Agregator pasokan

Rahasia dari Damai Sejahtera

Grace adalah wanita yang sangat istimewa. Satu kata terlintas dalam benak saya saat memikirkan tentang dirinya: damai sejahtera. Ekspresi yang tenang dan teduh pada wajahnya sangat jarang berubah sepanjang enam bulan saya mengenalnya, walaupun suaminya didiagnosis mengidap penyakit langka dan kemudian dirawat di rumah sakit.

Saat saya bertanya kepada Grace apa rahasia dari damai sejahteranya, ia menjawab, “Itu bukan sebuah rahasia, tetapi seorang Pribadi. Yesus hidup di dalamku. Tidak ada alasan lain yang bisa menjelaskan ketenangan yang saya alami di tengah pergumulan ini.”

Rahasia dari damai sejahtera terletak pada hubungan kita dengan Yesus Kristus. Dialah damai sejahtera kita. Ketika Yesus menjadi Tuhan dan Juruselamat kita, dan saat kita diubah menjadi semakin serupa dengan-Nya, damai sejahtera itu menjadi nyata. Hal-hal seperti penyakit, kesulitan keuangan, atau bahaya lainnya mungkin saja kita alami, tetapi damai sejahtera meyakinkan kita bahwa Allah memegang hidup kita di tangan-Nya (Dan. 5:23). Kita percaya bahwa Dia bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan.

Pernahkah Anda mengalami damai sejahtera yang melampaui akal dan pemahaman manusia itu? Apakah Anda memiliki keyakinan iman bahwa Allah yang memegang kendali atas segala sesuatu? Saya berharap agar hari ini kita semua mengumandangkan kata-kata yang pernah ditulis Rasul Paulus: “Ia, Tuhan damai sejahtera, kiranya mengaruniakan damai sejahtera-Nya.” Dan kiranya kita merasakan damai sejahtera itu “terus-menerus, dalam segala hal” (2Tes. 3:16).

Allah Melihat Setiap Detail

Saat anak anjing Labrador saya yang berwarna cokelat berumur tiga bulan, saya membawanya ke dokter hewan untuk diperiksa kesehatannya dan divaksin. Ketika dokter hewan kami memeriksa tubuh anak anjing itu dengan saksama, ia memperhatikan sebuah bercak kecil berwarna putih di telapak kaki kiri belakang anjing itu. Dokter itu tersenyum dan berkata kepada si anjing, “Di sinilah Allah memegangmu saat Dia mencelupkanmu ke dalam pewarna cokelat.”

Saya tidak dapat menahan tawa. Namun, dokter itu tanpa sadar telah menegaskan satu hal yang penting tentang perhatian Allah yang mendalam dan personal pada ciptaan-Nya.

Dalam Matius 10:30, Yesus mengatakan, “Rambut kepalamupun terhitung semuanya.” Begitu agung dan luar biasanya Allah hingga Dia sanggup memperhatikan setiap bagian dari hidup kita secara tak terhingga, bahkan sampai detail terkecil dalam hidup kita. Tidak ada yang begitu kecil hingga lolos dari perhatian Allah, dan tidak ada masalah yang terlalu sepele untuk dibawa ke hadapan-Nya. Demikian mendalamnya perhatian-Nya atas kita.

Allah tidak hanya menciptakan kita, tetapi juga menopang dan memelihara kita setiap saat. Alangkah baiknya ketika kita memahami bahwa Allah memperhatikan setiap detail dari kehidupan kita, bahkan terhadap hal-hal yang biasanya luput dari perhatian kita. Kita sungguh terhibur saat mengetahui bahwa Bapa Surgawi kita yang Mahabijaksana dan penuh perhatian menopang kita—bersama semua karya ciptaan lainnya—dengan tangan kasih-Nya yang perkasa.

Ke Mana Saja

Saat membuka foto-foto lama dari hari pernikahan saya, saya berhenti di selembar foto saya bersama suami ketika kami baru resmi menjadi suami-istri. Kesetiaan saya kepadanya terlihat jelas dari ekspresi wajah saya. Rasanya saat itu saya siap pergi ke mana saja bersamanya.

Hampir empat dekade berlalu, pernikahan kami diteguhkan oleh ikatan cinta dan komitmen yang telah memampukan kami melewati suka dan duka. Tahun demi tahun, saya memperbarui kesetiaan saya untuk pergi ke mana saja bersamanya.

Di Yeremia 2:2, Allah merindukan umat Israel yang dikasihi-Nya, meski mereka telah menyeleweng, “Aku teringat kepada kasihmu pada masa mudamu, kepada cintamu pada waktu engkau menjadi pengantin, bagaimana engkau mengikuti Aku.” Kata kasih dalam bahasa Ibrani mengandung makna kesetiaan dan komitmen yang tertinggi. Awalnya, Israel pernah menunjukkan kesetiaan yang tak tergoyahkan seperti itu kepada Allah, tetapi lama-kelamaan mereka berpaling dari Allah.

Meski ada perasaan yang menggebu-gebu di awal komitmen, sikap berpuas diri bisa menumpulkan kasih kita. Berkurangnya semangat juga bisa menyeret kita kepada penyelewengan. Kita sadar pentingnya berjuang melawan kemunduran seperti itu dalam pernikahan. Namun, bagaimana dengan bara api kasih kita kepada Allah? Apakah kesetiaan kita masih sama seperti saat pertama kali kita beriman kepada-Nya?

Dengan setia, Allah memperkenankan umat-Nya untuk kembali kepada-Nya (3:14-15). Hari ini kita dapat memperbarui janji kita untuk setia mengikut-Nya—ke mana saja.

Seni Mengampuni

Suatu sore saya menghabiskan waktu dua jam menikmati pameran seni yang berjudul The Father & His Two Sons: The Art of Forgiveness (Bapa & Dua Putranya: Seni Mengampuni). Semua karya seni yang terpajang di sana berfokus pada perumpamaan Yesus tentang anak yang hilang (Luk. 15:11-31). Kesan paling kuat saya dapatkan dari lukisan karya Edward Riojas, The Prodigal Son (Anak yang Hilang). Lukisan itu menggambarkan anak yang hilang itu pulang, memakai baju yang compang-camping, dan berjalan dengan kepala tertunduk. Dengan dunia kematian di belakangnya, anak itu menapaki setapak jalan yang sama dengan yang dilalui sang ayah yang sudah berlari ke arahnya. Di bagian bawah lukisan itu, terdapat perkataan Yesus, “Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan” (ay.20).

Saya sangat tersentuh dan menyadari kembali bagaimana kasih Allah yang tidak berubah telah mengubah hidup saya. Ketika saya menjauh dari-Nya, Dia tidak mengabaikan saya. Dia terus melihat, memperhatikan, dan menanti. Kasih-Nya tidak layak kita terima, meski demikian, kasih itu tidak pernah berubah; kasih-Nya sering kita abaikan, tetapi tidak pernah ditarik-Nya kembali.

Kita semua telah berdosa, tetapi Bapa Surgawi mengulurkan tangan-Nya untuk menyambut kita, sama seperti bapa dalam perumpamaan ini merangkul anaknya yang hilang. “Marilah kita makan dan bersukacita,” kata sang bapa kepada hamba-hambanya. “Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali” (ay.23-24).

Tuhan masih bersukacita atas orang-orang yang datang kembali kepada-Nya hari ini—dan itu layak untuk dirayakan!

Jangan Tergesa-gesa

“Buanglah jauh ketergesa-gesaan.” Ketika dua teman saya mengulangi pepatah yang bijak dari Dallas Willard tersebut, saya tahu bahwa saya harus sungguh-sungguh memikirkannya. Apakah saya sedang berputar-putar tanpa arah sambil membuang-buang waktu dan energi? Yang lebih penting dari itu, apakah saya sedang tergesa-gesa dan tidak lagi mencari pimpinan dan pertolongan Allah? Berminggu-minggu setelah itu, bahkan berbulan-bulan kemudian, saya masih teringat pada pepatah itu dan mengarahkan kembali diri saya kepada Tuhan dan hikmat-Nya. Saya mengingatkan diri saya untuk lebih mempercayai-Nya daripada bersandar kepada pengertian saya sendiri.

Lagipula, tergesa-gesa dalam kepanikan sepertinya berlawanan dengan “damai sejahtera” yang sempurna, sebagaimana disebutkan oleh Nabi Yesaya. Tuhan mengaruniakan damai itu kepada mereka “yang hatinya teguh” karena mereka percaya kepada-Nya (ay.3). Dan Tuhan memang layak untuk dipercaya—hari ini, besok, dan sampai selamanya—karena “Tuhan Allah adalah gunung batu yang kekal” (ay.4). Mempercayai Allah dengan pikiran yang terpusat kepada-Nya merupakan obat yang manjur bagi hidup yang tergesa-gesa.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga merasa tergesa-gesa hingga pontang-panting dalam menjalani hidup ini? Atau sebaliknya, kita sering mengalami damai sejahtera. Atau mungkin kita sedang berada di antara kedua pengalaman tersebut.

Apa pun keadaan kita, hari ini saya berdoa agar kita dapat membuang jauh ketergesa-gesaan dengan mempercayai Tuhan, yang tidak akan pernah mengecewakan kita dan yang mengaruniakan damai sejahtera-Nya kepada kita.

Menilai Menurut Asal-Usul

“Dari mana asalmu?” Kami sering mengajukan pertanyaan itu untuk mengenal seseorang lebih dekat. Namun kebanyakan dari kita mungkin tidak merasa nyaman menjawab pertanyaan itu. Adakalanya kita tidak ingin membeberkan terlalu banyak tentang diri kita kepada orang lain.

Di kitab Hakim-Hakim, Yefta mungkin saja tidak ingin menjawab pertanyaan itu sama sekali. Saudara-saudara tiri Yefta mengusirnya dari kampung halamannya di Gilead karena asal-usulnya yang “tidak jelas”. Alasan mereka: “[Yefta] anak dari perempuan lain” (Hak. 11:2). Ayat 1 menegaskan bahwa “ibunya seorang pelacur” (BIS).

Namun, Yefta memiliki sifat-sifat alamiah sebagai pemimpin. Ketika sebuah suku hendak berperang melawan Gilead, orang-orang yang dahulu mengusir Yefta tiba-tiba menginginkannya kembali. Kata mereka kepada Yefta, “Mari, jadilah panglima kami” (ay.6). Yefta bertanya, “Bukankah kamu sendiri membenci aku dan mengusir aku dari keluargaku?” (ay.7). Setelah mendapatkan kepastian bahwa sikap mereka akan berubah, Yefta setuju untuk memimpin mereka. Kitab Suci menuliskan, “Lalu Roh Tuhan menghinggapi Yefta” (ay.29). Dengan iman, Yefta memimpin mereka untuk meraih kemenangan besar. Perjanjian Baru memasukkan nama Yefta dalam daftar pahlawan iman (Ibr. 11:32).

Bukankah Allah juga sering memilih orang-orang yang dipandang sebelah mata untuk melakukan pekerjaan-Nya? Allah tidak memandang dari mana kita berasal, bagaimana keadaan kita sekarang, atau apa yang pernah kita lakukan. Yang terpenting adalah bagaimana kita menanggapi kasih-Nya dengan iman.

Belajar Mengenal Allah

Seumur hidup saya, saya ingin sekali menjadi seorang ibu. Saya sering membayangkan bahwa saya akan menikah, mengandung, dan menggendong bayi saya untuk pertama kalinya. Setelah menikah, saya dan suami bahkan tidak pernah berpikir untuk menunda waktu kehamilan. Namun setiap kali tes kehamilan memberikan hasil yang negatif, kami menyadari bahwa kami bergumul dengan ketidaksuburan. Bulan demi bulan kami berkonsultasi dengan dokter, melakukan tes, dan mendapatkan hasil yang lagi-lagi negatif. Badai seakan telah menerjang kehidupan kami. Menghadapi ketidaksuburan itu bagaikan menelan pil pahit yang membuat saya mempertanyakan kebaikan dan kesetiaan Allah.

Ketika merenungkan kembali perjuangan kami, saya terpikir tentang kisah para murid yang diterjang badai di Yohanes 6. Ketika mereka berjuang keras melawan terjangan ombak di tengah malam yang gelap, tiba-tiba Yesus datang kepada mereka dengan berjalan di atas air yang bergolak. Dia menenangkan mereka dengan kehadiran-Nya, dan berkata, “Aku ini, jangan takut!” (ay.20).

Seperti para murid Yesus, saya dan suami tidak tahu apa yang terjadi di tengah badai kehidupan kami. Namun, kami memperoleh penghiburan saat kami belajar semakin mengenal Allah sebagai Pribadi yang selalu setia dan benar. Meskipun kami tidak juga memiliki anak yang kami dambakan, kami belajar bahwa di dalam seluruh pergumulan kami, kami dapat mengalami kuasa kehadiran-Nya yang meneduhkan jiwa. Karena Allah bekerja dalam hidup kita dengan penuh kuasa, kita tidak perlu lagi merasa cemas.

Hanya Sedetik

Para ilmuwan cukup cerewet jika menyangkut soal waktu. Pada akhir 2016, para ilmuwan di Goddard Space Flight Center di Maryland, Amerika Serikat, menambahkan satu detik pada tahun itu. Jadi, jika Anda merasa tahun itu berjalan sedikit lebih lama dari biasanya, Anda tidak salah.

Mengapa mereka melakukan penambahan waktu itu? Karena rotasi bumi melambat dari waktu ke waktu, tahun demi tahun pun berjalan sedikit lebih lama. Ketika para ilmuwan melacak keberadaan benda-benda buatan manusia yang diluncurkan ke luar angkasa, mereka harus memastikan pengukurannya sangat akurat hingga hitungan milidetik. Itu dilakukan “untuk memastikan bahwa program yang kami buat untuk menghindari terjadinya tabrakan benar-benar akurat,” tutur salah seorang ilmuwan.

Tambahan atau pengurangan sedetik seperti itu rasanya tidak terlalu berpengaruh bagi sebagian besar dari kita. Namun, menurut Kitab Suci, waktu yang kita miliki dan bagaimana kita menggunakannya sangatlah penting. Misalnya, Paulus mengingatkan kita di 1 Korintus 7:29 bahwa waktu itu singkat. Waktu yang kita miliki untuk melakukan pekerjaan Allah sangat terbatas, karena itu kita harus memanfaatkannya dengan bijak. Paulus mendorong kita untuk menggunakan “sebaik-baiknya setiap kesempatan yang ada . . . , karena masa ini adalah masa yang jahat” (Ef. 5:16 BIS).

Itu tidak berarti bahwa kita harus menghitung detik demi detik yang berlalu seperti yang dilakukan oleh para ilmuwan itu. Namun jika kita menyadari betapa pendeknya masa hidup kita (Mzm. 39:5 BIS), kita dapat diingatkan kembali tentang pentingnya menggunakan waktu yang ada dengan bijaksana.

Alasan Kita Bernyanyi

Ketika saya berumur tiga belas tahun, sekolah saya mewajibkan semua siswa untuk mengikuti empat kelas eksplorasi, di antaranya tentang mengelola rumah tangga, seni, paduan suara, dan pertukangan kayu. Pada hari pertama saya mengikuti kelas paduan suara, pengajarnya memanggil satu demi satu siswa untuk mendekat ke piano dan mendengarkan suara mereka. Ia kemudian akan menempatkan mereka di salah satu bagian ruangan yang sesuai dengan rentang vokal mereka. Saat tiba giliran saya, saya berulang-ulang menyanyikan nada-nada yang dimainkan di piano, tetapi tidak juga diarahkan ke salah satu bagian di ruangan itu. Setelah mendengarkan suara saya, sang pengajar justru mengirim saya ke kantor konseling siswa agar saya diarahkan untuk mengambil kelas eksplorasi yang lain. Sejak saat itu, saya merasa tidak pantas sama sekali untuk bernyanyi karena suara saya yang sumbang.

Saya menyimpan pemikiran itu lebih dari sepuluh tahun lamanya sampai kemudian saya membaca Mazmur 98. Pemazmur mengawali tulisannya dengan ajakan untuk bernyanyi bagi Tuhan (Mzm. 98:1). Ajakan itu sama sekali tidak bergantung pada kualitas suara kita. Kita diajak untuk bernyanyi karena Allah “telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib” (ay.1). Allah senang mendengar nyanyian syukur dan pujian dari anak-anak-Nya.

Pemazmur menunjukkan dua alasan indah untuk memuji Allah dengan penuh sukacita melalui nyanyian dan perilaku kita: karya penyelamatan-Nya dalam hidup kita dan kesetiaan-Nya yang terus-menerus ditunjukkan-Nya kepada kita. Dalam paduan suara Allah, selalu ada tempat bagi setiap dari kita untuk bernyanyi dan memuji segala perbuatan ajaib yang telah dilakukan-Nya.

Menghadapi Badai

Angin menderu, petir menyambar, gelombang ombak menerjang. Saya mengira saya akan mati. Hari itu, saya sedang memancing di danau bersama kakek dan nenek, tetapi kami terlalu lama di luar. Saat matahari terbenam, gelombang air yang bergulung cepat menghantam perahu kami yang kecil. Kakek memerintahkan saya duduk di depan untuk menjaga agar perahu kami tidak terbalik. Rasa ngeri memenuhi hati saya. Namun kemudian, entah bagaimana, saya mulai berdoa. Waktu itu saya baru berumur empat belas tahun.

Dalam doa itu, saya meminta Allah untuk memberikan kepastian dan perlindungan kepada kami. Badai memang tidak mereda, tetapi kami berhasil sampai ke pantai. Hingga hari ini, rasanya belum pernah lagi saya mengalami kepastian akan kehadiran Allah yang begitu kuat seperti pada malam itu.

Yesus tidak asing dengan badai. Dalam Markus 4:35-41, Dia menyuruh murid-murid-Nya untuk menyeberangi danau yang tidak lama kemudian diterjang angin dan ombak besar. Badai pada malam itu menguji iman dan kelihaian para nelayan berpengalaman tersebut. Mereka mengira akan mati. Namun, Yesus menenangkan danau itu dan mendesak murid-murid-Nya untuk lebih beriman.

Demikian juga, Yesus mengundang kita untuk mempercayai-Nya di tengah badai yang kita alami. Adakalanya Dia secara ajaib meneduhkan angin dan ombak yang menerjang. Adakalanya Dia memilih untuk melakukan sesuatu yang sama ajaibnya: Dia menguatkan hati kita dan menolong kita untuk mempercayai-Nya. Yesus meminta kita untuk teguh berpegang pada keyakinan bahwa Dia memiliki kuasa untuk menghardik angin dan ombak, “Diam! Tenanglah!”

Satu Menderita, Semua Menderita

Ketika seorang rekan kerja tidak masuk karena sakit parah, setiap orang di kantor merasa khawatir. Setelah memeriksakan diri ke rumah sakit dan istirahat sepanjang hari, ia dapat kembali bekerja dan menunjukkan penyebab dari sakitnya, yakni batu ginjal. Ia meminta dokternya untuk memberikan batu dari dalam ginjalnya itu sebagai suvenir. Melihat batu itu, saya bisa ikut merasakannya, karena saya pun pernah menderita batu empedu bertahun-tahun lalu. Rasa sakitnya sungguh sangat menyiksa.

Bukankah menarik bahwa sesuatu yang begitu kecil bisa menyebabkan seluruh tubuh menderita? Namun, seperti itulah maksud Rasul Paulus dalam 1 Korintus 12:26: “Jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita.” Sepanjang pasal 12, Paulus menggunakan metafora sebuah tubuh untuk menggambarkan orang-orang Kristen di dunia. Ketika berkata, “Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa” (ay.24), Paulus mengacu pada keseluruhan tubuh Kristus—semua orang Kristen. Kita semua memiliki karunia dan peran yang berbeda-beda. Namun karena kita semua adalah bagian dari satu tubuh, maka jika satu menderita, kita semua ikut menderita. Ketika seorang saudara seiman mengalami penganiayaan, dukacita, atau pencobaan, kita merasakan sakitnya seolah-olah kita sendiri mengalami penderitaan itu.

Rasa sakit yang dialami rekan kerja saya mendorongnya untuk mencari bantuan yang dibutuhkan tubuhnya. Sebagai tubuh Kristus, penderitaan saudara seiman membangkitkan belas kasihan kita dan mendorong kita untuk berbuat sesuatu. Kita dapat mendoakan, memberikan kata-kata penguatan, atau melakukan apa saja yang diperlukan untuk memulihkannya. Demikianlah caranya kita semua hidup sebagai satu tubuh.

Iman, Kasih, dan Pengharapan

Selama 10 tahun, bibi saya, Kathy, merawat ayahnya (kakek saya) di rumahnya. Ia sudah biasa memasak dan membersihkan rumah saat kakek masih sehat, dan kemudian menjadi perawat bagi kakek saat kesehatan kakek menurun.

Pelayanan bibi saya merupakan salah satu contoh di masa kini dari perkataan Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika. Ia menulis bahwa ia mengucap syukur kepada Allah atas “pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita” (1Tes. 1:3).

Bibi saya memberikan pelayanannya dalam iman dan dengan kasih. Perhatiannya yang konsisten setiap hari merupakan buah dari keyakinannya bahwa Allah memanggilnya untuk melakukan pekerjaan yang penting itu. Jerih payah yang ia berikan terlahir dari kasihnya kepada Allah dan ayahnya.

Bibi saya juga bertahan dalam pengharapan. Kakek adalah seorang yang baik hati, tetapi tidaklah mudah melihat kondisinya yang semakin menurun. Bibi harus merelakan waktunya bersama keluarga dan teman-teman, dan membatasi perjalanannya demi merawat kakek. Ia sanggup bertahan karena mempunyai pengharapan bahwa Allah akan menguatkannya hari demi hari, bersama dengan pengharapan akan surga yang menanti kakek saya.

Baik merawat kerabat, menolong tetangga, atau memberikan waktu Anda secara sukarela, kiranya Anda dikuatkan dalam melakukan pekerjaan yang dipercayakan Allah kepada Anda. Jerih payah Anda dapat menjadi kesaksian yang luar biasa tentang iman, pengharapan, dan kasih di dalam Tuhan.

Berapa Lama Lagi?

Dalam karya klasik Lewis Carroll yang berjudul Alice in Wonderland, Alice bertanya, “Berapa lamakah selamanya itu?” Si Kelinci Putih menyahut, “Adakalanya, hanya sedetik.”

Demikianlah rasanya waktu berjalan ketika saudara laki-laki saya, David, tiba-tiba meninggal. Hari-hari menjelang pemakamannya terasa begitu lambat, sehingga kehilangan dan kepedihan yang kami alami pun terasa berlipat ganda. Setiap detik terasa seperti selamanya.

Raja Daud juga mengungkapkan perasaan yang sama, “Berapa lama lagi, Tuhan, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?” (Mzm. 13:2-3). Hanya dalam dua ayat, ia empat kali bertanya kepada Allah, “Berapa lama lagi?” Adakalanya penderitaan hidup seakan-akan tidak akan pernah berakhir.

Di dalam kepedihan seperti itu, Bapa Surgawi memberikan penyertaan dan perhatian-Nya. Seperti Raja Daud, kita dapat datang dengan terbuka kepada-Nya untuk mengungkapkan kepedihan dan rasa kehilangan yang kita alami, karena kita menyadari bahwa Dia tidak akan pernah membiarkan atau meninggalkan kita (Ibr. 13:5). Pemazmur juga menemukan kebenaran itu sehingga ia mengubah ratapannya yang pilu menjadi deklarasi kemenangan, “Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu” (Mzm. 13:6a).

Dalam momen-momen pergumulan kita yang seakan tiada akhir, kasih setia-Nya akan selalu menopang kita. Kita dapat bersukacita di dalam keselamatan-Nya.

Hanya dengan Doa

Di suatu malam yang larut, seorang teman yang sedang menjalani perawatan kanker menelepon saya. Isak tangisnya yang tak tertahankan membuat saya ikut menitikkan air mata dan berdoa dalam hati. Apa yang harus kulakukan, Tuhan?

Ratapannya memilukan hati saya. Saya tidak dapat menghentikan rasa sakitnya, memperbaiki situasinya, bahkan tidak menemukan satu kata pun yang dapat menghiburnya. Namun, saya tahu siapa yang bisa menolongnya. Saat menangis bersamanya, dalam doa yang tersendat-sendat saya terus membisikkan, “Yesus. Yesus. Yesus.”

Tangisnya perlahan mereda dan napasnya melambat. Suara suaminya mengagetkan saya. “Ia sudah tidur,” katanya. “Kami akan meneleponmu besok.”

Saya menutup telepon, sambil terus berdoa dengan tangisan yang membasahi bantal saya.

Injil Markus menceritakan tentang seseorang yang juga ingin menolong orang yang dikasihinya. Seorang ayah yang putus asa membawa anaknya yang menderita kepada Yesus (Mrk. 9:17). Keraguan mewarnai permohonannya, sembari ia menceritakan keadaan mereka yang tampaknya mustahil untuk disembuhkan (ay.20-22). Sang ayah menyadari bahwa ia membutuhkan Yesus untuk membuatnya percaya (ay.24). Ia dan anaknya pun menerima kelepasan, pengharapan, dan kedamaian setelah Yesus turun tangan dan memulihkan mereka (ay.25-27).

Saat orang-orang yang kita kasihi menderita, memang manusiawi untuk ingin melakukan apa yang benar dan mengucapkan kata-kata yang tepat. Namun, hanya Kristus yang sanggup menolong kita dengan pasti. Saat kita menyerukan nama Yesus, Dia memampukan kita untuk percaya dan mengandalkan kuasa kehadiran-Nya.

Meninggalkan Warisan

Beberapa tahun lalu, saya dan ketiga anak laki-laki saya meluangkan waktu seminggu penuh di sebuah peternakan yang telah terabaikan di daerah pedalaman dekat Sungai Salmon, Idaho.

Suatu hari, ketika menjelajahi peternakan itu, saya melewati sebuah kuburan kuno dengan nisan kayu. Tulisan yang tadinya tertera pada nisan tersebut telah terhapus oleh cuaca. Seseorang pernah hidup pada masa lampau, lalu meninggal, dan sekarang telah dilupakan. Kuburan itu begitu menyedihkan. Setelah sampai di rumah, saya menghabiskan waktu beberapa jam untuk membaca sejarah tentang peternakan tua dan wilayah itu, tetapi tidak menemukan informasi apa pun tentang orang yang dikuburkan di sana.

Ada ungkapan menyatakan bahwa orang-orang yang “terbaik” akan diingat kurang lebih 100 tahun lamanya. Orang-orang yang “biasa” akan segera dilupakan. Kenangan tentang generasi yang lalu, seperti tulisan pada nisan kita, akan memudar. Namun sesungguhnya, kita sedang mewariskan sesuatu kepada keluarga Allah. Kasih kita kepada Allah dan orang lain semasa kita hidup akan senantiasa hidup. Maleakhi 3:16-17 mengatakan, “Sebuah kitab peringatan ditulis di hadapan-Nya bagi orang-orang yang takut akan Tuhan dan bagi orang-orang yang menghormati nama-Nya. Mereka akan menjadi milik kesayangan-Ku sendiri, firman Tuhan semesta alam, pada hari yang Kusiapkan.”

Paulus menyebutkan tentang Daud yang “melakukan kehendak Allah pada zamannya” lalu mangkat (Kis. 13:36). Seperti Daud, kiranya kita mengasihi Tuhan, melayani-Nya pada generasi kita, serta mempercayakan kepada Allah warisan iman yang kita tinggalkan. Dia berkata, “Mereka akan menjadi milik kesayangan-Ku sendiri.”

Kekuatan dalam Penderitaan

Ketika Sammy yang berumur 18 tahun menerima Yesus sebagai Juruselamat, keluarga menolaknya karena secara turun-temurun mereka menganut kepercayaan yang berbeda. Namun, Sammy diterima oleh jemaat Tuhan yang memberikan dorongan dan bantuan keuangan untuk pendidikannya. Lalu saat kesaksian Sammy diterbitkan di suatu majalah, penganiayaan yang dialaminya semakin meningkat.

Meski demikian, Sammy tidak pernah lalai menemui keluarganya. Ia mengunjungi mereka kapan pun ia bisa dan berbicara dengan ayahnya, meskipun saudara-saudaranya ngotot menghalanginya ikut dalam urusan keluarga. Saat ayahnya sakit, Sammy mengabaikan hinaan keluarganya dan memperhatikan ayahnya, sambil mendoakannya segera sembuh. Ketika Allah menyembuhkan ayah Sammy, keluarga pun mulai menerimanya. Seiring berjalannya waktu, kesaksian Sammy yang penuh kasih melembutkan perlakuan mereka terhadapnya—dan beberapa anggota keluarganya mulai terbuka untuk mendengar tentang Yesus.

Keputusan kita untuk mengikut Kristus mungkin menimbulkan kesulitan bagi kita. Petrus menuliskan, “Adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung” (1Ptr. 2:19 BIS). Saat mengalami ketidak-nyamanan atau penderitaan karena iman kita, kita rela menanggungnya karena “Kristuspun telah menderita untuk [kita] dan telah meninggalkan teladan bagi [kita], supaya [kita] mengikuti jejak-Nya” (ay.21).

Bahkan saat orang mengejek Yesus, “Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil (ay.23). Yesus adalah teladan kita dalam penderitaan. Kita dapat berpaling kepada-Nya untuk menerima kekuatan.

Sportivitas

Saat pelari asal Singapura, Ashley Liew, menyadari bahwa ia berlari paling depan dalam perlombaan maraton di Pesta Olahraga Asia Tenggara, ia langsung tahu ada yang salah. Ia melihat bahwa para pelari lain yang tadinya memimpin perlombaan itu telah berbelok ke jalan yang salah dan sekarang mereka tertinggal di belakangnya. Ashley bisa saja memanfaatkan kesalahan mereka, tetapi semangat sportivitas yang dipegangnya teguh mengajarkan bahwa cara itu tidak akan menjadikannya pemenang sejati. Ia ingin menang karena berlari lebih cepat, bukan karena para pelari lainnya salah jalan. Karena keyakinan itulah Ashley memperlambat larinya agar mereka dapat menyusul.

Pada akhirnya, Ashley kalah dalam perlombaan itu dan tidak memperoleh medali. Namun, ia mendapat penghormatan dari warga sebangsanya serta penghargaan internasional atas sikapnya yang sportif. Sikap Ashley juga memberikan kesaksian iman yang baik, sehingga tentu ada yang tergerak untuk bertanya, “Apa yang mendorongnya berbuat demikian?”

Sikap Ashley menantang saya untuk membagikan iman saya melalui perbuatan nyata. Perbuatan kita yang sederhana—seperti menunjukkan perhatian, membagikan kebaikan, atau membawa pengampunan—dapat memuliakan Allah. Itu seperti yang dikatakan Paulus, “Kalau engkau mengajar, engkau harus jujur dan bersungguh-sungguh. Pakailah kata-kata yang bijaksana, yang tidak dapat dicela orang” (Tit. 2:7-8 BIS).

Sikap kita yang positif terhadap orang lain dapat menunjukkan kepada dunia bahwa kita mampu tampil beda dalam hidup ini karena Roh Kudus berkarya di dalam kita. Dia akan memberi kita kesanggupan untuk menjauhi dosa dan keinginan duniawi, serta untuk menjalani hidup benar yang mengarahkan orang kepada Allah (ay.11-12).

Berbagi Penghiburan

“Allah telah membawa Anda untuk menghibur hati saya!”

Itulah kata-kata perpisahan dari wanita yang berdiri di depan saya saat kami keluar dari pesawat di Chicago. Selama penerbangan, ia duduk di seberang saya dan bercerita bahwa ia sedang dalam perjalanan pulang setelah melakukan beberapa penerbangan sepanjang hari itu. “Kalau boleh tahu, mengapa Anda melakukan perjalanan pulang-pergi yang sangat singkat seperti ini?” tanya saya. Sambil menunduk, ia berkata, “Hari ini, saya baru saja mengantar putri saya ke tempat rehabilitasi bagi pecandu narkoba.”

Setelah itu, saya mulai menceritakan kisah pergumulan putra saya, Geoff, dengan heroin dan bagaimana Yesus telah membebaskannya. Saat wanita itu mendengarkan cerita saya, senyum merekah di wajahnya yang berlinang air mata. Setelah mendarat, kami sempat berdoa bersama sebelum berpisah dan memohon Allah membebaskan putrinya dari kecanduan.

Malam hari itu, saya memikirkan kata-kata Paulus di 2 Korintus 1:3-4, “Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.”

Di sekitar kita, ada orang-orang yang membutuhkan penghiburan yang hanya dapat diberikan oleh Allah. Allah ingin kita menjangkau mereka dengan belas kasihan yang tulus dan meneruskan kasih yang telah diberikan-Nya kepada kita. Kiranya Allah membawa kita kepada mereka yang membutuhkan penghiburan-Nya hari ini.

Menyenangkan Telinga Kita

Sebagai manusia, kita cenderung mencari informasi yang mendukung pendapat kita. Riset menunjukkan bahwa kita sebenarnya berusaha dua kali lipat untuk mencari informasi yang mendukung posisi kita. Kita cenderung menjauhi pemikiran lain yang menentang pemikiran yang kita pegang dengan teguh.

Demikianlah yang terjadi di masa pemerintahan Raja Ahab di Israel. Ketika ia dan Yosafat, raja Yehuda, mempertimbangkan untuk berperang melawan Ramot-Gilead, Ahab mengumpulkan 400 nabi untuk menolongnya mengambil keputusan. Mereka adalah orang-orang yang ditunjuk Ahab sendiri menjadi nabi. Oleh karena itu, mereka selalu mengatakan apa yang menyenangkan telinga sang raja. Masing-masing dari nabi itu menjawab bahwa Ahab harus berperang, dengan mengatakan, “Allah akan menyerahkannya ke dalam tangan raja” (2Taw. 18:5). Yosafat bertanya apakah masih ada nabi lain yang telah dipilih Allah untuk memberikan petunjuk-Nya. Ahab menjawab dengan ogah-ogahan karena nabi Allah yang bernama Mikha “tidak pernah . . . menubuatkan yang baik tentang [dirinya], melainkan selalu malapetaka” (ay.7). Dan memang, Mikha pun menubuatkan bahwa mereka tidak akan menang, dan bangsa Israel akan “bercerai-berai di gunung-gunung” (ay.16).

Saat membaca kisah mereka, saya menyadari bahwa saya pun cenderung menghindari nasihat yang bijak apabila itu tidak menyenangkan telinga saya. Bagi Ahab, mendengarkan 400 nabi yang selalu mengatakan apa yang menyenangkan hatinya itu ternyata berakibat fatal (ay.34). Kiranya kita selalu rindu mencari dan mau mendengarkan suara kebenaran, firman Allah dalam Alkitab, walaupun suara itu bertentangan dengan kemauan dan pemikiran kita sendiri.

Kesegaran di Teras Depan

Pada suatu hari yang sangat panas, Carmine McDaniel yang berusia 8 tahun ingin memastikan tukang pos yang berkeliling di kompleks rumahnya tidak kepanasan atau mengalami dehidrasi. Jadi, ia menaruh tempat pendingin berisi sekaleng minuman berenergi dan beberapa botol air mineral di teras depan rumahnya. Kamera keamanan di rumahnya merekam reaksi tukang pos itu: “Wow, minuman dingin. Sangat menyegarkan! Terima kasih, Tuhan!”

Ibunda Carmine berkata, “Carmine merasa sudah menjadi ‘kewajibannya’ menyediakan minuman dingin bagi tukang pos, bahkan saat kami sedang tidak berada di rumah.”

Kisah itu menyentuh hati kita, sekaligus juga mengingatkan kita bahwa ada satu Pribadi yang akan “memenuhi segala keperluanmu,” sebagaimana dikatakan oleh Rasul Paulus. Meski mendekam di penjara dan tidak memiliki kepastian akan masa depannya, Paulus bersukacita atas jemaat di Filipi karena melalui bantuan finansial yang mereka berikan, Allah telah memenuhi segala keperluannya. Jemaat itu tidak kaya, bahkan sangat miskin, tetapi dengan murah hati mereka memberikan bantuan kepada Paulus dan orang lain (lihat 2 Korintus 8:1-4). Sebagaimana jemaat di Filipi telah memenuhi keperluan Paulus, Allah juga akan memenuhi segala keperluan mereka “menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Flp. 4:19).

Allah kerap mengirimkan pertolongan ilahi melalui sarana manusiawi. Dengan kata lain, Allah memenuhi keperluan kita melalui pertolongan orang lain. Saat kita mempercayakan kebutuhan kita kepada-Nya, seperti Paulus, kita belajar mengenal rahasia dari kepuasan sejati dan kesanggupan untuk menghadapi keadaan apa pun (ay.12-13).

Halaman