Agregator pasokan

Bersyukur untuk Penyelesaian

Di akhir tahun, kita bisa merasa terbebani oleh tugas yang belum kita selesaikan. Tanggung jawab di rumah dan di tempat kerja seakan tiada habisnya, dan apa yang tidak selesai hari ini akan menumpuk di hari berikutnya. Namun, dalam perjalanan iman kita, adakalanya kita perlu berhenti sejenak untuk mensyukuri kesetiaan Allah dan tugas-tugas yang telah diselesaikan.

Setelah perjalanan misi pertama dari Paulus dan Barnabas, “berlayarlah mereka ke Antiokhia; di tempat itulah mereka dahulu diserahkan kepada kasih karunia Allah untuk memulai pekerjaan, yang telah mereka selesaikan” (Kis. 14:26). Meski masih banyak orang yang perlu mendengar kabar baik tentang Yesus Kristus, Paulus dan Barnabas mengambil waktu untuk mengucap syukur atas apa yang telah diselesaikan. “Setibanya di situ mereka memanggil jemaat berkumpul, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka, dan bahwa Ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman” (ay.27).

Apa yang telah Allah kerjakan melalui diri Anda sepanjang tahun ini? Bagaimana Allah telah membuka pintu hati orang-orang yang Anda kenal dan kasihi sehingga mereka dapat mengenal Yesus? Dengan cara-cara yang tak terbayangkan, Allah sedang bekerja melalui diri kita di dalam tugas-tugas yang tampaknya tidak berarti atau belum selesai.

Meskipun kita menyadari bahwa masih ada tugas pelayanan yang belum selesai, janganlah lupa mengucap syukur atas hal-hal yang dilakukan-Nya melalui diri kita. Sukacita atas apa yang telah Allah lakukan oleh kasih karunia-Nya akan membuat kita siap menghadapi setiap hal yang ada di masa mendatang!

Lekat di Mata

Nama burung kolibri dalam bahasa Inggris adalah hummingbird. Nama itu diperoleh dari suara dengungan (hum) yang terdengar saat burung itu mengepakkan sayapnya dengan cepat. Dalam bahasa Portugis, burung itu dikenal sebagai “pencium bunga”, dan dalam bahasa Spanyol disebut sebagai “permata terbang”. Salah satu nama kesukaan saya untuk burung kolibri adalah biulu, yang artinya “lekat di mata” dalam bahasa Zapotec di Meksiko. Dengan kata lain, sekali Anda melihat burung kolibri, Anda tidak akan pernah melupakannya.

G. K. Chesterton pernah menulis, “Tidak sedikit hal yang mengagumkan di dunia, tetapi hanya sedikit keinginan untuk mengaguminya.” Burung kolibri adalah salah satu dari hal yang mengagumkan itu. Apa yang begitu menarik dari mahkluk kecil ini? Mungkin ukuran tubuhnya yang kecil (rata-rata sekitar 5-8 cm) atau kecepatan dari kepakan sayapnya yang mencapai 50-200 kali per detik.

Kita tidak tahu pasti siapa yang menulis Mazmur 104. Namun, penulis mazmur itu tentu sangat terpikat oleh keindahan alam semesta. Setelah menggambarkan banyaknya ciptaan Tuhan yang mengagumkan, seperti pohon-pohon aras dari Libanon dan keledai-keledai hutan, ia bernyanyi, “Biarlah Tuhan bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya” (ay.31). Kemudian ia berdoa, “Biarlah renunganku manis kedengaran kepada-Nya” (ay.34).

Keindahan dan keteraturan alam semesta ini memang dapat membangkitkan rasa kagum dalam diri kita. Namun, bagaimana kita dapat merenungkan segala keindahan itu dengan cara yang menyenangkan Allah? Kita dapat bersukacita dan bersyukur kepada Allah saat kita merenungkan karya ciptaan-Nya dan menghayati segala keindahannya yang mengagumkan.

Kehidupan Sehari-hari

Saya memasukkan belanjaan ke dalam mobil dan dengan hati-hati mengendarai mobil saya keluar dari tempat parkir. Tiba-tiba saja seorang pria muncul menyeberangi jalan persis di depan saya dengan tidak menyadari laju mobil saya. Saya segera menginjak rem dan berhasil menghindari tabrakan dengan orang itu. Pria itu terkejut, mengangkat wajahnya, dan menatap saya. Saat itu juga, saya tahu saya punya dua pilihan: meluapkan rasa frustrasi sambil menatapnya dengan tajam, atau memberikan senyum pengampunan. Saya memilih untuk tersenyum.

Perasaan lega terlihat pada wajah pria itu, dan ia balik tersenyum tanda berterima kasih.

Amsal 15:13 berkata, “Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.” Apakah penulis amsal itu meminta kita untuk selalu tersenyum di setiap gangguan, kekecewaan, dan ketidaknyamanan yang kita alami dalam hidup ini? Tentu tidak! Ada waktunya bagi kita untuk berduka, patah hati, atau bahkan marah atas ketidakadilan yang kita alami. Namun dalam kehidupan kita sehari-hari, sebuah senyuman dapat memberikan kelegaan, pengharapan, dan kasih yang kita perlukan untuk terus melangkah maju.

Mungkin amsal tersebut hendak menyatakan bahwa senyum merupakan dampak alami yang keluar dari kondisi batin kita. “Hati yang gembira” adalah hati yang merasa damai, puas, dan berserah kepada kebaikan Allah. Ketika hati kita memancarkan kegembiraan yang berasal dari dalam batin, kita dapat menanggapi situasi-situasi tak terduga yang kita alami dengan senyuman yang tulus. Siapa tahu, orang lain yang kita temui juga akan tergerak untuk mau menerima pengharapan dan damai sejahtera dari Allah.

Jurnal Ucapan Syukur

Ketika saya baru beriman kepada Tuhan Yesus, seorang pembimbing rohani mendorong saya untuk membuat jurnal ucapan syukur. Setelah itu, saya selalu membawa buku kecil itu ke mana pun saya pergi. Terkadang saya langsung menuliskan ucapan syukur saya. Di lain waktu, saya menuliskan ucapan syukur saya di akhir pekan dalam waktu perenungan pribadi.

Menuliskan ucapan syukur merupakan kebiasaan yang baik. Saya bahkan terpikir untuk melakukan lagi kebiasaan itu. Saya merasa sangat tertolong untuk menyadari kehadiran Allah dan mengucap syukur atas penyediaan serta pemeliharaan-Nya.

Mazmur 117 adalah mazmur terpendek dalam kitab Mazmur. Di dalamnya, penulis mendorong setiap orang untuk memuji Tuhan “sebab kasih-Nya hebat atas kita” (ay.2).

Pikirkanlah ini: Bagaimana Allah telah menunjukkan kasih-Nya kepada Anda—sepanjang hari ini, minggu ini, bulan ini, dan tahun ini? Janganlah memikirkan hal hal yang spektakuler saja. Kasih-Nya juga terlihat di dalam keadaan yang Anda jumpai sehari-hari. Kemudian pikirkanlah bagaimana Allah telah menunjukkan kasih-Nya kepada keluarga Anda, gereja Anda, dan orang lain. Biarlah pikiran Anda dipenuhi dengan ingatan akan kasih-Nya yang besar kepada kita semua.

Sang pemazmur menambahkan bahwa “kesetiaan-Nya tetap selama-lamanya” (ay.2 BIS). Dengan kata lain, Allah akan senantiasa mengasihi kita. Kita masih akan terus menerima banyak hal yang dapat kita syukuri kepada Allah di hari-hari mendatang. Sebagai anak-anak yang dikasihi-Nya, kiranya pujian dan ucapan syukur kepada Allah menjadi ciri khas hidup kita.

Sebagai Anak Raja

Ketika Andrew Cheatle kehilangan ponselnya di pantai, ia menyangka ponsel itu telah hilang selamanya. Namun seminggu kemudian, seorang nelayan bernama Glen Kerley meneleponnya. Ia mengeluarkan ponsel milik Cheatle dari dalam perut seekor ikan kod yang beratnya sekitar 11 kg. Ponsel itu ternyata masih berfungsi setelah dikeringkan.

Hidup ini memang penuh dengan cerita-cerita yang tidak lazim. Kita bahkan menemukan beberapa di antaranya di dalam Alkitab. Suatu hari para pemungut cukai mendatangi Petrus dan bertanya kepadanya tentang pajak Bait Suci, “Apakah gurumu tidak membayar bea dua dirham itu?” (Mat. 17:24). Yesus mengubah situasi itu menjadi kesempatan untuk mengajar. Dia ingin Petrus memahami peran-Nya sebagai raja. Menurut hukum, anak-anak raja tidak dikenakan kewajiban untuk membayar pajak, dan Tuhan menyatakan dengan jelas bahwa Dia maupun para pengikut-Nya tidak berutang apa pun dalam hal pajak Bait Suci (ay.25-26).

Namun, Yesus ingin bertindak hati-hati agar tidak menjadi “batu sandungan” (ay.27), maka Dia meminta Petrus untuk pergi memancing. (Inilah bagian yang aneh dari kisah ini.) Petrus menemukan empat dirham di dalam mulut ikan pertama yang ditangkapnya.

Apa maksud Yesus? Atau lebih baik kita bertanya, “Apa maksud Yesus dalam kaitan dengan Kerajaan-Nya?” Yesus adalah Raja yang sah—walaupun banyak yang tidak mengakui-Nya. Ketika kita menerima Dia sebagai Tuhan atas hidup kita, kita menjadi anak-anak-Nya.

Kita mempunyai banyak tuntutan dan kebutuhan dalam hidup ini, tetapi Yesus akan menyediakan segala sesuatu yang kita perlukan. Pendeta David Pompo pernah berkata, “Dalam pelayanan menjala manusia untuk Kerajaan Surga, kita dapat mengandalkan Allah untuk menyediakan segala kebutuhan kita.”

Natal dan Tradisi

Jika Anda menikmati sebatang candy cane (permen berbentuk tongkat bergaris-garis merah dan putih dengan rasa mint), Anda patut mengucapkan “danke schön” (terima kasih) kepada bangsa Jerman, sebab merekalah yang pertama kalinya menciptakan permen itu di kota Cologne. Saat Anda mengagumi tanaman poinsettia, ucapkan “gracias” kepada bangsa Meksiko, tempat asal tanaman itu. Anda juga bisa mengucapkan “merci beaucoup” kepada bangsa Prancis untuk istilah noel, dan ucapkan “cheers” kepada bangsa Inggris untuk tanaman mistletoe. Semua itu adalah bagian dari tradisi dalam perayaan Natal, terutama di dunia Barat.

Akan tetapi, di saat kita menikmati tradisi dan kemeriahan Natal di mana pun kita berada di dunia ini, marilah kita juga dengan tulus mengucapkan “terima kasih” kepada Allah kita yang Mahabaik, Mahakasih, dan Maha Pemurah. Karena Dialah, kita mempunyai alasan untuk merayakan Natal—pemberian-Nya dalam rupa seorang bayi yang lahir di palungan Yudea lebih dari 2.000 tahun yang lalu. Malaikat mengumumkan kedatangan dari pemberian Allah bagi manusia itu dengan mengatakan, “Sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat” (Luk. 2:10-11).

Mungkin pada Natal kali ini Anda merasa senang melihat pohon Natal yang terang dan menerima beragam hadiah yang indah. Namun, ingatlah bahwa sukacita sejati kita alami ketika kita mengarahkan perhatian kita kepada sang Bayi bernama Yesus, yang datang untuk “menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Mat. 1:21). Kiranya itu menjadi fokus utama kita sembari kita bersyukur kepada Allah atas pemberian Natal dari-Nya yang luar biasa.

Kabar Pengharapan

Reginald Fessenden telah berupaya selama bertahun-tahun untuk dapat menyiarkan komunikasi lewat gelombang radio nirkabel. Para ilmuwan lain menganggap idenya radikal dan tidak lazim. Mereka tidak yakin bahwa Fessenden akan berhasil. Namun, ia berhasil melakukannya pada tanggal 24 Desember 1906, dengan menjadi orang pertama yang memainkan musik melalui gelombang radio.

Fessenden mempunyai kontrak dengan sebuah perusahaan buah-buahan yang telah memasang sistem nirkabel di sekitar selusin kapal untuk mengabarkan tentang cara memanen dan menjual pisang. Pada malam Natal itu, Fessenden mengatakan bahwa ia meminta para operator sistem nirkabel di semua kapal untuk mendengar baik-baik siarannya. Tepat jam 9, mereka pun mendengar suaranya.

Kabarnya, Fessenden memainkan rekaman sebuah nyanyian aria, kemudian ia mengambil biola untuk memainkan lagu “O Holy Night” (Malam Kudus), dan menyanyikan semua baitnya sembari menggesek biolanya. Selanjutnya, ia menyampaikan salam Natal dan membacakan Lukas 2 tentang kisah para malaikat yang memberitakan kelahiran seorang Juruselamat kepada para gembala di Betlehem.

Para gembala di Betlehem lebih dari 2.000 tahun yang lalu maupun para pelaut di atas kapal-kapal milik United Fruit Company pada tahun 1906 sama-sama mendengar kabar pengharapan yang mengejutkan dan tak terduga di tengah kegelapan malam. Dan Allah masih menyampaikan kabar pengharapan yang sama kepada kita hari ini. Telah lahir bagi kita Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan! (Luk. 2:11). Kita dapat bergabung dengan paduan suara malaikat dan orang percaya di sepanjang abad yang merespons kabar itu dengan menyatakan “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (ay.14).

Allah Menyertai Kita

“Kristus ada besertaku, Kristus ada di depanku, Kristus ada di belakangku, Kristus ada di dalamku, Kristus ada di bawahku, Kristus ada di atasku, Kristus ada di kananku, Kristus ada di kiriku . . .” Lirik himne itu ditulis oleh Santo Patrick, seorang Kristen asal Irlandia dari abad ke-5. Himne tersebut bergema di dalam benak saya ketika membaca tulisan Matius tentang kelahiran Yesus. Membaca bagian itu terasa seperti sebuah pelukan hangat yang mengingatkan bahwa saya tidak pernah sendiri.

Injil Matius menceritakan kepada kita bahwa inti Natal adalah tentang Allah yang berdiam bersama umat-Nya. Matius mengutip nubuat Nabi Yesaya tentang seorang anak yang akan dinamakan Imanuel, yang berarti “Allah menyertai kita” (Yes. 7:14). Lewat kutipan itu, Matius menyatakan bahwa penggenapan utama dari nubuat tersebut adalah Yesus, Pribadi yang dilahirkan oleh kuasa Roh Kudus untuk menjadi Allah yang menyertai kita. Kebenaran itu begitu penting sehingga Matius memulai catatan Injilnya dengan pernyataan itu, lalu menutupnya dengan perkataan Yesus kepada murid-murid-Nya: “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20).

Lirik himne karya Santo Patrick mengingatkan saya bahwa Kristus selalu menyertai orang percaya melalui Roh-Nya yang hidup di dalam mereka. Ketika gelisah atau takut, saya dapat memegang teguh janji-Nya bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkan saya. Ketika sulit untuk tidur, saya bisa meminta Dia memberikan damai sejahtera-Nya. Ketika sedang dipenuhi sukacita, saya bisa bersyukur kepada-Nya atas semua karya-Nya yang indah dalam hidup saya.

Yesus adalah Imanuel—Allah menyertai kita.

Malam Kudus bagi Jiwa

Lama sebelum Joseph Mohr dan Franz Gruber menciptakan lagu Natal “Silent Night” (Malam Kudus) yang terkenal, Angelus Silesius telah menulis puisi berikut:

Lihatlah! Di malam kudus telah lahir Anak Allah,
yang tersesat dan terabaikan pun selamatlah.
Maukah, hai manusia, alami malam kudus dalam jiwamu,
Allah lahir di dalammu dan pulihkanmu.

Silesius, seorang biarawan asal Polandia, menerbitkan puisi tersebut pada tahun 1657 dalam buku The Cherubic Pilgrim (Perjalanan Malaikat). Dalam ibadah malam Natal tahunan di gereja kami, dengan indahnya paduan suara melantunkan lagu berjudul “Maukah Alami Malam Kudus dalam Jiwamu” yang terinspirasi dari puisi karya Silesius.

Dua sisi misteri dalam Natal adalah Allah menjadi sama dengan kita supaya kita dapat menjadi satu dengan-Nya. Yesus menderita segala sesuatu yang ternoda supaya kita dapat disucikan. Oleh karena itu, Rasul Paulus menulis, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya” (2Kor. 5:17-18).

Pada saat Natal, baik kita berkumpul bersama keluarga dan teman atau kita jauh dari semua yang kita rindukan, kita tahu pasti bahwa Yesus datang untuk lahir di dalam hati kita.

Maukah engkau jadi palungan sang bayi?
Di dalam hatimu Allah terlahir kembali.

Rumah di Hari Natal

Suatu waktu di hari Natal, saya mendapat tugas di suatu tempat yang lokasinya tidak lazim bagi kebanyakan orang. Dalam perjalanan kembali ke kamar, saya diterpa udara dingin yang tertiup dari Laut Hitam. Saat itu, saya sangat merindukan rumah.

Saat tiba di kamar, saya membuka pintu dan seakan menemukan suatu keajaiban. Teman sekamar saya yang menyukai seni baru saja menyelesaikan proyek terbarunya—pohon Natal keramik setinggi hampir 50 cm yang kini menerangi kegelapan kamar kami dengan kelap-kelip warna-warni. Untuk sementara waktu, saya merasa seperti sudah pulang ke rumah!

Saat Yakub kabur dari Esau, saudaranya, Yakub terdampar sendirian di tempat yang asing. Saat tidur di tanah, ia bertemu Allah dalam mimpi. Dan Allah menjanjikan kepada Yakub sebuah rumah. “Tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu,” kata Allah kepada Yakub. “Olehmu serta keturunanmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kej. 28:13-14).

Tentu saja, dari Yakub dan keturunannya akan datang Mesias yang dijanjikan, satu Pribadi yang meninggalkan rumah-Nya untuk membawa kita pulang dan tinggal bersama dengan-Nya. “Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada,” kata Yesus kepada murid-murid-Nya (Yoh. 14:3).

Suatu malam di bulan Desember itu, saya duduk dalam kegelapan kamar sembari memandang pohon Natal yang terang itu. Tidak bisa tidak, saya pun terpikir tentang Sang Terang yang datang ke dunia untuk menunjukkan jalan kepada rumah kita yang kekal.

Memecah Kesunyian

Di akhir Perjanjian Lama, Allah seperti sedang bersembunyi. Selama empat abad, orang Yahudi menanti dan bertanya-tanya. Allah terlihat seperti pasif, tidak peduli, dan tidak mendengarkan doa-doa mereka. Hanya tersisa satu harapan: janji tentang Mesias yang sudah dikumandangkan sejak lama. Orang Yahudi mempertaruhkan segalanya demi janji itu. Lalu sesuatu yang monumental terjadi. Kabar kelahiran seorang bayi pun tersiar.

Anda dapat merasakan kegembiraan yang luar biasa ketika membaca reaksi orang-orang dalam kitab Lukas. Peristiwa seputar kelahiran Yesus terdengar bagaikan drama musikal yang riang gembira. Para tokoh berkerumun masuk panggung: seorang imam lanjut usia (Luk. 1:5-25), seorang perawan yang terkejut (1:26-38), sang nabi perempuan tua bernama Hana (2:36). Maria sendiri mengutarakan sebuah pujian indah karena hatinya begitu gembira (1:46-55). Bahkan sepupu Yesus yang belum lahir melonjak kegirangan di dalam rahim ibunya (1:41).

Lukas dengan cermat menghubungkan janji-janji di Perjanjian Lama tentang Mesias dengan peristiwa ini. Malaikat Gabriel bahkan menyebut Yohanes Pembaptis sebagai “Elia” yang diutus untuk menyiapkan jalan bagi Tuhan (1:17). Jelaslah, sesuatu yang penting akan terjadi di planet Bumi. Di tengah para penduduk desa yang muram dan terhimpit oleh penjajahan, di suatu pelosok daerah Kekaisaran Romawi, sesuatu yang indah akan segera datang.

Langkah yang Radikal

Beberapa tahun lalu, sahabat saya sempat kehilangan putra kecilnya saat berjalan menerobos kerumunan orang di salah satu stasiun kereta di pusat kota Chicago. Sungguh pengalaman yang menakutkan. Dengan kalang kabut, ia meneriakkan nama anaknya dan berlari balik ke eskalator untuk menelusuri langkahnya kembali dengan harapan akan menemukan putranya. Berpisah selama beberapa menit terasa seperti berjam-jam, dan syukurlah, putranya tiba-tiba menyeruak dari kerumunan dan berlari menuju dekapannya.

Memikirkan tentang sahabat saya yang bersedia melakukan apa saja untuk menemukan putranya yang hilang membuat saya kembali bersyukur atas karya luar biasa yang dilakukan Allah untuk menyelamatkan kita. Sejak manusia citra Allah yang pertama—Adam dan Hawa—terhilang dalam dosa, Allah berduka atas putusnya persekutuan Dia dengan umat-Nya. Dia mengambil langkah yang radikal demi memulihkan persekutuan tersebut dengan mengutus Anak-Nya yang tunggal “untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Luk. 19:10). Jika Yesus tidak pernah lahir, dan jika Dia tidak rela mati untuk membayar dosa-dosa kita dan membawa kita kembali kepada Allah, Natal pun tidak akan ada untuk kita rayakan.

Jadi pada Natal tahun ini, mari bersyukur karena Allah mengambil langkah yang radikal dengan mengutus Yesus demi memulihkan persekutuan kita dengan-Nya. Meskipun pernah terhilang, tetapi karena Yesus Kristus, kita telah ditemukan!

Pengharapan Kekal

Seminggu sebelum Natal, dua bulan setelah ibu saya wafat, urusan belanja dan dekorasi Natal sama sekali tidak menjadi prioritas saya. Saya menolak upaya suami yang ingin menghibur saya di saat saya masih berduka karena kehilangan seorang ibu yang sangat beriman. Saya jengkel saat anak kami, Xavier, membentangkan dan memasang untaian lampu Natal ke dinding rumah. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia menyalakan lampu Natal tersebut sebelum ia dan ayahnya berangkat kerja.

Saat lampu warna-warni itu berkelap-kelip, Allah pun menarik saya keluar dari kegelapan dengan penuh kelembutan. Sepedih apa pun kondisi yang ada, pengharapan saya tetap terjamin dalam kebenaran Allah. Kebenaran firman-Nya selalu mengungkapkan karakter-Nya yang tak pernah berubah.

Mazmur 146 menegaskan apa yang diingatkan Allah kepada saya di pagi yang suram itu: Saya dapat senantiasa “[berharap] pada Tuhan,” penolong saya, Allah yang perkasa dan penyayang (ay.5). Sebagai Pencipta segala sesuatu, Allah “tetap setia untuk selama-lamanya” (ay.6). Dia “menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas,” melindungi dan menyediakan kebutuhan kita (ay.7). “Tuhan menegakkan orang yang tertunduk” (ay.8). Dia “menjaga” kita, menegakkan kita, dan menjadi Raja untuk selama-lamanya (ay.9-10).

Adakalanya, menjelang Natal, hari-hari kita penuh dengan saat-saat yang menyenangkan. Di lain waktu, mungkin saja kita mengalami kehilangan, kepedihan, atau kesepian. Namun di setiap saat, Allah berjanji untuk menjadi terang kita dalam kegelapan dan memberi kita pertolongan yang nyata serta pengharapan yang kekal.

Lemah Lembut

Masalah-masalah yang kita alami dalam hidup ini terkadang membuat kita mudah tersinggung dan lepas kendali. Namun, kita tidak patut membenarkan perilaku buruk tersebut karena akan menghancurkan hati orang-orang yang kita kasihi dan menyebabkan kesengsaraan kepada mereka yang ada di sekeliling kita. Kita gagal menjadi berkat bagi orang lain ketika perilaku kita tidak menyenangkan bagi mereka.

Perjanjian Baru memiliki istilah untuk sebuah sifat yang meluruskan sikap kita yang tidak menyenangkan, yaitu lemah lembut. Istilah tersebut menggambarkan kebaikan dan kemurahan hati dalam diri seseorang. Efesus 4:2 mengingatkan kita, “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar.”

Lemah lembut berarti bersedia menerima keterbatasan dan kesulitan yang ada tanpa melampiaskan kejengkelan kita terhadap orang lain. Itu berarti menunjukkan rasa syukur atas perlakuan sesederhana apa pun yang kita terima dan menoleransi mereka yang tidak memperlakukan kita dengan baik. Itu berarti sabar terhadap orang yang menyusahkan—terutama anak-anak kecil yang berisik dan gaduh; karena bersikap baik kepada anak-anak merupakan ciri dari orang yang baik dan lemah lembut. Lemah lembut berarti tetap berbicara dengan tenang dan lembut saat dihasut. Itu dapat berarti mengambil sikap diam; karena ketenangan sering menjadi respons yang tepat terhadap kata-kata kasar.

Yesus itu “lemah lembut dan rendah hati” (Mat. 11:29). Jika kita memohon kepada-Nya, pada waktunya, Dia akan membentuk kita serupa gambar-Nya. George MacDonald berkata, “[Allah] tidak ingin mendengar dari [kita] sebuah nada yang menyinggung atau sepatah kata yang melukai hati orang lain . . . . Yesus lahir untuk menebus kita dari dosa tersebut, seperti juga dari dosa-dosa lainnya.”

Allah Lebih Besar dari Apa Pun

Ketika kami berkendara di kawasan bagian utara Michigan, Marlene, istri saya, berseru, “Dunia ini besar sekali. Benar-benar tak terbayangkan!” Ia mengucapkan komentar itu saat kami melintasi sebuah papan yang menandai garis lintang 45 derajat—titik tengah antara garis khatulistiwa dan Kutub Utara. Kami pun berbicara tentang betapa kecilnya manusia dan betapa besarnya dunia ini. Namun dibandingkan dengan ukuran alam semesta, planet kecil yang kita diami ini hanyalah setitik debu.

Jika dunia ini begitu besar, dan alam semesta jauh lebih besar, seberapa besarkah Pribadi yang menciptakannya dengan penuh kuasa? Alkitab mengatakan, “Karena di dalam [Yesus]-lah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” (Kol. 1:16).

Itu adalah kabar baik, karena Yesus yang menciptakan alam semesta juga datang untuk menyelamatkan kita dari dosa dan menjaga kita dari hari ke hari, bahkan sampai selamanya. Pada malam sebelum kematian-Nya, Yesus berkata, “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16:33).

Saat menghadapi tantangan hidup, baik besar atau kecil, kita dapat berseru kepada Tuhan Yesus—Pribadi yang telah menciptakan alam semesta, yang telah mati dan bangkit kembali dari kematian, dan yang telah menang atas kehancuran dunia ini. Di tengah pergumulan kita, Dia sanggup memberikan damai sejahtera-Nya bagi kita.

Lebih dari Sekadar Pahlawan

Sementara penggemar Star Wars di seluruh dunia dengan semangat menantikan peluncuran Episode 8, “The Last Jedi”, para pengamat terus menganalisis kesuksesan luar biasa dari film-film serial Star Wars yang pertama kali ditayangkan tahun 1977. Frank Pallotta, reporter media dari CNNMoney, mengatakan bahwa Star Wars disukai oleh banyak orang yang merindukan “suatu harapan baru dan kekuatan kebaikan di masa ketika dunia membutuhkan sosok pahlawan”.

Pada masa kelahiran Yesus, orang Israel sedang hidup dalam tekanan dan sangat merindukan kedatangan Mesias yang telah lama dijanjikan. Banyak orang mengharapkan kedatangan seorang pahlawan yang akan membebaskan mereka dari penindasan Romawi. Namun, Yesus tidak datang sebagai pahlawan politik atau militer. Dia justru datang sebagai bayi mungil yang lahir di kota Betlehem. Akibatnya, banyak orang tidak mengenali siapa Yesus sebenarnya. Rasul Yohanes menulis, “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yoh. 1:11).

Lebih dari sekadar pahlawan, Yesus datang sebagai Juruselamat kita. Dia lahir untuk membawa terang Allah ke dalam kegelapan dan untuk memberikan nyawa-Nya agar setiap orang yang menerima-Nya dapat diampuni dan dibebaskan dari kuasa dosa. Yohanes menyebut Yesus sebagai “Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (ay.14).

“Semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (ay.12). Sungguh, Yesus adalah pengharapan sejati dan satu-satunya bagi dunia ini.

Dengan Pertolongan Allah

Memasuki usia lanjut, saya lebih sering mengalami nyeri sendi, terutama saat hawa dingin menerpa. Kadangkala saya merasa tidak berdaya menghadapi segala tantangan di usia senja.

Karena itulah, pahlawan saya adalah laki-laki tua bernama Kaleb—seseorang yang pernah dikirim Musa untuk mengintai Kanaan, Tanah Perjanjian (Bil. 13–14). Setelah para pengintai yang lain memberikan laporan yang kurang baik, hanya Kaleb dan Yosua—dari 12 pengintai—yang diperkenankan Allah untuk memasuki Kanaan. Di Yosua 14, tibalah saatnya bagi Kaleb untuk menerima bagian tanahnya. Namun, masih ada musuh-musuh yang perlu disingkirkan. Karena tidak mau menyerahkan tugas berperangnya pada generasi yang lebih muda, Kaleb yang menolak untuk pensiun itu menyatakan, “Engkau sendiri mendengar pada waktu itu, bahwa di sana ada orang Enak dengan kota-kota yang besar dan berkubu. Mungkin Tuhan menyertai aku, sehingga aku menghalau mereka, seperti yang difirmankan Tuhan” (Yos. 14:12).

“Tuhan menyertai aku.” Pola pikir itulah yang membuat Kaleb selalu siap berperang. Ia berfokus pada kekuatan Allah, bukan pada kekuatan-nya sendiri, dan juga bukan pada usianya yang lanjut. Allah saja yang akan menolongnya melakukan apa pun yang perlu dilakukannya.

Kebanyakan dari kita mungkin tidak terpikir akan mengerjakan sesuatu yang besar setelah mencapai usia lanjut. Namun sesungguhnya, kita masih dapat melakukan hal-hal besar bagi Allah, tak peduli berapa pun usia kita. Ketika kesempatan-kesempatan besar muncul, seperti kesempatan yang Kaleb terima, kita tidak perlu menghindarinya. Dengan pertolongan Allah, kita dapat menjadi pemenang!

Saya Tidak Layak

Sebagai salah satu pemimpin orkestra yang paling terkenal dari abad ke-20, Arturo Toscanini dikenang karena sikapnya yang senang memberikan pujian kepada orang-orang yang memang pantas mendapatkannya. Dalam buku Dictators of the Baton, penulis David Ewen menggambarkan bagaimana para anggota orkestra New York Philharmonic berdiri dan bertepuk tangan untuk Toscanini di akhir latihan mereka memainkan Simfoni No. 9 karya Beethoven. Ketika keriuhan itu mereda, dengan air mata yang menetes, Arturo berkata dengan suara parau: “Saya tidak layak . . . Beethoven yang layak! . . . Toscanini bukanlah siapa-siapa.”

Dalam surat-suratnya di Perjanjian Baru, Rasul Paulus juga menolak untuk menerima pujian atas pengaruh dan wawasan rohaninya. Paulus tahu bahwa ia bagaikan seorang ayah dan ibu rohani bagi banyak orang yang beriman kepada Kristus. Paulus mengakui bahwa ia telah bekerja keras dan sering menderita dalam upayanya menguatkan iman, pengharapan, dan kasih dalam diri banyak orang (1Kor. 15:10). Namun, ia sadar bahwa sesungguhnya ia tidak layak menerima pujian dari orang-orang yang telah diberkati lewat teladan iman, kasih, dan wawasannya.

Jadi demi kebaikan para pembaca suratnya, dan juga demi kebaikan kita, Paulus seakan berkata, “Aku tidak layak, saudara-saudaraku sekalian. Kristus saja yang layak . . . Paulus bukanlah siapa-siapa.” Kita semua hanyalah pembawa pesan yang diberikan oleh satu Pribadi yang memang layak untuk menerima segala pujian kita.

Mengobati Kekhawatiran

Kami sangat bersemangat saat akan pindah ke tempat yang baru, mengikuti pekerjaan suami saya. Namun, segala ketidakpastian dan kesulitan yang terbayang sempat membuat saya khawatir. Saya khawatir soal menyortir dan mengepak barang. Mencari tempat tinggal. Mencari pekerjaan baru untuk saya juga. Bagaimana melakukan perjalanan di kota yang baru dan akankah saya merasa kerasan di sana. Semua itu . . . sangat merisaukan. Saat memikirkan tentang segala hal yang “harus” saya kerjakan, kata-kata yang ditulis Rasul Paulus muncul di benak saya: Jangan khawatir, berdoalah (Flp. 4:6-7).

Paulus tentu juga pernah merasa khawatir di tengah ketidakpastian dan kesulitan. Ia pernah mengalami karam kapal. Ia pernah dipukuli. Ia pernah dipenjara. Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus menguatkan para sahabatnya yang juga menghadapi ketidakpastian dan mengatakan kepada mereka, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur” (ay.6).

Perkataan Paulus sangat menguatkan saya. Hidup ini tidak mungkin lepas dari ketidakpastian—baik itu berupa keputusan besar yang mempengaruhi hidup, masalah keluarga, kesehatan yang memburuk, atau kesulitan keuangan. Saya terus belajar untuk memahami bahwa Allah peduli. Dia mengundang kita untuk melepaskan kekhawatiran kita akan segala hal yang tidak pasti dengan menyerahkan semua itu kepada-Nya. Saat kita melakukannya, Allah yang Mahatahu menjanjikan bahwa damai sejahtera-Nya “yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiran [kita] dalam Kristus Yesus” (ay.7).

Semua Diberikan Cuma-Cuma

Kafe Rendezvous di London memiliki penerangan yang bagus, sofa-sofa yang nyaman, dan aroma kopi yang semerbak. Yang tidak dimilikinya hanyalah daftar harga. Kafe tersebut awalnya merupakan bisnis yang dikelola sebuah gereja lokal. Namun, kafe itu berubah setelah setahun berjalan. Para pengelola kafe merasa bahwa Allah memanggil mereka untuk melakukan sesuatu yang radikal—menyajikan semua makanan dan minuman yang ada di menu secara cuma-cuma. Kini Anda dapat memesan kopi, kue, atau roti isi tanpa membayar sepeser pun. Kotak donasi pun tidak tersedia. Semua yang disajikan itu diberikan cuma-cuma.

Saya bertanya kepada manajer kafe itu tentang motivasi dari kemurahan hati mereka. “Kami hanya berusaha memperlakukan siapa saja sebagaimana Allah telah memperlakukan kami,” katanya. “Allah terus memberi, baik kita berterima kasih kepada-Nya atau tidak. Dia begitu bermurah hati kepada kita, jauh melampaui apa pun yang dapat kita bayangkan.”

Yesus Kristus telah mati demi menyelamatkan kita dari dosa dan mendamaikan kita dengan Allah. Dia telah bangkit dari kematian dan hidup selamanya. Karena alasan itulah, setiap kesalahan yang telah kita lakukan dapat diampuni, dan kita dapat memiliki hidup baru sekarang (Ef. 2:1-5). Dan salah satu hal yang paling menakjubkan tentang itu adalah bahwa semua itu diberikan cuma-cuma. Kita tidak akan pernah dapat membayar hidup baru yang Yesus berikan. Tidak ada andil apa pun yang bisa kita tambahkan (ay.8-9). Seluruhnya diberikan cuma-cuma.

Ketika para pegawai di Kafe Rendezvous menyajikan kue dan kopi, mereka ikut menunjukkan kemurahan hati Allah kepada para pengunjung. Anda dan saya menerima hidup kekal secara cuma-cuma karena Yesus telah lunas membayar harganya.

Halaman