harus meresap ke dalam hubungan kita sebagai sesama pengikut Yesus. “Janganlah merasa diri lebih tinggi dari yang sebenarnya. Hendaknya kalian menilai keadaan dirimu dengan rendah hati; masing-masing menilai dirinya menurut kemampuan yang diberikan Allah kepadanya oleh karena ia percaya kepada Yesus. . . . Hendaklah Saudara-saudara saling mengasihi satu sama lain dengan mesra seperti orang-orang yang bersaudara dalam satu keluarga, dan hendaknya kalian saling mendahului memberi hormat” (ay.3,10 BIS).

Kebanggaan atas prestasi yang pernah kita capai pada masa lalu dapat membuat kita buta terhadap karunia-karunia yang dimiliki orang lain. Kesombongan dapat meracuni masa depan kita semua.

Sebagai pembuka jalan bagi Yesus, Yohanes Pembaptis berkata, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh. 3:30).

Sungguh itu prinsip yang baik untuk kita teladani.

Siapa Gerangan Orang Ini?

“Simpan semua benda yang ada di atas meja kalian. Siapkan selembar kertas dan pensil.” Dahulu ketika saya masih menjadi murid sekolah, kata-kata yang menakutkan itu menunjukkan bahwa ujian segera dimulai.

Di Markus 4, Yesus memulai hari dengan mengajar di tepi danau (ay.1) dan mengakhirinya dengan sebuah ujian yang berlangsung di tengah danau (ay.35). Perahu yang semula merupakan sarana mengajar telah dibuat menjadi sarana transportasi oleh Yesus dan para pengikut-Nya untuk menyeberangi danau. Di dalam perjalanan itu (sementara Yesus yang kelelahan tertidur di buritan), mereka didera angin topan yang sangat dahsyat (ay.37). Murid-murid yang kewalahan membangunkan Yesus dengan berkata: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?”(ay.38). Lalu terjadilah peristiwa yang menggemparkan. Pribadi yang pernah berseru kepada orang banyak, “Dengarlah!” di awal hari itu (ay.3), kini mengucapkan perintah singkat yang penuh kuasa kepada angin, “Diam! Tenanglah!” (ay.39).

Angin pun taat dan para murid yang ketakutan itu terheran-heran. Keheranan mereka terungkap dalam pertanyaan, “Siapa gerangan orang ini?” (ay.41). Pertanyaan itu tidak salah, tetapi baru di kemudian hari para murid menyadari dan yakin sepenuhnya bahwa Yesus adalah Anak Allah. Ketika seseorang mengajukan pertanyaan tersebut dengan jujur, tulus, dan hati yang terbuka, ia dapat tiba pada kesimpulan yang sama: Yesus bukan sekadar guru yang harus didengarkan, melainkan Allah yang layak disembah.

Halaman