Agregator pasokan

Komunitas Baru

Teman saya, Carrie, mempunyai putri berusia lima tahun, Maija. Maija suka bermain dengan cara yang menarik, yakni dengan mencampur boneka-boneka dari beragam permainan menjadi suatu komunitas baru. Di dunia imajinasinya, semua boneka itu saling memiliki. Boneka-boneka itu adalah miliknya. Ia yakin semua boneka itu merasa paling senang saat berkumpul bersama, meskipun ukuran dan bentuk mereka berbeda-beda.

Kreativitas Maija mengingatkan saya tentang maksud Allah bagi gereja. Pada hari Pentakosta, penulis Lukas berkata, “Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit” (Kis. 2:5). Meski mereka berbeda budaya dan bahasa, kedatangan Roh Kudus menjadikan mereka suatu komunitas baru: gereja. Sejak saat itu, mereka dijadikan satu tubuh, disatukan oleh kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.

Para pemimpin dari satu tubuh yang baru itu merupakan sekelompok orang yang dipersatukan Yesus selama Dia berada di bumi, yakni murid-murid-Nya. Jika Yesus tidak pernah mempersatukan mereka, kemungkinan besar mereka tidak akan pernah bersatu. Dan sekarang lebih banyak orang—“kira-kira tiga ribu jiwa” (Kis. 2:41)—telah menjadi pengikut Kristus. Syukur kepada Roh Kudus, orang-orang yang dahulu terpisah kini menjadi sekelompok orang yang menganggap “segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama” (ay.44). Mereka bersedia membagikan apa saja yang mereka miliki kepada satu sama lain.

Roh Kudus terus menjembatani kesenjangan antara berbagai kelompok manusia yang berbeda-beda. Kita mungkin tidak selalu akur, juga tidak selalu dapat memahami satu sama lain. Namun, sebagai umat percaya di dalam Kristus, kita saling memiliki.

Seandainya

Adakalanya masalah seakan menerjang hidup kita. Di lain kesempatan, mukjizat terjadi dalam hidup kita.

Tiga pemuda yang berada dalam pembuangan di Babel dihadapkan dengan raja yang menakutkan dari negeri itu. Dalam keadaan itu, mereka dengan berani menyatakan bahwa apa pun yang terjadi, mereka tidak akan menyembah patung emas raksasa yang menjulang di depan mereka. Bersama-sama mereka menyatakan, “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan . . . menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu” (Dan. 3:17-18).

Ketiga pemuda itu—Sadrakh, Mesakh, Abednego—akhirnya dilemparkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. Namun, Allah secara ajaib melepaskan mereka sehingga tak sehelai pun rambut mereka yang hangus dan pakaian mereka pun tidak berubah, bahkan bau kebakaran pun tidak ada (ay.19-27). Mereka sudah siap menghadapi kematian tetapi kepercayaan mereka kepada Allah tetap tidak tergoyahkan—bahkan “seandainya” Allah tidak menyelamatkan mereka.

Allah ingin kita terus bergantung kepada-Nya—bahkan seandainya orang yang kita kasihi tidak mengalami kesembuhan, bahkan seandainya kita kehilangan pekerjaan, bahkan seandainya kita dianiaya. Terkadang Allah menyelamatkan kita dari marabahaya dalam hidup ini, tetapi adakalanya juga tidak. Namun, kita dapat memegang teguh kebenaran ini: “Allah [kita] yang [kita] puja sanggup,” dan Dia mengasihi serta menyertai kita di setiap pencobaan, di setiap seandainya.

Meluap

“Oh, tidak! Tidak! TIDAK!” teriak saya. Namun, teriakan saya tidak menolong sama sekali. Ide saya untuk mengatasi masalah penyumbatan dengan menyiram air sekali lagi ternyata membawa akibat yang berlawanan sama sekali dengan maksud saya. Saya tahu saya telah membuat kesalahan segera setelah menekan tuas kakusnya. Saya hanya bisa berdiri dan pasrah melihat air kakus itu meluap keluar.

Entah berapa kali anak-anak kita berusaha menuang susu dengan cara yang keliru hingga tumpah ke mana-mana. Atau kita pernah lupa pada botol soda berukuran besar yang berguling-guling di bagasi mobil, hingga ketika dibuka tersemburlah isinya dengan dahsyat.

Luapan-luapan semacam itu tentu tidak diharapkan. Namun, ada satu luapan yang berbeda. Rasul Paulus menggunakan “luapan” untuk menggambarkan orang-orang yang dipenuhi oleh kekuatan Roh Allah. Dari dalam diri mereka meluaplah pengharapan secara alami dan berlimpah-limpah (Rm. 15:13). Saya menyukai gambaran tentang seseorang yang begitu dipenuhi dengan sukacita, damai sejahtera, dan iman sampai meluap karena Allah hadir dengan penuh kuasa di dalam hidup kita. Kelimpahan itu membuat kita, tidak mungkin tidak, akan memancarkan dan mengekspresikan keyakinan yang teguh kepada Allah, Bapa Surgawi kita. Itu mungkin terjadi pada masa-masa yang indah dan menyenangkan dalam hidup kita. Namun, itu mungkin juga terjadi saat hidup kita sedang mengalami guncangan. Bagaimanapun kondisinya, kiranya yang meluap keluar dari diri kita adalah pengharapan yang memberikan hidup kepada orang-orang di sekitar kita.

Memuji Kebaikan Allah

Salah satu anggota kelompok pemahaman Alkitab kami pernah mengusulkan agar kami menulis mazmur kami sendiri. Awalnya, sebagian anggota keberatan karena merasa tak berbakat menulis, tetapi setelah disemangati, masing-masing dari kami sanggup menulis lagu puitis yang mengharukan untuk menceritakan bagaimana Allah telah bekerja dalam hidup kami. Dari pengalaman pencobaan, perlindungan, pemeliharaan, bahkan derita dan air mata yang kami alami, timbul pesan-pesan abadi yang membuat mazmur-mazmur kami dipenuhi tema-tema yang luar biasa. Seperti Mazmur 136, setiap mazmur menyingkapkan kebenaran bahwa untuk selama-lamanya kasih setia Allah.

Kita semua memiliki kisah tentang kasih Allah yang bisa kita tuliskan, nyanyikan, atau ceritakan. Bagi beberapa orang, pengalamannya mungkin berlangsung dramatis dan penuh ketegangan—seperti penulis Mazmur 136 yang menceritakan kembali bagaimana Allah membebaskan umat-Nya dari perbudakan dan menaklukkan musuh-Nya (ay.10-15). Yang lain mungkin mengagumi keagungan alam ciptaan Allah: “Dia yang menjadikan langit dengan kebijaksanaan . . . menghamparkan bumi di atas air . . . menjadikan benda-benda penerang yang besar . . . matahari untuk menguasai siang . . . bulan dan bintang-bintang untuk menguasai malam” (ay.5-9).

Mengingat tentang diri Allah dan apa yang telah dikerjakan-Nya akan membangkitkan dalam hati kita puji-pujian dan ucapan syukur yang memuliakan-Nya. Kemudian kita dapat “[berkata-kata] seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani” (Ef. 5:19) tentang kebaikan Tuhan yang untuk selama-lamanya kasih setia-Nya! Tuangkanlah pengalaman Anda dengan kasih Allah dalam bentuk nyanyian pujian Anda sendiri dan nikmatilah kebaikan-Nya yang selalu mengalir tiada henti.

Bebas Mengikut

Pelatih lari lintas alam di SMA saya dahulu pernah menasihati saya sebelum lomba, “Jangan berusaha untuk memimpin. Mereka yang berada di depan biasanya akan cepat kelelahan.” Ia menyarankan agar saya berlari dekat dengan para pelari yang tercepat. Dengan membiarkan mereka mengatur kecepatan, saya dapat menjaga kekuatan mental dan fisik yang saya butuhkan untuk menyelesaikan perlombaan dengan baik.

Memimpin bisa membuat lelah, tetapi menjadi pengikut bisa memberikan kelegaan. Memahami prinsip itu telah meningkatkan kemampuan lari saya, tetapi butuh waktu lebih lama bagi saya untuk menyadari bahwa itu juga berlaku dalam pemuridan orang Kristen. Saya sendiri tergoda untuk berpikir bahwa hidup sebagai murid Yesus mengharuskan saya untuk berusaha keras. Ketika saya berusaha mengejar bayangan murid Kristus yang ada dalam pikiran saya sendiri, ternyata saya telah kehilangan sukacita dan kemerdekaan yang sesungguhnya hanya ditemukan dengan mengikut Dia (Yoh. 8:32,36)

Kita tidak ditentukan untuk mengatur sendiri arah hidup kita, dan Yesus tidak datang untuk memperbaiki kualitas hidup kita. Sebaliknya, Dia berjanji bahwa saat kita mencari-Nya, kita akan mendapatkan kelegaan yang kita rindukan (Mat. 11:25-28). Kebanyakan guru agama pada masa itu menekankan penggalian Kitab Suci yang ketat atau kepatuhan pada serangkaian hukum sebagai syarat untuk mengenal Allah. Namun, Yesus mengajarkan bahwa untuk dapat mengenal Allah, kita hanya perlu mengenal Dia (ay.27). Dengan mencari Dia, beban berat kita pun terangkat (ay.28-30) dan hidup kita diperbarui.

Mengikut Yesus, Pemimpin kita yang lemah lembut dan rendah hati (ay.29), bukanlah beban, melainkan sumber pengharapan dan pemulihan. Bersandar pada kasih-Nya akan memerdekakan kita.

Allah Bekerja

“Pernahkah kalian melihat Allah bekerja baru-baru ini?” tanya saya kepada sejumlah teman. Seorang teman menjawab, “Aku melihat Allah bekerja saat aku membaca Kitab Suci setiap pagi; saat Dia menolongku menghadapi setiap hari baru; saat aku menyadari bagaimana Dia telah menyertai setiap langkahku—aku menyadari bagaimana Dia menolongku menghadapi setiap tantangan sekaligus memberiku sukacita.” Saya menyukai jawabannya karena itu mencerminkan bahwa melalui firman Allah dan Roh Kudus yang mendiami hati kita, Allah senantiasa menyertai dan bekerja di dalam diri mereka yang mengasihi-Nya.

Allah bekerja dalam diri para pengikut-Nya. Itulah rahasia indah yang disebut oleh penulis kitab Ibrani saat ia hendak menutup tulisannya dengan sebuah doa penutup: “[Allah] kiranya . . . mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus“ (Ibr. 13:21). Dengan kesimpulan tersebut, penulis menegaskan pesan yang sangat penting dari suratnya, yakni Allah akan memperlengkapi umat-Nya untuk mengikut Dia dan bahwa Allah akan bekerja di dalam dan melalui diri mereka demi kemuliaan-Nya.

Karya Allah di dalam diri kita dapat membuat kita sendiri terkejut; mungkin kita dimampukan untuk mengampuni seseorang yang bersalah kepada kita atau untuk menunjukkan kesabaran terhadap seseorang yang kita pikir tidak mudah untuk diajak berteman. “Allah damai sejahtera” (ay.20) menebarkan kasih dan damai-Nya di dalam dan melalui kita. Karya Allah apa yang Anda lihat baru-baru ini?

Tak Seperti yang Diperkirakan

“Dengar!” kata istri saya lewat telepon. “Ada monyet di halaman rumah kita!” Ia mengangkat teleponnya supaya saya bisa mendengar suara itu. Ya, memang seperti suara monyet. Aneh sekali, karena tempat monyet liar yang terdekat dari tempat tinggal kami berjarak lebih dari 3.200 KM jauhnya.

Namun, ayah mertua saya menjawab keheranan kami, “Itu burung hantu,” tukasnya. Kenyataannya tak seperti yang kami perkirakan.

Ketika pasukan Asyur yang diperintah Raja Sanherib mengepung Hizkia, Raja Yehuda, di dalam kota Yerusalem, mereka mengira telah meraih kemenangan. Namun, kenyataan berbicara lain. Walaupun juru minuman Asyur bermulut manis dan mengaku berbicara bagi Allah, Tuhan tetap berada di pihak umat-Nya.

“Adakah di luar kehendak Tuhan aku maju melawan tempat ini untuk memusnahkannya?” tanya si juru minuman Asyur (2Raj. 18:25). Dalam usahanya membujuk Yerusalem agar menyerah, ia bahkan berkata, “Kalau kamu menuruti apa yang kuanjurkan kepadamu, kamu akan hidup, tidak mati” (ay.32 BIS).

Itu terdengar mirip dengan firman Tuhan. Namun, Nabi Yesaya memberitakan firman Tuhan yang sebenarnya kepada bangsa Israel. “[Sanherib] tidak akan masuk ke kota ini dan tidak akan menembakkan panah ke sana,” Allah berfirman. “Aku akan memagari kota ini untuk menyelamatkannya” (2Raj. 19:32-34; Yes. 37:35). Malam itu juga, “Malaikat Tuhan” menghancurkan pasukan Asyur (2Raj. 19:35).

Adakalanya kita menjumpai orang-orang bermulut manis yang sepertinya “menasihati” kita padahal sebenarnya mereka menyangkal kuasa Allah. Yakinlah, itu bukan suara Allah. Dia berbicara kepada kita melalui firman-Nya dan memandu kita dengan Roh-Nya. Tangan-Nya berada di pihak orang-orang yang mengikut-Nya, dan Dia takkan pernah meninggalkan kita.

Harta di Surga

Saat beranjak dewasa, saya dan kedua saudari saya suka duduk berdampingan di atas kotak kayu besar milik ibu saya. Ibu saya menyimpan baju-baju hangat dari bahan wol yang disulam atau dibordir oleh nenek saya di dalam kotak kayu itu. Ibu sangat menghargai isi kotak tersebut dan dan menggunakan bau wewangian kayu cemara untuk mengusir ngengat agar tidak merusak apa yang disimpan di dalam kotak itu.

Sebagian besar harta duniawi dapat dengan mudah dirusak oleh ngengat atau berkarat, atau bahkan dapat hilang dicuri. Matius 6 mendorong kita untuk memusatkan perhatian khusus, bukan pada benda-benda yang tidak akan bertahan lama, melainkan pada hal-hal yang bernilai kekal. Ketika ibu saya meninggal dunia pada usia 57 tahun, beliau tidak mengumpulkan banyak harta di dunia, tetapi saya membayangkan bahwa ia tentu telah mengumpulkan harta baginya di surga (ay.19-20).

Saya ingat betapa ibu saya sangat mengasihi Allah dan melayani-Nya lewat perbuatan-perbuatan yang tidak menonjol, seperti merawat keluarganya dengan setia, mengajar anak-anak di sekolah Minggu, berteman dengan seorang wanita yang ditinggalkan oleh suaminya, menghibur seorang ibu muda yang kehilangan bayinya. Dan ibu saya tekun berdoa . . . bahkan setelah kehilangan penglihatannya dan gerak-geriknya dibatasi oleh kursi roda, ibu saya terus mengasihi dan mendoakan orang lain.

Harta kita yang sesungguhnya tidaklah diukur dengan seberapa banyak benda yang kita kumpulkan, melainkan apa dan siapa yang menerima investasi waktu dan perhatian kita. Apa saja “harta” yang sedang kita kumpulkan di surga lewat pelayanan dan ketaatan kita kepada Tuhan Yesus?

Meluangkan Waktu

Rima, seorang wanita asal Suriah yang baru-baru ini pindah ke Amerika Serikat, menggunakan gerakan tangan dan bahasa Inggris yang terbatas untuk menjelaskan kekecewaannya kepada tutornya. Air mata mengalir di pipinya saat ia mengangkat sepiring besar fatayer (semacam roti berisi daging, keju, dan bayam) yang telah dibuat dan ditatanya dengan indah. Lalu ia berkata, “Satu orang,” sembari menunjuk pintu rumah ke ruang tamu lalu kembali ke pintu. Tutor itu lalu teringat bahwa ada beberapa orang dari gereja dekat sana yang seharusnya datang mengunjungi Rima dan keluarganya serta membawa sejumlah hadiah untuk mereka. Namun, ternyata hanya satu orang yang datang. Orang itu pun buru-buru masuk, menaruh sekotak barang-barang, lalu keluar begitu saja. Ia sibuk menjalankan tanggung jawabnya, sementara Rima dan keluarganya merasa kesepian dan merindukan suatu komunitas tempat mereka bisa berbagi fatayer dengan teman-teman barunya.

Yesus senang meluangkan waktu-Nya dengan siapa saja. Dia menghadiri perjamuan makan malam, mengajar orang banyak, dan memberikan waktu untuk berinteraksi secara pribadi dengan sejumlah orang. Dia bahkan memutuskan untuk berkunjung ke rumah seorang bernama Zakheus. Si pemungut cukai itu telah memanjat pohon agar dapat melihat Yesus, dan ketika Yesus melihat ke atas, Dia berkata, “Segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu” (Luk. 19:1-9). Hidup Zakheus pun diubahkan selamanya.

Mungkin kita tak selalu bisa meluangkan waktu karena adanya kewajiban-kewajiban lain. Namun ketika dapat melakukannya, kita mendapat kesempatan istimewa untuk menjalin kebersamaan dengan orang lain dan melihat karya Tuhan melalui diri kita.

Bertahan dengan Damai Sejahtera

Dalam upaya saya untuk terus mempercayai Allah di tengah pergumulan dengan rasa sakit yang kronis, kemunduran sekecil apa pun terasa seperti pukulan telak. Serangan demi serangan seakan menghantam saya dari samping, belakang, dan juga depan. Saat kekuatan saya melemah dan pertolongan tidak segera datang, melarikan diri dan bersembunyi tampaknya merupakan ide cemerlang. Namun, karena tak bisa melepaskan diri dari rasa sakit, mengubah keadaan, atau mengabaikan emosi saya, saya belajar sedikit demi sedikit untuk bersandar kepada Allah yang menopang saya melalui semua itu.

Ketika memerlukan penguatan, peng-hiburan, dan keberanian, saya menghayati pujian-pujian para pemazmur yang membawa pergumulan mereka kepada Allah. Dalam salah satu mazmur favorit saya, Raja Daud melarikan diri dari Absalom, anaknya yang ingin membunuh dan merebut kerajaannya. Meski Daud meratapi situasinya yang sulit (Mzm. 3:2-3), ia yakin Allah melindunginya dan percaya Allah akan menjawab doanya (ay.4-5). Daud tidak membiarkan kekhawatiran dan ketakutan tentang masa depan mengusik waktu tidurnya, karena ia percaya bahwa Allah akan menopang dan menyelamatkannya (ay.6-9).

Penderitaan fisik dan emosional sering terasa bagaikan serangan gencar dari musuh. Kita mungkin tergoda untuk menyerah atau melarikan diri di saat kita tak berdaya dan tak bisa melihat akhir dari pergumulan tersebut. Namun, seperti Daud, kita dapat belajar percaya bahwa Allah akan menopang dan menolong kita untuk mengandalkan kehadiran-Nya yang setia dan penuh kasih.

Negeri yang Terbentang Jauh

Amy Carmichael (1867–1951) dikenal karena usahanya dalam menyelamatkan gadis-gadis yatim piatu di India dan memberi mereka kehidupan yang baru. Di tengah-tengah pelayanan yang menguras tenaga itu, ia mengalami apa yang disebutnya sebagai “momen-momen penglihatan”. Dalam bukunya Gold by Moonlight, ia menulis, “Di tengah suatu hari yang sibuk, kami diberi secercah gambaran tentang suatu ‘negeri yang terbentang jauh’, dan kami hanya bisa berdiri, terpaku di tengah jalan.”

Nabi Yesaya berbicara tentang suatu masa ketika umat Allah yang pernah memberontak akhirnya berbalik kepada-Nya. “Engkau akan memandang raja dalam semaraknya, akan melihat negeri yang terbentang jauh” (Yes. 33:17). Memandang “negeri yang terbentang jauh” tersebut berarti mengalihkan pandangan kita dari segala situasi yang terjadi saat ini hingga kita mendapatkan sudut pandang kekekalan. Di tengah masa-masa sulit, Tuhan memampukan kita untuk melihat hidup kita dari sudut pandang-Nya dan memperoleh pengharapan di dalam Dia. “Sebab Tuhan ialah Hakim kita, Tuhan ialah yang memberi hukum bagi kita; Tuhan ialah Raja kita, Dia akan menyelamatkan kita” (ay.22).

Setiap hari, kita dihadapkan pada pilihan: melihat keadaan kita yang mengecewakan atau mengarahkan pandangan kita kepada “negeri yang terbentang jauh” dan melihat “betapa mulia Tuhan kita” (ay.21).

Amy Carmichael menghabiskan waktu lebih dari 50 tahun di India untuk menolong para gadis yang sangat membutuhkan bantuan. Bagaimana ia melakukannya? Setiap hari ia mengarahkan pandangannya kepada Yesus dan menyerahkan hidupnya ke dalam tangan pemeliharaan-Nya. Kita pun dapat melakukan hal yang sama.

Tak Dapat Ditarik Kembali

Ini bukan sekadar soal menyeberangi sungai. Secara hukum, tidak ada jenderal Romawi yang diizinkan untuk memimpin pasukan bersenjata masuk ke kota Roma. Jadi, saat Julius Caesar memimpin pasukannya menyeberangi sungai Rubicon dan memasuki Italia pada 49 SM, itu adalah suatu pengkhianatan. Dampak dari tindakannya tak bisa diputar kembali dan perang saudara selama bertahun-tahun pun terjadi hingga jenderal agung itu berkuasa mutlak atas Romawi. Sampai saat ini, istilah “menyeberangi Rubicon” melambangkan sesuatu yang “tidak dapat ditarik kembali”.

Dalam hubungan kita dengan orang lain, “menyeberangi Rubicon” dapat terjadi oleh karena ucapan kita. Begitu diucapkan, kata-kata kita tak bisa ditarik kembali. Ucapan kita bisa menolong dan menghibur, atau sebaliknya membawa kerusakan yang rasanya tak lagi dapat diperbaiki. Yakobus memberikan gambaran lain tentang dampak kata-kata, dengan mengatakan, “Lidahpun adalah api, ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka” (Yak. 3:6).

Saat kita merasa telah menyakiti seseorang, kita dapat meminta pengampunan dari orang itu dan juga pengampunan Allah (Mat. 5:23-24; 1Yoh. 1:9). Namun, akan jauh lebih baik apabila kita mengandalkan Roh Allah setiap hari dan memperhatikan dorongan Paulus, “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih” (Kol. 4:6), sehingga perkataan kita tidak saja menghormati Tuhan, tetapi juga menghibur dan menguatkan orang-orang di sekitar kita.

Mengikuti Pimpinan Allah

Pada bulan Agustus 2015, ketika sedang menyiapkan diri untuk berkuliah di universitas yang kampusnya berjarak lumayan jauh dari rumah, saya menyadari bahwa mungkin saya tidak akan kembali tinggal di rumah setelah lulus. Pikiran saya pun menjadi kalut. Bagaimana mungkin aku meninggalkan rumah? Keluargaku? Gerejaku? Bagaimana jika nanti Allah memanggilku pergi ke daerah atau negara lain?

Seperti Musa, ketika Allah memerintahkan dirinya menghadap “Firaun untuk membawa umat-[Nya], orang Israel, keluar dari Mesir” (Kel. 3:10), saya juga merasa takut. Saya tidak ingin meninggalkan zona nyaman saya. Musa memang menaati dan mengikuti perintah Allah, tetapi ia baru melakukannya setelah mempertanyakan Allah dan meminta agar orang lain saja yang pergi menggantikannya (ay.11-13; 4:13).

Lewat contoh Musa, kita bisa melihat apa yang tidak seharusnya dilakukan ketika kita merasa mendapatkan panggilan yang jelas. Sebaliknya, kita dapat berusaha untuk bersikap seperti murid-murid Yesus. Ketika Yesus memanggil mereka, mereka segera meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Dia (Mat. 4:20-22; Luk. 5:28). Merasa takut memang wajar, tetapi kita dapat mempercayai rencana Allah.

Tinggal jauh dari rumah masih terasa berat. Namun, saat saya terus mencari Allah, Dia membukakan pintu demi pintu kesempatan bagi saya, sehingga saya diyakinkan bahwa memang di sinilah seharusnya saya berada.

Ketika dibawa keluar dari zona nyaman kita, kita bisa memilih untuk melangkah pergi dengan enggan, seperti Musa, atau dengan sukarela seperti para murid—mengikuti Yesus ke mana pun Dia memimpin. Terkadang itu berarti meninggalkan hidup kita yang nyaman dan pergi hingga ratusan atau ribuan mil jauhnya. Namun, sesulit apa pun pilihan kita, mengikut Yesus itu sungguh sepadan.

Sidik Jari Allah

Lygon Stevens suka sekali mendaki gunung bersama saudaranya, Nick. Mereka berdua adalah pendaki yang berpengalaman dan sama-sama pernah mencapai Puncak Denali di Gunung McKinley, puncak gunung tertinggi di Amerika Utara. Namun pada bulan Januari 2008, longsoran salju pada sebuah gunung di Colorado membuat Nick terluka dan menewaskan Lygon yang masih berusia 20 tahun. Ketika suatu hari Nick menemukan catatan harian Lygon di salah satu tasnya, ia sangat terhibur oleh isinya. Catatan harian adik perempuannya itu dipenuhi dengan perenungan, doa, dan pujian kepada Allah. Salah satu tulisannya adalah sebagai berikut: “Aku adalah karya seni buatan Allah. Akan tetapi, Dia belum selesai; bahkan Dia baru saja memulai karyanya. . . . Sidik jari Allah membekas di setiap bagian hidupku. Takkan pernah ada orang lain yang sama seperti diriku . . . dalam hidup ini, aku mendapat tugas yang harus kulakukan dan tugas itu tak bisa dilakukan oleh orang lain.”

Meskipun Lygon sudah meninggalkan dunia ini, melalui teladan dan catatan hariannya, ia masih memberikan inspirasi sekaligus tantangan kepada orang-orang yang masih hidup.

Karena kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26), setiap manusia adalah “karya seni buatan Allah”. Itulah yang dikatakan Rasul Paulus, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Ef. 2:10).

Bersyukur kepada Allah karena Dia memakai setiap dari kita, sesuai waktu dan cara-Nya, untuk menolong satu sama lain.

Berpegang pada Janji Allah

Saat masih anak-anak, teman saya diyakinkan kakaknya bahwa sebuah payung cukup kuat untuk membuatnya terbang jika ia “percaya saja”. Jadi “dengan iman”, teman saya meloncat dari atap sebuah lumbung hingga akhirnya jatuh tak sadarkan diri dan menderita gegar otak ringan.

Apa yang sudah dijanjikan Allah pasti akan digenapi-Nya. Namun, kita harus yakin bahwa kita berpegang pada firman Allah yang sesungguhnya saat kita mengklaim janji-Nya. Dengan demikian, kita memperoleh jaminan bahwa Allah akan melakukan atau memberikan apa yang dijanjikan-Nya. Iman itu sendiri tidak memiliki kekuatan apa-apa. Iman hanya berdampak apabila dilandaskan pada janji yang gamblang dan jelas dari Allah. Di luar itu, yang ada hanyalah angan-angan belaka.

Contohnya sebagai berikut: Tuhan Yesus berjanji, “Mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak” (Yoh. 15:7-8). Ayat-ayat itu tidak menjanjikan bahwa Allah akan menjawab setiap doa yang kita ucapkan. Namun, itu adalah janji bahwa Allah akan menanggapi setiap kerinduan kita untuk memperoleh kebajikan yang disebut Rasul Paulus sebagai “buah Roh” (Gal. 5:22-23) dalam diri kita. Apabila kita sungguh-sungguh merindukan kekudusan dan memintanya kepada Allah, Dia akan memuaskan kerinduan itu. Memang dibutuhkan waktu, karena pertumbuhan rohani terjadi secara bertahap, sama seperti pertumbuhan jasmani. Jangan menyerah. Teruslah meminta kepada Allah untuk menguduskan Anda. Pada waktu yang ditentukan-Nya, Anda “akan menerimanya.” Allah tidak menjanjikan apa yang tidak akan digenapi-Nya.

Memegang Erat

Saat berjalan kaki pulang setelah mengantar putri saya ke sekolah, saya berkesempatan untuk menghafalkan beberapa ayat Alkitab. Ketika saya menggunakan menit-menit itu untuk memusatkan pikiran saya pada firman Allah, firman itu sering saya ingat kembali di sepanjang hari dan itu memberikan penghiburan dan hikmat kepada saya.

Ketika Musa menyiapkan bangsa Israel untuk memasuki Tanah Perjanjian, ia mendorong mereka untuk memegang erat semua perintah dan ketetapan Allah (Ul. 6:1-2). Dalam kerinduan melihat bangsa itu bertumbuh, Musa berkata bahwa mereka harus memperhatikan perintah dan ketetapan itu berulang-ulang dan membicarakannya dengan anak-anak mereka (ay.6-7). Ia bahkan memerintahkan untuk mengikatkan perintah itu pada tangan dan dahi mereka (ay.8). Ia tidak ingin mereka lupa bahwa Allah menghendaki mereka untuk menjalani hidup sebagai umat yang menghormati Allah dan menikmati berkat-berkat-Nya.

Bagaimana cara Anda untuk memperhatikan firman Allah hari ini? Salah satu caranya adalah dengan menuliskan satu ayat Alkitab di suatu tempat, dan setiap kali Anda mencuci tangan atau minum, baca dan renungkanlah ayat yang Anda tulis itu. Atau sebelum Anda tidur, renungkanlah satu bagian singkat dari Alkitab. Ada banyak cara untuk memegang erat firman Allah di dalam hati kita!

Sebelum Segalanya Bermula

“Tetapi kalau Allah tidak memiliki awal dan akhir, dan selalu ada, apa yang dilakukan-Nya sebelum Dia menciptakan semuanya? Bagaimana Dia mengisi waktu-Nya?” Sejumlah anak sekolah Minggu yang ingin tahu selalu menanyakan hal-hal itu ketika kami membahas tentang natur kekekalan Allah. Saya biasanya menjawab bahwa sebagian dari hal itu merupakan misteri. Namun baru-baru ini, saya belajar bahwa Alkitab memberi kita jawaban untuk pertanyaan tersebut.

Ketika Yesus berdoa kepada Bapa-Nya dalam Yohanes 17, Dia berkata, “Ya Bapa . . . Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan” (ay.24). Inilah yang disingkapkan Yesus kepada kita tentang Allah: Sebelum dunia diciptakan, Allah adalah Trinitas atau Tritunggal (Bapa, Anak, dan Roh Kudus)—ketiga-Nya saling mengasihi dan dikasihi. Ketika Yesus dibaptis, Allah mengirimkan Roh-Nya dalam rupa seekor burung merpati dan berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi” (Mat. 3:17). Aspek paling mendasar dari identitas Allah adalah kasih-Nya yang terus mengalir dan memberi hidup.

Sungguh suatu kebenaran tentang Allah yang sangat indah dan menguatkan! Kasih timbal balik yang dipancarkan tiada henti oleh masing-masing oknum dalam Trinitas itu—Bapa, Anak, dan Roh Kudus—merupakan kunci untuk memahami natur Allah. Apa yang Allah lakukan sebelum segalanya bermula? Allah melakukan apa yang selalu dilakukan-Nya: Dia mengasihi karena Dia adalah kasih (1Yoh. 4:8).

Perubahan Sudut Pandang

Kota tempat saya tinggal pernah mengalami hujan salju yang terdahsyat dalam 30 tahun terakhir. Otot-otot saya terasa nyeri setelah berjam-jam mengeruk timbunan salju yang tidak habis-habisnya. Saya pun masuk ke rumah setelah bekerja keras dalam upaya yang sepertinya tidak membuahkan hasil. Setelah melepas sepatu bot, saya pun disambut oleh hangatnya perapian dan anak-anak saya yang berkumpul di sekelilingnya. Saat saya memandang keluar dari jendela rumah, sudut pandang saya terhadap cuaca buruk itu berubah total. Saya tidak lagi memandang timbunan salju di luar sebagai beban pekerjaan, melainkan saya menikmati keindahan dari ranting-ranting pohon yang membeku dan bentangan salju putih yang menyelimuti pemandangan suram di musim dingin.

Saya melihat pergeseran yang serupa, tetapi yang jauh lebih memilukan, dialami oleh Asaf ketika saya membaca kata-katanya dalam Mazmur 73. Awalnya, ia meratapi apa yang terjadi di dunia, ketika kejahatan tampaknya lebih berjaya dan dipuja. Ia meragukan manfaat dari hidup yang tampil beda dari kebanyakan orang dan menjalani hidup yang mengutamakan kebaikan orang lain (ay.13). Namun saat ia masuk ke dalam tempat kudus Allah, sudut pandangnya berubah (ay.16-17): ia ingat bahwa Allah akan berurusan dengan dunia dan segala permasalahannya secara sempurna dan, yang terpenting, jauh lebih baik untuk berada dekat dengan Allah (ay.28)

Ketika kita dibuat penat oleh masalah-masalah yang seakan tidak habis-habisnya di dunia ini, kita dapat masuk dalam tempat kudus Allah melalui doa. Kita akan diteguhkan oleh kebenaran yang mengubah sudut pandang dan hidup ini, yaitu bahwa penilaian-Nya lebih baik daripada penilaian kita. Meskipun situasi-situasi di sekitar kita mungkin tidak berubah, sudut pandang kita dapat berubah.

Merindukan Allah

Suatu hari putri saya berkunjung ke rumah kami bersama anak laki-lakinya yang berumur satu tahun. Saat itu saya sedang bersiap-siap meninggalkan rumah untuk sebuah pekerjaan. Namun, begitu saya keluar dari ruangan, cucu saya mulai menangis. Itu terjadi dua kali, dan setiap kali saya selalu kembali ke ruangan untuk menemaninya sebentar. Begitu saya mengarah ke pintu untuk ketiga kalinya, bibir mungilnya mulai bergetar lagi. Saat itu putri saya berkata, “Ayah, ajak saja ia ikut denganmu.”

Rasanya kakek mana pun akan melakukan apa yang saya lakukan selanjutnya. Saya mengajak cucu saya ikut dengan saya, karena saya mengasihinya.

Sungguh bahagia saat mengetahui bahwa kerinduan hati kita kepada Allah juga dibalas oleh-Nya dengan penuh kasih. Alkitab meyakinkan kita bahwa “kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita” (1Yoh. 4:16). Allah mengasihi kita bukan karena apa yang kita miliki atau yang sudah kita lakukan. Kasih-Nya sama sekali tidak didasarkan pada kelayakan kita, melainkan pada kebaikan dan kesetiaan-Nya. Ketika dunia di sekitar kita sedang kehilangan kasih dan kebaikan, kita dapat mengandalkan kasih Allah yang tak pernah berubah sebagai sumber pengharapan dan damai sejahtera kita.

Bapa Surgawi membuktikan kebesaran kasih-Nya kepada kita dengan mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal dan Roh-Nya yang kudus. Alangkah terhiburnya hati kita oleh kepastian bahwa Allah mengasihi kita dengan kasih yang tak pernah berakhir!

Menanti dengan Penuh Harap

Setiap hari May Day (1 Mei) di Oxford, Inggris, orang-orang sudah berkumpul sejak pagi-pagi buta untuk menyambut musim semi. Pada jam 6 pagi, Magdalen College Choir akan menyanyi dari atas Magdalen Tower. Ribuan orang menanti dengan penuh harap ketika kegelapan dihalau oleh fajar yang merekah diiringi lantunan lagu dan dentang lonceng.

Seperti para hadirin di Oxford, saya pun sering menanti. Saya menantikan jawaban atas doa atau petunjuk yang saya mohonkan kepada Allah. Walaupun saya tidak tahu pasti kapan persisnya penantian saya berakhir, saya belajar untuk menanti dengan penuh harap. Dalam Mazmur 130, pemazmur menuliskan kesedihannya yang mendalam saat menghadapi situasi yang sepekat malam. Di tengah-tengah masalahnya, ia memilih untuk percaya kepada Allah dan berjaga-jaga seperti pengawal yang bertugas untuk mengumumkan datangnya fajar. “Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi” (ay.6).

Penantian yang penuh harap akan kesetiaan Allah dalam menghalau kegelapan itu telah memberikan pengharapan kepada pemazmur untuk tetap bertahan di tengah-tengah penderitaannya. Berdasarkan janji-janji Allah yang terdapat di sepanjang Kitab Suci, pengharapan itu memampukannya untuk terus menanti meskipun ia belum melihat cahaya matahari yang terbit.

Jika Anda merasa berada di tengah-tengah kegelapan malam, kuatkanlah hati Anda. Fajar segera menyingsing, entah dalam kehidupan sekarang atau kelak di surga! Sementara itu, janganlah menyerah, tetapi teruslah berjaga-jaga untuk menantikan pembebasan dari Tuhan. Dia selamanya setia.

Halaman