Agregator pasokan

Pemulihan yang Besar

Saya sangat menyukai hujan lebat. Waktu masih kanak-kanak, manakala hujan lebat datang—dengan guntur yang menggelegar dan air yang turun menghunjam ke bumi—saya dan saudara-saudara saya langsung lari keluar rumah untuk bermain air dan meluncur di bawah guyuran hujan. Setelah beberapa saat lamanya, kami pun masuk kembali ke rumah dalam keadaan basah kuyup.

Pengalaman beberapa menit itu sangat seru karena kami begitu terhanyut dalam sesuatu yang luar biasa, sampai-sampai kami tak bisa membedakan apakah kami sebenarnya bersenang-senang atau justru ketakutan.

Gambaran tersebut muncul di benak saya ketika membaca dalam Mazmur 107 bagaimana pemulihan dari Allah disamakan dengan padang gurun yang diubah menjadi “kolam air” (ay.35). Hujan yang bisa mengubah padang gurun menjadi mata air tentu bukan hujan yang ringan, melainkan hujan deras yang airnya membanjiri setiap retakan tanah kering dan mengalirinya dengan kehidupan baru.

Bukankah pemulihan seperti itu yang selama ini kita nanti-nantikan? Ketika kehidupan kita terasa berjalan tanpa arah dan kita “lapar dan haus” akan pemulihan yang tampaknya tak kunjung tiba (ay.4-5), yang kita butuhkan bukanlah pengharapan yang secuil saja. Ketika pola-pola dosa telah berakar dalam diri kita dan menjerat kita “di dalam gelap dan kelam” (ay.10-11), yang dibutuhkan hati kita bukanlah perubahan yang sekadarnya.

Yang kita butuhkan adalah pemulihan yang besar, dan itulah yang sanggup dikerjakan Allah (ay.20). Tidak ada kata terlambat bagi kita untuk membawa ketakutan dan cela kita kepada-Nya. Allah lebih dari sanggup untuk memutuskan belenggu dosa kita dan menghalau kekelaman dari hidup kita dengan terang-Nya (ay.13-14).

Kasih Tanpa Batas

Seorang teman baik menasihati saya untuk menjauhi pemakaian ungkapan “kamu itu selalu . . .” atau “kamu itu tak pernah . . .” dalam pertengkaran, terutama dengan keluarga saya. Alangkah mudahnya kita mengkritik orang lain dan lalai mengasihi orang-orang yang sepatutnya kita kasihi. Namun, kasih Allah yang kekal bagi kita semua tidak pernah berubah.

Mazmur 145 sarat dengan kata semua dan segala. “Tuhan itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya” (ay.9). “Kerajaan-Mu ialah kerajaan segala abad, dan pemerintahan-Mu tetap melalui segala keturunan. Tuhan setia dalam segala perkataan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya. Tuhan itu penopang bagi semua orang yang jatuh dan penegak bagi semua orang yang tertunduk” (ay.13-14). “Tuhan menjaga semua orang yang mengasihi-Nya” (ay.20).

Dalam mazmur tersebut, belasan kali kita diingatkan bahwa kasih Allah tidak terbatas dan tidak pilih kasih. Lalu Perjanjian Baru menyingkapkan bahwa ungkapan teragung dari kasih itu ditemukan dalam diri Yesus Kristus: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16).

Mazmur 145 menyatakan bahwa “Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan. Ia melakukan kehendak orang-orang yang takut akan Dia, mendengarkan teriak mereka minta tolong dan menyelamatkan mereka” (ay.18-19). Kasih Allah bagi kita kekal selamanya dan tak pernah berkesudahan!

Pendosa seperti Kita

Saya punya seorang teman bernama Edith yang menceritakan kepada saya pengalamannya yang menarik ketika ia memutuskan untuk percaya kepada Tuhan Yesus.

Dahulu Edith tidak mempedulikan agama. Namun, pada suatu Minggu pagi, ia pergi ke sebuah gereja di dekat apartemennya untuk mencari sesuatu yang dapat memuaskan jiwanya yang hampa. Khotbah pada hari itu terambil dari Lukas 15, dan ayat 2 berbunyi: “[Yesus] menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.”

Sang pengkhotbah membaca dari Alkitab versi King James dalam bahasa Inggris, dan di sana kata “makan” tertulis “eateth”. Bagi Edith, ayat itu terdengar demikian: “Ia menerima orang-orang berdosa dan Edith bersama-sama dengan mereka.” Edith pun terhenyak! Meskipun akhirnya ia sadar telah salah dengar, tetapi pemikiran bahwa Yesus menerima orang berdosa—dan itu termasuk Edith—terus diingatnya. Sore itu, ia memutuskan untuk datang kepada Yesus dan mendengarkan Dia. Edith mulai membaca kitab-kitab Injil dan tidak lama setelah itu memutuskan untuk beriman kepada Yesus.

Para pemuka agama pada zaman Yesus tidak menerima kenyataan bahwa Dia makan-minum bersama orang-orang yang berdosa dan tidak benar. Aturan-aturan yang mereka buat melarang mereka untuk berhubungan dengan orang-orang seperti itu. Namun, Yesus tidak mempedulikan aturan-aturan itu. Dia menerima siapa saja yang telah jatuh dalam dosa dan membawa mereka mendekat kepada-Nya, tanpa memandang sedalam apa kejatuhan mereka.

Kebenaran tersebut masih berlaku hingga saat ini: Yesus menerima orang-orang berdosa dan juga (nama Anda).

Mengatasi Tantangan

Saya dan beberapa teman berkumpul tiap bulan untuk saling mengingatkan tentang hal-hal yang ingin kami capai masing-masing. Teman saya, Mary, ingin melapis ulang kursi-kursi ruang makannya sebelum akhir tahun. Pada pertemuan bulan November, dengan bercanda ia melaporkan kemajuan yang dialaminya di bulan Oktober: “Butuh waktu sepuluh bulan dan dua jam untuk memperbaiki kursi-kursiku.” Setelah berbulan-bulan gagal mendapatkan bahan-bahan yang diperlukan, atau sulit menemukan waktu luang di sela-sela pekerjaan yang padat atau mengasuh anak balitanya, proyek tersebut ternyata hanya membutuhkan waktu dua jam jika dikerjakan dengan sepenuh hati.

Tuhan memanggil Nehemia mengerjakan proyek yang jauh lebih besar: memulihkan Yerusalem setelah temboknya runtuh selama 150 tahun (Neh. 2:3-5,12). Ketika ia memimpin bangsanya bekerja, mereka diolok-olok, diserang, diganggu, dan digoda untuk berbuat dosa (4:3,8; 6:10-12). Namun, Allah memampukan mereka berdiri teguh dan bertekad baja sehingga tugas yang sulit itu diselesaikan hanya dalam waktu 52 hari.

Mengatasi tantangan sesulit itu membutuhkan lebih dari hasrat atau tekad diri yang kuat. Nehemia digerakkan oleh pemahaman bahwa Allah telah menunjuknya untuk melakukan tugas itu. Kesadaran akan tujuan itu menguatkan orang lain untuk mengikuti kepemimpinannya, meski mereka mendapat perlawanan yang luar biasa. Ketika Allah menugaskan kita—baik untuk memulihkan hubungan yang retak atau memberi kesaksian tentang apa yang telah diperbuat-Nya dalam hidup kita—Dia akan memberi kita apa pun keterampilan dan kekuatan yang diperlukan untuk terus melakukan apa yang Dia minta, apa pun tantangan yang mungkin menghadang kita.

Pengharapan dalam Duka

Ketika saya berumur sembilan belas tahun, salah seorang teman dekat saya meninggal dunia dalam kecelakaan mobil. Selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan kemudian, saya terus diliputi dukacita. Kepedihan yang saya rasakan karena kehilangan seorang teman yang masih muda dan luar biasa itu telah mengaburkan pandangan saya. Adakalanya saya tidak menyadari apa yang sedang terjadi di sekeliling saya. Saya begitu dibutakan oleh duka dan derita hingga saya tidak lagi bisa melihat Tuhan.

Dalam Lukas 24, dua murid yang sedang bingung dan patah semangat setelah kematian Yesus tidak menyadari bahwa mereka sedang berjalan bersama Guru mereka yang telah bangkit. Mereka bahkan tidak sadar juga di saat Yesus menjelaskan dari Kitab Suci tentang alasan Sang Juruselamat yang dijanjikan itu harus mati dan bangkit kembali. Ketika Dia mengambil dan memecahkan roti, barulah mereka tersadar bahwa itulah Yesus (ay.30-31). Walaupun para pengikut Yesus telah menyaksikan kematian yang paling mengerikan ketika Dia mati, Allah menunjukkan bagaimana mereka dapat kembali memiliki pengharapan melalui kebangkitan Yesus dari antara orang mati.

Seperti kedua murid tersebut, kita mungkin sedang diliputi rasa bingung dan dukacita yang besar. Meski demikian, kita dapat memperoleh pengharapan dan dihibur oleh kenyataan bahwa Yesus hidup dan masih berkarya di tengah dunia ini—dan juga di dalam diri kita. Meskipun kita masih mengalami derita dan duka, kita bisa menerima Kristus yang akan berjalan bersama kita di tengah dukacita tersebut. Sebagai Terang Dunia (Yoh. 8:12), Dia membawa sinar pengharapan yang sanggup mengenyahkan kabut yang melingkupi kita.

Lebah dan Ular

Untuk beberapa masalah di rumah, rasanya cuma saya yang bisa menyelesaikannya. Sebagai contoh, baru-baru ini anak-anak saya menemukan sekumpulan lebah telah berpindah ke sebuah celah di tembok teras depan. Jadi, saya pun harus membereskan masalah itu dengan bersenjatakan semprotan serangga.

Saya tersengat lebah. Sampai lima kali.

Tentu saya tak suka disengat lebah. Namun, lebih baik saya yang tersengat daripada anak atau istri. Lagipula, mengurus kesejahteraan keluarga adalah tanggung jawab saya yang utama. Anak-anak saya memiliki kebutuhan dan meminta saya untuk memenuhinya. Mereka mempercayai saya untuk melindungi mereka dari hal yang membuat mereka takut.

Dalam Matius 7, Yesus mengajarkan bahwa kita juga harus membawa setiap kebutuhan kita kepada Allah (ay.7). Kita percaya bahwa Dia mendengar semua permintaan kita. Untuk memperjelas, Yesus memberikan contoh kasus: “Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan?” (ay.9-10). Bagi orangtua yang penyayang, jawabannya sudah jelas. Namun, Yesus tetap menjawab, sambil menantang kita untuk tidak kehilangan kepercayaan akan kebaikan Bapa kita yang murah hati: “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (ay.11).

Saya sangat menyayangi anak-anak saya. Namun, Yesus meyakinkan kita bahwa kasih ayah yang terbaik di dunia sekalipun tak sebanding dengan kasih Allah bagi kita.

Ungkapan Kasih yang Melimpah

Setiap ulang tahun pernikahan kami, suami saya, Alan, memberi saya karangan bunga segar. Ketika ia kehilangan pekerjaannya, saya tidak mengharapkan ungkapan kasih yang berlimpah itu akan berlanjut. Namun, pada ulang tahun ke-19 pernikahan kami, saya menemukan bunga-bunga mekar berwarna-warni sedang menanti saya di atas meja makan. Karena Alan menganggap tradisi tahunan itu penting untuk dilanjutkan, ia pun menghemat sejumlah uang setiap bulan untuk memastikan bahwa ia memiliki cukup uang untuk mengungkapkan kasihnya dengan cara yang menyentuh itu.

Perencanaan suami saya yang cermat menunjukkan kemurahan hatinya yang luar biasa. Itu mirip dengan apa yang dipuji Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus. Sang rasul memuji jemaat tersebut atas persembahan yang mereka kumpulkan dengan terencana dan antusias (2Kor. 9:2,5), sambil mengingatkan mereka bahwa Allah berkenan kepada orang yang memberi dengan murah hati dan sukacita (ay.6-7). Lagipula, tidak ada yang memberi lebih daripada Allah, Pemelihara kita yang baik, yang selalu siap menyediakan semua yang kita butuhkan (ay.8-10).

Kita bisa selalu bermurah hati dan saling memperhatikan karena Tuhan memenuhi semua kebutuhan kita dari segi materi, emosi, dan rohani (ay.11). Ketika memberi, kita dapat mengungkapkan rasa syukur atas semua yang telah diberikan Allah kepada kita. Kita bahkan bisa memotivasi orang lain untuk memuji Tuhan dan rela memberi dari berkat yang telah diberikan Allah kepada mereka (ay.12-13). Memberi dengan murah hati sebagai ungkapan kasih dan syukur yang melimpah dapat menunjukkan keyakinan kita akan pemeliharaan Allah atas seluruh umat-Nya.

Pelayanan yang Murah Hati

Sekelompok kecil orang berdiri di sekeliling pohon raksasa yang tumbang di halaman rumah. Seorang wanita berusia lanjut dengan tongkat di tangannya bercerita bagaimana ia menyaksikan angin badai pada malam sebelumnya menghempaskan “pohon tua raksasa kami. Lebih parahnya lagi,” lanjutnya dengan suara yang serak karena emosi, “badai itu merobohkan tembok batu kami yang indah. Suami saya membangun tembok itu setelah kami menikah. Kami menyukai tembok itu! Sekarang tembok itu tidak ada lagi; sama seperti dirinya.”

Esok paginya, saat wanita tua itu melihat para pekerja sedang membersihkan pohon yang tumbang, ia pun tersenyum lebar. Di antara ranting-ranting ia bisa melihat dua orang dewasa dan seorang anak laki-laki yang pernah menolongnya memotong rumput halaman itu kini sedang mengukur dan membangun kembali tembok batu kesayangannya!

Nabi Yesaya pernah menulis tentang jenis pelayanan yang disukai Allah, yakni perbuatan-perbuatan yang menguatkan hati orang-orang di sekitar kita, seperti yang dilakukan mereka yang memperbaiki tembok wanita tua itu. Bacaan Alkitab hari ini mengajarkan bahwa Allah lebih menghargai pelayanan yang mementingkan kebutuhan orang lain daripada ritual agamawi yang tanpa makna. Allah bahkan memberikan berkat dua arah lewat pelayanan tanpa pamrih yang dilakukan anak-anak-Nya. Pertama, Allah memakai kerelaan kita dalam melayani untuk membantu kaum yang tertindas dan membutuhkan pertolongan (Yes. 58:7-10). Lalu Allah menghargai mereka yang terlibat dalam pelayanan itu dengan membangun atau meneguhkan kembali reputasi mereka sebagai kekuatan yang memberikan dampak positif dalam Kerajaan-Nya (ay.11-12). Pelayanan apa yang akan Anda berikan hari ini?

Menyadari Ketidaksempurnaan

Seorang dosen di kampus memberi saya nasihat yang bijak setelah melihat sifat perfeksionis membuat saya sering menunda-nunda. “Jangan biarkan kesempurnaan mematikan apa yang baik,” katanya. Ia menjelaskan bahwa usaha menampilkan sesuatu yang sempurna bisa menghalangi risiko-risiko yang sebenarnya diperlukan seseorang untuk bertumbuh. Dengan menerima kenyataan bahwa pekerjaan saya tidak akan pernah sempurna, saya justru memperoleh kebebasan untuk terus bertumbuh.

Rasul Paulus memberi kita alasan yang lebih penting untuk berhenti mengupayakan sendiri kesempurnaan diri: kita menjadi tidak sadar bahwa kita membutuhkan Kristus.

Paulus pernah mengalami sendiri kebenaran tersebut. Setelah bertahun-tahun berusaha menaati Hukum Taurat secara sempurna, segalanya berubah total ketika ia bertemu dengan Yesus Kristus (Gal. 1:11-16). Paulus menyadari bahwa jika usahanya sendiri cukup untuk menjadikannya utuh dan benar di hadapan Allah, “maka sia-sialah kematian Kristus” (2:21). Hanya dengan berhenti mengandalkan diri sendirilah, ia dapat mengalami Kristus hidup di dalam dirinya (ay.20). Hanya dalam ketidaksempurnaannya, ia bisa mengalami kuasa Allah yang sempurna.

Itu tidak berarti kita tidak perlu melawan dosa (ay.17); melainkan bahwa kita memang harus berhenti mengandalkan kekuatan kita sendiri untuk dapat bertumbuh secara rohani (ay.20).

Dalam hidup ini, kita akan selalu berada dalam proses. Namun, saat dengan rendah hati kita menyadari kebutuhan kita akan Yesus, satu-satunya Pribadi yang sempurna, Dia akan berdiam di dalam hati kita (Ef. 3:17). Dengan berakar di dalam Dia, kita bebas bertumbuh dalam kasih yang “melampaui segala pengetahuan” (ay.19).

Yesus Tahu Alasannya

Ada teman-teman saya yang telah sembuh sebagian, tetapi masih berjuang menghadapi aspek-aspek memilukan dari penyakit mereka. Ada teman-teman lain yang telah dipulihkan dari kecanduan, tetapi masih bergumul dengan perasaan tak layak dan kebencian terhadap diri sendiri. Saya pun bertanya-tanya, Mengapa Allah tidak memulihkan mereka sepenuhnya—agar mereka tidak lagi menderita selamanya?

Dalam Markus 8:22-26, kita membaca tentang Yesus yang menyembuhkan seorang yang buta sejak lahir. Pertama-tama Yesus membawa orang itu keluar dari kampung. Kemudian Dia meludahi mata orang itu dan “meletakkan tangan-Nya atasnya.” Orang itu mengatakan bahwa ia sekarang melihat orang “berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon.” Lalu Yesus menyentuh mata orang itu lagi, dan ia pun dapat melihat “segala sesuatu dengan jelas.”

Dalam pelayanan-Nya, perkataan dan perbuatan Yesus sering mengejutkan serta membingungkan orang banyak dan juga murid-murid-Nya (Mat. 7:28; Luk. 8:10; 11:14). Banyak murid bahkan mengundurkan diri (Yoh. 6:60-66). Mukjizat dalam dua tahap itu pasti juga membuat bingung. Mengapa Yesus tidak langsung menyembuhkan orang itu?

Kita tidak tahu alasannya. Namun, Yesus tahu apa yang dibutuhkan orang buta tersebut—dan para murid yang melihat penyembuhannya—pada saat itu. Yesus pun tahu apa yang kita butuhkan hari ini untuk membawa kita lebih dekat dalam hubungan kita dengan-Nya. Meskipun kita tidak akan selalu mengerti, kita dapat meyakini bahwa Allah bekerja dalam hidup kita dan dalam hidup orang-orang yang kita kasihi. Dia pasti akan memberi kita kekuatan, keberanian, dan kejelasan yang dibutuhkan agar kita tetap setia mengikut Dia.

Diperhatikan Penuh

Sebelum putra saya bergegas keluar rumah untuk pergi ke sekolah, saya bertanya kepadanya apakah ia sudah menggosok gigi. Sambil bertanya sekali lagi, saya mengingatkannya untuk berkata jujur. Tanpa merasa bersalah, dengan setengah bercanda ia berkata bahwa sebenarnya saya perlu memasang kamera pengawas di kamar mandi agar saya bisa mengecek sendiri apakah ia sudah menggosok gigi sehingga ia tidak perlu berbohong.

Memang keberadaan kamera pengawas dapat membantu untuk mengingatkan kita agar menaati peraturan, tetapi masih ada tempat-tempat yang bisa kita kunjungi dengan tidak diketahui oleh siapa pun atau menggunakan siasat yang membuat kita bisa lolos dari perhatian orang. Meskipun kita bisa menghindari atau mengelabui kamera pengawas, sungguh konyol apabila kita berpikir bahwa kita bisa lepas dari pengawasan Allah.

Allah bertanya, “Sekiranya ada seseorang menyembunyikan diri dalam tempat persembunyian, masakan Aku tidak melihat dia?” (Yer. 23:24). Pernyataan tersebut memperingatkan sekaligus menguatkan kita.

Kita diperingatkan bahwa kita tidak bisa menyembunyikan diri dari Allah. Kita tidak mungkin menghindari atau memperdayai Allah. Segala sesuatu yang kita lakukan terlihat oleh-Nya.

Namun, kita dikuatkan ketika tahu bahwa tidak ada tempat bagi kita di langit atau di muka bumi ini yang lepas dari perhatian Bapa kita di surga. Allah menyertai kita bahkan ketika kita merasa sendirian. Ke mana pun kita melangkah hari ini, kiranya kesadaran akan kebenaran itu menghibur hati dan menguatkan kita untuk tetap taat pada firman-Nya. Allah memperhatikan kita sepenuhnya.

Teruslah Berharap

Di antara ratusan artikel yang pernah saya tulis untuk Our Daily Bread sejak tahun 1988, ada beberapa yang melekat di benak saya. Salah satunya adalah artikel dari pertengahan 90-an yang menceritakan tentang tiga wanita dalam keluarga kami yang sedang mengikuti suatu retret atau perjalanan misi, sehingga Steve, anak saya yang berumur enam tahun, dan saya memiliki waktu khusus antarpria.

Saat kami dalam perjalanan mengunjungi bandara, Steve memandang saya dan berkata, “Kurang asyik ya tidak ada Melissa.” Melissa adalah teman bermain sekaligus saudarinya yang berusia delapan tahun. Tak seorang pun dari kami bisa memperkirakan betapa memilukannya kata-kata itu ketika kemudian Melissa meninggal dunia akibat kecelakaan mobil saat masih remaja. Hidup kami memang menjadi “kurang asyik” setelah peristiwa itu. Perjalanan waktu mungkin sedikit menumpulkan rasa pilu itu, tetapi tidak ada yang dapat menghilangkannya sama sekali. Waktu tidak bisa menyembuhkan luka itu. Namun, ada sesuatu yang sanggup menolong kami: mendengarkan, merenungkan, dan menikmati penghiburan yang dijanjikan oleh Allah, sumber segala penghiburan.

Mendengarkan: “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya” (Rat. 3:22).

Merenungkan: “Tuhan melindungi aku di waktu kesesakan; Ia menyembunyikan aku di dalam Rumah-Nya” (Mzm. 27:5 BIS).

Menikmati: “Inilah penghiburanku dalam sengsaraku, bahwa janji-Mu menghidupkan aku” (Mzm. 119:50).

Hidup berubah sama sekali ketika seseorang yang kita kasihi telah pergi. Namun demikian, janji Allah sanggup memberikan pengharapan dan penghiburan kepada kita.

Perlindungan dari Badai

Ketika masih tinggal di Oklahoma, saya memiliki seorang teman yang hobi “mengejar” tornado. John melacak badai dengan saksama melalui komunikasi radio dengan para “pengejar” badai lainnya dan radar setempat. Ia berusaha menjaga jarak aman sambil mengamati jalur tornado agar ia dapat melaporkan perubahan yang terjadi dan memperingatkan warga di daerah yang akan dilewati tornado tersebut.

Suatu hari jalur sebuah awan pusaran tornado berubah sangat cepat sehingga John menyadari dirinya berada dalam bahaya besar. Untunglah, ia menemukan tempat berlindung dan berhasil menyelamatkan diri.

Pengalaman John membuat saya terpikir akan jalur lain yang juga berbahaya, yakni dosa dalam hidup kita. Alkitab berkata, “Tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut” (Yak. 1:14-15).

Kita melihat adanya perkembangan di sini. Apa yang awalnya terlihat tidak berbahaya dapat dengan cepat berubah menjadi tak terkendali dan menyebabkan kerusakan besar. Namun, ketika godaan mengancam kita, Allah menyediakan bagi kita tempat berlindung dari badai pencobaan yang semakin besar.

Firman Allah berkata bahwa Allah tidak pernah mencobai kita, dan pilihan-pilihan yang kita buat adalah karena kesalahan kita sendiri. Akan tetapi, saat kita “dicobai Ia akan memberikan kepada [kita] jalan ke luar, sehingga [kita] dapat menanggungnya” (1Kor. 10:13). Ketika di tengah pencobaan, kita berpaling kepada Yesus dan meminta pertolongan-Nya, Dia akan memberikan kekuatan yang kita butuhkan untuk mengatasinya.

Yesus adalah perlindungan kita selamanya.

Rumah Abadi

“Mengapa kita harus pindah rumah?” tanya putra saya. Sulit menjelaskan arti rumah, terutama kepada anak berusia lima tahun. Kami memang meninggalkan bangunan rumah itu, tetapi makna sesungguhnya dari rumah adalah tempat orang-orang yang kita kasihi berada. Tempat itulah yang kita dambakan setelah menempuh perjalanan jauh atau selepas bekerja seharian.

Di ruangan atas beberapa jam sebelum kematian-Nya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Janganlah gelisah hatimu” (Yoh. 14:1). Para murid tidak yakin akan masa depan mereka karena Yesus telah menubuatkan kematian-Nya. Namun, Yesus meyakinkan mereka akan kehadiran-Nya dan mengingatkan bahwa mereka akan melihat-Nya kembali. Kata-Nya kepada mereka, “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. . . . Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu” (ay.2). Yesus bisa saja menggunakan kata-kata lain untuk menggambarkan surga. Akan tetapi, Dia tidak memakai kata-kata yang menggambarkan suatu tempat yang tidak nyaman atau asing, melainkan sebuah tempat di mana Pribadi yang kita kasihi, yaitu Dia sendiri, berada.

C. S. Lewis menulis, “Allah Bapa menyegarkan kita di sepanjang perjalanan hidup ini dengan memberikan sejumlah penginapan yang nyaman bagi kita untuk beristirahat, tetapi Dia tidak membiarkan kita menyalahartikan tempat-tempat tersebut sebagai rumah kita yang sebenarnya.” Kita dapat bersyukur kepada Allah untuk “penginapan yang nyaman” dalam hidup ini, tetapi ingatlah bahwa rumah kita yang sebenarnya adalah surga, tempat kita “akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan” (1Tes. 4:17).

Melalui Salib

Rekan kerja saya, Tom, memiliki salib kaca berukuran 20 x 30,5 cm di atas mejanya. Phil, seorang teman yang juga penyintas kanker seperti Tom, memberikan salib itu untuk membantu Tom melihat segala sesuatu “melalui salib”. Salib kaca tersebut selalu mengingatkannya pada kasih dan tujuan Allah yang baik atas hidupnya.

Pemikiran itu sepatutnya menantang semua orang yang percaya kepada Yesus, terutama di dalam masa-masa sulit yang kita hadapi. Dalam keadaan yang sulit, perhatian kita memang lebih mudah terpusat pada masalah daripada kasih Allah.

Kehidupan Rasul Paulus jelas merupakan contoh kehidupan yang memiliki sudut pandang salib. Ia menggambarkan dirinya di saat-saat ia mengalami penderitaan ketika “dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, . . . dihempaskan, namun tidak binasa” (2Kor. 4:9). Ia percaya bahwa di saat-saat yang sulit, Allah sedang “mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan” (ay.17-18).

“Memperhatikan . . . yang tidak kelihatan” tidak berarti bahwa kita mengecilkan persoalan yang ada. Dalam tafsirannya terhadap perikop itu, Paul Barnett menjelaskan, “Di satu sisi, kita harus mempunyai keyakinan yang didasarkan pada kepastian akan tujuan Allah bagi [kita] . . . Di sisi lain, kita sungguh menyadari bahwa kita mengeluh dengan pengharapan yang bercampur dengan penderitaan.”

Yesus menyerahkan nyawa-Nya untuk kita. Kasih-Nya teramat dalam dan rela berkorban. Ketika kita melihat kehidupan ini “melalui salib”, kita menyaksikan kasih dan kesetiaan-Nya. Iman kita kepada-Nya pun makin bertumbuh.

Apa Kegemaran Anda?

Salah seorang pegawai di bank tempat saya menabung memasang foto mobil Shelby Cobra tipe roadster (2 kursi tanpa atap permanen) pada jendela kerjanya. (Cobra adalah mobil dengan performa tinggi yang diproduksi oleh Ford Motor Company.)

Suatu hari, ketika bertransaksi di bank tersebut, saya bertanya kepadanya apakah itu mobilnya. “Bukan,” jawabnya, “itu hanya kegemaran yang saya kejar. Itulah alasan saya bangun dan bekerja setiap hari. Suatu hari nanti, saya akan memiliki mobil itu.”

Saya memahami kegemaran anak muda itu. Salah satu teman saya memiliki mobil Cobra, dan saya pernah sekali mengendarai mobil itu! Mobil yang sangat tangguh! Namun, mobil Cobra, seperti apa pun hal lainnya di dunia ini, tidak sepatutnya menjadi tujuan hidup kita. Menurut pemazmur, orang yang percaya pada hal-hal selain Allah akan “rebah dan jatuh” (Mzm. 20:9).

Itu karena kita diciptakan untuk Allah, dan tak ada satu pun hal yang dapat menggantikannya. Itulah kebenaran yang kita alami sendiri dalam hidup sehari-hari: Kita membeli ini atau itu karena berpikir bahwa semua itu akan membuat kita bahagia. Namun, seperti anak yang menerima selusin lebih hadiah Natal, kita pun bertanya kepada diri sendiri, “Cuma segini?” Selalu saja ada yang kurang.

Tak ada satu pun hal yang ditawarkan dunia ini—hal-hal yang sangat baik sekalipun—yang dapat sepenuhnya memuaskan kita. Hal-hal itu mungkin memberi sedikit kepuasan, tetapi itu pun segera lenyap (1Yoh. 2:17). Memang benar, “Allah tidak bisa memberi kita kebahagiaan dan damai yang terlepas dari diri-Nya,” C. S. Lewis menyimpulkan. “Karena memang tidak ada hal semacam itu.”

Aku Tak Bisa Melakukannya

“Aku tak bisa melakukannya!” keluh seorang murid yang sedang berkecil hati. Yang ia lihat pada lembar kerjanya hanyalah tulisan-tulisan kecil, konsep-konsep yang sulit, dan tenggat yang hampir tiba. Ia membutuhkan bantuan dari gurunya.

Mungkin kita merasakan keputusasaan yang sama ketika membaca Khotbah Yesus di Bukit. “Kasihilah musuhmu” (Mat. 5:44). Kemarahan sama buruknya dengan membunuh (ay.22). Hawa nafsu sama dengan berzina (ay.28). Belum lagi, jika kita pikir hidup kita bisa memenuhi standar-standar itu, kita dihadapkan pada ayat ini: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (ay.48).

“Khotbah di Bukit menghasilkan keputusasaan,” kata Oswald Chambers. Namun, ia melihat itu baik, karena pada “saat putus asa, kita bersedia datang kepada [Yesus] sebagai orang miskin untuk menerima sesuatu dari Dia.”

Dalam cara-cara tidak lazim yang digunakan Allah, orang-orang yang tahu bahwa mereka tak sanggup melakukannya dengan kekuatan sendirilah yang menerima anugerah Allah. Itu seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus, “Menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak. . . . Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat” (1Kor. 1:26-27).

Dalam hikmat Allah, Sang Guru itu juga merupakan Juruselamat kita. Ketika kita datang kepada-Nya dalam iman, dengan pertolongan Roh-Nya, kita boleh menikmati pembenaran, kekudusan, penebusan dari-Nya (ay.30), kasih karunia, dan kuasa untuk menjalani hidup bagi-Nya. Karena itulah, Dia dapat berkata, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat. 5:3).

Tidak Perlu Penjamin

Seseorang yang mempunyai catatan jangka panjang yang buruk dalam hal membayar tagihan biasanya ditolak ketika ia mengajukan pinjaman untuk membeli rumah atau mobil. Pihak pemberi pinjaman enggan untuk mengambil risiko. Sekalipun seseorang berjanji untuk mengembalikan uang yang dipinjamnya, tetapi dengan rekam jejak yang buruk, ia tidak cukup meyakinkan bagi bank untuk menerima permohonannya. Biasanya, orang yang hendak meminjam itu akan mencari seseorang dengan catatan yang baik dalam pelunasan utang dan meminta agar namanya dicantumkan sebagai penjamin pada perjanjian peminjaman. Janji penjamin yang ikut bertanda tangan itu meyakinkan pemberi pinjaman bahwa uang yang diberikan pasti akan dibayar kembali.

Ketika seseorang berjanji kepada kita—baik dalam hal finansial, pernikahan, atau hal-hal lain—kita mengharapkannya untuk menepati janji itu. Kita ingin tahu apakah Allah juga akan menepati janji-janji-Nya. Ketika Allah berjanji kepada Abraham untuk memberkatinya dan memberinya keturunan yang “sangat banyak” (Ibr. 6:14; lihat Kej. 22:17), Abraham percaya bahwa Allah memegang janji-Nya. Sebagai Pencipta dari segala sesuatu, tidak ada yang lebih besar daripada Allah; hanya Allah yang dapat menjamin penggenapan janji-Nya sendiri.

Abraham harus sabar menanti kelahiran anaknya (Ibr. 6:15) (dan ia tidak pernah melihat keturunannya berkembang hingga tak terhitung jumlahnya), tetapi Allah terbukti setia pada janji-Nya. Ketika Allah berjanji untuk selalu menyertai kita (Ibr. 13:5), menjaga kita dengan aman (Yoh. 10:29), dan menghibur kita (2Kor. 1:3-4), kita juga bisa meyakini bahwa Dia pasti akan memenuhi janji-Nya.

Pemberian Terbaik

Ketika sedang mengepak barang untuk pulang ke London, ibu memberi saya sebuah hadiah, yakni salah satu cincin miliknya yang telah lama saya kagumi. Karena terkejut, saya bertanya, “Untuk apa ini, Bu?” Ibu menjawab, “Kupikir kamu dapat memakainya sekarang, tidak perlu menunggu sampai Ibu sudah tiada. Lagipula cincin itu sudah tidak muat lagi di jari Ibu.” Ibu memberikannya sebagai warisan yang diberikan lebih awal. Betapa senangnya saya menerima hadiah yang tak terduga itu!

Ibu memberi saya hadiah berupa materi, tetapi Yesus berjanji bahwa Bapa-Nya akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta-Nya (Luk. 11:13). Jika orangtua yang berdosa saja dapat menyediakan kebutuhan anak-anaknya (seperti ikan dan telur untuk makanan), betapa lebih lagi Bapa kita di surga memberikan apa yang baik bagi anak-anak-Nya. Melalui Roh Kudus yang diberikan-Nya (Yoh. 16:13), kita dapat mengalami pengharapan, kasih, dan damai bahkan di tengah masa-masa yang sulit—dan kita dapat membagikan berkat-berkat tersebut kepada orang lain.

Saat kita bertumbuh besar, mungkin saja kita memiliki orangtua yang tidak dapat sepenuhnya melimpahkan kasih sayang dan perhatian kepada kita. Atau sebaliknya, mungkin kita mempunyai ayah dan ibu yang memberikan teladan kasih dan pengorbanan diri yang patut dipuji. Atau mungkin kita berada di antara kedua pengalaman tersebut. Bagaimanapun pengalaman kita dalam keluarga, kita dapat mengandalkan janji dari Bapa kita di surga. Dia berjanji selalu mengasihi anak-anak-Nya dan mengaruniakan Roh Kudus kepada kita yang percaya kepada-Nya.

Menyembunyikan Luka Hati

Ketika diundang menjadi pembicara di sebuah gereja lokal, saya membawakan topik tentang membawa kepedihan hati kita ke hadapan Allah untuk menerima pemulihan yang ingin diberikan-Nya. Sebelum menutup dengan doa, gembala gereja itu berdiri di tengah-tengah jemaat dan berkata, “Sebagai gembala Anda, saya merasa diberkati dapat bertemu dengan Anda sekalian di sepanjang minggu dan mendengarkan kisah-kisah tentang kepedihan hati yang Anda rasakan. Namun, dalam kebaktian hari Minggu seperti ini, saya sedih melihat Anda justru menyembunyikan kepedihan Anda.”

Hati saya ikut merasa pedih saat mengingat luka hati yang masih tersembunyi dan yang sesungguhnya ingin dipulihkan oleh Allah. Penulis kitab Ibrani menyatakan bahwa firman Allah hidup dan kuat. Banyak orang memahami “firman” tersebut sebagai Alkitab, tetapi arti sebenarnya lebih luas dari itu. Yesus adalah Firman Allah yang hidup. Dia tahu seluruh pikiran dan perbuatan kita, tetapi meskipun demikian, Dia tetap mengasihi kita.

Yesus Kristus menyerahkan nyawa-Nya agar kita dapat datang ke hadapan Allah kapan saja. Meskipun kita tahu bahwa kita tidak perlu memberitahukan segala sesuatu kepada setiap orang yang kita kenal, kita juga tahu bahwa Allah menghendaki gereja-Nya menjadi tempat bagi kita untuk hidup apa adanya sebagai pengikut Kristus—pribadi-pribadi yang memang mengalami kepedihan, tetapi yang telah menerima pengampunan Allah. Sudah sepatutnya gereja menjadi tempat bagi kita semua untuk “saling membantu menanggung beban” (Gal. 6:2 BIS).

Adakah yang sedang Anda sembunyikan dari orang lain hari ini? Apakah Anda juga mencoba untuk menyembunyikan diri dari Allah? Allah memperhatikan kita melalui Yesus, dan Dia tetap mengasihi kita. Maukah Anda mengizinkan Allah mencurahkan kasih-Nya ke dalam hati Anda?

Halaman